Xuan Hao adalah putra Pangeran yang keberadaannya tidak diakui.
Wajahnya memang tampan, tapi dia pemalas dan suka minum, ditambah dia tidak tau apa-apa tentang beladiri, sastra, maupun strategi perang.
Benar-benar pemuda tidak berguna, tapi setelah tanpa sengaja tersambar petir dan mendapatkan berkah langit berupa Sistem, segalanya berubah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putra Pangeran Yang Tidak Diakui
Di Kekaisaran Tian Yuan, nama keluarga kekaisaran adalah lambang kemuliaan, kekuasaan, dan darah suci yang dipercaya mendapat restu Langit.
Namun tidak semua yang terlahir dari darah bangsawan berhak menikmati kehormatan itu.
Di sudut paling sunyi dari Istana Timur, berdiri sebuah paviliun tua bernama Paviliun Qingfeng.
Bangunannya tampak megah dari kejauhan, tapi siapa pun yang melangkah masuk akan segera menyadari kenyataan pahit yang disandang pemilik tempat itu.
Tempat itu nyaris tak pernah dirawat. Cat dinding mengelupas, genting atap retak, dan halaman dipenuhi rumput liar.
Di sanalah tinggal seorang pemuda bernama Xuan Hao.
Ia adalah putra seorang Pangeran, tapi itu hanyalah status kosong.
Xuan Hao adalah anak dari Pangeran Ketiga, Xuan Lie, seorang jenderal legendaris yang pernah mengguncang medan perang dan membuat negara tetangga gemetar hanya dengan menyebut namanya.
Sayangnya, Xuan Hao terlahir dari seorang Selir rendahan yang telah lama meninggal dunia.
Ia tidak pernah diakui secara resmi. Tidak memiliki gelar bangsawan, bahkan tidak tercatat dalam silsilah keluarga Kekaisaran.
Bagi Kekaisaran Tian Yuan, ia hanyalah ‘keberadaan yang memalukan’.
Namun anehnya, Langit memberinya satu hal yang tak bisa disangkal siapa pun.
Wajah, Xuan Hao memiliki paras yang nyaris sempurna tanpa adanya cacat.
Alis tegas, mata panjang yang jernih, hidung mancung, dan rahang yang kokoh.
Jika ia berdiri di tengah keramaian, tak sedikit gadis bangsawan yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Namun patut disayangkan~
Wajah tampan itu terbungkus dalam tubuh pemalas.
“Ugh, kepalaku~, dasar anggur murahan sialan!”
Di dalam paviliun, Xuan Hao terbaring di kursi kayu reot dengan posisi setengah rebah.
Sebotol arak kosong terguling di lantai, sementara beberapa kendi lain masih tergeletak di sudut ruangan.
Pakaiannya kusut, rambutnya diikat asal-asalan, dan aroma alkohol memenuhi udara.
Jika ada pejabat istana melihat pemandangan ini, mereka pasti akan menggelengkan kepala penuh rasa jijik.
“Putra Pangeran Ketiga? Hah! Benar-benar pemuda tak berguna!”
Itulah julukan yang melekat pada Xuan Hao.
Sejak kecil, ia tidak pernah menunjukkan bakat apa pun.
Beladiri? Ia bahkan tidak mampu merasakan Qi.
Sastra?Ia tertidur sebelum Guru datang.
Strategi perang? Ia lebih memilih memikirkan anggur mana yang rasanya lebih nikmat.
Sementara putra-putra bangsawan lain berlomba-lomba memamerkan teknik pedang dan puisi indah, Xuan Hao justru dikenal sebagai bahan tertawaan.
“Lihat itu, lagi-lagi dia!”
“Xuan Hao? Si pemalas itu selalu berbuat ulah?”
“Wajahnya memang tampan, tapi patut disayangkan otaknya kosong.”
Bisik-bisik semacam itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Namun, Xuan Hao tidak peduli, atau setidaknya, itulah yang terlihat.
Di balik sikap acuh tak acuhnya, sebenarnya tersembunyi satu hal yang tidak pernah ia ucapkan pada siapapun, yaitu keputusasaan.
Ia tahu posisinya.
Ia tahu betul bahwa dirinya tidak punya tempat di istana.
Ayahnya? Pangeran Xuan Lie nyaris tidak pernah menemuinya.
Bukan karena kebencian, melainkan sepenuhnya Pangeran mengabaikan keberadaannya.
Bagi sang Pangeran, keberadaan Xuan Hao tidak cukup penting untuk dibenci.
“Mengapa, mengapa aku harus terlahir seperti ini?~”
Xuan Hao bergumam lirih sambil menatap langit sore dari balik jendela paviliun.
Awan gelap mulai berkumpul, angin bertiup semakin kencang.
Musim hujan telah tiba, tetapi tidak ada pelayan yang datang menutup jendela untuknya.
Tidak ada yang peduli apakah ia kedinginan atau tidak.
“Hah~, kalau saja aku tidak lahir di keluarga ini!” Ia tertawa kecil, rasanya, sangat getir
“Ah, sudahlah, lebih, baik aku lanjut minum!~”
Xuan Hao meraih kendi terakhir dan menenggaknya langsung.
Cairan hangat mengalir di tenggorokannya, membakar perutnya, namun justru itulah yang membuatnya merasa hidup.
