Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Tebar Pesona
"Selamat pagi, Dek Firda ...." Pras tiba-tiba saja muncul dan masuk melewati pintu kamar Akira yang sejak tadi terbuka lebar. Di dalam kamar itu Firda tak berdua saja dengan Akira, ada Bi Mina juga yang menemani.
"Eh, Den Pras, tumben pagi-pagi sekali datangnya?" Bi Mina mendongak menatap jam dinding. Rupanya Pras datang 1 jam lebih awal dari biasanya.
Pras tersenyum, mendekat ke arah Firda yang baru saja selesai mengganti popok Baby Akira.
"Bi Mina, boleh minta kopi?" tanya Pras. Sebenarnya itu cara halus yang dia gunakan untuk mengusir kepala pelayan tersebut agar tak ada yang mengganggunya melakukan pendekatan dengan Firda. Dia sengaja datang pagi-pagi sekali agar punya banyak waktu untuk bertemu dengan wanita yang dia incar. Karena kalau menunggu jam pulang kantor, biasanya dia harus lembur, jadi tidak ada waktu luang untuk bertemu.
"Tentu saja boleh, Den. Tunggu sebentar Bibi buatkan. Sekalian tunggu bi Wati selesai buat sarapan."
Ketika Bi Mina sudah keluar, Pras pun mengambil kesempatan untuk duduk di pinggir kasur, tidak jauh dari Firda. Pria itu berdehem, lalu mulai mengajak Firda bicara. "Tak terasa Baby Akira sudah bisa tengkurap, ya, Dek Firda?" ucapnya basa-basi.
Firda mengangguk. Tersenyum tipis. Ditinggal bertiga dengan Pras di dalam kamar berukuran sedang itu rasanya sedikit aneh dan canggung. Firda bukanlah gadis remaja polos yang tidak tahu menahu mengenai sifat pria. Dia tahu betul maksud Pras ada di sana bersamanya. Tapi tak akan semudah itu Pras bisa merebut posisi mendiang Aris di hatinya.
"Mm ... Mas Pras, bisa minta tolong bawakan boneka sama mainan Akira? Saya ingin membawanya keluar ke ruang keluarga." Firda mengambil langkah cepat berdiri lalu menggendong Akira. Sebenarnya biasanya Akira tidak keluar kamar sepagi ini, tapi karena di sana ada Pras, jadilah Firda memutuskan membawa anak itu keluar secepatnya, sebab tak baik mereka berada di ruang sempit itu bersama.
Pras ikut bangkit. "Oh, tentu saja, Dek Firda. Dengan senang hati. Barang-barang apa saja yang harus Mas bawa keluar?" Kedua sudut bibir Pras terangkat. Dia merasa sangat senang Firda meminta bantuannya. Rasanya kehadirannya di sana terasa berguna.
Setelah menjelaskan barang apa saja yang harus dibawa, Firda segera membawa Akira keluar kamar. Sesampainya di ruang keluarga, kasur lantai yang biasanya digunakan Akira belum digelar, jadi terpaksa Firda meminta bantuan Pras lagi. "Mas Pras, bisa minta tolong gendong Akira sebentar? Saya mau gelar kasur terus sedot debunya dulu sebelum membiarkan Akira bermain di sana. Mas Pras tidak keberatan, 'kan?"
Tentu saja Pras dengan senang hati melakukannya. "Jangankan menggendong Baby Akira, menggendong Dek Firda sekaligus pun Mas Pras sanggup." Pria itu tertawa. Firda dibuat geleng-geleng dengan sifatnya yang terlalu terang-terangan.
Sementara itu di atas sana, Arman yang baru bangun tidur langsung meraih ponsel di atas nakas. Sebelum meninggalkan kasur dan memulai aktifitas, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah mengecek rekaman CCTV terlebih dahulu. Tidak tahu kenapa Arman jadi senang melakukan itu sejak semalam, sampai-sampai terbawa mimpi.
Begitu rekaman kamera CCTV di ruang keluarga terputar, kening Arman langsung berkerut. "Mau apa Pras datang pagi-pagi buta begini?" gumamnya, langsung menyimpan ponsel ke dalam saku piyama tidurnya. Sebelum turun ke lantai bawah menghampiri ketiga orang itu, Arman masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu. Ada keinginan yang tidak bisa ditunda.
...****************...
"Dek Firda, treadmil-nya boleh Mas pinjam? Tadi sebelum berangkat ke sini, Mas belum sempat olahraga." Pras menggestur ke arah alat olahraga berwarna pink–hitam yang ada di sudut ruangan dengan sorot matanya, diikuti tatapan oleh Firda.
"Oh, tentu saja boleh, Mas. Pakai saja," kata Firda mengizinkan.
Pras tersenyum, mengucapkan terima kasih. "Mm ... Dek, Mas ijin buka baju ya. Soalnya kalau olahraga pakai kemeja rasanya agak aneh. Takutnya bajunya kusut atau bau keringat sebelum sampai di kantor."
Firda mengangguk pelan saja sambil tersenyum dipaksakan. Dia lebih memilih bermain dengan Akira dan memfokuskan tatapannya ke anak itu saat Pras mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Cih, pasti dia sengaja mau tebar pesona." Arman yang berdiri di tangga diam-diam memperhatikan. Dia akui, body Pras memang keren karena rajin nge-gym sejak beberapa tahun terakhir, ditambah pola makan yang sehat. Tapi, Arman yang merasa body-nya tak kalah oke ikut-ikutan melepas piyamanya, bahkan sebelum kedua kakinya lepas dari anak tangga terakhir.
