Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hair Mousse
Jennie dan Davis muncul beberapa jam setelah Maggie meninggalkan Biann bersama orang tuannya.
“Hampir waktunya, ya?” tanya Papa.
“Setengah jam lagi,” kata Davis. Ia tersenyum ke arah Jennie.
Kakaknya itu terlihat berubah total. Rambutnya ditata dalam susunan yang rumit. Ia mengenakan gaun sutra biru muda yang pernah Maggie beli saat kuliah. Gaun itu jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan halus.
Maggie menekan tangannya ke perut. Sudah waktunya melakukan diet.
Mama bangkit dari tempat duduknya dengan Biann di bahunya. “Jennie, kamu cantik sekali. Giliranmu sebentar lagi.” Ia menahan dagu Jennie.
“Itu karena para penata rambutnya. Tim ini luar biasa,” kata Jennie. “Bahkan semua acara talk show itu, aku belum pernah ditangani orang-orang seperti ini.”
Termasuk Maggie. Selama sebagian besar tur, Maggie yang mengurus rambut dan riasan Jennie.
Maggie merapikan roknya di sekitar betis, merasa sangat jauh dari dirinya yang dulu. Ini bukan gaya hidupnya yang biasanya. Memiliki Biann telah mengubahnya dalam segala hal. Ia tidak yakin bagaimana caranya menemukan kembali pesonanya, meski sesekali hal itu masih muncul sebentar, seperti semalam.
Maggie perlu berganti pakaian, merapikan wajah dan rambut sebelum makan malam gladi resik. Namun Mama justru menyerahkan kembali Biann padanya.
“Davis, duduklah,” kata Mama. “Aku pingin menghabiskan sedikit waktu denganmu sebelum semua acara menyibukkanmu.”
Mama dan Papa mengobrol antusias tentang usaha toko mereka.
Maggie berdiri. “Kayaknya tinggal kita berdua,” katanya pada bayi itu.
Maggie menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamar mereka. Tempat tidur Jennie penuh dengan pakaian, masih berjuang menentukan apa yang akan dipakai.
Lalu Maggie sendiri harus memakai apa?
Ia menyalakan lampu dan menatap cermin. “Enggak ada yang cocok buatmu,” katanya pada dirinya sendiri. Biann langsung bersendawa di bahunya, seakan setuju.
Dinding kamar mandi yang kuning memantulkan warna ke kulitnya hingga ia tampak pucat. Ia menggeleng pada bayangannya. “Kamu enggak akan menyerah.”
Maggie kembali ke koper, mengaduk-aduknya untuk mencari tas kosmetik. Ia meletakkan cermin lipat kecil di meja dekat jendela. Ia butuh cahaya alami. Ia menyusun foundation, perona pipi, dan riasan mata.
“Sekarang giliranmu, ya?” katanya pada Biann sambil memindahkannya ke lekukan lengannya. Bayi itu terlihat puas. Ia bisa mencoba kosmetik mamanya.
Tempat duduk bayi ada di kamar sebelah, jadi ia membaringkan Biann di tengah tempat tidur dan memasangkan empeng. “Aku butuh lima menit, ya?”
Saat ia duduk, empeng itu terlepas, tetapi tidak ada tangisan, jadi ia bergerak cepat. Ia bekerja dengan kuas dan spons, mengubah tampilan siangnya menjadi wajah malam yang glamor agar serasi dengan Jennie.
Pasti yang lain juga akan berdandan total.
Ketika ia menggelapkan eyeshadow, ia melirik Biann. Bayi itu mengibas-ngibaskan tangan dengan gembira, memperhatikan kipas langit-langit yang berputar pelan. Ia menyukai momen-momen seperti ini. Baling-baling kipas memang pengasuh terbaik sepanjang masa.
Sekarang soal gaunnya. Ia segera mengeluarkan isi koper, mencari mana yang tidak kusut. Tidak banyak. Seharusnya semua dibungkus dengan rapi. Tapi semuanya terjadi terlalu cepat. Kedatangan Kael yang tak terduga. Proses berkemas yang terburu-buru.
Ada satu gaun dengan cukup Lycra sehingga tidak mudah berkerut. Mungkin terlalu mencolok, merahnya begitu terang sampai rasanya bisa menghentikan lalu lintas.
