NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: RAHASIA DI BALIK DEBU PAVILIUN

​Pagi hari di kediaman Valerius selalu dimulai dengan keheningan yang mencekam. Embun masih menggelayut di pucuk-pucuk daun pinus saat Arunika melangkah keluar menuju taman belakang. Ia mengenakan gaun katun putih sederhana dengan kardigan rajut tipis, sebuah tampilan yang sengaja ia pilih agar terlihat seperti istri yang sedang butuh ketenangan, bukan seorang penyusup yang sedang mencari kebenaran.

​Di tangannya, ia membawa sebuah buku sketsa dan pensil. Ini adalah alasan yang ia berikan pada Sandra—bahwa ia ingin menggambar pemandangan kolam ikan untuk menenangkan sarafnya yang tegang setelah acara amal semalam.

​Sandra berdiri di teras lantai dua, sosoknya yang kaku terlihat dari kejauhan. Mata sekretaris itu tidak pernah lepas darinya, namun jarak mereka cukup jauh. Arunika tahu ia hanya punya waktu sempit saat Sandra harus masuk ke dalam untuk menyiapkan jadwal harian Adrian yang sangat ketat.

​"Hanya sepuluh menit," bisik Arunika pada dirinya sendiri.

​Begitu ia melihat Sandra berbalik masuk ke dalam mansion, Arunika mempercepat langkahnya. Ia tidak menuju kolam ikan. Ia memutar, melewati rimbunnya pohon-pohon willow yang menjuntai, menuju bagian paling ujung dari properti itu.

​Paviliun Melati berdiri di sana, terisolasi oleh semak belukar yang tak terawat. Bangunan bergaya kolonial kecil itu tampak seperti sisa-sisa kemegahan masa lalu yang sengaja dibiarkan membusuk. Kayu-kayunya menghitam karena lembap, dan tanaman merambat melilit pilar-pilarnya seperti tentakel yang mencoba menyeret bangunan itu ke dalam tanah.

​Jantung Arunika berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Ia mengeluarkan kunci perak bermotif mawar itu. Logamnya terasa panas di telapak tangannya yang berkeringat.

​Klik.

​Suara mekanisme kunci yang berputar terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian taman. Arunika mendorong pintu kayu yang berat itu. Suara gesekan engsel yang berkarat seolah-olah menjadi jeritan peringatan bagi siapa pun yang berani masuk.

​Aroma debu, kayu lapuk, dan sisa-sisa parfum bunga yang sangat samar—mungkin melati yang sudah lama mati—menyerbu indranya. Cahaya matahari yang tembus dari sela-sela papan jendela yang terpaku menampilkan jutaan partikel debu yang menari-nari di udara.

​Arunika melangkah masuk. Ruangan itu berantakan, seolah-olah seseorang telah meninggalkan tempat ini dengan terburu-buru. Ada sebuah meja rias tua yang cerminnya sudah retak seribu, dan di sudut ruangan, sebuah kursi goyang yang masih bergerak sedikit tertiup angin dari celah atap yang bocor.

​Ia teringat petunjuk dari kunci itu: "Loker Belakang".

​Arunika berjalan ke bagian belakang paviliun, di balik sebuah lemari pakaian besar yang sudah keropos. Di sana, tertanam sebuah kotak besi kecil di dalam dinding kayu, tersamarkan oleh tumpukan kain gorden yang sudah berjamur.

​Arunika memasukkan kunci peraknya.

​Kotak itu terbuka, memperlihatkan sebuah kotak musik kayu yang sangat indah dengan ukiran bidadari di atasnya. Di bawah kotak musik itu, terdapat sebuah map kulit hitam yang berisi tumpukan surat dan dokumen medis.

​Arunika membuka dokumen pertama. Matanya membelalak.

​"Laporan Diagnosa Medis: Elena Valerius. Kondisi: Hipertermia dan Malnutrisi Berat akibat isolasi jangka panjang."

​Bukan depresi. Bukan sakit karena lemah. Elena disiksa secara sistematis melalui pengabaian dan kontrol nutrisi. Adrian tidak membunuhnya dengan senjata, ia membunuhnya dengan perlahan-lahan mencabut haknya sebagai manusia.

​Arunika beralih ke tumpukan surat. Surat-surat itu tidak pernah terkirim. Semuanya ditujukan kepada seseorang bernama 'Rendra'—nama yang sama dengan pria yang baru saja muncul di outline pikirannya.

​"Rendra, jika kau menerima ini, ketahuilah bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu karena keinginan sendiri. Adrian bukan hanya suamiku, dia adalah sipir penjaraku. Dia terobsesi pada ibunya yang perfeksionis, dan setiap kali aku melakukan kesalahan sekecil apa pun, dia akan mengurungku di paviliun ini tanpa cahaya... Aku takut, Rendra. Aku takut aku akan menjadi gila sebelum kau menemukanku."

​Tangan Arunika bergetar hebat hingga kertas itu hampir jatuh. Jadi, Adrian memiliki trauma masa kecil terkait ibunya? Dan dia melampiaskan obsesi "kesempurnaan" itu kepada istri-istrinya?

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di atas dek kayu paviliun.

​Drap. Drap. Drap.

