Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Mendadak
Aku terbangun dengan kepala berdenyut sakit.
Bau kloroform masih menempel di hidung. Mulut kering. Tubuh lemas.
Butuh beberapa detik untuk otakku sadar dimana aku.
Bukan di kamar Leonardo.
Bukan di vila.
Aku di lantai van yang bergerak. Tangan masih terikat di belakang punggung. Kaki juga diikat. Mulut dibungkam dengan lakban.
Di sampingku duduk pria botak itu. Dan dua orang lain yang juga berpakaian hitam.
"Dia sudah bangun," ucap salah satunya.
Pria botak menatapku. "Tenang saja, Nyonya. Perjalanan masih panjang. Sebaiknya kau tidur lagi."
Aku menggeleng keras. Mencoba bicara tapi hanya suara teredam yang keluar.
Dia tertawa. "Tidak ada gunanya berteriak. Tidak ada yang akan dengar."
Van terus melaju cepat. Aku mencoba ingat-ingat arah tapi sia-sia. Gelap di luar. Tidak ada petunjuk.
Tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka berdering.
Pria kurus dengan mata sipit mengangkatnya. "Da?"
Dia mendengarkan. Wajahnya berubah.
"Chto?!" teriaknya dalam bahasa Rusia. Apa?!
Dia bicara cepat dalam bahasa Rusia. Nada suaranya panik.
Pria botak merebut ponsel. "Apa yang terjadi?!"
Suara di seberang berteriak keras. Bahkan aku bisa dengar walau tidak mengerti bahasanya.
Wajah pria botak itu pucat.
"Sial," umpatnya. "Berapa banyak?!"
Suara di seberang menjawab sesuatu.
"BERAPA?!" teriak pria botak lagi.
Lalu dia menutup ponsel dengan kasar.
"Ubah rute," perintahnya pada sopir. "Sekarang. Kita tidak bisa ke meeting point pertama."
"Kenapa? Ada apa?" tanya pria kurus.
"Valerio sudah tahu," jawab pria botak dengan napas berat. "Dia sudah dalam perjalanan. Dan dia bawa... dia bawa semuanya. Semua pasukannya. Ratusan orang."
Ratusan.
Leonardo datang dengan ratusan orang.
Untuk mencariku.
Entah aku harus takut atau... lega?
"Kemana kita pergi sekarang?" tanya sopir dengan panik.
"Ke rute B," jawab pria botak. "Lewat pegunungan. Lebih panjang tapi lebih aman."
Van berbelok tajam. Aku terguling ke samping. Kepalaku membentur dinding dengan keras.
Sementara itu, di vila yang sudah hancur, Leonardo berdiri di tengah mayat-mayat berserakan.
Wajahnya... bukan lagi wajah manusia.
Mata menyala merah karena amarah. Rahang mengeras. Tangan mengepal sampai buku-buku jari memutih.
Di sekelilingnya, belasan mayat anak buah Damian tergeletak. Darah dimana-mana. Pecahan kaca. Peluru.
Marco berdiri di sampingnya. Katana nya masih menetes darah. Baju nya robek di beberapa tempat. Ada luka sayatan di lengan kirinya tapi dia tidak peduli.
"Don," panggil Marco dengan napas tersengal. "Kami sudah habisi hampir semua. Tapi beberapa berhasil kabur dengan van. Dan mereka... mereka bawa Nyonya."
Leonardo tidak menjawab. Hanya menatap kosong ke depan.
Lalu tiba-tiba dia berteriak.
Teriak yang sangat keras sampai bergema di seluruh vila.
"NADIRAAAAA!"
Dia menendang kursi di sampingnya. Kursi itu melayang dan menghantam dinding sampai hancur berkeping-keping.
"SIALAN!" teriaknya lagi sambil mengambil pistol dari salah satu mayat. Menembakkan semua peluru ke langit-langit.
DOOOR! DOOOR! DOOOR!
Sampai peluru habis.
Marco hanya diam. Membiarkan Leonardo melampiaskan amarahnya.
Andrey datang berlari dari ruang kontrol. Wajahnya berlumuran darah. Baju sobek. Tapi tablet masih di tangannya.
Dia mengetik cepat. Menunjukkan layar pada Leonardo.
