Inilah kisah cinta Rudi dan Vina yang berliku. Pasangan kekasih yang sudah lima tahun menjalani jalinan, tiba-tiba dipisahkan oleh sebuah insiden yang menimpa Vina dan menjadi aib bagi keluarga besarnya.
Setelah tiga tahun, Vina kembali ke keluarganya di sebuah kampung nelayan di pesisir selatan Provinsi Lampung. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Rudi telah sangat berubah, yaitu menjadi pemuda yang alim dan sehari-hari mengajar anak-anak mengaji. Bisa disebut bahwa Rudi telah menjadi seorang ustaz baru.
Perubahan mantan kekasihnya itu membuat cinta lama Vina kepada Rudi kembali tumbuh.
Namun, tidak seperti tiga tahun yang lalu bahwa Rudi adalah miliknya seorang, tetapi kini ada beberapa wanita yang telah dekat dengan Rudi. Misalnya, Kulsum putri Ustaz Barzanzi, Bulan si pengusaha muda nan kaya, dan Alexa janda muda.
Namun, Vina merasa bahwa Rudi adalah miliknya dan dia harus memilikinya kembali.
Temukan intrik-intrik cinta yang seru di novel "Rudi adalah Cintaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAC 18: Insiden Waktu Subuh
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Haruskah ku berpasraaah, berdiam diri tiada langkah
Menunggu kepastiaaaan, menyerah dengan keadaan
Entah apa sebabnyaaa, mengapa ku jatuh cinta
Padamu yang ku anggap cuma, teman biasaaa
Pernah aku mencobaaa, membuang rasa iniii
Ternyata aku tersiksaaa, tak tahu gimana lagiii
Khayalan tentang dirimuuu, bertahta di benakkuuu
Merana jiwaku merana, sakiiit, melihat kau dan diaaa
Semestinya ku mengertiii, tak mungkin kau kumilikiii
Meskipun kau pun jua merasa, gejolak yang aku deritaaa
Dirimu ada yang cintaaa, hatimu ada yang punyaaa
Apakah aku berdosa, bila kucinta padamuuu
Awalnya cuma teman biasa
Lagu slowrock penyanyi Minang bernama Aprilian yang berjudul “Kusangka Cuma Teman Biasa” ciptaan Roza’c Tanjung, menjadi suguhan musik yang tidak seperti biasanya di Londo Cafe.
Meski bunyi liriknya tidak begitu pas dengan kondisi bencana cinta Rudi, tetapi ada kalimat-kalimat yang cukup mewakili suasana hatinya, sehingga semakin membawa Rudi dalam kesedihan dan kerinduan yang berat, memaksanya untuk terus minum banyak bir demi menghilangkan rasa rindu yang begitu menyiksa batinnya.
Padahal, ketika melewati pos keamanan, satpam yang tidak mau disebutkan namanya memberi nasihat.
“Lebih baik jangan mabuk, mendingan main perempuan saja. Kalau mabuk hilang akal, tapi kalau main cewek bisa tobat pas ketemu jodoh,” kata si satpam yang juga tidak luput menonton video viral Rudi sebelumnya.
“Terakhir, Bang,” jawab Rudi enteng.
“Iya kalau minumnya yang berakhir, kalau nyawa yang berakhir? Gak ada kesempatan kedua,” kata si satpam agak ketus. Meski dia penjaga Londo Cafe yang penuh maksiat, tetapi dia masih punya akal sehat sebesar belasan persen.
Namun, ya itulah Rudi.
Memang, di dalam hati dia berkomitmen bahwa minum-minuman pada malam itu adalah yang terakhir. Setelah itu mungkin dia akan mengikuti saran Sandro, pergi melaut untuk mengalihkan pikiran. Meski sekedar nelayan biasa, nanti setidaknya puangnya bisa bangga bahwa dia sudah memiliki penghasilan, tidak seperti saat ini yang minum buat mabuk pun masih pakai uang ortu.
Karena menganggap ini kali terakhir dia akan mabuk, Rudi memesan bir yang lebih mahal dan kadar alkoholnya lebih tinggi.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Daeng Tanri. Pengusaha di Pelelangan Sinar Nelayan itu bangun sebelum waktu azan subuh. Bangun sebelum azan subuh sudah menjadi jam biologisnya. Jadi, tanpa mendengar suara alarm atau suara kokok ayam, tubuhnya akan bereaksi bangun sendiri. Jam biologis bisa disetel berdasarkan kebiasaan. Itu jika tidak salah.
