Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misi 3: Khai, Aruah anak kecil
Freen dan Nam meninggalkan ketenangan Kuil Wihan Thong saat fajar menyingsing, udara pagi terasa dingin dan segar, jauh berbeda dari hawa pengap di dalam rumah terkutuk itu. Mereka berjalan menuju motor Nam.
"Aku harap manajer Dewi itu mengizinkan aku tidur," bisik Freen, sambil menguap lebar.
"Kamu benar, Freen. Aku ngantuk sekali," timpal Nam, matanya tampak merah dan bengkak karena kurang tidur semalaman.
Freen naik ke motor, disusul Nam di belakang. Freen menghidupkan mesin, dan motor melaju meninggalkan gerbang kuil.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Freen fokus mengemudi, sementara Nam menyandarkan kepalanya di punggung Freen, berusaha mencuri sedikit waktu untuk beristirahat.
Freen merasa puas. Misi kedua, selesai. Ia telah mencegah sebuah bencana, membebaskan puluhan arwah, dan bahkan menyelamatkan warisan berharga. Ia merasa sudah menebus dosanya secara berlebihan.
Pasti sekarang Mae Nakha sudah puas. Dia akan menutup mataku ini, atau setidaknya memberiku cuti seminggu, harap Freen dalam hati.
Ia memejamkan mata sesaat di lampu merah, lalu membukanya lagi. Ia kembali memindai sekeliling dengan mata batinnya yang tidak disadari Nam.
Jalanan yang mereka lewati kini bersih. Tidak ada arwah yang berkerumun, tidak ada bayangan biru transparan yang mengganggu. Hanya ada orang-orang biasa yang baru memulai aktivitas pagi mereka.
"Nam, kurasa... berhasil," bisik Freen, senang.
"Apanya yang berhasil?" tanya Nam dengan suara serak.
"Mae Nakha. Dia mungkin sudah puas. Jalanan ini bersih, Nam. Aku tidak melihat hantu lagi," kata Freen, tersenyum lebar.
Ia merasa lega, beban berat yang menekan pundaknya telah terangkat.
Tiba-tiba, saat motor mereka melewati sebuah persimpangan sepi menuju lingkungan perumahan Nam, Freen melihatnya.
Itu bukan kerumunan arwah. Itu hanya satu.
Di sebuah toko kelontong tua yang belum buka, berdiri sesosok anak laki-laki kecil, transparan, dengan wajah yang sangat sedih dan pakaian compang-camping. Anak itu tidak mengambang, tetapi berdiri tegak, memegang sebungkus kecil permen di tangannya.
Freen hanya melihat sekilas, tetapi aura kesedihan anak itu sangat kuat. Anak itu tidak terlihat berbahaya, hanya... hilang.
"Aku tidak bisa melepaskanmu, Freen Sarocha."
Suara Mae Nakha kembali, terdengar dingin, tetapi kali ini sedikit geli.
"Kau telah membuktikan nilai dirimu. Alat yang tajam tidak boleh tumpul atau disimpan dalam laci. Rumah tua itu hanya pemanasan. Sekarang, kau akan memulai pekerjaan yang sesungguhnya."
Freen membanting rem motor. Nam tersentak.
"Ada apa, Freen?! Kenapa berhenti?" tanya Nam, panik.
Freen mengabaikannya, matanya terpaku pada sosok anak laki-laki di depan toko kelontong itu.
"Wanita Merah Marun itu... dia kembali, Nam," Freen berbisik, frustrasi. "Dan dia bilang mata ini tidak akan tertutup."
"Apa?! Lalu kenapa sekarang?"
Freen menghela napas, menunjuk ke arah anak laki-laki hantu yang sedang menatap kosong ke dalam toko kelontong yang terkunci.
"Misi ketiga. Anak itu. Dia butuh bantuan, dan kurasa, Dewi Nakha ingin aku yang mengurusnya." Freen mematikan motor, turun, dan berjalan perlahan menuju toko kelontong.
Nam hanya bisa memijat pelipisnya. "Baik. Aku akan membelikanmu kopi lagi setelah ini. Tapi jangan lama-lama. Aku sungguh-sungguh butuh tidur."
Freen berjalan mendekati anak hantu itu. Anak itu tidak bergerak, hanya menatap ke dalam toko.
"Hei, Nak. Apa yang kamu lakukan di sini sepagi ini?" tanya Freen, mencoba bersikap lembut.
Anak hantu itu perlahan menoleh ke arah Freen. Matanya yang transparan memancarkan kesedihan.
"Aku... aku hanya ingin membeli permen ini. Aku sudah menabung banyak," bisik anak itu.
Freen melihat ke dalam toko. Di balik jendela kaca, terpajang toples besar berisi permen warna-warni.
"Kenapa kamu tidak masuk saja? Tokonya sebentar lagi buka, Nak," kata Freen.
Anak hantu itu mendongak, air mata transparan mulai mengalir dari matanya. "Aku... aku tidak bisa masuk. Aku sudah berdiri di sini sejak lama, tapi tidak ada yang melihatku."
Freen menghela napas. Tentu saja. Dia adalah hantu.
"Oke, Nak. Namaku Freen. Aku akan membantumu membeli permen itu. Tapi kamu harus memberitahuku namamu, dan kenapa kamu tidak bisa beranjak dari tempat ini."
