Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah dan Pengkhianatan
0.73.
Itulah angka yang menghantui Leo Akira dalam-dalam, terpampang di layar presentasinya yang megah, di depan para investor yang wajahnya mulai berkerut. Skala Kardashev peradaban manusia. Nol koma tujuh tiga. Berdiri di ambang, tapi tak cukup kaki untuk melangkah. Seperti dirinya saat ini.
"Yang terhormat para investor," suaranya, biasanya mantap, terdengar sedikit parau. "Proyek energi fusi mini ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah tangga pertama untuk membawa kita dari 0.73 menuju 1.0. Menguasai seluruh energi planet kita, bukan hanya mengeksploitasinya."
Ruangan di lantai 68 Menara Sentral Jakarta itu berhiaskan kaca dari lantai ke langit-langit, memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan dan wajah-wajah haus kekuasaan. Udara dingin berlebihan dari AC menyengat kulit, tapi keringat dingin tetap merayap di punggung Leo. Lima tahun. Lima tahun darah, keringat, dan insomnia ia tuangkan ke dalam Aeternum Tech. Startupnya. Mimpinya. Kini, semuanya bergantung pada presentasi ini.
Dari sudut mata, ia melihat Rafael duduk tenang di barisan pertama. Sahabatnya. Mitranya. Pria berpenampilan sempurna dengan setelan Giorgio Armani dan senyum yang selalu tepat sudutnya. Rafael memberinya anggukan kecil, sebuah isyarat dukungan. Tenang, Leo. Kau bisa.
Leo menarik napas, melanjutkan. Data mengalir, grafik melonjak, simulasi hologram reaktor fusi berputar elegan di tengah ruangan. Ia melihat mata beberapa investor berbinar. Ini berjalan baik. Terlalu baik.
"Dan dengan dukungan Anda," pungkas Leo, suara kembali mengeras oleh keyakinan, "dalam tiga tahun, kita bukan hanya akan profitable. Kita akan mengubah peta energi global."
Tepuk tangan. Bukan standing ovation, tapi cukup solid. Beberapa investor mendekat, berjabat tangan, mengajukan pertanyaan lanjutan. Rafael muncul di sampingnya, menepuk bahunya.
"Luar biasa, saudaraku. Seperti biasa."
"Belum selesai, Raf," bisik Leo, masih memancarkan senyum profesional kepada seorang investor dari Singapura. "Masih harus deal penandatanganan besok."
"Sudah diatur semuanya," ujar Rafael, matanya berbinar. "Mari kita rayakan dulu. Kau sudah terlalu tegang."
Malam itu, di bar mewah yang hanya diisi oleh bunyi desisan cocktail shaker dan musik jazz lembut, Rafael mengangkat gelasnya. "Untuk Aeternum! Dan untuk kita!"
Leo menyentuhkan gelasnya, rasa was-was yang samar masih menggelitik tengkuknya. "Apa kau yakin kontraknya sudah aman? Hukum dari firma Carter & Grey sudah memeriksanya?"
"Sudah, sudah," Rafael mengibaskan tangan. "Percayalah. Minumlah. Kau pantas bersantai."
Itu adalah kesalahan pertama Leo: mempercayai.
Kesalahan kedua datang keesokan paginya, saat ia tiba di kantor Aeternum Tech dan mendapati semua akses kartunya ditolak. Kesalahan ketiga adalah ketika sekuriti yang tidak ia kenal menyambutnya di lobi, dengan wajah kosong dan suara datar.
"Maaf, Tuan Akira. Anda tidak diizinkan masuk."
"Apa maksudmu? Ini perusahaanku!"
"Bukan lagi, Tuan. Menurut keputusan pengadilan sementara dan kepemilikan saham mayoritas, Aeternum Tech sekarang berada di bawah kendali penuh Tuan Rafael Wijaya. Anda… diberhentikan."
