Update hari Senin, Rabu & Jumat pukul 15.00 WIB.
Sebagai satu - satunya laki - laki keturunan keluarga White,Samuel akan di nobatkan sebagai Duke yang baru.Sebenarnya Samuel tidak menginginkan gelar itu ,tetapi keadaan memaksanya.
Claudia ,putri bangsawan desa ,memutuskan pergi ke sana untuk menemani Samuel dengan alasan untuk belajar tata krama.Ternyata keluarga White dan bangsawan lainnya meremehkan Claudia.
Dengan dalih demi kebaikan Samuel ,Dino memaksa Claudia untuk mengingkari janjinya untuk selalu mendampingi Samuel.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya ? Ikuti saja di karya terbaru ku
Jangan lupa kalau kalian suka Like ,Favorit ,Rate dan Komentar positif ya so Vote.Makasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Aha ha ha ha..
Suara tawa yang menghibur duka lara di hati dan ingatan Claudia telah sedikit demi sedikit berhasil mengusir rasa kehilangan yang amat besar karena terpisah dengan Samuel sejak hari itu.
" Aku tidak ini.."
" Musim panas yang akan datang, juga musim gugur yanga akan datang....Dan juga musim -musim yang akan datang lainnya..!"
"Hahahaha...!"
Tertawa bersama dengan Ray dan teman -teman yang lain merupakan obat yang baik untuk Claudia untuk melupakan kesedihannya itu.
" Kita semua bisa terus seperti ini di Bukit Pelangi tentunya akan sangat menyenangkan..Selamanya bagiku....!" Ucap Claudia.
Dan, waktu pun tidak terasa telah berlalu begitu cepat. Kini Claudia telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan menarik yang hidup dengan keceriaannya yang tak pernah hilang dari senyumannya yang menawan.
" Clau ! Clau ! Clau !" Teriakan Ray pada suatu hari di Bukit Pelangi.
" Ray !" Sambut Clau riang kepada Ray yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda remaja yang tampan dan hangat.
" Seperti biasa ,pasti di sini " Kata Ray di kereta.
"Hmm, bukit pelangi , sampai kapapun tak akan berubah. Kamu masih mengumpulkan tujuh jenis bunga ?" Tanya Ray.
" Ehem "Jawab Clau riang.
" Idih ! Sudah tak pantas lagi ! " Ujar Ray.
" Tapi anak perempuan percaya pada legenda itu sampai kapan pun !" Jawab Clau sambil meloncat ke kereta kuda yang di kusiri Ray.
"Huup.."
" Kalau mau pulang, Aku antar . Aku sekalian mau mengembalikan kereta kuda ini." Kata Ray.
" Kalau begitu ,Aku mau ! " Sahut Clau.
" Kamu itu, ya..Cobalah lebih.." Tegur Ray yang melihat betapa Clau masih setomboy dulu.
" Ng? " Tanya Clau dengan polosnya.
" Nggak..! Nggak jadi..!" Sahut Ray cepat dengan wajah merona.
Drek..
Drek..
Drek..
Drekk.
Drek..
Mereka pun bersenda gurau di sepanjang jalan menuju ke Kediaman Count Fillan.
" Gawat, Bibi ! " Seru Ray cemas melihat Bibi telah menunggu mereka dengan wajah marah melihat Clau ada di kereta kuda butut nya Ray.
Drek..
Drek..
Dre..
"Putri ! Masa naik kereta butut seperti itu !" Tegur Bibi berang.
" Iya.." Jawab Ray kepada Bibi seraya membantu Clau turun.
"Ray ! Seharusnya kamu mencegahnya !" Tegur Bibi kepada Ray.
" Tak apa ,kok.." Jawab Clau riang tak peduli pada teguran Bibi.
" Putri Clau ,Nyonya..."
" Iya, iya memanggilku ,'kan ? " Tanya Clau sambil berlarian masuk ke rumahnya.
" Iyaaa ! Iya ! "
" Anak itu.." Keluh Bibi dan Ray tersenyum geli.
"Ray ! Walaupun kalian itu teman sejak kecil satu sama lainnya, sekarang kamu itu pekerja di sini ! Cobalah tahu diri sedikit.." Tegur Bibi lagi pada Ray yang sedang menaruh kereta kuda di istal.
" Iyaaa.." Jawab Ray sopan pada Bibi.
" Aku tahu , Clau..." Batin Ray.
" Clau ! Dimana Claudia ?" Tanya Nyonya Duchess Fillan kepada Bibi.
" Lho ? "
"Anak itu lari lagi, ya ?" Keluh Nyonya Duschess Fillan yang pusing menghadapi sikap Claudia yang tak berubah sama sekali di usia gadis itu yang kini telah berusia delapan belas tahun.
" Aku tahu apa yang akan Ibu bicarakan pasti soal pesta pergaulan," Kata Clau yang ternyata berada di kebun kaca.
" Kenapa kamu tak mau? Kamu 'kan seorang gadis dari keturunan bangsawan ," Kata Ray menemani gadis itu.
" Lynette Clau.."
" Hentikan panggilan itu !" Tegur Clau pada Ray.
"Lynette Clau..Gadis bangsawan cilik..." Ingatan itu menoreh luka tak berdarah bagi Clau.
