NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Nama yang tidak harus di sebut.

Perubahan tidak selalu datang dengan kejutan.

Kadang ia datang…

pelan.

Diam-diam.

Tanpa permisi.

Haikal menyadarinya pada pagi ketujuh.

Ia bangun pukul 05.00 seperti biasa.

Alarm berbunyi sekali.

Langsung mati.

Namun kali ini, sebelum bangkit, matanya menoleh ke samping.

Lian.

Tidur menyamping, punggung menghadapnya, rambutnya menutupi setengah bantal. Selimutnya tersingkap sedikit—terlalu sedikit untuk standar Haikal, tapi cukup untuk membuatnya berhenti bergerak.

Ia menarik selimut itu naik.

Pelan.

Agar tidak membangunkan.

Saat ia berdiri dari ranjang, kaki Lian bergerak sedikit, seolah mencari sesuatu yang hilang. Jari-jarinya sempat menyentuh seprai, lalu diam lagi.

Haikal berdiri sejenak.

Menatap tangan itu.

Lalu berbalik menuju kamar mandi.

Di ruang tamu, rumah itu masih sama.

Sepatu tidak sepenuhnya sejajar.

Tas Lian tergeletak di sofa.

Ada gelas kosong di meja.

Haikal berhenti di tengah ruangan.

Beberapa hari lalu, pemandangan ini membuat dadanya menegang.

Sekarang… tidak.

Ia berjalan ke rak sepatu. Merapikan.

Mengambil tas. Meletakkannya di tempat semestinya.

Mengambil gelas. Mencucinya.

Gerakannya otomatis.

Tanpa keluhan.

Tanpa emosi.

Seolah rumah itu memang selalu seperti ini.

Dan ia—

selalu membersihkannya.

Di dapur, Haikal menyiapkan sarapan.

Telur.

Nasi.

Sayur tumis.

Ia mengambil dua piring.

Berhenti.

Menatapnya sebentar.

Tidak bertanya kenapa dua.

Tidak mempertanyakan kebiasaan itu.

Ia hanya menyajikannya.

Dua porsi.

Ketika Lian muncul dengan rambut acak-acakan dan kaos kebesaran, ia berhenti di ambang dapur.

“Mas,” katanya ngantuk. “Kamu masak?”

Haikal mengangguk.

“Banyak banget.”

“Untuk dua orang.”

“Oh.”

Lian duduk. “Makasih.”

Ia makan tanpa banyak bicara. Menguap di sela suapan.

“Telurnya enak,” katanya.

Haikal mengangguk.

“Hmm.”

Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.

Siang hari, Haikal pulang lebih cepat.

Ia membuka pintu dan langsung melihat jaket Lian tergantung di kursi. Sepatunya terlepas satu, satunya masih menempel di kaki meja.

Ia tidak menghela napas.

Ia memungutnya.

Menaruh di rak.

Lalu masuk kamar.

Lian tidur siang.

Menyamping.

Memeluk bantal.

Haikal berdiri di ambang pintu.

Ia menutup pintu perlahan.

Malam datang seperti biasa.

Makan malam sederhana.

Obrolan seadanya.

Diam yang tidak lagi canggung.

Saat lampu kamar dimatikan, Haikal berbaring di sisi ranjang.

Lian sudah lebih dulu masuk.

Ia berguling sedikit.

Tanpa sadar, jarak di antara mereka menyempit.

Tidak menyentuh.

Tidak sengaja.

Hanya… dekat.

Haikal memandang langit-langit.

Ia menyadari sesuatu malam itu.

Ia sudah terbiasa:

Dengan rumah yang tidak pernah benar-benar rapi.

Dengan makanan yang selalu ia masak untuk dua orang.

Dengan suara napas lain di sampingnya setiap malam.

Ia tidak merasa terganggu.

Ia tidak merasa kehilangan ruang.

Justru sebaliknya—

Saat Lian bergerak sedikit dan kembali diam,

Haikal menutup mata dengan lebih mudah.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada kesimpulan besar.

Hanya satu pikiran sederhana sebelum tidur:

Begini rupanya hidup berdua.

Dan entah sejak kapan—

pikiran itu tidak lagi terasa asing.

_____

Haikal baru sadar perubahan itu ketika ia tidak lagi menghitungnya.

Ia tidak lagi menghitung berapa kali ia merapikan rumah dalam sehari.

Tidak lagi menghitung helaan napas saat melihat tas di sofa atau sepatu yang asal lepas.

Tidak lagi menghitung jarak di ranjang setiap malam.

Semuanya terjadi begitu saja.

Seperti kebiasaan yang tumbuh tanpa diminta.

