(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27
Alam Rahasia – Zona Reruntuhan Kota Kuno.
Suara gemuruh langkah kaki batu memenuhi gua bawah tanah raksasa itu. Ratusan Golem Penjaga setinggi tiga meter mengepung Ye Xing dan Mei Wuchen. Mata merah mereka menyala serentak di kegelapan.
"Jumlahnya seratus dua puluh tiga," kata Mei Wuchen santai, memutar pedang kayunya. "Banyak juga. Apa kau takut, Bintang Kecil?"
Ye Xing mendengus, memancangkan kuda-kuda dengan Pedang Tulang Naga-nya. "Takut? Aku sedang berpikir mau dijadikan apa puing-puing mereka nanti.."
GRAAAHH!
Barisan depan Golem menerjang. Tinju batu sebesar gentong air melayang ke arah mereka.
"Mulai!"
Ye Xing tidak menghindar. Dia menghentakkan kaki kirinya.
[Domain Berat: Tolakan Bintang!]
Gelombang gravitasi terbalik meledak dari tubuh Ye Xing. Golem-golem yang melompat itu tiba-tiba terhempas mundur di udara, seolah menabrak dinding tak terlihat. Mereka saling bertabrakan, goyah dan kehilangan keseimbangan.
Di saat itulah, Mei Wuchen bergerak.
"Celah!"
Sosoknya lenyap, digantikan oleh kilatan cahaya perak yang meliuk-liuk di antara celah tubuh golem yang terbuka.
Sreeet! Sreeet! Sreeet!
Dalam satu detik, sepuluh golem berhenti bergerak. Kepala mereka masih utuh, tapi di dada mereka tepat di mana inti kristal berada terdapat lubang halus yang menembus sampai punggung.
Bruk! Bruk! Bruk!
Sepuluh golem runtuh menjadi tumpukan kerikil.
"Sepuluh poin untukku," Mei Wuchen mendarat di atas bahu salah satu golem yang masih hidup, lalu menusukkan pedangnya ke bawah, menghancurkan golem itu seketika. "Nol untukmu."
"Jangan sombong," Ye Xing menyeringai.
Ye Xing melihat sekumpulan golem (sekitar 20) sedang berkumpul membentuk formasi dinding di sisi kiri.
Ye Xing mengangkat tangan kirinya, mencengkeram udara kosong.
[Domain Berat: Lubang Hitam Mini!]
Gravitasi di tengah kerumunan golem itu mendadak menjadi ribuan kali lipat lebih berat dan menarik ke satu titik pusat.
"Grakkk!"
Dua puluh golem itu terseret paksa, tubuh batu mereka saling berhimpitan, menumpuk menjadi bola batu raksasa yang padat dan tidak bisa bergerak.
"Mei'er! Potong sekarang!" teriak Ye Xing.
"Siap, Bos!"
Mei Wuchen melompat dari reruntuhan, berputar di udara. Pedang kayunya memancarkan aura Niat Pedang sepanjang sepuluh meter.
[Teknik Pedang: Pembelah Bulan Sabit!]
Tebasan energi perak meluncur, memotong "Bola Golem" yang dibuat Ye Xing tepat di tengahnya.
BOOM!
Bola batu itu terbelah rapi, lalu meledak menjadi debu. Dua puluh golem hancur sekaligus.
"Dua puluh poin untukku. Total 31," hitung Mei Wuchen sambil mendarat cantik. "Jadi poinmu tetap nol."
Ye Xing memutar bola matanya. "Tanpa bantuan ku, kau cuma akan memotong batu satu per satu sampai lelah."
Namun, perayaan mereka terhenti.
Tanah bergetar lebih hebat. Dari ujung jalan utama kota kuno itu, sebuah patung raksasa setinggi 15 meter mulai bangkit dari singgasananya.
Berbeda dengan golem kroco, golem ini memakai zirah emas kuno dan membawa Halberd (Tombak Kapak) raksasa. Auranya setara dengan Foundation Establishment Tingkat Akhir.
Jenderal Golem Penjaga.
"PENYUSUP..." suara berat bergema dari golem itu. "MATI..."
Jenderal Golem mengayunkan tombak raksasanya secara horizontal, menyapu area seluas lapangan bola.
"Awas!"
Ye Xing dan Mei Wuchen melompat ke arah berlawanan.
BLAARR!
Bangunan di sekitar mereka rata dengan tanah terkena sapuan tombak itu. Angin hempasannya saja membuat pipi Ye Xing perih.
"Kulitnya terbuat dari Logam Bintang," analisis Ye Xing cepat dengan Mata Bintang-nya. "Serangan biasa tidak akan menembusnya. Intinya ada di balik leher, tertutup helm baja."
"Terlalu tinggi," keluh Mei Wuchen. "Aku tidak bisa melompat setinggi itu tanpa pijakan, dia pasti akan menepukku seperti nyamuk di udara."
Ye Xing menatap pedang besarnya, lalu menatap Mei Wuchen. Sebuah ide gila muncul.
"Mei'er. Kau percaya padaku?"
