Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Lantai rumah sakit Arkatama yang biasanya tenang seketika berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati.
Suara derit roda brankar yang didorong dengan kecepatan penuh bergema di lorong IGD.
Ariel tidak membiarkan siapa pun mengambil alih posisi di kepala brankar.
Bajunya yang semula rapi kini basah kuyup oleh darah Relia.
Wajahnya yang biasa tenang dan terkendali, kini memucat dengan rahang yang mengatup rapat.
"Siapkan ruang operasi nomor satu! Kosongkan jalur!" teriak Ariel, suaranya menggelegar memenuhi lorong.
Dokter bedah senior dan tim anestesi sudah menunggu di depan pintu ruang operasi.
Mereka tertegun melihat sang pemilik rumah sakit datang dalam kondisi seberantakan itu, mendekap istrinya yang sudah tak sadarkan diri.
"Dokter Ariel, biar kami yang mengambil alih," ucap Dokter bedah senior mencoba menenangkan.
"Tidak! Aku yang akan memimpin operasinya!" sahut Ariel cepat.
"Ariel!" Suara tegas Dokter Wahyuni menghentikan langkah Ariel tepat di depan pintu ruang operasi.
Ibunya muncul dengan napas tersengal, namun matanya menatap Ariel dengan tajam.
"Kamu sedang tidak stabil. Tanganmu gemetar. Secara kode etik dan medis, kamu tidak boleh mengoperasi keluargamu sendiri dalam kondisi emosional seperti ini. Kamu bisa membunuhnya karena satu kesalahan kecil!"
Ariel menatap tangannya yang dimana jemarinya bergetar hebat.
Amarah dan ketakutan telah melumpuhkan sisi profesionalnya.
"Percayakan pada tim terbaikmu, Ariel. Kamu harus berada di luar, berdoa, dan memastikan monster itu membusuk di selnya," bisik Wahyuni sambil memegang pundak putranya.
Dengan berat hati, Ariel melepaskan genggaman tangannya dari brankar Relia.
Ia berdiri mematung saat pintu ruang operasi tertutup dan lampu merah di atasnya menyala tanda dimulainya perjuangan antara hidup dan mati.
Hampir dua jam Ariel duduk di lantai lorong, menyandarkan punggungnya ke dinding dingin.
Ia tidak peduli pada tatapan orang-orang. Di tangannya, ia menggenggam ponsel yang terus bergetar. Satrio, kepala keamanannya, mengirim pesan.
[Lapor Tuan, Penembak jitu berhasil dilumpuhkan. Markus sedang dalam perjalanan ke markas kepolisian dengan pengawalan ketat. Sarah mencoba melarikan diri namun sudah kami cegat di perbatasan.]
Ariel tidak membalas. Matanya hanya tertuju pada pintu ruang operasi.
Di dalam sana, Relia sedang berjuang melawan peluru yang bersarang dekat dengan jantungnya.
Tiba-tiba, seorang asisten membawa iPad milik Relia yang tadi jatuh di balkon.
Layarnya retak seribu, namun masih bisa menyala. Ariel menyentuh layarnya, dan sebuah aplikasi catatan terbuka secara otomatis.
Rupanya, Relia sempat menuliskan sesuatu sebelum siaran langsung dimulai, sebuah draf bab yang belum sempat diunggah:
'Jika pena ini berhenti bergerak sebelum ceritanya usai, biarlah dunia tahu bahwa aku tidak lagi takut. Mas Ariel, terima kasih sudah menjadi rumah bagiku. Jika Bintang memanggilku, aku akan menunggumu di sana. Tapi jika Tuhan masih memberiku napas, aku akan bangun untuk mencintaimu lebih lama.'
Air mata Ariel jatuh mengenai layar iPad yang retak itu.
"Bangun, Relia. Ceritamu belum selesai."
Ariel mendekap iPad yang retak itu di dadanya, seolah benda itu adalah satu-satunya bagian dari Relia yang masih bisa ia rasakan detaknya.
Di lorong rumah sakit yang sunyi, suara napas Ariel yang berat menjadi satu-satunya melodi keputusasaan.
Tiba-tiba, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam.
Suara pintu bergeser yang biasanya membawa harapan, kali ini terasa mencekam.
Ariel segera bangkit, kakinya terasa kaku saat melangkah menghampiri dokter bedah yang keluar dengan masker yang sudah diturunkan.
"Ariel..." Dokter senior itu menghela napas panjang, menatap Ariel dengan simpati yang mendalam.
"Operasinya berhasil. Peluru itu berhasil kami angkat. Untungnya, peluru itu meleset beberapa milimeter dari pembuluh darah jantungnya."
Ariel memejamkan mata, bibirnya bergetar mengucapkan syukur yang tak terdengar. Namun, kalimat dokter selanjutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Tapi, Ariel, hantaman peluru itu menyebabkan trauma hebat pada organ dalamnya dan kehilangan darah yang terlalu banyak. Tubuh Relia mengalami syok berat. Saat ini, dia berada dalam kondisi koma."
"Koma? Sampai kapan?"
"Kami tidak bisa memastikan. Secara medis, dia sudah melewati masa kritisnya, tapi secara neurologis, dia seolah enggan untuk bangun. Dia stabil, tapi jiwanya seakan sedang bersembunyi di suatu tempat yang sangat jauh. Sekarang kami akan memindahkannya ke ruang ICU."