Tetapi saat itu juga tiba-tiba~
BOOOM!!!
Langit bergemuruh hebat.
Petir menyambar di kejauhan, diikuti hujan deras yang tiba-tiba mengguyur paviliun.
Xuan Hao mengernyit tidak suka.
“Bising sekali!”
Ia bangkit dengan langkah sempoyongan dan berjalan keluar paviliun. Hujan langsung membasahi tubuhnya, namun ia tidak peduli.
Entah mengapa saat ini dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang memanggilnya.
Langit di atas Paviliun Qingfeng tampak berbeda. Awan hitam berputar membentuk pusaran, dan kilatan petir berkedip lebih terang dari biasanya.
“Eh?”
Xuan Hao mendongak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sensasi aneh, sebuah
getaran lembut yang entah datang dari mana.
Bukan di tubuhnya, melainkan datang dari jiwanya.
“Apa-apaan ini?” ucapnya sembari melangkah mundur.
Akan tetapi, sebelum ia sempat melangkah mundur~
KRAAAAK!!!
Petir emas menyambar lurus dari langit, menghantam tubuh Xuan Hao tanpa ampun.
“ARGHHH!!!”
Rasa sakit luar biasa menyelimuti seluruh tubuhnya. Tulang-tulangnya seperti dihancurkan, darahnya mendidih, dan kesadarannya perlahan memudar.
Tubuh Xuan Hao terhempas ke tanah, tak bergerak dan sedikit mengeluarkan asap.
Hujan terus mengguyur semakin deras.
Di atas sana, petir terus mengaum seolah alam sedang mengamuk pada segala jenis kehidupan di daratan.
Namun tidak ada satu pun orang istana yang datang melihat apa yang baru saja terjadi di Paviliun Qingfeng, seolah Langit sengaja memilih tempat ini, memilih Xuan Hao sebagai pusat amukan alam.
Di tengah Xuan Hao yang terombang-ambing, Sebuah suara misterius terdengar.
Datar, kaku dan terasa dingin. Tetapi, suara, itu menunjukkan keagungan te sendiri.
[Mendeteksi jiwa yang kompatibel dengan Sistem.]
[Proses sinkronisasi dimulai~]
Seketika itu juga Xuan Hao merasa pikirannya ditarik ke dalam ruang kosong yang tak berbatas.
Tidak ada cahaya, tidak ada juga kegelapan, hanya kehampaan murni.
[Sinkronisasi 10%… 30%… 70%…]
“Apa ini?” pikirnya.
Ia ingin berbicara, tapi mulutnya sama sekali tidak bisa terbuka.
[Sinkronisasi selesai.]
[Selamat, pewaris terpilih.]
Suara itu bergema di seluruh ruang jiwa.
[Anda telah menerima Berkah Langit.]
[Sistem Tangan Dewa berhasil diaktifkan.]
Xuan Hao seolah membeku.
Sistem Tangan Dewa?
[Mulai sekarang, nasib Anda akan ditentukan oleh pilihan Anda sendiri.]
[Kegagalan tidak akan ditoleransi.]
Tiba-tiba, cahaya emas meledak di ruang kosong itu.
Sebuah simbol tangan raksasa bercahaya ilahi perlahan terbentuk.
[Kemampuan awal dibuka.]
[Tangan Dewa ~Tingkat Dasar.]
[Efek: Mempercepat pemahaman, memperkuat tubuh, dan menentang hukum alam dalam batas tertentu.]
[Keterangan lebih jelas akan diberikan begitu proses Sinkronisasi selesai sepenuhnya]
Xuan Hao merasakan sesuatu mengalir ke dalam dirinya.
Bukan Qi.
Bukan juga energi spiritual.
Melainkan sebuah kekuasaan yang nyata.
Kesadarannya perlahan kembali.
Hujan masih turun.
Namun tubuh Xuan Hao perlahan bangkit.
Kulitnya memancarkan kilau samar.
Luka bakar akibat petir menghilang tanpa bekas. Nafasnya stabil, dan sorot mata yang sebelumnya tampak kosong, kini dipenuhi cahaya tajam.
Ia mengepalkan tangan.
KRAK~
Udara di sekitar seketika bergetar.
“Apa sebenarnya yang baru saja terjadi?”
Xuan Hao menatap telapak tangannya dengan ekspresi bingung dan tercengang.
Tiba-tiba saja di sudut pandang penglihatannya muncul sebuah panel transparan.
[Status Awal: Masih Dalam Proses Sinkronisasi]
Nama: Xuan Hao
Kekuatan: Lemah
Kesehatan: Normal
Bakat: Tidak Diketahui
Sistem: Tangan Dewa
Xuan Hao terdiam cukup lama, mencerna apa yang tengah ia, lihat.
Lalu~, tiba-tiba saja ia, tertawa.
Sebuah tawa keras, hampir mirip tawa orang gila.
“HAHAHAHA!~”
Hujan, petir, dan langit yang sudah berganti malam menjadi saksi.
“Pemuda tidak berguna?” Ia mengepalkan tangannya, lagi.
“Mulai hari ini.” Tatapannya menajam, penuh tekad, “aku akan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku.”
Langit kembali bergemuruh.
Namun kali ini seolah menjawab apa yang menjadi keinginan terbesar Xuan Hao, sekaligus menyambut kebangkitannya.