Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Ubi jalar
Pagi hari kembali menyapa, sinar matahari sudah menerangi bumi. Di perkemahan, mulai bangun satu persatu, rasanya sudah lama tidak tidur nyenyak seperti ini. Bahkan kepala Desa juga baru membuka matanya.
Padahal mereka sudah sepakat untuk melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit.
"Mungkin kita kelelahan karena berjalan seharian" ucap Seseorang yang juga baru sadar akan situasi.
Kepala Desa hanya bisa membenarkan, semenjak kemarau panjang, dirinya tidak pernah tidur dengan baik. Pikirannya terus berkelana untuk hari esok, setelah nyawanya sudah terkumpul, dia baru beranjak dan keluar dari tenda.
"Ayah, akhirnya kamu bangun juga!"
"Ya, kenapa kamu tidak membangunkanku?" tanyanya kepada paman Ji Min yang tidak tidur karena dia bergantian untuk berjaga malam.
"Itu, Nak Aruna melarang kami. Katanya, biarkan kalian tidur lebih lama," jawabnya dengan jujur.
Kepala Desa hanya bisa menghela nafas, setelah bersama beberapa hari, dia sudah mengenal bagaimana watak Aruna. "Di mana dia?"
"Di dapur, kayaknya dia masak sesuatu!" beritahunya.
Mendengar itu, Kepala Desa segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi lalu pergi mencari Aruna, tak lupa meminta warganya untuk membongkar tenda dan segera bersiap.
Di dapur, Aruna sedang berdebat dengan Ozian. "Kamu benar-benar menjagaku di sini sejak tadi, sungguh pengertian"
"Siapa yang menjagamu? Aku sudah bilang, Aku hanya ingin tau, yang kamu masak itu buat apa?" Ozian dengan cepat menjelaskan, tapi dia sedikit gugup.
Alis Aruna mengerut, dia menatap wajah tampan Ozian. Kenapa orang setampan ini sering berpura-pura bodoh? Sangat tidak cocok dengan wajah tampannya, kemarin soal kamar mandi, sekarang soal makanan.
"Ini namanya Ubi, kau tidak tau?" tanya Aruna sambil menunjuk Ubi yang asapnya masih mengepul.
"Tidak"
"Belum pernah lihat?"
"Pernah, itu untuk makanan ternak," jelas Ozian dengan jujur, karena memang itu yang dia tau.
"APA ?"
"Sial, pantas juga kalian mati kelaparan!" gerutunya dalam hati.
"Eh ada apa ini? Nak, kamu kenapa teriak?" tanya Kepala Desa dengan cemas yang mendengar suara Aruna dari jauh.
Aruna dan Ozian saling lirik, lalu menyapa Kepala Desa. "Kakek, kamu sudah bangun!"
"Ya, jadi apa yang terjadi?" Kepala Desa menatap dua orang di depannya.
"Tidak ada masalah," jawab Aruna cepat. "Kakek apakah kamu tau apa itu?"
Mengikuti arah pandang Aruna, Kakek Ji jalan mendekat untuk memperjelas apa yang dia lihat. "Ini, kenapa memasaknya? Tidak ada ternak yang perlu diberi makan."
Mendengar ucapan Kakek Ji, Aruna sangat ingin berteriak. Dia hanya bisa menahannya, dengan menghela nafas berulang kali. Tapi saat melihat wajah Ozian yang seakan mengejeknya dia tak tahan lagi.
"Asal Kakek tau, makanan ternak itu bisa menjadi makanan yang sangat enak dan mengenyangkan bagi manusia!" jelas Aruna sambi mengambil Ubi yang sudah menghangat dan langsung memakannya.
Melihat Kakek Ji dan Ozian terkejut dengan mata terbelalak membuat hati Aruna sedikit membaik. "Namanya Ubi jalar, ini bisa sebagai pengganti nasi"
Badan Kakek Ji bergetar, jika orang lain yang berkata seperti itu mungkin sulit baginya untuk percaya. Tapi ini Aruna, dia berasal dari dunia yang maju, semua pengatahuan sudah lebih berkembang.