Dunia berputar. Lantai marmer yang dingin seakan menghisap kakinya. Leo menatap kosong ke layar monitor di dinding yang masih menayangkan logo Aeternum, sebelum perlahan berubah menjadi logo baru: "Wijaya Consolidated." Desainnya menggunakan warna dan font yang mirip, tapi lebih tajam, lebih haus.
Ponselnya berdering. Rafael.
"Leo, dengarkan—"
"APA YANG KAU LAKUKAN, RAF?!" teriak Leo, menarik perhatian semua orang di lobi yang luas.
"Yang harus dilakukan, Leo! Perusahaan ini terlalu besar untuk visi main-mainmu tentang 'menyelamatkan dunia'. Ini bisnis! Aku punya dukungan mayoritas dewan. Sahammu… sudah aku akuisisi dengan hutang-hutang yang kau jamin secara pribadi. Kau tahu, klausul kecil di kontrak pendirian yang tak pernah kau baca tuntas."
Leo merasakan tenggorokannya kering. Ia ingat. Malam itu, lima tahun lalu, setelah beberapa botol bir, Rafael meletakkan setumpuk dokumen. "Tanda tangani saja, Leo. Formalitas. Bukti kepercayaan kita." Dan Leo, dalam euforia persahabatan dan mimpi, menandatanganinya.
"Kau… kau meracuniku malam itu?"
"Jangan dramatis. Aku hanya memastikan masa depan yang lebih cerah. Untuk perusahaan. Nasihatku: pergi dengan tenang. Aku akan mentransfer cukup uang ke rekeningmu untuk… memulai ulang. Sesuatu yang kecil."
Telepon ditutup.
Leo berdiri terpaku, dikelilingi oleh tatapan penasaran, kasihan, dan sedikit ejekan dari mantan karyawannya. Ia adalah hantu di rumahnya sendiri.
Malam itu, hujan mengguyur Jakarta dengan amarah. Leo menyusuri jalanan sepi di kawasan industri, jas basah menempel di tubuh, tas berisi beberapa barang terakhir dari kantornya terasa berat tak terkira. Rafael bahkan menyita apartemennya. Semuanya atas nama "jaminan hutang".
Satu-satunya yang ia selamatkan adalah peti kecil dari kayu jati pemberian almarhum ayahnya. "Jaga ini, Leo," pesan ayahnya yang sekarat. "Keluarga kita menjaganya turun-temurun. Konon membawa keberuntungan." Isinya hanya sebongkah batu giok kuno yang belum diasah, berwarna hijau kusam dengan serat-serat seperti darah beku di dalamnya. Tak berharga secara materi. Tapi sekarang, itu satu-satunya yang tersisa dari kehidupan lamanya.
Dari kegelapan, lampu mobil menyorotnya. Sebuah van hitam. Pintu terbuka, beberapa orang bertubuh besar melompat keluar. Leo berusaha lari, tetapi sebuah pukulan keras dari belakang menghantam pelipisnya. Dunia bergema.
"Maaf, bos," gumam suara kasar di telinganya sebelum tendangan berikutnya mendarat di perutnya. "Perintah atasan. Kau harus hilang untuk selamanya."
Mereka menyeretnya, melemparkannya ke dalam liang pondasi sebuah proyek konstruksi yang mangkrak. Bau tanah basah dan semen menusuk hidung. Leo mencoba berteriak, tapi lumpur memenuhi mulutnya.
"Selamat tinggal, sang visioner," ledek salah satu dari mereka, sebelum sekop tanah pertama menghujani tubuhnya.
Kegelapan. Tekanan. Kedinginan yang merasuk sampai ke tulang.
Leo berjuang, tapi tubuhnya terlalu lemah, terluka. Butiran tanah dan kerikil menutupi wajahnya, dadanya, menekan napasnya. Pikiran terakhirnya adalah angka itu: 0.73. Angka kegagalannya. Angka kematiannya.