Anak itu menatap Freen dengan mata penuh harap. "Namaku Khai. Dan aku... aku tidak bisa pergi sebelum aku membelikan permen ini untuk Ibuku."
Freen mengangguk. Misi baru. Arwah yang hanya ingin permen. Freen Sarocha, sang 'alat' Mae Nakha, kembali bertugas. Tidur harus menunggu.
Freen berjongkok di hadapan Khai, anak hantu yang masih memegang erat permen transparan di tangannya. Nam masih menunggu di motor, terlihat sangat mengantuk.
"Baiklah, Khai," kata Freen, berbicara dengan suara pelan dan menenangkan. "Aku akan membantumu. Tapi, kenapa kamu tidak bisa beranjak sebelum membeli permen ini untuk Ibumu?"
Khai menundukkan kepala, membuat topi kumalnya terlihat semakin sedih.
"Ibuku sakit. Dia batuk terus dan badannya panas. Aku janji, kalau aku dapat uang sisa membantu Paman Sup di pasar, aku akan belikan dia permen mint kesukaan Ibu. Kata Paman Sup, permen mint bisa melegakan tenggorokan. Tapi... tapi aku terjatuh di depan toko ini dalam perjalanan pulang."
"Terjatuh?" tanya Freen, matanya memindai sekitar toko kelontong itu.
"Ya. Sebuah motor melaju kencang, aku kaget dan aku terjatuh. Uangku... uangku jatuh ke selokan di sana. Dan setelah itu, aku tidak bisa bangun lagi. Ketika aku sadar, aku sudah ada di sini, dan Ibu tidak ada."
Freen merasakan kepedihan yang menusuk. Bukan hanya karena Khai meninggal, tetapi karena ia meninggal dalam misi kecil yang penuh cinta untuk ibunya.
"Oke, Khai. Aku mengerti," kata Freen lembut. "Ibuku pasti mencarimu. Dia harus tahu kamu ada di mana. Tapi kita harus beli permen itu dulu, dan kita harus menemukan Ibumu."
Freen bangkit, berjalan ke Nam di motor.
"Nam, misi berubah. Kita harus membeli permen mint di toko ini, lalu kita harus mencari Ibu Khai," jelas Freen singkat.
Nam tersentak bangun. "Permen mint? Mencari Ibu hantu? Freen, kau mau aku pingsan di jalan?"
"Tidak akan. Dengarkan aku. Khai meninggal karena kecelakaan di depan toko ini, uangnya jatuh ke selokan. Dia tidak bisa tenang karena belum membelikan permen mint untuk ibunya yang sakit. Kita harus beli permen itu dan mencari tahu di mana rumahnya."
Tepat saat itu, pintu toko kelontong dibuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya dengan apron tersenyum ramah.
"Selamat pagi, anak muda! Sudah buka. Mau beli apa?" sapa pemilik toko.
Freen berjalan masuk. "Selamat pagi, Bibi. Saya mau beli permen mint, yang paling kuat rasa mint-nya."
Bibi pemilik toko menunjukkan sebuah toples kaca berisi permen berwarna hijau cerah. Freen mengambil dua bungkus, membayar, dan segera keluar.
Khai masih berdiri di tempat yang sama, menatap permen di tangan Freen dengan mata penuh kerinduan.
Freen berjongkok lagi, menyerahkan permen itu. "Ini dia, Khai. Sudah kubelikan. Sekarang, tugasmu adalah memberitahu kami di mana rumahmu. Kita harus menemukan Ibumu."
Khai tampak sangat bahagia. Ia mengambil bungkusan permen itu dengan tangan transparan, dan kali ini, Freen melihat aura kebiruan di tubuh Khai menjadi lebih cerah dan hangat.
"Terima kasih, P'Freen. Aku janji, aku tidak akan melupakan ini. Aku tinggal di Rusun Tua dekat pelabuhan. Di sana ada banyak nelayan. Rumahku ada di lantai tiga, kamar nomor 12."
"Rusun Tua dekat pelabuhan," ulang Freen, memastikan. "Baik, Khai. Ayo kita berangkat. Kau harus menuntun jalannya."
"Aku tidak bisa naik motor. Aku takut motor," bisik Khai, menunjuk motor Nam dengan takut.
Freen menghela napas. Tentu saja, dia meninggal karena motor.
"Nam, ini tidak akan menyenangkan," kata Freen sambil memasang helmnya.
"Khai tidak mau naik motor. Kita harus berjalan di belakang motor. Dia akan terbang atau berjalan di samping kita. Kau harus mengawasi anak kecil di jalanan ramai saat kita mengemudi."
"Astaga, Freen! Aku tidak bisa melihatnya!" Nam mengeluh.
"Kau ikuti saja instruksiku. Kau fokus menyetir, aku fokus pada hantu," putus Freen.
Freen kembali ke motor. Khai, dengan permen di tangan, mulai "berlari" di samping motor mereka, menuntun jalan menuju Rusun Tua dekat pelabuhan.
Freen Sarocha, sang paranormal gadungan, kini menjadi supir motor yang dikawal oleh arwah anak kecil. Misi pencarian Ibu Khai yang sakit pun dimulai.