Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Rara
Udara di dalam Lab Informatika lantai dua itu terasa semakin berat, seolah dinding-dindingnya perlahan menghimpit mereka bertiga. Suara dengung kipas server yang konstan terdengar seperti detak jam kiamat yang menghitung mundur. Di layar monitor, barisan bukti digital itu masih berkedip, deretan folder Telegram, draf surat fitnah, dan log jaringan yang menawarkan sebuah kemenangan telak sekaligus kehancuran total. Rara masih memegang lengan kemeja biru pucat Genta, bisa merasakan otot lengan pria itu yang kaku karena ketegangan yang memuncak.
"Ra, kenapa kamu masih mikirin beasiswaku?" Suara Genta terdengar pecah, ada nada frustrasi yang dalam di sana. Ia menoleh, menatap Rara dengan mata yang memerah. "Dia sudah menghancurkan reputasimu di depan ribuan orang. Dia membuatmu dianggap sebagai sampah. Aku tidak peduli kalau BEM harus runtuh hari ini, asalkan dunia tahu siapa yang sebenarnya bersalah! Aku ingin berhenti bersembunyi!"
Rara melepaskan pegangannya perlahan. Ia berjalan mendekati jendela lab yang buram oleh debu, menatap ke arah lapangan kampus yang mulai ramai oleh teknisi panggung. Sebagai seorang jurnalis, nurani Rara berteriak bahwa kebenaran adalah segalanya. Bahwa fakta tidak boleh disembunyikan hanya karena rasa iba. Namun, ia juga seorang Healer yang telah melihat sosok pemuda hancur di balik zirah perak semalam.
"Genta, kalau bukti ini menyebar, Kania memang akan jatuh. Dia akan hancur secara sosial," ucap Rara, suaranya kini terdengar sangat tenang namun berwibawa. Ia berbalik, menatap Genta lurus-urus. "Tapi kamu akan ikut terseret ke dasar jurang yang sama. Orang-orang tidak akan peduli kalau kamu cuma 'menjalankan naskah'. Di mata hukum kampus, namamu ada di atas surat itu. Kamu akan dicap sebagai pemimpin yang menindas juniornya. Ayahmu... dia tidak akan membiarkanmu pulang dengan kepala tegak, kan?"
Genta terdiam, napasnya tertahan. Bayangan ayahnya yang dingin, tuntutan kesempurnaan, dan ancaman pengusiran dari rumah kembali menghantuinya. Ia tahu Rara benar. Skandal ini akan menjadi noda permanen yang menghapus mimpinya ke Harvard dan mengakhiri karier organisasinya dengan cara yang paling memalukan. Keadilan untuk Rara saat ini berarti kematian bagi masa depan Genta.
"Bimo," panggil Rara.
Bimo menoleh, jemarinya masih bertengger di atas tombol Enter yang siap meluncurkan serangan digital. "Ya, Ra? Aku butuh perintah kamu. Satu klik, dan kebenaran keluar."
Rara menarik napas panjang, menatap folder berisi bukti-bukti kejam Kania sekali lagi. Ia teringat betapa perihnya tatapan menghina teman-teman fakultasnya kemarin. Ia punya semua senjata untuk membalas dendam, untuk mengembalikan nama baiknya dalam sekejap. Namun, ia kemudian melihat Genta. Pria yang semalam meracau ketakutan karena ekspetasi dan tuntutan orang-orang disekitarnya, serta keinginan hatinya untuk tetap bersama Healernya. Jika ia menghancurkan Kania sekarang, ia hanya akan menjadi versi lain dari Kania. Yakni seseorang yang menggunakan kekuasaan untuk menghancurkan hidup orang lain.
"Jangan," ucap Rara tegas. "Hapus draf otomatisnya, Bim. Simpan semua bukti ini di dalam drive terenkripsi. Berikan satu salinannya kepadaku, dan hapus semua jejak aksesnya dari komputer lab ini sekarang juga."
Bimo terbelalak, kacamatanya nyaris merosot. "Ra? Kamu serius? Kita tinggal tekan satu tombol dan Kania tamat! Dia sudah membuat kamu seperti pesakitan di kampus ini!"