Bagian atasnya ketat, tapi cukup elastis untuk menyesuaikan payudaranya yang terus berubah, lalu tepat di bagian perut yang mulai terlihat, gaun itu melebar menjadi rok mengembang.
Maggie melepas gaun merah muda dan mengenakan yang merah. Sialnya, tali bra yang kebesaran terlihat di bagian leher. Ia melepas bra itu. Ia harus membuat ini berhasil.
Sudah berjam-jam sejak terakhir kali ia menyusui atau memompa. Ia tidak bisa mengambil risiko tidak memakai bantalan Bra. Ia bisa bocor, dan gaun ini akan menampakkan lingkarannya dengan jelas.
Ia menekan dadanya. Ya, penuh sekali. Dan rambutnya juga harus dibereskan.
Maggie berlari kembali ke cermin. Rambutnya terpelintir sepanjang hari. Tampilannya terlalu santai untuk keluar, tapi kalau dilepas, kemungkinan besar akan jatuh menjadi ikal longgar.
Ia membiarkan koper di lantai dan berbaring di samping Biann. “Aku mengandalkanmu, Nak,” katanya. “Ambil secukupnya supaya aku bisa pakai bra biasa. Oke?”
Biann menendang-nendangkan kakinya. Ia menarik bayi itu lebih dekat dan menunduk. Saat Biann menyusu, ia melepas jepit-jepit rambutnya.
Maggie benar-benar multitasking.
Suara-suara di ruangan sebelah meyakinkannya bahwa semua orang sedang sibuk. Ini gila. Kenapa Maggie sempat berpikir perjalanan ini akan jadi mimpi yang indah?
Ia punya bayi. Mama dan Papa memang ada, tapi tanggung jawab tetap miliknya.
Rambutnya jatuh menumpuk dalam ikal di atas bantal. Sejauh ini aman. Ia membandingkan satu payudara dengan yang lain. Ukurannya besar sebelah.
Jadi Ia menarik Biann, dan bayi itu menjerit kecil sebagai protes. “Tunggu sebentar, Sayang. Masih ada lagi.” Ia kembali ke kursi dan memindahkannya ke sisi satunya. Sekarang ia bisa menahan Biann dengan lengan kanan dan memakai tangan kiri untuk mengurus rambut.
Maggie merapikan ikalnya dengan jari-jari. Sambil berjalan, dengan Biann menempel padanya, kembali ke tasnya untuk mencari produk rambut. Ia bertekad membuat semuanya berhasil. Dulu ia selalu memukau. Malam ini ia harus memukau.
Maggie duduk, menjepit spray di antara pahanya, lalu menekan nosel dengan harapan busa keluar ke telapak tangannya.
Namun ia tidak bisa memperkirakan tekanannya dari sudut ini. Mousse itu menyembur, jatuh ke seluruh pahanya dan ke lengan Biann.
Maggie menjerit. Ia meletakkan kaleng itu di meja dan mencari sesuatu untuk membersihkan kekacauan itu. Tidak ada apa-apa selain tirai renda, sebuah pena dengan bulu panjang, dan kertas tulis bertekstur.
Ya sudah, cuma itu yang ada.
Ia mengambil selembar kertas dan mencoba menggesekkannya di sepanjang kakinya untuk mengangkat gumpalan mousse berbusa putih. Lumayan berhasil, cukup untuk membuatnya bisa berdiri dan pergi ke kamar mandi.
Ia membasahi handuk putih yang lembut, menggosok pahanya, lalu membersihkan mousse dari lengan Biann. Bayi itu tertidur. Syukurlah.
Maggie menjauhkan Biann lalu meletakkannya di tempat tidur, sambil berdoa agar bayi itu tetap tertidur saat dilepas.
Biann bergerak sedikit, rahangnya bergerak seperti sedang menyusu. Tapi ia tidak terbangun.
Ia berlari kembali ke meja, mengambil mousse, lalu bergegas ke kamar mandi. Menyadari dirinya masih mengenakan bra menyusui dengan tali tebal, lalu kembali melepasnya. Ia mencari sesuatu yang lebih halus, menggantinya, lalu memasang bantalan di cup bra, sekadar berjaga-jaga.