Mei Wuchen menoleh, melihat tatapan 'nakal' Ye Xing. Dia langsung paham.
"Jangan bilang kau mau melempar aku lagi seperti waktu kita umur 7 tahun? Terakhir kali kau melempar aku ke kolam ikan!"
"Kali ini bukan ke kolam ikan. Ke leher monster," Ye Xing memosisikan pedang besarnya mendatar seperti pemukul. "Naik!"
Mei Wuchen tidak ragu. Dia berlari kencang, lalu melompat naik ke atas bilah pedang Tulang Naga Ye Xing yang lebar. Dia berjongkok, menyeimbangkan diri.
"Arah jam 12! Sudut! Kekuatan penuh!" teriak Mei.
Ye Xing mengalirkan seluruh Qi-nya ke otot lengan dan pinggang. Urat-uratnya menonjol.
[Gravitasi: 100x!]
"TERBANG!!!"
Ye Xing mengayunkan pedang besarnya sekuat tenaga.
WUSH!
Mei Wuchen melesat dari ujung pedang Ye Xing seperti peluru meriam manusia. Kecepatannya begitu tinggi.
Jenderal Golem itu melihat ancaman datang, mencoba mengangkat tangannya untuk menangkis.
Tapi Ye Xing tidak tinggal diam. Dia menancapkan pedangnya ke tanah, lututnya goyah karena kelelahan.
"Tahan... di situ..."
Ye Xing meremas tangannya ke arah Jenderal Golem.
[Domain Berat: Belenggu Kaki!]
Jenderal Golem itu merasa tangannya mendadak berat ton-tonan. Gerakannya melambat sepersekian detik.
Cukup untuk Mei Wuchen.
"Haaa!"
Di udara, Mei Wuchen memusatkan seluruh Qi Pedang-nya ke satu titik di ujung pedang kayunya.
Dia berputar.
[Teknik Gabungan: Komet Pedang Jatuh!]
CRAAASH!
Mei Wuchen menabrak helm baja golem itu.
Pedang kayunya (yang dilapisi Qi Dewa Pedang) menembus logam bintang, menembus leher, dan menghancurkan inti kristal di dalamnya.
Mei Wuchen menembus sampai keluar dari punggung golem itu, mendarat dengan salto di tanah.
Jenderal Golem itu membeku. Cahaya merah di matanya padam.
Tubuh raksasa itu kemudian runtuh berantakan, menimbulkan gempa kecil.
DUM.
Hening.
Ye Xing terduduk di lantai, napasnya memburu. Mei Wuchen berjalan mendekat sambil membersihkan debu di bajunya, tersenyum lebar.
"Poin: 100 untukku. Tambah 50 untuk bantuan pelempar yang lumayan," kata Mei Wuchen, mengulurkan tangan untuk membantu Ye Xing berdiri.
Ye Xing menyambut uluran tangannya. "Kerja bagus."
Saat mereka bersentuhan, cincin Ye Xing bergetar. Sebuah pintu rahasia terbuka di belakang singgasana Jenderal Golem yang hancur.
Dari dalam pintu itu, bukan harta karun yang terlihat.
Melainkan sebuah Prasasti Kuno yang memancarkan aura hitam pekat aura Void.
Dan di depannya, ada jejak kaki berlumpur yang masih baru.
"Ada yang sudah mendahului kita," wajah Ye Xing berubah serius. "Fang Que."
Mei Wuchen mencabut pedangnya lagi. "Ayo kita kejar tikus itu sebelum dia memakan kejunya."
Sementara itu, di Zona Hutan Alam Rahasia.
"Tolong... Siapapun..."
Lin Xiao sedang berlari dikejar oleh sekelompok Tanaman Piranha yang bisa berjalan. Armornya penuh lendir hijau.
Tiba-tiba, dia tersandung akar pohon dan jatuh berguling ke dalam sebuah lubang gua yang tertutup semak.
Bruk!
Lin Xiao mendarat di tumpukan tulang belulang. Dia gemetar ketakutan.
Namun, matanya tertuju pada sebuah kolam kecil di tengah gua itu. Airnya berwarna emas susu. Dan di tengah kolam, tumbuh sebuah pohon kecil dengan satu buah berwarna perunggu yang bentuknya seperti kura-kura kecil.
Perut Lin Xiao berbunyi.
"Itu... makanan?"
Tanpa pikir panjang (dan karena panik dikejar tanaman), Lin Xiao memetik buah itu dan memakannya.
Rasanya keras dan pahit.
"Uhuk! Tidak enak!"
Tapi detik berikutnya, kulit Lin Xiao mulai berubah warna menjadi perunggu gelap. Aura pertahanannya melonjak gila-gilaan.
Tanpa dia sadari, dia baru saja memakan Buah Roh Kura-kura Purba—harta karun legendaris yang bisa membuat pemakannya memiliki pertahanan setara monster tingkat tinggi, namun dengan efek samping: kulitnya menjadi sangat berat hingga sulit berlari.
Lin Xiao mencoba berdiri, tapi kakinya ambles ke dalam tanah.
"Eh? Kenapa aku jadi berat sekali?!"