"Aku tidak ingin menghancurkan BEM, dan aku tidak ingin menghancurkan Genta hanya demi egoku sendiri," jawab Rara. Suaranya tidak lagi bergetar. "Bukti ini akan aku simpan sebagai perisai. Jika Kania mencoba menyerang lagi, aku akan menggunakannya. Tapi untuk sekarang... aku tidak ingin kebenaran ini menjadi bom yang membunuh semua orang. Aku tidak ingin menang dengan cara yang sama kotornya dengan dia."
Genta menatap Rara dengan pandangan tidak percaya. "Ra... kamu membiarkannya menang? Setelah semua fitnah itu? Setelah semua rasa sakit yang kamu tanggung sendiri?"
"Dia tidak menang, Genta." Rara tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat dengan kedewasaan yang melampaui usianya. "Kemenangan yang dibangun di atas kehancuran orang yang aku sayangi itu bukan kemenangan namanya. Itu namanya dendam. Dan aku bukan orang yang hidup untuk dendam."
Genta merasa seolah-olah ada sesuatu yang menghantam ulu hatinya, lebih sakit dari benturan fisik mana pun. Selama ini, ia hidup di lingkungan yang penuh dengan kompetisi berdarah dingin, di mana menjatuhkan lawan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Ia terbiasa dengan manipulasi Kania dan kekerasan mental ayahnya. Namun di depannya sekarang, berdiri seorang gadis yang telah kehilangan nama baiknya, namun masih berusaha melindungi orang yang telah mengkhianatinya.
Genta merasa sangat kecil. Selama ini ia merasa dirinya adalah Paladin yang harus melindungi, namun kenyataannya, dialah yang selalu diselamatkan oleh kemuliaan hati Rara.
"Kenapa kamu baik sekali, Ra?" bisik Genta, suaranya parau oleh emosi. "Aku tidak layak mendapatkan perlindunganmu setelah aku menandatangani surat itu. Aku... aku bahkan tidak berani membelamu di depan rektorat."
Rara melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Genta. Ia merapikan sedikit kerah kemeja biru Genta yang nampak agak kusut, sebuah gerakan kecil yang terasa begitu intim di tengah kepungan kabel dan monitor. "Karena semalam aku melihat Genta yang asli, bukan Presiden Mahasiswa atau calon mahasiswa Harvard. Aku melihat manusia yang ingin bebas. Dan aku tidak akan membiarkan kebebasanmu mati hanya karena kesalahan orang lain. Jadilah pemimpin yang kamu inginkan, Genta, bukan pemimpin yang mereka paksakan."
Bimo berdehem canggung, pura-pura sibuk mencabut flashdisk dari lubang USB. "Oke, bukti sudah diamankan. Cuma Rara yang punya kuncinya. Aku janji tidak akan ada yang bocor dari sisiku."
Genta menerima salinan bukti itu dari Bimo, namun matanya tetap tertuju pada Rara. Ia melihat Rara mulai membereskan tas jurnalisnya, bersiap untuk pergi menghadapi sisa hari yang berat di kampus. Hari di mana orang-orang mungkin masih akan menatapnya dengan sinis. Gadis itu berniat membiarkan dunia tetap menganggapnya sebagai noda, demi membiarkan Genta tetap menjadi idola.
"Terima kasih, Bim," ucap Genta pendek.
Saat Rara berjalan menuju pintu lab, Genta mengikutinya dari belakang. Ia memperhatikan punggung kecil itu, punggung yang menanggung beban fitnah yang seharusnya menjadi bebannya. Rasa bersalah di hatinya tidak menghilang, justru bertransformasi menjadi sebuah tekad yang membara, lebih panas dari api naga mana pun di dunia virtual.
Cukup, Ra. Jangan berkorban lagi, batin Genta saat mereka keluar dari lab yang pengap itu. Kamu sudah memberikan heal terbaikmu. Sekarang, biarkan aku yang bertarung.
Waktu menunjukkan pukul dua siang. Lima jam menuju Grand Closing festival. Genta membetulkan posisi kemejanya, menarik napas dalam-dalam, dan merasakan zirah esnya retak sepenuhnya. Malam ini, malam ini Genta akan memastikan semuanya terungkap. Dan ia tidak akan membiarkan Rara menanggung luka itu sendirian lagi, apa pun harganya.