NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Awal Pengorbanan

Pagi di rumah baru itu selalu dimulai dengan ritual yang sama. Senja, yang biasanya bangun dengan pikiran penuh denah bangunan dan koordinasi proyek, kini bangun dengan pikiran yang jauh lebih sederhana: menu sarapan apa yang bisa membuat Rangga tersenyum hari ini.

Senja menanggalkan identitasnya sebagai arsitek berprestasi dan menggantinya dengan daster katun berbunga-bunga, berdiri di dapur minimalis yang ia desain sendiri dengan sangat detail.

​"Mas, kopinya sudah di meja ya! Jangan kelamaan mandinya, nanti keburu dingin," seru Senja sambil membolak-balik dadar gulung di atas teflon.

​Dapur itu kini menjadi pusat dunianya. Tempat yang dulu hanya ia datangi untuk menyeduh kopi instan di sela-sela lembur, kini menjadi saksi bisu bagaimana seorang wanita karir berusaha keras menaklukkan bumbu-bumbu dapur. Senja rela menghabiskan waktu berjam-jam menonton tutorial memasak di YouTube, mencatat resep rendang yang katanya harus dimasak berjam-jam agar bumbunya meresap sampai ke serat daging terdalam. Semua itu ia lakukan karena Rangga pernah bilang, "Aku sudah bosan makan makanan warung, Sayang. Rasanya hambar. Masakan rumah itu punya jiwa, apalagi kalau yang masak istri secantik kamu."

​Rangga muncul dari kamar dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melingkar di leher. Ia langsung menghampiri Senja, melingkarkan lengannya di pinggang sang istri, dan menghirup aroma masakan bercampur bau sabun dari leher Senja.

​"Istriku memang paling juara. Bau bawang saja tetap cantik," bisik Rangga, sebuah gombalan rutin yang selalu berhasil membuat pipi Senja merona merah.

​Mereka duduk di meja makan yang menghadap langsung ke taman belakang. Suasananya begitu damai. Tapi, kedamaian itu terusik saat Rangga mulai membuka laptopnya dan menunjukkan sebuah situs web perlengkapan audio internasional.

​"Sayang, aku baru dapat info dari komunitas DJ di Semarang. Persaingan di sini ternyata lebih ketat daripada di Bali. Alat-alat yang kita beli kemarin itu... sebenarnya sudah agak ketinggalan zaman kalau mau dipakai di klub-klub besar yang punya sistem suara canggih," ucap Rangga dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah menjadi berat dan penuh beban.

​Senja meletakkan sendoknya. "Ketinggalan zaman gimana, Mas? Kan baru dua bulan lalu kita beli semua perlengkapannya di Denpasar? Harganya juga nggak murah, kan?"

​Rangga menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat melankolis. Ia menutup laptopnya setengah, lalu menatap Senja dengan tatapan yang seolah-olah ia adalah korban dari keadaan.

​"Iya, aku tahu. Aku juga merasa nggak enak hati sama kamu, Sayang. Tapi kamu tahu sendiri, mimpi kita itu besar. Aku ingin jadi DJ nomor satu, bukan cuma pengisi acara di pesta ulang tahun anak kecil. Aku butuh controller terbaru yang punya fitur sinkronisasi otomatis ke sistem lampu panggung. Kalau aku pakai alat lama, aku takut namaku nanti malah dicap DJ amatiran."

​Senja terdiam. Ia menghitung cepat dalam kepalanya. Tabungan dari sisa proyek terakhirnya di Bali sudah mulai menipis setelah digunakan untuk membiayai seluruh pernikahan dan renovasi studio depan.

​"Harganya sampai berapa, Mas?" tanya Senja akhirnya.

​Rangga menyebutkan sebuah angka yang cukup untuk membeli sebuah mobil bekas dengan kondisi bagus. Senja sempat tersedak kopinya.

​"Mas, itu uangnya nggak sedikit. Kita kan baru saja mulai hidup di sini. Aku juga belum ada pemasukan karena aku sudah resign," suara Senja sedikit bergetar.