Pagi-pagi sekali, Haikal bangun seperti biasa. Tubuhnya terlatih. Jam biologisnya akurat. Namun sebelum bangkit, matanya selalu—tanpa sadar—mencari satu hal.

Lian.

Masih tidur.

Selimut setengah jatuh.

Rambutnya acak-acakan, satu tangan terlipat di bawah bantal, napasnya teratur.

Haikal menarik selimut itu naik.

Pelan.

Ia baru sadar, ia selalu melakukan itu sekarang.

Siang hari, rumah kembali ke bentuknya yang khas.

Berantakan versi Lian.

Tas kuliah tergeletak di kursi.

Jaket menggantung di sandaran.

Gelas kosong di meja.

Haikal masuk, menaruh tas dinas, lalu langsung merapikan.

Tidak menggerutu.

Tidak kesal.

Tangannya bergerak otomatis.

Seolah rumah itu memang harus seperti ini dulu sebelum ia menyentuhnya.

Malam turun perlahan.

Lampu dapur menyala hangat. Haikal memasak seperti biasa—lebih banyak dari yang ia butuhkan sendiri. Dua piring. Dua gelas. Dua sendok.

Lian muncul beberapa menit kemudian, mengenakan kaus lusuh dan celana pendek, rambutnya diikat asal.

Ia duduk.

Mengambil sendok.

Mulai makan.

Hening yang nyaman menyelimuti mereka.

Haikal menyuap sup. Rasanya pas. Ia menoleh, lalu berkata tanpa pikir panjang—

“Humairah, supnya masih panas.”

Hanya satu kata.

Namun dunia Lian berhenti.

Sendok di tangannya membeku di udara.

Tidak jatuh.

Tidak bergerak.

Seolah waktu menarik napas terlalu lama.

Matanya kosong.

Bukan kaget.

Bukan marah.

Lebih seperti… ditarik mundur ke tempat yang tidak ingin ia datangi lagi.

Tangannya yang satunya—yang tadi santai di atas meja—mengepal kuat.

Terlalu kuat.

Buku-buku jarinya memucat.

Haikal langsung melihatnya.

Gerakan sekecil itu tidak pernah luput dari matanya.

“Lian—” suaranya refleks, terpotong di tengah.

Lian tidak menjawab.

Ia perlahan menurunkan sendok. Sangat pelan. Seolah jika terlalu cepat, sesuatu akan pecah.

Hening menjadi berat.

Lampu dapur berdengung pelan.

“Jangan panggil aku begitu,” kata Lian akhirnya.

Suaranya rendah.

Datar.

Terlalu tenang untuk sesuatu yang jelas melukai.

Haikal menegang.

“Aku—” ia menarik napas. “Maaf. Aku tidak bermaksud.”

Lian mengangguk kecil.

“Aku tahu.”

Ia kembali mengambil sendoknya, tapi gerakannya tidak lagi santai. Bahunya kaku. Punggungnya sedikit menegang.

Haikal menaruh sendoknya.

“Nama itu…” ia ragu. “Sangat sensitif buatmu?”

Lian terdiam beberapa detik.

“Iya.”

Satu kata.

Namun cukup.

“Karena nama itu,” lanjutnya pelan, tanpa menatap, “selalu dipakai saat aku salah.”

Haikal menatapnya penuh.

“Kalau aku dipanggil Lian,” Lian melanjutkan, “biasanya sebelum aku ketawa. Atau bikin masalah. Atau jadi diri sendiri.”

Ia tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

“Humairah itu… versi aku yang selalu harus nurut. Selalu harus diam.”

Haikal merasakan sesuatu menekan dadanya.

Ia mengangguk.

“Aku tidak akan memanggilmu begitu lagi,” katanya tegas. “Tidak pernah.”

Lian mengangguk kecil.

“Makasih.”

Makan malam dilanjutkan.

Namun rasanya berubah.

Bukan hambar—

melainkan penuh sesuatu yang belum selesai.

Malam itu, mereka berbaring seperti biasa.

Lian membelakangi Haikal.

Jarak mereka dekat, tapi tidak bersentuhan.

Haikal menatap punggungnya.

Ia baru mengerti satu hal penting malam ini—

Perempuan di sampingnya tidak hanya berantakan di luar.

Ada bagian dalam dirinya yang sudah terlalu sering dipaksa diam.

Dan Haikal sadar, tanpa sengaja, ia hampir menjadi bagian dari itu.

Ia memejamkan mata.

Dalam kepalanya, satu janji terpatri jelas:

Ia akan memanggilnya dengan nama yang ia pilih sendiri.

Karena kadang, menghormati seseorang…

dimulai dari satu kata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!