Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Benih di Tengah Badai dan Racun dalam Madu
Bab 15: Benih di Tengah Badai dan Racun dalam Madu
Rumah megah di kawasan elit itu kini tak ubahnya seperti kastil berhantu yang dilapisi emas. Sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar setinggi plafon terasa tumpul dan tak bernyawa bagi Arini. Sudah dua minggu ia tidak diizinkan keluar melewati gerbang depan tanpa pengawalan ketat dari orang-orang kepercayaan Reihan. Ponselnya telah diganti, akses internetnya dipantau, dan setiap langkahnya dicatat dalam laporan harian yang harus dibaca Reihan setiap malam sebelum pria itu "menagih haknya" di ranjang.
Pagi itu, Arini merasa kepalanya berputar hebat. Aroma kopi Blue Mountain yang biasanya menenangkan kini tercium seperti bau logam yang memuakkan. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya berupa cairan bening. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi dahi. Di tengah rasa mual yang melilit, sebuah firasat buruk menghantam jantungnya lebih keras dari pukulan mana pun.
Arini merogoh laci tersembunyi di balik wastafel—satu-satunya sudut yang belum disentuh oleh pengawal Reihan karena ia sempat menyuruh asisten rumah tangga baru untuk membelikan sesuatu secara diam-diam. Sebuah alat tes kehamilan.
Dua garis merah.
Dunia Arini seolah runtuh untuk ke sekian kalinya. Ia jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin, menatap benda plastik itu dengan ngeri. Di rahimnya kini tumbuh benih dari pria yang telah menghancurkan ayahnya, membunuh jiwanya, dan menjadikannya tawanan dalam kemewahan. Sebuah anak yang akan menjadi pewaris takhta darah Dirgantara. Sebuah anak yang, bagi Reihan, mungkin hanya akan dianggap sebagai aset pengikat agar Arini tidak akan pernah bisa melarikan diri.
"Tidak... tidak boleh sekarang," bisik Arini dengan suara pecah.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka pelan. Reihan berdiri di sana, sudah mengenakan kemeja sutra hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan urat-urat di tangannya yang kuat. Matanya yang tajam langsung menangkap alat tes yang masih digenggam Arini.
Suasana menjadi sunyi senyap. Hanya suara detak jam dinding di kamar yang terdengar seperti lonceng kematian. Reihan melangkah mendekat, auranya yang dominan memenuhi ruangan yang sempit itu. Ia berlutut di depan Arini, mengambil alat itu dari tangannya dengan gerakan yang perlahan namun tegas.
Reihan menatap dua garis merah itu, lalu menatap wajah Arini yang pucat pasi. Sebuah senyuman kecil, yang paling mengerikan yang pernah dilihat Arini, mengembang di bibir suaminya.
"Jadi... kau akhirnya memberikan apa yang tidak bisa dibeli dengan uang, Arini," bisik Reihan. Suaranya rendah, penuh dengan nada kemenangan yang gelap.
Ia mencengkeram rahang Arini, memaksa istrinya menatap matanya yang berkilat penuh obsesi. "Kau pikir kau bisa lari? Sekarang, kau membawa darahku di dalam tubuhmu. Kau terikat padaku selamanya. Tidak ada pengadilan, tidak ada Bima, tidak ada siapa pun yang bisa mengambilmu dariku sekarang."
Reihan menarik Arini berdiri dan membawanya kembali ke tempat tidur. Ia tidak memedulikan rasa mual Arini. Pria itu justru merasa terangsang oleh kenyataan bahwa ia telah menaklukkan Arini sepenuhnya, hingga ke tingkat biologis.
"Reihan, kumohon... aku sedang sakit," isak Arini saat Reihan mulai menciuminya dengan posesif yang menuntut.
"Kau tidak sakit, Sayang. Kau sedang menjalankan tugasmu yang paling mulia," gumam Reihan. Ia menindih Arini, tangannya yang besar merayap di bawah piyama sutra Arini, membelai perutnya dengan cara yang membuat Arini merinding. "Anak ini akan menjadi raja setelah aku. Dan kau... kau akan tetap menjadi ratuku yang paling cantik dalam penjara ini."
Malam itu, gairah Reihan mencapai puncaknya. Ia mencumbu Arini dengan intensitas yang meluap-luap, seolah ingin menanamkan dominasinya lebih dalam lagi ke dalam jiwa Arini melalui tubuhnya. Ciumannya terasa panas, penuh dengan klaim kepemilikan yang liar. Arini hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhnya dikuasai sementara pikirannya mulai menyusun rencana yang lebih gelap.
Jika kau ingin aku mengandung anakmu, Reihan, maka kau juga harus bersiap menghadapi kehancuranmu melalui tangan anak ini sendiri, batin Arini di tengah pergulatan mereka.
Minggu-minggu berikutnya, Reihan menjadi semakin tiran. Ia memanjakan Arini dengan segala kemewahan—perhiasan yang harganya bisa membeli satu desa, pakaian dari desainer dunia, dan makanan terbaik—namun ia juga semakin membatasi ruang gerak Arini. Reihan bahkan sering membawa rekan bisnisnya ke rumah untuk menunjukkan "istrinya yang cantik dan sedang mengandung," seolah Arini adalah trofi yang paling berharga.