Sejak semalam, Daeng Tanri sudah punya niat untuk mengajak Rudi salat subuh, siapa tahu putranya itu dapat hidayah setelah bebas dari penjara.
Namun, Daeng Tanri cukup terkejut karena dia mendapati pintu kamar Rudi yang tidak tertutup rapat, alias tidak dikunci. Dan ketika dibuka, ternyata kamar kosong dari manusia.
Daeng Tanri bergegas memeriksa pintu depan. Tidak dikunci. Dugaan lelaki kurus itu semakin kuat. Dan benar, Rudi telah pergi karena sepeda motornya yang baru saja di-service sudah tidak ada.
“Ya Allah,” ucap Daeng Tanri lirih.
Maka tanpa membangungkan istrinya lebih dulu, Daeng Tanri pergi meninggalkan rumah. Dia tidak bermaksud ikut-ikutan minggat seperti Rudi, tapi dia pergi mengetuk rumah Aziz.
Singkat waktu dan cerita.
Daeng Tanri meminta bantuan Aziz untuk pergi melihat ke Londo Cafe, apakah ada Rudi atau tidak. Aziz sebagai sahabat setia dengan senang hati memenuhi permintaan Daeng Tanri, tapi tidak sambil tertawa-tawa hanya karena dia senang hati.
Aziz pun mengetuk rumah Sandro untuk minta ditemani.
“Allahuakbar allahuakbar!”
Bertepatan dengan kumandang azan salat subuh, kedua sahabat itupun pergi ke Londo Cafe dengan satu sepeda motor. Jangan salahkan Daeng Tanri yang memberi tugas tepat pada waktu salat subuh, tapi sebelumnya orang tua itu sudah bertanya kepada Aziz.
“Kalian lagi halangan kan? Enggak salat subuh?” tanya Daeng Tanri kepada Aziz.
“Bukan begitu, Puang. Hanya saja, urusan Rudi lebih darurat daripada salat subuh. Urusan Rudi perkara nyawa.”
Itulah dalih akal-akalan setan di kepala Aziz demi menghindari salat subuh. Daeng Tanri tidak mendesak keduanya untuk salat dulu, karena dia memang sudah hapal dengan karakter dua pemuda jomblo itu. Beda dengan Rudi yang baru mau salat kalau disuruh ayahnya.
Bisa dikata bahwa Aziz dan Sandro adalah pelaku ikhtiarnya, sementara Daeng Tanri pelaku doanya.
“Biar saya yang doakan jika kalian tidak bisa mendoakan Rudi,” kata Daeng Tanri sebelum melepas kedua sahabat putranya itu.
Kondisi jalan raya yang sepi, membuat Aziz dan Sandro hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke Londo Cafe.
Tidak jauh beda dengan malam-malam ketika Rudi mabuk, Aziz dan Sandro pun menemukan Rudi sudah tengkurap di lantai parkiran di samping sepeda motornya.
Ternyata, kali ini level mabuk Rudi lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya. Rudi dalam kondisi benar-benar teler. Jangankan berdiri, untuk bangun duduk pun dia sudah tidak bisa.
Telah dilakukan beberapa kali percobaan agar Rudi bisa duduk, tetapi ia terus jatuh seperti pemuda tulang lunak. Mau tidak mau, Rudi harus diangkat oleh dua tenaga orang, buka tenaga kuda.
Repotnya lagi, dua sahabat itu lupa bawa tali atau sabuk pengaman. Jadi, sepeda motor Rudi terpaksa ditinggal. Aziz yang bawa sepeda motor, Rudi didudukkan di belakangya dan Sandro menjadi pengaman Rudi di belakang.
Rudi masih sadar dalam arti tidak pingsan. Celotehannya sudah tidak jelas seperti orang mengigau jika mimpi setan atau mimpi ada maling.
Ketika mereka sedang menuju pulang di saat langit di balik badan Gunung Rajabasa mulai terang, tiba-tiba ….
“Hoekh!”
Rudi muntah di atas bahu kanan Aziz.
“Aaa! Rudi muntaaah!” teriak Aziz histeris berbuah panik karena muntahan Rudi mengotori baju dan badannya.