" Tuan Baskoro kadang -kadang mampir ke sini 'kan?" Tanya Ray sambil berlalu untuk gadis itu tak merasa sedih lagi akan ingatan yang sangat perih bagi gadis itu.
" Sekarang jarang..Sepertinya..Paman Dino selalu menghindariku.." Tutur Clau muram.
"Bukannya Clau yang menghindar ? Misalnya , dengan tidak hadir di pesta..! Kamu takut bertemu dengan dia,'kan?" Tanya Ray tajam.
" Siapa maksudmu!?" Tanya balik Clau nada marah kepada Ray yang terdiam dan Clau pun membisu karena Ia sudah bersikap kasar kepada sahabat masa kecilnya itu.
"Justru..Aku tak ingin bertemu," Jawab Claudia pelan kepada Ray yang memahaminya.
" Tidak..Dia pasti sudah melupakan aku.." Imbuh Clau sedih.
Hari demi hari terus berlalu dengan setiap hari di Kediaman Count Fillan selalu di banjiri kartu -kartu undangan pesta untuk Claudia namun Claudia tak menghiraukan kartu -kartu undangan itu.
" Sudah ,terlalu jauh..Tak terjangkau lagi...Samuel pasti sudah melupakan Aku..." Batin Clau pilu.
Hingga suatu hari datanglah seorang pengantar surat undangan ke Kediaman Count Fillan yang amat mengejutkan setiap orang di Kediaman itu termasuk Nyonya Duchess Count Fillan.
" Nyonya ! Putri Claudia ! Barusan ada utusan..." Seru pelayan yang menerima surat undangan itu dan menyerahkannya kepada Nyonya Duchess Fillan.
" Putri Claudia La Kurt Fillan..Kami mengundang Anda ke pesta kebun.Harap datang." Baca Nyonya Duchess Fillan.
" Undangan? Dari Keluarga White.." Ucap Claudia terkejut saat Ibunya menyampaikan surat itu kepadanya.
" Duke White...Samuel..Kenapa..?" Tanya Claudia di batinnya.
Karena dirinya hampir tak mempercayai tulisan di surat undangan itu. Ia berkali -kali membacanya hingga hari menjelang untuk menghadiri pesta kebun di Keluarga White pun tiba.
"Kepada Yang terhormat.Putri dari kaum keluarga bangsawan Fillan."
Claudia membaca ulang surat yang berada di genggamannya itu dengan berbagai perasaan yang tak bisa di lukiskan atau ungkapkannya atas undangan yang berasal dari Keluarga White.
" Pergi ke rumah Duke White...Harus pergi ke sana lagi.." Batin Clau.
Sementara itu Bibi dan semua orang dirumahnya tengah sibuk untuk mengurusi keperluannya untuk menghadiri pesta kebun itu.
"Mana gaun Tuan Putri? Juga topinya ! Repot! "
" Iya..Sebelum Tuan Putri pergi, siapkan sedikit hidangan untuknya.."
" Sekarang sudah waktunya untuk Putri berganti pakaian.."
" Tuan Putri ! Tuan Putri di mana?"
Keramaian di dalam rumahnya semakin membuat perasaan di hati dan pikiran Clau kacau karena Ia akan kembali bertemu dengan Samuel namun Ia merasa takut akan bagaimana dirinya ketika Ia akan jumpa kembali dengan Samuel di masa kini di saat mereka telah tumbuh dewasa setelah lama sekali mereka berdua berpisah.
"Hai ,Clau ! Lho..Kok masih belum siap -siap?" Tanya Ray yang menangani kuda terbaik untuk mengantarkannya ke pesta kebun Keluarga White.
" Ng.." Gumam Clau.
" Hmm" Balas Ray.
" Untung Ray juga ikut bersamaku ," Kata Clau.
" Hei, Aku 'kan cuma kusir !"
" Habis..Ayah dan Ibu tidak mau ikut..!Aku deh yang kena.."Kata Clau.
"Hahaha..Kalau sendiri merasa kecil hati, ya? Wah seperti bukan Clau," Kata Ray menghiburnya.
Karena tak ada balasan dari perkataannya itu, Ray menengok ke arah Clau yang terlihat sedih sekali di depan pintu kandang kuda.
"Clau ,kamu tak mau pergi ke pesta dansa itu,ya?" Tanya Ray menghampiri Clau.
" Sebenarnya..Aku ingin sekali bertemu dengan Samuel..Tapi.."
"Ng..."
" Ray, kenapa Samuel mengundangku ke sana, ya? "Tanya Clau kepada Ray dengan sorotan kedua mata begitu pedih.
".....Itu sih...Dia pasti ingin bertemu denganmu, kamu'kan temannya.." Hibur Ray.
" Apa betul begitu..?" Tanya Clau.
"Iya, betul" Jawab Ray sambil mengangguk.
" Padahal kita berpisah seperti itu.." Kata Claudia di sela-sela tangisannya.
" Clau..Benar dugaanku, kamu..Sampai sekarang pun masih menyukainya..." Batin Ray yang sedih karena Clau tetap menyukai Samuel bukan dirinya yang selalu berada di dekat Claudia selama ini.
Bersambung...!!