​Arunika tersentak. Ia dengan cepat memasukkan kembali dokumen dan surat-surat itu ke dalam kotak besi, namun ia menyembunyikan kotak musik itu di balik kardigannya. Ia menutup kotak besi itu tepat saat pintu paviliun didorong terbuka dengan kasar.

​Siluet tinggi besar berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya matahari.

​"Aku sudah memperingatkanmu, Arunika. Paviliun ini sangat berbahaya," suara Adrian terdengar sangat dingin, lebih dingin dari embun pagi tadi.

​Arunika berbalik, mencoba mengatur ekspresi wajahnya meskipun lututnya gemetar hebat. "Adrian... aku... aku hanya ingin mencari ketenangan. Aku tidak tahu kenapa kakiku membawaku ke sini."

​Adrian berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti lonceng kematian. Ia mengamati debu yang terusik di lantai, lalu matanya tertuju pada tangan Arunika yang tersembunyi di balik kardigan.

​"Ketenangan? Di tempat yang penuh debu dan kenangan busuk ini?" Adrian tertawa kecil, namun matanya tidak menunjukkan kegembiraan sedikit pun. "Apa yang kau sembunyikan di sana, Sayang?"

​"Bukan apa-apa, Adrian. Aku hanya kedinginan," jawab Arunika, suaranya hampir hilang.

​Adrian mencengkeram bahu Arunika, tarikannya sangat kuat hingga membuat Arunika merintih. Ia menarik paksa apa yang ada di balik kardigan istrinya.

​Braak!

​Kotak musik itu jatuh ke lantai, terbuka, dan mulai memainkan melodi yang sangat lambat dan menyayat hati. Sebuah melodi klasik yang entah kenapa terasa akrab sekaligus mengerikan.

​Wajah Adrian mendadak pucat saat mendengar melodi itu. Matanya bergetar, dan untuk pertama kalinya, Arunika melihat kilatan ketakutan di mata monster itu.

​"Matikan! MATIKAN MUSIK ITU!" teriak Adrian. Suaranya pecah, ia tampak seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

​Arunika terpaku. Ia melihat Adrian menutup telinganya dengan kedua tangan, tubuhnya sedikit membungkuk seolah melodi itu adalah serangan fisik baginya.

​"Adrian? Kau tidak apa-apa?" tanya Arunika, memberanikan diri mendekat.

​Adrian menyambar kotak musik itu dari lantai dan membantingnya ke dinding dengan kekuatan penuh hingga hancur berkeping-keping. Melodi itu berhenti seketika.

​Napas Adrian memburu. Keringat membasahi dahinya. Ia menatap puing-puing kotak musik itu dengan kebencian yang mendalam, lalu perlahan ia menoleh ke arah Arunika.

​"Jangan pernah... jangan pernah menyentuh barang-barang dari tempat ini lagi," bisik Adrian. Suaranya kembali tenang, namun ketenangan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi. "Barang-barang ini beracun. Mereka membawa penyakit."

​Adrian mencengkeram pergelangan tangan Arunika dan menyeretnya keluar dari paviliun. "Sandra! Bawa Nyonya ke kamarnya. Dia melanggar Aturan No. 42: Dilarang memasuki area terlarang tanpa izin tertulis dari suami."

​Sandra muncul dari balik semak-semak, wajahnya tampak sangat ketakutan melihat kondisi Adrian yang tidak stabil.

​Sepanjang perjalanan kembali ke kamar, Arunika tidak bicara. Namun di dalam benaknya, ia menyadari satu hal krusial: Melodi itu adalah kelemahan Adrian. Obsesi Adrian pada kesempurnaan lahir dari sebuah luka masa kecil yang sangat dalam, dan kunci untuk menghancurkannya ada pada masa lalu yang pria itu coba kubur.

​Arunika juga menyadari bahwa Rendra—pria yang disebutkan Elena dalam suratnya—bukanlah sekadar nama. Dia adalah mantan kekasih Elena, dan mungkin, dia juga kunci untuk pelarian Arunika nanti.

​Di dalam kamar yang terkunci, Arunika duduk di depan jendela. Ia kehilangan kotak musik itu, tapi ia berhasil membawa satu hal: sebuah fakta bahwa Adrian Valerius bukanlah tuhan yang tak terkalahkan. Dia hanyalah seorang pria kecil yang ketakutan pada melodi masa kecilnya sendiri.

​"Permainan ini baru saja dimulai, Adrian," bisik Arunika sambil menatap pantulan matanya yang kini tidak lagi penuh ketakutan, melainkan penuh dengan intrik. "Aku akan mencari tahu siapa Rendra, dan aku akan memastikan kau mendengarkan melodi itu sampai kau gila."

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mita Paramita
Thor nih episode ny salah up BKN arunika??
Leebit: makasih atas koreksinya. sekali saya sebagai penulis minta maaf. seharusnya bab tersebut di novel "TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT" tapi saya upload ke novel.. saya mohon maaf atas kekeliruan sya🙏🙏🙏
total 1 replies
Mita Paramita
Thor mau tamat ya...sih Adrian udh nyerah gtu . semogaa aja arunika bisa bebas👍
Mita Paramita
Thor ..sekedar saran jangan bikin arunika berakhir seperti elena, dan Adrian mesti ketangkap polisi biar arunika bebas 🙂 jadinya happy ending 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!