“Yang benar bawa motornya, Genduuut!” teriak Sandro pula terkejut karena motor tahu-tahu oleng.
Bruakr!
Di Masjid Al-Fatah, Daeng Tanri begitu kusyuk berdoa, sampai-sampai dia orang terakhir kedua yang meninggalkan masjid.
Setibanya di rumah, Kamsiah sudah menunggu di teras dengan wajah kusut plus cemas. Daeng Tanri sudah bisa menerka apa yang dicemaskan oleh istrinya.
“Rudi pergi diam-diam. Aziz sama Sandro sedang menjemputnya. Enggak usah khawatir. Sudah salat?” kata Daeng Tanri menenangkan istrinya dan berujung pertanyaan.
“Belum.”
“Salat dulu biar lebih tenang. Pagi ini saya enggak ke lelang. Saya mau tunggu Rudi pulang,” kata Daeng Tanri sambil menyentuh punggung istrinya untuk diajak masuk.
Pasangan suami istri yang lebih banyak harmonis itu lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintu depan lagi. Meski pagi belum begitu terang, rumah Rudi memang sudah biasa terbuka setelah salat subuh.
Setelah Kamsiah berwudu dan melaksanakan salat subuh seorang diri, Daeng Tanri pergi ke kamar mandi dalam kondisi masih rapi, bahkan masih memakai peci hajinya yang berwarna putih.
Kamsiah menangis di dalam salatnya, padahal saat itu baru masuk ke rakaat kedua. Pada saat membaca doa qunut, Kamsiah makin menangis. Dia memikirkan dosa-dosanya sehingga memiliki seorang anak pendosa seperti Rudi.
Bdak! Bdag!
Tiba-tiba terdengar dua suara kencang yang bersumber dari dalam kamar mandi. Itu suara benda jatuh dan seperti suara kepala menghantam lantai. Suara benturan kepala biasanya sangat khas.
Kamsiah yang mendengar suara gaduh sejenak itu terkejut. Kekusyukan salatnya jadi terganggu oleh dugaan-dugaan buruk. Ia pun mempercepat gerakan salatnya hingga berakhir dengan salam.
Tanpa menyisihkan waktu untuk berzikir atau berdoa lagi, Kamsiah buru-buru bangun dan berlari kecil ke kamar mandi.
“Daeng! Daeng!” panggil Kamsiah bernada panik sambil berdiri diam di depan pintu kamar mandi.
Namun, tidak ada jawaban bahkan tidak ada suara dari dalam kamar mandi. Kondisi sepi itu justru membuat Kamsiah ingin menangis, dugaannya sudah sangat buruk.
“Daeng!” panggil Kamsiah sambil mendorong daun pintu perlahan.
Ternyata pintu kamar mandi tidak dikunci. Logikanya, buat apa dikunci, toh hanya bersama istri di rumah.
Dak!
Ketika daun pintu didorong dan terdorong membuka, daun pintu langsung terganjal oleh benda keras sehingga hanya terbuka sedikit.
“Daeng!” panggil Kamsiah lagi sambil mencoba melongok lewat celah pintu yang sempit karena tertahan oleh sesuatu yang belum dilihatnya.
Deg!
Tiba-tiba Kamsiah melihat cairan darah segar yang meluber di lantai kamar mandi yang baru dilihatnya sedikit. Saat itu juga jantungnya seperti digodam yang membuatnya lemas. Namun, dia belum melihat sumber darah tersebut.
“Daeeeng!” sebut Kamsiah gemetar dan sudah menangis.
Dengan sisa tenaganya, dia dorong pintu kamar mandi lebih keras, sehingga celah semakin melebar dan wajahnya bisa masuk melihat kondisi kamar mandi dengan leluasa.
Alangkah terkejutnya Kamsiah melihat tubuh suaminya yang masih berbaju koko dan bersarung, tergeletak diam tidak teratur dan diam tanpa gerakan. Rupanya yang mengganjal belakang pintu adalah kepala Daeng Tanri di kamar mandi yang menjadi sumber darah. Peci haji yang masih melekat di kepala memerah sebagian.
“Daeeeng …!” pekik Kamsiah begitu kencang sambil termundur lalu jatuh terkulai tidak sadarkan diri.
Dak!
Kepalanya pun terdengar menghantam ubin, tapi tidak begitu keras. (RH)