​Rangga langsung menggenggam tangan Senja, matanya menatap tajam tapi penuh permohonan.

"Aku tahu, Sayang. Aku tahu aku keterlaluan. Ya sudah, nggak apa-apa kalau nggak bisa. Aku akan pakai alat yang ada saja. Biar saja nanti kalau aku ditertawakan teman-teman, atau kalau aku gagal dapat kontrak tetap di Club X itu. Aku nggak mau membebani kamu lagi."

Teknik ini—teknik merendah untuk meroket—selalu berhasil melumpuhkan logika Senja. Ia tidak tega melihat suaminya yang "berbakat" itu harus kehilangan kesempatan besar hanya karena masalah uang. Baginya, kesuksesan Rangga adalah kesuksesannya juga.

​"Ya sudah, jangan sedih begitu. Aku masih punya deposito sisa tabungan masa lajangku. Besok kita cairkan, terus kita beli alat yang Mas mau. Tapi janji ya, Mas harus benar-benar serius latihan. Aku ingin lihat Mas sukses," ucap Senja akhirnya, memberikan seluruh benteng terakhirnya.

​Rangga langsung berhambur memeluk Senja, mengangkat tubuh istrinya itu dan memutarnya di tengah dapur. "Terima kasih, Sayang! Kamu benar-benar malaikat pelindungku. Aku janji, Sayang, begitu aku sukses nanti, kamu nggak perlu lagi masuk ke dapur yang panas ini. Kamu akan aku manjakan seperti permaisuri!"

​Siang harinya, saat Rangga asyik mencoba alat barunya di studio depan dengan suara dentuman bass yang memenuhi rumah, Senja duduk di teras sambil mencoba menghubungi beberapa kenalannya. Ia ingin mencari pekerjaan sampingan sebagai desainer interior lepas yang bisa dikerjakan dari rumah, agar ia tetap punya pemasukan tanpa harus meninggalkan tugasnya sebagai istri.

​Tapi, setiap kali ia mulai serius menggambar di depan laptop, Rangga akan masuk ke ruangan dengan wajah manja.

​"Sayang, aku lapar. Buatin cemilan dong, tahu bakso atau pisang goreng gitu," rengek Rangga.

​"Mas, aku lagi tanggung nih gambarnya. Kliennya minta revisi cepat," jawab Senja lembut.

​Rangga langsung menekuk wajahnya. "Oh, jadi sekarang gambar lebih penting daripada suami yang lagi kerja keras cari link? Aku kan butuh energi buat latihan, Sayang. Katanya mau dukung aku sepenuhnya?"

​Kalimat "dukung sepenuhnya" itu seolah menjadi borgol untuk Senja. Ia akhirnya menutup laptopnya, menghela napas, dan berjalan kembali ke dapur. Senja melepaskan impian profesionalnya demi sepiring tahu bakso untuk suaminya.

Begitulah hari-hari Senja berlalu. Ia yang dulu dihormati di firma arsitek karena ketegasannya dalam memimpin proyek, kini tunduk pada setiap permintaan Rangga. Ia belajar memijat punggung Rangga setiap malam setelah pria itu "lelah" berlatih. Ia belajar menyetrika kemeja manggung Rangga sampai licin sempurna tanpa satu kerutan pun.

​Suatu hari, Mbak Sari menelepon. Sahabatnya itu masih belum menyerah untuk memperingatkan Senja.

📞​"Gimana, Arsitek kebanggaan? Masih sibuk jadi pelayan pribadi Mas DJ?" sindir Sari di seberang telepon.

📞​"Mbak Sari jangan mulai deh. Aku bahagia, Mbak. Mas Rangga baru saja dapat tawaran main di salah satu klub paling bergengsi di Semarang," jawab Senja bangga.

📞​"Oh ya? Pakai uang siapa dia bisa sampai ke sana? Uangmu lagi?" Sari mendengus.

📞"Senja, kamu itu sedang membesarkan parasit. Kamu memberikan dia segalanya: rumah, modal, makan enak, pakaian bagus. Apa yang dia berikan buat kamu selain kata-kata manis?"