Di dalam ruang ICU, lampu ruangan itu redup, hanya terdengar suara ritmis dari mesin bedside monitor yang memantau detak jantung Relia—suara bip yang menjadi pengingat bahwa istrinya masih bernapas.
Ariel duduk di samping ranjang, mengenakan baju steril.
Ia menggenggam tangan Relia yang kini terbebas dari noda darah, namun terasa sangat dingin dan dipenuhi selang infus.
"Kamu sudah bicara pada dunia, Sayang," bisik Ariel pelan, suaranya parau karena menahan tangis.
"Kamu sudah menang, Relia. Tapi kenapa sekarang kamu memilih untuk tidur?"
Ariel meletakkan iPad yang layarnya retak itu di meja samping ranjang.
Ia membuka kembali draf tulisan Relia yang terakhir.
Dengan jari yang masih gemetar, Ariel menyentuh layar itu, mencoba mengetikkan sesuatu di bawah paragraf terakhir istrinya.
'Tidurlah jika kamu lelah, Bidadariku. Tapi berjanjilah, jangan pergi terlalu jauh. Aku akan tetap di sini, menjaga setiap jengkal napasmu, sampai kamu siap untuk membuka mata dan melihat bahwa monster itu sudah benar-benar lenyap dari dunia ini.'
Sementara itu di balik jeruji besi yang dingin dan lembap, suasana sel isolasi itu tidak sedikit pun memadamkan kegilaan di mata Markus.
Ia duduk di lantai semen yang keras, namun sebuah seringai lebar menghiasi wajahnya yang kini penuh luka memar akibat penangkapan paksa oleh polisi semalam.
Seorang petugas penjara baru saja lewat dan melempar koran pagi yang memuat tajuk utama:
RELIA ARKATAMA KRITIS: SANG PENULIS 'THE SILENT SURVIVOR' JATUH DALAM KOMA PASCA PENEMBAKAN.
Membaca judul itu, Markus tertawa kecil yang kering, namun lama-kelamaan berubah menjadi tawa terbahak-bahak yang menggema di sepanjang lorong sel, terdengar sangat mengerikan dan tidak manusiawi.
"Hahaha! Bagus! Bagus sekali!" teriak Markus sambil meremas koran itu hingga hancur.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satu pun orang yang boleh memilikimu, termasuk dokter sombong itu!"
Ia bangkit dan mencengkeram jeruji besi, menatap ke arah kegelapan lorong dengan mata yang berkilat penuh dendam.
"Semoga kamu tidak bangun selamanya, jalang kecil! Tidurlah di dalam kegelapan itu, teruslah bermimpi tentang ikat pinggangku! Kamu pikir kamu bisa menang? Kamu pikir kamu bisa bebas?" Markus meludah ke lantai. "Selama kamu koma, kamu tetaplah tawanan dalam ingatanmu sendiri. Dan Ariel, biarlah dia membusuk hidup-hidup melihat tubuhmu yang seperti mayat itu."
Tawa Markus baru berhenti saat seorang sipir memukul jeruji dengan tongkat besi.
"Diam, kamu bajingan! Kau akan segera dipindahkan ke Nusakambangan setelah sidang putusan!"
"Pindahkan aku ke mana pun kalian mau!" sahut Markus dengan nada menantang.
"Tapi aku sudah menang. Aku sudah mengambil cahayanya!"
Di sisi lain kota, keheningan yang kontras menyelimuti ruangan Relia.
Ariel masih setia duduk di sana, namun wajahnya kini tampak jauh lebih dingin dan gelap.
Ia baru saja menerima laporan dari Satrio melalui earpiece tentang perilaku Markus di penjara.
Ariel berdiri perlahan, mendekati wajah Relia yang pucat pasi dengan berbagai selang yang menopang hidupnya. Ia mengusap pipi istrinya dengan punggung jari.
"Dia tertawa, Relia," bisik Ariel, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya—suara seorang Arkatama yang sedang memendam murka yang tak terbayangkan.
"Markus pikir dia menang karena kamu belum bangun. Dia merasa aman di balik penjara itu." Ariel menunduk, mencium kening Relia lama sekali.
"Dia tidak tahu, bahwa bagiku, penjara adalah tempat yang terlalu mewah untuknya. Aku akan memastikan setiap detik yang dia habiskan di sana adalah neraka yang lebih nyata daripada apa pun yang pernah dia bayangkan."
Ariel berbalik, menatap asisten pribadinya yang berdiri di ambang pintu.
"Siapkan tim legal terbaik. Tambah pasal percobaan pembunuhan berencana dan terorisme domestik. Aku tidak hanya ingin dia dipenjara seumur hidup. Aku ingin seluruh asetnya disita, dan pastikan dia berada di sel yang paling bawah, tanpa cahaya, tanpa suara. Biarkan dia merasakan apa itu menjadi 'bayangan' seperti yang dia lakukan pada Relia selama ini."
Tiba-tiba, mesin monitor di samping Relia berbunyi lebih cepat.
Jantung Relia berdetak sedikit lebih kencang seolah jiwanya merespons kemarahan Ariel.
mudah"an relia selamat