"Aku sudah lacak van nya," bunyi suara robot dari tablet. "Mereka menuju ke arah utara. Melewati jalan pegunungan."
Leonardo merebut tablet. Menatap peta GPS yang menampilkan titik merah bergerak.
"Berapa jauh?" tanyanya dengan suara rendah yang sangat berbahaya.
"Lima belas kilometer," jawab Andrey lewat tablet. "Tapi mereka bergerak cepat. Dan jalanan pegunungan berliku. Sulit untuk kejar."
"AKU TIDAK PEDULI!" teriak Leonardo sambil melempar tablet. Untung Andrey tangkap dengan cepat.
Leonardo berbalik ke Marco. "Kumpulkan semua orang. Semua yang masih bisa berdiri. Semua yang masih bisa pegang senjata. Kita kejar mereka sekarang."
"Siap, Don," Marco langsung berlari keluar.
Leonardo menatap Andrey. "Kau ikut aku. Bawa semua peralatanmu. Aku mau kau lacak mereka setiap detik. Kalau mereka belok, aku harus tahu. Kalau mereka berhenti, aku harus tahu. Kalau mereka bernapas, AKU HARUS TAHU!"
Andrey mengangguk cepat. Langsung kembali ke ruang kontrol untuk ambil laptop dan peralatan lainnya.
Lima menit kemudian, konvoi mobil keluar dari vila.
Sepuluh mobil. Masing-masing berisi lima sampai enam orang bersenjata lengkap.
Leonardo di mobil paling depan. Menyetir sendiri dengan kecepatan gila. Andrey duduk di sampingnya dengan laptop terbuka.
Marco di mobil kedua bersama lima sniper terbaik.
Dan di belakang, puluhan anak buah RED ASHES dengan senjata otomatis, granat, bahkan peluncur roket.
Ini bukan pengejaran biasa.
Ini perang.
Di dalam van, kami merasakan getaran yang aneh.
Sopir terus melihat spion dengan wajah panik.
"Mereka mendekat!" teriaknya. "Ada lampu di belakang! Banyak!"
Pria botak mengutuk dalam bahasa Rusia. Lalu menatapku dengan tatapan gila.
"Kau," ucapnya sambil menarik pisau dari sepatu nya. "Kau akan jadi tameng kami kalau mereka sampai."
Dia memotong tali di kakiku tapi tangan masih terikat.
"Bangun," perintahnya sambil menarikku duduk. "Duduk di sini dimana mereka bisa lihat kau dari belakang."
Dia menempatkanku tepat di jendela belakang van. Memegang belakang kepalaku dengan kasar.
"Kalau Valerio tembak van ini, peluru pertama akan kena kau," bisiknya di telingaku. "Jadi berdoalah dia cukup waras untuk tidak tembak."
Aku menatap keluar jendela belakang.
Dan aku melihatnya.
Lampu. Banyak lampu. Bergerak cepat mendekat.
Seperti kawanan serigala mengejar mangsa.
Di mobil paling depan, Leonardo mengemudi dengan satu tangan. Tangan satunya memegang pistol.
"Seberapa jauh?" tanyanya pada Andrey tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Dua ratus meter," jawab Andrey. "Mereka di tikungan depan."
"Bagus."
Leonardo menginjak gas lebih dalam. Mobil melaju lebih kencang.
Seratus lima puluh meter.
Seratus meter.
Lima puluh meter.
Lalu dia melihatnya.
Van putih di depan.
Dan di jendela belakang...
Nadira.
Dengan mata lebar ketakutan. Mulut terlakban. Rambut berantakan.
Dan ada tangan yang memegang kepalanya. Menjadikannya tameng.
Leonardo mengerem mendadak. Mobil berhenti dengan bunyi ban yang melengking.
"SIAL!" teriaknya sambil memukul setir.
Dia tidak bisa tembak. Nadira ada di sana.
Marco mobil nya berhenti di samping. Dia turun dengan cepat.
"Don, apa rencana nya?" tanyanya.
Leonardo menatap van yang terus menjauh.
Otaknya bekerja cepat.
"Andrey," panggilnya. "Apa ada jalan lain untuk potong mereka?"
Andrey mengetik cepat di laptop. Peta muncul dengan beberapa jalur.