"Selamat pagi kesayangan, Daddy," sapanya, menghampiri Akira yang sedang tengkurap sambil menggigit teether berbentuk donat, sesekali membanting mainan perang**ng gigi itu di atas kasur.
Firda yang baru menyadari kedatangan Arman sontak menoleh. Wanita itu langsung membuang muka ketika melihat Arman hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan. Lebih mendingan Pras karena pria itu masih mengenakan kaos singlet berwarna hitam.
"Ada apa dengan para pria pagi ini? Kenapa kebetulan sekali dua-duanya bersamaan tidak pakai baju?" batin Firda, sambil mencoba menyembunyikan rasa malunya. Wajahnya merona melihat perut Arman yang padat, seperti roti sobek yang baru saja keluar dari oven, dan otot bisepnya yang membuatnya terlihat semakin gagah dan tangguh. Firda cepat-cepat mengalihkan pandangannya, tidak ingin ketahuan sedang memandang Arman.
"Mm ... Tuan, karena Anda sudah ada di sini menjaga Akira, saya ijin masuk ke kamar untuk mandi sebentar." Firda lekas bangkit. Dia berlari masuk ke dalam kamar Akira tanpa menunggu persetujuan Arman.
Arman mengulum tawa. Merasa lucu melihat tingkah Firda yang berlari terbirit-birit seperti habis melihat hantu. 'Seperti baru pertama kali lihat saja,' gumam Arman dalam hati.
"Loh, Bos, kenapa tidak pakai baju? Tidak takut masuk angin?" tanya Pras yang baru saja selesai berlari di atas treadmil. Pria itu terlihat se**i karena kulitnya terlihat glowing akibat keringat.
Arman menatap Pras, membalas pertanyaan dengan pertanyaan. "Memangnya ini rumah siapa?"
Pras meringis. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Rumahnya ..." ucapnya menunjuk Arman menggunakan kedua ibu jarinya dengan gestur sopan dan sungkan.
"Nah, itu kamu tahu. Kalau aku tidak pakai baju di rumah sendiri itu wajar. Yang tidak wajar itu kamu, kenapa tidak pakai baju di rumahku?"
"Lah, Bos 'kan lihat sendiri. Saya habis olahraga. Daripada kemeja saya kusut dan bau karena keringat, lebih baik saya buka saja," jelas Pras membela diri.
"Sejak kapan di rumah ini ada fasilitas gym?"
Pras lagi-lagi meringis. "Cuma pakai sebentar kok, Bos. Lagian Dek Firda juga tidak keberatan saya pakai treadmil-nya."
Perdebatan kecil dan kekanakan antar atasan dan bawahan tersebut terhenti kala Bi Mina datang membawa 2 cangkir kopi hangat dan beberapa potong sandwich. "Tuan Arman, Den Pras, kopi dan menu sarapannya sudah jadi. Silahkan dinikmati."
"Terima kasih banyak, Bi," ucap Arman dan Pras bersamaan.
...****************...
Siang itu, di gedung kantor pusat Valmara Holding, tepatnya di dalam ruangan Arman saat jam istirahat.
"Bos, saya sudah mendapatkan informasi mengenai apa yang ingin kita ketahui minggu lalu." Pras meletakkan amplop coklat muda berukuran besar di atas meja kerja Arman, tepat di hadapan sang atasan.
"Bisa cepat juga rupanya. Aku pikir butuh waktu lama seperti saat mencari tahu latar belakang Firda waktu itu." Arman meraih amplop coklat tersebut, memutar tali untuk membuka isinya. Ada beberapa foto bukti kecelakaan. Bagian depan mobil mewah berwarna hitam itu hancur. Kalau coba dibayangkan, memang mustahil orang yang ada di dalamnya bisa selamat.
"Menurut informasi, kecelakaan yang menimpa Aris Kusnandar murni kecelakaan, Bos, bukan karena ulah ibu tirinya."
"Oh, ya? Yakin murni karena kecelakaan?" Rasanya Arman tak percaya mendengar fakta itu.
"Yakin, Bos. Saya dapat kiriman bukti rekaman CCTV-nya." Pras lantas memutar sebuah video berdurasi 2 menit di ponselnya, menunjukkan keadaan di sekitar tempat kejadian. Saat itu hujan turun dengan derasnya, angin kencang bertiup tanpa ampun, merobohkan sebuah pohon tunggal di pinggir jalan. Di waktu yang bersamaan, mobil Aris yang mulai tertangkap kamera CCTV, terlihat mencoba menghindari pohon yang akan roboh tersebut agar tidak menimpa mobilnya, tapi nahas, sebuah truk pengangkut beras dari arah berlawanan tidak bisa berhenti tepat waktu. Tabrakan maut pun tak bisa dihindari.
Arman menghela napas. Langsung membuang muka saat kecelakaan yang merenggut nyawa itu terjadi. "Ya ampun, ini kecelakaan yang sangat tragis."
Setelah melihat rekaman itu, Arman akhirnya percaya bahwa apa yang menimpa mendiang suami Firda memang murni kecelakaan. Karena rasanya tidak masuk akal nyonya Risma mempunyai kuasa untuk mendatangkan badai dan merobohkan pohon hanya demi melenyapkan anak tirinya.
"Oh ya, saya juga mendapat informasi mengenai bayinya, Bos," ucap Pras.
Kedua mata Arman terbuka lebar, alisnya terangkat. Menandakan bahwa topik yang akan dibahas oleh Pras sangatlah menarik.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..