Lalu, ada sesuatu yang tajam menusuk telapak tangannya. Giok itu. Giok pemberian ayahnya, yang pecah oleh tekanan, ujungnya tajam seperti silet. Darahnya yang hangat mengalir, membasahi batu hijau kusam itu.
Dan sesuatu terjadi.
Giok itu menyala.
Bukan seperti lampu, tapi seperti matahari kecil yang baru lahir di dalam kuburannya. Cahaya hijau zamrud yang memancar dari setiap seratnya, menembus tanah, membanjiri liang dengan energi yang terasa… hidup. Panas yang tidak membakar, tapi memulihkan, menyatukan.
Leo merasakan luka di kepalanya menutup. Tenaga mengalir deras ke otot-ototnya yang lemas. Tapi lebih dari itu, ia merasakan ruang. Sebuah ruang kosong yang tak terbatas, hening, dan hanya miliknya, terhubung ke benaknya. Dan sebuah pemahaman purba, intuitif, tertanam dalam kesadarannya:
"Multiplikasi 1000×. Dominion Ruang Tak Terbatas. Apa yang kau sentuh dengan darah dan kehendak, akan berlipat seribu dalam penyimpanan. Apa yang kau tuju dengan darah dan kesadaran, akan kau miliki seribu kali lebih kuat."
Insting mengambil alih. Tangan berdarahnya yang masih mencengkeram giok menyala, ia tekan ke tanah di sampingnya. Batu. Puing beton.
KEHENDAK: GANDAKAN.
Dalam sekejap, di dalam ruang tak terbatas itu, seribu salinan identik dari batu dan puing itu muncul, tertata rapi dalam dimensi lain.
Kekuatan. Ini kekuatan yang tak masuk akal.
Dengan fokus yang memecah keputusasaan, Leo mengarahkan giok yang menyala ke arah tubuhnya sendiri, ke dalam dirinya.
KEHENDAK: GANDAKAN Kekuatan, Stamina, Kecepatan.
Tidak ada yang terjadi pada fisiknya. Tapi di dalam ruang penyimpanan itu, ia melihat… katalog. Sebuah entri yang bertuliskan "Kapasitas Fisik Leo Akira - Baseline". Dan ia tahu, ia bisa menarik keluar salinannya, menggandakannya, dan memadukannya kembali ke dirinya. Ia lakukan.
Gelombang energi menghantam setiap sel tubuhnya. Otot-ototnya berdenyut, tulang-tulangnya berderak, pikirannya menjadi jernih seperti berlian. Ia merasakan kekuatan sepuluh, seratus, seribu kali lipat dari kekuatan manusia biasa mengalir dalam nadinya.
Dengan gerakan yang sekarang terasa lambat dan mudah, ia mendorong tanah di atasnya. Tanah dan beton seberat berton-ton itu terpelanting ke atas seperti daun kering. Leo bangkit dari kuburannya, berdiri di tengah hujan yang masih deras, tubuhnya bersih dari lumpur, mata bersinar dengan cahaya hijau samar.
Dia melihat ke arah lampu-lampu kota yang berkilauan di kejauhan, menuju Menara Sentral tempat Rafael kini mungkin sedang berpesta.
Angka 0.73 masih ada di pikirannya. Tapi sekarang, itu bukan lagi simbol keterpurukan.
Itu adalah target yang harus dilampaui.
Dia mengangkat tangan, memandangi giok yang kini bersatu dengan kulit telapak tangannya, hanya meninggalkan tattoo-like mark berbentuk giok berwarna hijau pucat.
"Dimulai dari nol," gumamnya, suaranya berisi gemuruh baru. "Menuju tak terbatas."
Darahnya masih menetes, bercampur dengan air hujan, membasahi bumi. Tapi kali ini, darah itu adalah janji. Dan Jakarta yang tidur, tidak tahu bahwa malam ini, seluruh takdir umat manusia baru saja berbelok ke arah yang sama sekali baru.