Jadi selama ini ternak mereka makan enak, dan para majikan yang menahan lapar? sungguh konyol dan sangat memalukan.
Melihat Aruna makan dengan tenang, Kakek Ji dan Ozian segera maju dan mengambil ubi untuk dicoba.
"Makanlah, sangat enak jika masih hangat" ucap Aruna yang sudah menghabiskan satu ubi, apalagi dia merebusnya menggunakan air dari ruangnya. Dia tidak mengukusnya, karena mereka tidak punya kukusan, dan di ruangnya masih berwarna abu-abu.
Gigitan pertama, Kakek Ji terkesima. Lembut dan manis. Makanan enak ini, sudah ribuan tahun menjadi pakan ternak di Desa Suning.
Setelah menunggu beberapa menit dan tidak terjadi masalah apapun, Kakek Ji dan Ozian makin yakin, jika ubi bisa dimakan oleh manusia.
Segera Kakek Ji memanggil anaknya dan beberapa orang lainnya untuk membagikan ubi jalar kepada warga lainnya. Reaksi mereka juga sama dengan Kepala Desa saat mengetahui makanan ternak itu bisa dijadikan pengganti nasi.
Semua mata kembali tertuju kepada Aruna. Jika tidak ada Aruna, mungkin sampai mati mereka tidak akan tau hal tersebut. Ubi jalar banyak tumbuh liar di hutan.
Setelah memakan Ubi dan semua warga baik-baik saja barulah mereka benar-benar menghela nafas lega.
Jam 8 pagi, barulah mereka melanjutkan perjalanan. Tak lupa Aruna memperingatkan mereka untuk memakai hand body.
...----------------...
Di sebuah ruangan, terlihat tiga orang sedang berdiskusi, suasana yang tegang menandakan pembicaraan mereka sangat serius.
"Putra Mahkota, apakah kau ---"
"Haaa, kita cuman bertiga jangan terlalu formal" keselnya kepada seseorang yang masih memakai baju zirahnya.
"Hmm, baiklah. Jadi apa hasil kerja sama kalian dengan Guild Long Yun?" tanyanya kepada Putra Mahkota.
"Kami tidak mendapatkan apapun. Aku juga bingung, semenjak Guild itu berdiri baru kali ini mereka tidak bisa mendapatkan informasi" jawabnya dengan lesu.
"Aneh" gumamnya dengan alis mengerut, dia merasa masalah ini sangat serius.
"Karena itulah, aku memanggilmu kembali dari perbatasan. Hanya kamu harapan kami semua. Para penyelidik, dan Mentri sudah mengeluh karena petunjuk yang mereka dapatkan hanya jalan di tempat." ujarnya dengan serius.
"Saya mengerti!"
"Kepulanganmu kali ini jangan sampai bocor!" pintanya dengan nada menyesal. Seharusnya seorang Jendral atau prajurit militer yang balik dari perbatasan harus disambut dan dirayakan dengan meriah.
"Aku setuju dengan Ayah Kaisar.! Jika para pelaku mengetahui Saudaraku balik dari perbatasan pasti mereka akan lebih berhati-hati lagi." Putra Mahkota ikut menimpali.
"Baik Yang Mulia," Baginya tidak masalah. Dia lebih suka tidak dirayakan.
"Kau ini,,. Ah sudahlah. Jika kamu bisa menyelesaikan misi ini, kamu bisa tinggal di Ibu Kota, dan hanya ke perbatasan jika ada bahaya besar."
"Baik Yang Mulia, saya akan berusaha sebaik mungkin" ucapnya sedikit lesu, karena harus tinggal di Ibu kota dengan waktu yang lama.
Jendral baru sadar ada beberapa tumpukan kertas dihadapannya. "Ini data apa?" tanyanya setelah membaca sedikit.