Sekarang gaunnya.
Dan dia kembali lagi ke kamar mandi.
Jantungnya berdebar kencang seperti habis berlari. Mungkin memang begitu. Sebuah kursi terseret di ruang sebelah, dan ia merasa orang-orang mulai bergerak.
Cepat.
Maggie menuangkan mousse ke telapak tangan dan menarik napas. Harus berhasil sekali coba.
Ia mulai menata, membentuk gelombang di bagian depan seperti bintang film tahun 1940-an. Lalu ia meremasnya, membentuk ikal menjadi gelombang panjang. Ia menyisir dan terus menyisir sampai berkilau.
Jennie mengintip dari pintu. “Lagi siap-siap?”
“Aku lagi ngebut!”
Jennie membungkuk ke arah bayi. “Dia pules banget. Kamu mau gimana dengan dia?”
Ia tidak punya jawaban. Kael sempat bilang kalau ada pengasuh, tapi itu untuk hari pernikahan. “Dibawa aja, mungkin?”
Mama menyela. “Kamu enggak bisa makan di jamuan formal sambil menggendong bayi!”
Maggie memejamkan mata sejenak. Mama mungkin benar. Biann bisa berisik dan merusak makan malam kerajaan Majapahit itu.
Sikat rambutnya pun jatuh dari ambang sempit ke wastafel dengan suara keras. Ia menggigit bibir, menahan air mata. Bodoh.
Jennie bicara. “Enggak apa-apa, Ma. Lagipula kita masih punya waktu. Ingat, cuma latihan makan, waktunya empat puluh lima menit lagi.”
Bahunya langsung turun drastis. “Kupikir Papa bilang setengah jam?”
“Itu khusus Davis, karena harus tampil di taman. Kita yang lain masih punya banyak waktu.”
Ia menatap matanya sendiri di cermin. Empat puluh lima menit lagi. Dan ia sudah bersusah payah menyusui sambil pakai mousse.
“Apa itu di meja?” tanya Mama. “Kelihatannya seperti krim kocok buat muffin.”
Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah tertawa. Dan begitu mulai, tawanya lepas kendali, membuat perutnya yang masih kendur itu ikut berguncang. Maggie menekan tangan ke perut, tapi tetap tak tertahankan, membungkuk di atas wastafel. Ia tidak bisa berhenti.
Mama muncul di pintu. “Maggie, kamu enggak apa-apa?”
Ia mengangkat tangan. “Tentu. Cuma—” Ia tidak bisa berhenti tertawa.
Jennie mengangkat Biann. “Ma, gimana kalau kita gantian? Maggie mulai dengan Biann saat hidangan salad. Lalu Mama bawa dia saat sup, dan aku bawa dia saat hidangan pembuka.”
“Tapi Davis pasanganmu!” bantah Mama.
“Kalau begitu Papa yang bawa dia saat hidangan pembuka.” Wajah Jennie tegas. Ia selalu berani berhadapan langsung dengan orang tua mereka. Sementara Maggie selama ini lebih sering menghindar.
“Baiklah,” kata Mama. “Kalau menurutmu itu yang terbaik.”
“Biarin Maggie punya waktu sebentar,” kata Jennie. “Dia enggak bisa bersiap kalau Mama terus mengawasinya.”
Padahal sebenarnya ia bisa.
Tapi rasa lega itu terlalu besar. “Makasih, Jennie,” bisiknya.
Jennie mengedipkan mata. “Bersiaplah. Semua orang pasti ingin dapat giliran menggendong bayi. Kamu punya botol susu?”
“Ada. Aku bakal bikin air panas sebentar untuk menghangatkannya sebelum kita pergi.”
Jennie mengangguk, dan Maggie menyadari betapa kuatnya kakaknya itu sekarang, betapa cakap dan bisa diandalkan. Iya bersyukur.
Maggie kembali ke kamar mandi untuk merapikan rambutnya. Mau tidak mau, malam ini ia akan bersenang-senang.
...𓂃✍︎...
...Mau se effort apa pun, kalau bukan yang dia mau, enggak akan dilihat. Berhenti menyakiti diri sendiri atas nama perjuangan....
...────୨ৎ────...