"Ada," jawab suara robot. "Tiga kilometer lagi ada pertigaan. Jalur kiri akan bawa mereka ke perbatasan Swiss-Italia. Jalur kanan ke danau. Kalau kita ambil jalan pintas lewat hutan..."
"Tunjukkan," potong Leonardo.
Andrey memutar laptop. Menunjukkan jalur alternatif yang memotong melalui hutan.
"Jalan ini tidak bagus," jelas Andrey. "Berbatu dan berlubang. Tapi kalau kita cukup cepat, kita bisa sampai di pertigaan sebelum mereka."
Leonardo tersenyum. Senyum predator.
"Marco," panggilnya. "Kau ikut jalur utama. Kejar mereka terus. Jangan biarkan mereka berbelok kemana-mana kecuali pertigaan itu."
"Mengerti."
"Aku dan lima mobil akan lewat jalur pintas," lanjut Leonardo. "Kita akan hadang mereka di pertigaan."
Dia menatap semua anak buahnya yang sudah turun dari mobil.
"Dan saat mereka sampai di pertigaan," ucapnya dengan nada dingin. "Kita akan tunjukkan pada Damian Volkov apa yang terjadi saat seseorang ambil apa yang jadi milik ku."
Dia mengangkat pistolnya tinggi-tinggi.
"UNTUK RED ASHES!" teriaknya.
"UNTUK RED ASHES!" semua anak buahnya berteriak balik sambil mengangkat senjata mereka.
Lalu konvoi terpisah.
Marco dengan lima mobil terus kejar van lewat jalur utama.
Leonardo dengan lima mobil lainnya belok tajam masuk ke jalan tanah yang menembus hutan.
Mobil melaju dengan kecepatan gila di jalan yang penuh batu dan lubang. Beberapa kali hampir terguling tapi Leonardo mengendalikan dengan sempurna.
Andrey terus memantau peta.
"Dua kilometer lagi," ucapnya. "Marco masih kejar mereka dari belakang. Jarak lima puluh meter."
Leonardo tidak menjawab. Hanya fokus menyetir.
Pohon-pohon berlalu dengan cepat di kiri kanan. Ranting-ranting menggesek bodi mobil. Tapi dia tidak peduli.
Yang dia pedulikan cuma satu hal.
Nadira.
Istrinya.
Miliknya.
Yang dicuri dari rumahnya sendiri.
Dan dia akan ambil kembali.
Tidak peduli harus bunuh berapa orang.
Tidak peduli harus hancurkan apa.
Dia akan ambil kembali yang jadi miliknya.
"Satu kilometer," ucap Andrey.
Leonardo menginjak gas lebih dalam lagi.
"Lima ratus meter."
Mobil melompat saat melewati lubang besar. Mendarat dengan keras tapi tetap melaju.
"Dua ratus meter."
Pohon-pohon mulai jarang. Cahaya jalan utama mulai terlihat di depan.
"Lima puluh meter."
Leonardo mengerem. Mobil berhenti tepat sebelum keluar dari hutan.
Dia turun dengan cepat. Mengintip ke jalan utama.
Pertigaan itu sepi. Belum ada van.
Tapi dia bisa dengar suara mesin dari kejauhan. Semakin mendekat.
"Siapkan," perintahnya pada anak buahnya.
Semua langsung mengambil posisi.
Beberapa bersembunyi di balik pohon dengan sniper.
Beberapa berlutut dengan senjata otomatis siap.
Beberapa berdiri dengan peluncur roket di bahu.
Dan Leonardo berdiri di tengah jalan dengan pistol di tangan kanan dan katana yang dia ambil dari Marco di tangan kiri.
Menunggu.
Menunggu seperti predator yang menunggu mangsa masuk jebakan.
Suara mesin makin keras.
Lampu mulai terlihat.
Van putih itu muncul dari tikungan.
Dan tepat saat mereka sampai di pertigaan...
Leonardo melangkah ke tengah jalan.
Berdiri sendirian.
Menatap van yang melaju kencang ke arahnya.
Dan tersenyum.
Senyum yang paling mengerikan yang pernah dia tunjukkan.
Senyum pembunuh yang siap memulai pembantaian.