"Oh itu data warga yang harus mengungsi karena kemarau panjang!" Putra Mahkota menjawab sambil membaca ulang data Tersebut.
Alis Jendral mengerut, ternyata ada musibah seperti ini "Separah itu? Sampai mereka harus mengungsi"
"Wajar kamu tidak tau, lima tahun dibarak tak pernah balik. Sekarang balik itupun aku yang memanggilmu!"
"Ayah, Saudaraku di perbatasan tidak pergi untuk berlibur, dia menjalankan tugas untuk menjaga negara!"
Dia hanya mendelik mendengar ucapan Anaknya, "Hmm, sudah 3 tahun, jadi aku mengeluarkan perintah agar mereka mengungsi saja. Memberi bantuan bukan solusi untuk jangka panjang."
Siapapun tidak akan bertahan jika tidak ada air. "Berapa wilayah?" tanyanya kembali, sedikit tertarik dengan berita tersebut.
"Ada dua kota kecil, masing-masing menaungi 20 desa. Mereka semua akan mengungsi dibagian timur dan barat Ibu kota,"
"Oh, kenapa harus ke Ibu Kota? Bukankah itu terlalu jauh?" Jendral bertanya lagi, dia makin tertarik.
"Memang jauh, tapi hanya itu tanah yang luas untuk membangun 20 desa. Banyak tanah kosong di daerah yang lebih dekat, tapi tidak terlalu luas. Dan, daerah itu juga mengalami kekeringan, tapi tidak separah mereka yang harus mengungsi."
"Hmm,.kalau tidak salah aku punya tanah sekitar 4 hektar di bagian timur. Berikan saja kepada salah satu desa!"
"Kamu yakin?"
"Ya, daripada kosong"
"Waahh, sudaraku,, kayaknya kita memang sehati. Baru kemarin, aku juga menyumbangkan tanah milikku di bagian barat!" ujar Putra Mahkota.
"Memang harus seperti itu!" ucapnya santai.
"Hahahaha, ya kita memang harus membantu rakyat!"
"Baiklah, tunjuk salah satu nama desa itu" pinta Putra Mahkota sambil menyerahkan berkasnya.
Tanpa membacanya, dia langsung menunjuk angka 8. Dan meminta seseorang untuk datang kediamannya mengambil surat tanah. Ketiganya lanjut membahas masalah tersebut, menurut mereka kemarau itu sedikit aneh, bukannya mereka tidak bersyukur karena hanya dua kota yang terkena, tapi rasanya benar-benar janggal.
...----------------...
Tepat matahari di atas kepala, Kakek Ji memilih untuk beristirahat, apalagi warganya sudah kelihatan lelah dan kepanasan.
Seperti sebelumnya, mereka mendapat tugas masing-masing, tidak perlu pasang tenda karena setelah makan siang mereka akan langsung melanjutkan perjalanan.
Menu makan siang sedikit mewah, karena Ozian mendapat seekor babi hutan saat berburu. Begitupun dengan Aruna, dia bahkan mendapatkan lebih banyak dari sebelumnya. Dia menyimpannya dalam batu penyimpanan, dia mengambil satu inti kristal, khusus untuk menyimpan hewan buruannya.
"Huhuhu,, akhirnya aku makan daging babi lagi"
"Ya, aku tak menyangka, kita masih makan enak"
"Terakhir makan daging babi sebelum kemarau"
"Ibu, enak sekali"
"Ibu, kenapa kita tidak pernah makan daging?"
Kepala Desa hanya bisa menunduk sambil makan, berpura-pura tidak mendengar celotehan warganya. Daging babi sangat mahal, satu kilonya bisa sampai 100 koin tembaga.
Aruna menatap para warga dengan perasaan iba. Musim kemarau yang berkepanjangan memang sangat berdampak bagi mahluk hidup.