📞​"Dia memberikan aku kebahagiaan, Mbak! Sesuatu yang nggak bisa dibeli pakai uang. Mbak Sari nggak tahu gimana dia selalu mencium tanganku setiap mau berangkat manggung. Dia selalu bilang aku adalah sumber energinya."

📞​"Semoga saja dia nggak cari 'energi' lain di luar sana, Ja. Dunia malam itu keras. Kamu di rumah bau bawang, sementara dia di sana dikelilingi wanita cantik yang bau parfum mahal. Pikirkan itu."

​Senja mematikan telepon dengan perasaan kesal. Ia merasa Sari hanya iri karena tidak memiliki suami yang seromantis Rangga. Tapi, saat ia bercermin, ia melihat dirinya sendiri. Rambutnya hanya dicepol asal-asalan, wajahnya kusam tanpa riasan, dan daster yang dipakainya sudah mulai pudar warnanya.

​Malam itu, Rangga berangkat manggung. Ia terlihat sangat tampan dengan jaket kulit baru dan rambut yang klimis. Baunya sangat wangi.

​"Aku pulang pagi ya, Sayang. Jangan ditunggu, kamu tidur saja duluan," pamit Rangga sambil mengecup singkat kening Senja. Ia bahkan tidak menoleh lagi saat melangkah keluar menuju motor sport yang cicilannya juga dibantu oleh Senja.

​Senja berdiri di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia kembali ke dapur, menatap sisa rendang yang sudah dingin di atas kompor. Ia merasa sedikit kesepian, tapi ia segera menepis perasaan itu. Ini adalah perjuangan, pikirnya.

Ia tidak tahu bahwa malam itu, di klub malam yang bising, Rangga sedang asyik tertawa. Saat seorang wanita cantik di bar bertanya, "Kok sendirian saja, Mas Rangga? Istrinya mana?", Rangga hanya tersenyum tipis sambil menyesap minumannya.

​"Istri? Ah, dia lagi di rumah, sibuk sama hobinya memasak. Kami cuma teman tinggal yang kebetulan punya komitmen, tapi hatiku masih bebas untuk siapa saja," jawab Rangga dengan nada bercanda yang mengandung kebenaran pahit.

​Senja sedang berdoa untuk kesuksesan suaminya di atas sajadah, sementara suaminya sedang menertawakan pengabdian istrinya di depan wanita lain. Senja merasa telah menjadi ratu di rumahnya sendiri, tanpa sadar bahwa bagi Rangga, rumah itu hanyalah warteg tempatnya numpang makan enak secara gratis sebelum ia pergi mencari hiburan yang sesungguhnya.

1
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
semoga kamu bahagia iya senja🤗
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
harusnya suruh rangga usaha dlu baru nikah
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
kayanya udah direncana deh pertemuan mereka🤭
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
inget nasihat ibumu senja, harus hati"
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Senja ayo terima saja Axel dia pria yang selalu membantu masalah kamu
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Axel Senja bakal baik baik saja asal kamu jadi tameng dia
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Axel akan memastikan hidup Rangga seperti di neraka kalau Rangga masih ganggu Senja
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
udah ga ketolong si sinta mah😭
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
dari sini harusnya sinta sadar rangga tak sebaik diliatnya
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
demi mas dj kau korbanin emas peninggalan orang tuamu sin, parah
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
sinta padahal udah tau msh mau bertahan
awas jangan smpai nyesel iya
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
itu baru didompet udah berani ambil tanpa bilang loh
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
mau nolong liat" dlu orangnya sinta
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
doni p3ngen aku ulek mulutnya lemes banget dia
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
ga usah diurus senja
rangga udah keterlaluan
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wow semua yg nanggung senja🤔
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
rangga ga malu apa astaga memutar balikan fakta
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wkwkw rasain cuma dimanfaatin smaa cewe matre wkwkkw kurma nya langsung ini🤭
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
wah banyak juga yang udah diberikan ke serangga 🤔
🪱☘𝓡𝓳 мυмυ
nah betul
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!