"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: RANTAI EMAS SANG PREDIKAT
Lampu-lampu di koridor villa menyala satu per satu saat Adrian melangkah masuk dengan Ghea di dalam gendongannya. Atmosfer di dalam bangunan itu berubah drastis; tidak ada lagi keramahan palsu atau musik klasik yang menenangkan. Yang ada hanyalah kesunyian yang menekan, hanya interupsi suara langkah sepatu Adrian yang beradu dengan lantai marmer.
Adrian tidak membawa Ghea kembali ke kamarnya, melainkan ke ruang tengah yang luas. Ia menghempaskan Ghea ke atas sofa kulit dengan gerakan yang tidak lagi lembut.
Ghea terduduk lemas, rambutnya berantakan, dan kakinya kotor oleh tanah hutan. Ia menatap Adrian dengan napas yang masih tersengal. Di tangan Adrian, kartu akses perak yang tadi Ghea curi tampak berkilau dingin.
"Kau sangat menginginkan benda ini, bukan?" Adrian mengangkat kartu itu di depan mata Ghea.
Ghea tidak menjawab. Ia hanya menatap kartu itu dengan tatapan kosong. Segala rencana, segala keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, hancur hanya dalam hitungan detik karena satu pilihan moral.
"Kau pikir kebebasanmu ada di balik kartu ini, Ghea?" Adrian tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa emosi. "Kau salah. Kebebasanmu adalah aku. Tanpaku, kau hanya mayat yang dicari oleh polisi-polisi yang ingin membungkammu."
Dengan gerakan yang tenang namun penuh tenaga, Adrian mematahkan kartu akses itu menjadi dua di depan wajah Ghea. Suara patahan plastik itu terdengar seperti tulang yang retak di telinga Ghea. Adrian membuang kepingannya ke lantai seolah itu hanyalah sampah tak berharga.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan ini lagi," ancam Adrian. Ia berlutut di depan Ghea, menatapnya dengan intensitas yang membuat Ghea merasa telanjang. "Aku sudah mencoba memberimu ruang. Aku sudah mencoba mempercayaimu. Tapi kau membuktikan bahwa kau belum siap untuk memegang kendali atas dirimu sendiri."
Adrian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam. Ghea mengira itu adalah cincin lain atau perhiasan, namun saat Adrian membukanya, mata Ghea membelalak.
Di dalamnya terdapat sebuah rantai tipis yang terbuat dari emas murni. Namun, itu bukan kalung. Di ujung rantai itu terdapat sebuah lingkaran kecil dengan mekanisme pengunci yang sangat rumit—sebuah borgol kaki yang didesain sangat indah namun fungsional.
"Apa itu, Adrian?" suara Ghea bergetar.
"Ini adalah janjiku bahwa kau tidak akan pernah tersesat lagi," jawab Adrian.
Adrian meraih pergelangan kaki kanan Ghea. Ghea mencoba menarik kakinya kembali, namun cengkeraman Adrian sangat kuat. Pria itu tidak menggunakan kekerasan yang kasar, namun kekuatannya tidak tergoyahkan.
"Jangan melawan, Ghea. Ini untuk kebaikanmu sendiri," bisik Adrian.
Klik.
Suara pengunci itu terdengar final. Rantai emas itu kini melingkar di pergelangan kaki Ghea. Panjang rantainya cukup untuk membiarkannya berjalan di dalam kamar dan area terbatas, namun akan menariknya kembali jika ia mencoba mendekati pintu keluar atau jendela tertentu. Ujung rantai lainnya terhubung dengan sensor di dinding bawah sofa yang terintegrasi dengan sistem keamanan pusat villa.
Ghea menatap kakinya. Emas itu berkilau indah di atas kulitnya yang pucat, namun rasanya lebih berat daripada besi penjara mana pun.
"Ini indah, bukan?" Adrian mengusap pergelangan kaki Ghea yang kini berhias rantai itu. "Emas murni, Ghea. Sama seperti nilaimu bagiku. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berlari di tengah kegelapan hutan."
Ghea menatap Adrian dengan air mata yang mulai menggenang. "Kau merantaiku seperti binatang, Adrian. Kau bilang kau mencintaiku?"
"Cinta adalah perlindungan, Ghea. Jika seorang anak kecil mencoba berlari ke jalan raya yang ramai, apakah kau akan membiarkannya hanya karena kau menghargai 'kebebasannya'? Tidak. Kau akan memegang tangannya erat-hal, atau mengurungnya di rumah agar dia tetap hidup," Adrian berdiri, menatap Ghea dari ketinggian. "Aku sedang melakukan hal yang sama. Kau adalah anak kecil yang tidak tahu betapa bahayanya dunia luar bagi seorang detektif mati."
Adrian kemudian menggendong Ghea kembali ke kamarnya. Ia merebahkan Ghea di atas ranjang yang spreinya masih berantakan. Adrian menarik selimut untuknya, lalu mengecup kening Ghea dengan kelembutan yang kini terasa sangat memuakkan bagi Ghea.
"Tidurlah. Lusa adalah pernikahan kita. Aku tidak ingin pengantin perempuanku terlihat lelah," ucap Adrian sebelum beranjak menuju pintu.
Begitu Adrian keluar dan suara kunci otomatis berbunyi, Ghea langsung menarik kakinya. Ia menyentuh rantai emas itu, mencoba mencari celah untuk membukanya, namun nihil. Penguncinya memerlukan kunci fisik khusus atau perintah suara dari Adrian.
Ghea membenamkan wajahnya di bantal dan menangis tanpa suara. Ia merasa kalah sepenuhnya. Kartu aksesnya hancur, Bi Inah mungkin akan dipindahkan atau dihukum lebih berat, dan sekarang kakinya terikat.
Namun, di tengah keputusasaannya, jari Ghea menyentuh sesuatu di bawah bantal.
Logam tajam. Kunci Titanium.
Adrian lupa mengambil bantal itu saat ia mengamuk semalam. Adrian terlalu fokus pada kartu akses dan pelarian fisik Ghea hingga ia melewatkan senjata kecil yang masih tersimpan di sana.
Ghea berhenti menangis. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap rantai emas di kakinya, lalu meraba kunci titanium di tangannya.
"Kau pikir emas ini bisa menahanku, Adrian?" bisik Ghea dalam kegelapan. Matanya kini tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kebencian yang murni dan dingin. "Kau baru saja membuat kesalahan terbesar. Kau merantai tubuhku, tapi kau membiarkan taringku tetap ada."
Ghea menyadari satu hal: ia tidak bisa kabur dengan cara konvensional. Selama Adrian masih memegang kendali atas sistem rumah ini, ia akan selalu tertangkap. Pilihan yang tersisa hanyalah apa yang ia pikirkan tadi—ia harus menghancurkan Adrian dari dalam. Ia harus membuat Adrian benar-benar percaya bahwa Ghea telah menyerah, bahwa Ghea telah "mencintainya", sampai pria itu menjadi lengah dan melepaskan rantai ini sendiri.
"Aku akan menjadi pengantin yang sempurna untukmu, Adrian," desis Ghea sambil menggenggam kunci titanium itu hingga telapak tangannya berdarah. "Sampai saatnya tiba bagiku untuk memotong lehermu dengan kunci ini."
Malam itu, di bawah rembulan yang mengintip dari balik tirai, Ghea Zanna mati sebagai detektif yang mencari keadilan, dan lahir kembali sebagai pemangsa yang sedang menunggu mangsanya tidur terlelap.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....