Dia tidak tau, daging babi itu dimasak apa. Yang pastinya tidak enak di lidahnya, bukannya tidak bersyukur, tapi sudah terbiasa dengan masakan kaya akan rasa, di akhir zaman pun dia masih tetap masak sesuai seleranya.
Tidak bisa, jika seperti ini terus, dirinya bisa jadi kurus. Mulai besok, semua masakan harus di bawah kendalinya.
"Nak Aruna!" sapa seseorang yang sudah berada di depannya.
Aruna yang baru saja berdiri segera duduk kembali melihat Nenek Su yang sudah duduk. "Nenek ada apa?" Apakah ada masalah?" tanya Aruna to the point, yang melihat gelagat Nenek Su yang tak biasa.
"Emm, gimana ya ngomongnya?" Nenek Su memandang Aruna dengan wajah yang sedikit malu.
"Nenek, jangan sungkan. Katakan saja!" Pinta Aruna yang juga penasaran.
"Itu, masih ingat tidak beberapa hari yang lalu kamu mengikat rambut kedua cucuku?" tanyanya?
"Ya, tentu aku masih ingat. Apa terjadi sesuatu kepada mereka?" Aruna langsung bertanya, karena Nenek Su tiba-tiba membahas cucunya.
"Ehh tidak, saat bangun tidur ikat rambutnya sudah berantakan, keduanya langsung menangis. Kami sudah berusaha memperbaikinya, tapi hasilnya tidak sama. Dua bocah itu tidak berhenti merengek sampai sekarang." Nenek Su harus menahan malu demi cucunya.
Aruna terperangah, ternyata ada kejadian seperti ini. Dan mereka tidak datang mencarinya, membiarkan anak kembar itu bersedih sepanjang hari.
"Astaga Nek, kenapa tidak memberitahuku. Pantas aku jarang meliha Qian dan Nian,"
"Kami tidak ingin merepotkanmu, kamu sudah sangat lelah untuk pergi berburu! Tapi aku juga tidak tega melihatnya seperti itu, jadi aku datang sekarang!"
Aruna tersenyum, dia merasa semua orang menghargai jerih payahnya. Tidak memanfaatkannya sama sekali. "Nek, ayo kita cari mereka, masih ada sedikit waktu!"
Nenek Yu beranjak dengan semangat, dia benar-benar sangat menyangi cucunya, bahkan roti yang dibagi rata disimpan untuk keduanya.
Aruna melihat si kembar duduk bersama Ibunya yang masih berusaha membujuknya, Mata mereka sembab, wajahnya penuh kesedihan.
Melihat kedatangan Aruna si kembar malah bersembunyi karena malu. Mereka juga takut jika Aruna marah karena rambutnya berantakan. Tapi melihat Aruna yang duduk santai dengan Ibunya, mulai jalan mendekat.
"Kak Aruna, kami minta maaf. Kami tidak sengaja!" ucap keduanya sambil menjulurkan tangannya untuk memperlihatkan ikat rambut yang ada di genggamannya.
"Uhh lucunya, jangan sedih lagi yah? Kakak akan mengikatnya kembali" kata Aruna sambil memuluk mereka.
Mendengar ucapan Aruna, si kembar sangat bahagia. Wajah mereka seketika dipenuhi senyuman. Nenek dan Ibunya, sampai melongo melihat perubahan mereka, jika tau semudah itu, dari kemarin mereka menemui Aruna meski harus menahan malu.
Aruna meminta kepada Bibi Mu Yan, Ibu si kembar untuk memperhatikannya, dan mencobanya di rambut Qian, hanya sekali belajar dia sudah bisa, ternyata semudah itu.
Aruna membagikan ikat rambut, kepada Anak-anak yang lain. Dia tidak ingin mereka merasa dibedakan dan menimbulkan rasa iri dan kebencian terhadap si kembar, terutama dirinya, karena dialah pemiliknya.
.
.
lanjut thorr💪💪💪