Semua orang memihak pada Reihan. Para dokter yang memeriksa kehamilan Arini adalah orang-orang bayaran Reihan yang hanya melaporkan apa yang ingin didengar tuannya. Teman-teman Arini yang dulu dekat kini hanya berani mengirim pesan basa-basi, takut menyinggung Reihan yang sekarang memiliki kekuatan politik yang luar biasa.
Namun, di tengah isolasi itu, Arini mulai menemukan celah. Ia menyadari bahwa Reihan memiliki satu kelemahan: kebanggaannya. Reihan sangat yakin bahwa ia telah memenangkan segalanya, sehingga ia mulai sedikit lengah.
Suatu malam, saat Reihan tertidur pulas setelah "permainan" panjang yang melelahkan, Arini perlahan keluar dari tempat tidur. Ia berjalan menuju ruang kerja Reihan, menggunakan sidik jari Reihan yang sedang terlelap untuk membuka ponsel rahasianya.
Di sana, Arini menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar korupsi. Reihan ternyata sedang merencanakan untuk melakukan akuisisi paksa terhadap perusahaan-perusahaan kecil yang dulu menjadi sekutu ayahnya, termasuk perusahaan milik keluarga Bima yang kini sedang sekarat. Reihan menggunakan metode yang sangat ilegal—intimidasi dan pemalsuan dokumen—persis seperti yang dilakukan Surya Atmadja dulu.
"Kau tidak lebih baik dari ayahku, Reihan," bisik Arini sambil menyalin data-data tersebut ke sebuah micro-SD kecil yang ia sembunyikan di dalam liontin kalungnya.
Arini kembali ke tempat tidur, menyelinap ke pelukan Reihan yang posesif. Reihan secara refleks memeluk pinggang Arini lebih erat dalam tidurnya, membisikkan nama Arini dengan nada yang terdengar seperti pemujaan sekaligus ancaman.
Keesokan harinya, Arini meminta izin untuk mengunjungi makam ibunya. Awalnya Reihan menolak, namun Arini menggunakan senjatanya: "Anak ini ingin mengunjungi neneknya, Reihan. Apakah kau ingin anakmu membencimu karena tidak mengizinkan ibunya berziarah?"
Reihan akhirnya luluh, namun dengan syarat: Arini harus dikawal oleh empat pengawal bersenjata.
Di pemakaman, di bawah pengawasan ketat, Arini berlutut di depan nisan Eleanor. Ia berpura-pura menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Namun, di balik sapu tangan itu, ia melihat sesosok pria pembersih makam yang ia kenali melalui matanya. Itu adalah Bima yang menyamar.
Saat Arini berpura-pura jatuh karena lemas, Bima dengan sigap membantunya berdiri. Dalam hitungan detik yang sangat krusial, Arini menyelipkan micro-SD itu ke dalam saku baju Bima.
"Hancurkan dia, Bima. Demi aku, demi bayi ini," bisik Arini dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Aku akan menjemputmu, Arini. Bertahanlah," balas Bima sebelum para pengawal menarik Arini menjauh dengan kasar.
Malam itu di rumah, Reihan merasa ada yang berbeda dengan Arini. Istrinya tampak lebih tenang, bahkan lebih "patuh" saat ia menariknya ke meja makan.
"Kau tampak sangat cantik malam ini, Arini. Ziarah itu sepertinya membuatmu lebih tenang," ucap Reihan sambil menuangkan wine untuk dirinya sendiri.
Arini tersenyum manis—sebuah senyum yang mengandung racun paling mematikan. "Aku hanya menyadari satu hal, Reihan. Bahwa di dunia ini, kita hanya memiliki satu sama lain. Aku akan melakukan apa pun untuk menjaga apa yang menjadi milik kita."
Reihan merasa sangat puas mendengar itu. Ia bangkit dari kursinya, mendekati Arini, dan menariknya untuk duduk di pangkuannya. Tangannya mulai menjelajahi tubuh Arini dengan penuh nafsu yang membara. Ia mencium pundak Arini yang terbuka, menghirup aroma parfum Arini yang memabukkan.
"Bagus. Karena mulai besok, namamu akan kumasukkan ke dalam struktur perusahaan sebagai pemilik saham bayangan. Kau adalah bagian dari kekuasaanku sekarang," bisik Reihan.
Reihan membawa Arini kembali ke kamar, dan malam itu gairah mereka terasa lebih panas dari biasanya. Reihan merasa ia telah benar-benar menaklukkan jiwa istrinya. Ia tidak tahu bahwa setiap desahan Arini adalah bagian dari sandiwara besar. Setiap sentuhan yang ia berikan dibalas oleh Arini dengan pikiran yang sedang menghitung jam menuju kehancuran kerajaan yang dibangun Reihan di atas penderitaan orang lain.
Panasnya ranjang mereka malam itu adalah bara api yang akan membakar seluruh Dirgantara Group. Reihan merasa menjadi tuhan, tanpa menyadari bahwa wanita di bawahnya adalah malaikat maut yang sedang tersenyum menantikan fajar.
"Aku mencintaimu, Arini," gumam Reihan di tengah puncak gairahnya—kata-kata yang dulu sangat dirindukan Arini, namun kini terdengar seperti lelucon paling hambar di dunia.
Arini memeluk leher Reihan erat-erat, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit punggung suaminya. "Aku tahu, Sayang. Aku tahu."
Pertaruhan semakin tinggi! Arini sedang bermain api di dalam sarang naga.