Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEINGINAN UNTUK BERKEMBANG
Setelah beberapa bulan menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan bahagia, Safa mulai merasa ingin berkembang lebih jauh dalam karirnya.
Dia merasa bahwa bekerja di Waroeng Mak Ina sudah tidak cukup lagi untuk memenuhi hasratnya untuk belajar hal baru dan membantu keluarga lebih banyak.
"Aku ingin mencari pekerjaan baru ya sayang," ucap Safa satu malam saat mereka sedang menonton acara televisi bersama. "Aku merasa perlu untuk belajar hal baru dan mendapatkan pengalaman kerja yang berbeda."
Riki merasa sangat senang mendengarnya. Dia tahu bahwa Safa adalah orang yang pekerja keras dan memiliki potensi besar yang belum tergali sepenuhnya.
"Itu ide yang sangat bagus sayang!" jawab Riki dengan semangat. "Kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang baik sesuai dengan kemampuanmu."
Mereka mulai mencari informasi tentang lowongan pekerjaan di koran lokal dan internet.
Safa merasa tertarik dengan lowongan pekerjaan di departemen administrasi pada perusahaan teknologi besar Innovate Solusi – sebuah perusahaan yang terkenal dengan kesempatan karir yang baik dan lingkungan kerja yang mendukung.
"Perusahaan ini terlihat sangat menarik sayang," ucap Safa sambil menunjukkan iklan lowongan pada layar ponselnya. "Departemen administrasi mereka sedang mencari calon karyawan dengan pengalaman kerja minimal satu tahun. Aku rasa aku memenuhi syaratnya."
Riki langsung merasa terkejut mendengarnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Safa akan tertarik untuk bekerja di perusahaan miliknya sendiri. Namun dia tetap menunjukkan dukungan penuh agar tidak mencurigakan.
"Ya benar sayang, kamu sudah bekerja di warung selama beberapa tahun jadi sudah punya pengalaman yang cukup," ucap Riki dengan suara yang tenang meskipun hatinya sedang berdebar kencang. "Kamu harus segera mengirimkan lamaranmu ya."
Safa mengangguk dengan senyum ceria. "Aku akan membuat surat lamaran dan melengkapi semua berkas yang dibutuhkan besok pagi sayang. Doakan aku ya agar bisa diterima."
Pada hari berikutnya, Safa menghabiskan seluruh paginya untuk membuat surat lamaran yang baik dan melengkapi berkas pendukung seperti fotokopi ijazah dan surat rekomendasi dari Bu Yanti.
Riki membantu dia mengecek kesalahan penulisan dan memberikan saran tentang cara membuat surat lamaran yang lebih menarik.
"Kalau kamu menambahkan pengalamanmu dalam menangani pelanggan di warung, itu akan menjadi nilai tambah lho sayang," ucap Riki sambil membaca surat lamaran yang sudah dibuat. "Perusahaan sangat menyukai karyawan yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik."
Safa merasa sangat terbantu dengan saran yang diberikan Riki. Dia segera mengubah surat lamaran sesuai dengan saran tersebut dan mengirimkannya melalui email ke perusahaan Innovate Solusi.
Setelah mengirimkan lamaran, Safa merasa sedikit gugup tapi juga penuh harapan. Dia menghabiskan waktu luangnya untuk belajar tentang perusahaan Innovate Solusi – mulai dari sejarah perusahaan, visi dan misinya, hingga produk dan layanan yang mereka tawarkan.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa sebuah perusahaan teknologi bisa memiliki dampak yang begitu besar bagi masyarakat sayang," ucap Safa sambil membaca profil perusahaan di situs resmi mereka. "Mereka bahkan memiliki program untuk membantu usaha kecil dan menengah berkembang."
Riki tersenyum mendengarnya. Dia tahu bahwa program tersebut adalah salah satu inisiatifnya untuk membantu masyarakat. Namun dia tidak bisa memberitahukan hal tersebut pada Safa saat ini.
"Ya benar, perusahaan ini memang sangat peduli dengan masyarakat," jawab Riki dengan senyum. "Kalau kamu diterima di sini, kamu pasti akan belajar banyak hal yang berharga."
Beberapa hari kemudian, Safa mendapatkan panggilan telepon dari bagian sumber daya manusia Innovate Solusi yang memberitahu bahwa lamaran dia telah diterima dan dia diundang untuk mengikuti tes dan wawancara pada hari Sabtu depan.
"Aku diterima untuk tahap berikutnya sayang!" teriak Safa dengan sangat senang setelah selesai berbicara melalui telepon. "Aku harus segera mempersiapkan diri untuk tes dan wawancara."
Riki merasa sangat bahagia mendengarnya namun juga sedikit khawatir. Dia segera merencanakan langkah-langkah yang harus dia lakukan agar identitasnya tidak terbongkar saat Safa datang ke kantor untuk mengikuti wawancara.
"Aku akan membantu kamu mempersiapkan diri ya sayang," ucap Riki dengan senyum. "Kita bisa belajar tentang tata cara wawancara dan bagaimana cara menjawab pertanyaan dengan baik."
Mereka menghabiskan akhir pekan untuk mempersiapkan diri. Riki membantu Safa berlatih menjawab pertanyaan wawancara, memilih baju yang sesuai untuk dikenakan, dan memberikan nasihat tentang bagaimana cara bersikap yang baik saat bertemu dengan pewawancara.
"Saat wawancara dimulai, kamu harus tetap tenang dan percaya pada diri sendiri ya," ucap Riki dengan penuh semangat. "Kamu memiliki kemampuan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan ini."
Safa merasa sangat terbantu dengan dukungan yang diberikan Riki. Dia merasa lebih percaya diri dan siap untuk menghadapi tahap tes dan wawancara di perusahaan Innovate Solusi.
Di dalam hatinya, Riki merencanakan untuk menggunakan identitas samaran "Raka" lagi saat Safa datang ke kantor.
Dia akan berpura-pura sebagai teknisi kantor yang sedang bekerja di sana agar tidak dikenali oleh Safa.
Dia juga sudah memberi tahu seluruh karyawan penting di perusahaan untuk membantu menyembunyikan identitasnya selama Safa berada di kantor.
"Aku harus sangat hati-hati agar tidak terbongkar," bisik Riki dalam hati sambil melihat Safa yang sedang belajar dengan giat. "Semoga semuanya berjalan lancar dan Safa bisa mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan."
Pada malam sebelum hari wawancara, Safa merasa sedikit gugup. Riki menghampirinya dan memberikan pelukan hangat.
"Jangan khawatir ya sayang," ucap Riki dengan suara yang menenangkan. "Kamu sudah siap dan pasti akan berhasil. Aku akan selalu ada untukmu."
Safa melihatnya dengan mata yang penuh cinta dan rasa terima kasih. "Terima kasih sudah selalu mendukungku sayang. Tanpamu, aku tidak akan bisa melakukan ini."