NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Mencapai Pengumpulan Qi Tingkat 5

Hutan yang membentang menuju pegunungan Mo-Yun adalah hamparan vegetasi purba yang seolah menelan cahaya matahari. Udara di sini tidak hanya dingin, tetapi juga lembap oleh kabut yang merayap di antara batang-batang pohon raksasa. Suara dahan yang berderit, nyanyian jangkrik, kepakan sayap burung hantu, hingga lolongan serigala menjadi latar belakang yang konstan bagi langkah kaki Guiren yang kian melambat.

“Kakak, kita perlu berhenti sebentar.” bisik Xiaolian.

Gadis itu tidak menunggu karena merasakan langkah Guiren yang kian berat dan tidak stabil. Dengan cekatan, Xiaolian menarik lembut ujung jubah kakaknya, menuntun si buta itu menuju akar besar pohon tumbang yang kering. Ia membersihkan dedaunan basah di atas kayu itu dengan tangan sebelum membantu Guiren duduk.

Punggung Guiren terasa kaku, namun bukan lelah fisik yang membuatnya sesak. Di balik kain penutup matanya, Visi Qi-nya berdenyut menyakitkan. Aliran energi alam di hutan ini, hijau tua yang pekat dan cokelat tanah yang berat terasa terlampau riuh, menghantam indranya seperti ribuan jarum halus. Ia perlu menyelaraskan kekacauan itu atau kepalanya akan pecah.

Guiren duduk bersila, mengeluarkan Kuas Bulu Serigala Roh dan selembar kertas kasar yang tersisa. Ia mulai melukis. Bukan sosok manusia, melainkan kabut yang menggantung di depannya dan lekuk dahan yang patah. Setiap goresan kuas terasa seperti menarik benang saraf langsung dari otaknya.

Melukis alam bukan sekadar aktivitas seni bagi Guiren, itu adalah cara paksa untuk menyerap Qi di sekitar. Saat ujung kuas menyentuh kertas, aliran energi hutan mulai tersedot masuk ke dalam tubuhnya, dipaksa melewati meridian yang masih lelah.

Rasa sakit mulai muncul di pangkal tengkoraknya. Sebuah kelelahan mental yang membuat pikirannya terasa seperti bubur. Visi peraknya mulai kabur, warna-warna energi alam di sekitarnya tampak bergoyang dan menyatu dalam kebingungan yang memusingkan.

Satu pusaran… dua… lima…. .

Guiren memaksakan teknik Sirkulasi Tinta Sembilan Pusaran di dalam dadanya. Namun, semakin banyak ia menyerap, semakin hampa perasaannya. Seolah-olah setiap kemajuan kekuatan harus dibayar dengan sebagian dari kesadarannya.

“Kakak… Kakak berkeringat dingin,” suara Xiaolian terdengar cemas. Ia berlutut di samping Guiren, menggunakan lengan bajunya yang kotor untuk menyeka bulir keringat yang mengucur deras di pelipis kakaknya. “Jangan paksakan dirimu, Kak. Kita masih punya waktu. Istirahatlah sebentar.”

Guiren tidak bisa menyahut. Fokusnya hanya tertuju pada wadah tinta di dalam dirinya. Cairan hitam di sana mulai mengental. Riak-riaknya yang tadinya liar perlahan menjadi tenang, mengisi ceruk-ceruk kosong di dasar wadah tersebut hingga mencapai batas baru.

Sebuah denting sunyi bergema di dalam jiwanya.

Wadah tinta itu kini lebih stabil. Dinding energinya menebal, mengunci cairan hitam di dalamnya. Ia telah mencapai tingkat kelima dari Pengumpulan Qi. Namun, tidak ada sorak-sorai di batinnya. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang teramat sangat, seolah-olah ia baru saja terjaga selama berminggu-minggu.

Guiren menurunkan kuasnya. Tangannya gemetar hebat hingga kuas itu nyaris terjatuh. Lukisan di depannya kini hanyalah gumpalan hitam yang kacau, namun kertas itu memancarkan hawa dingin yang sama dengan hutan di sekitarnya.

“Sudah… selesai,” bisik Guiren. Suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri. “Aku tidak ingin menyia-nyiakan apa yang alam siapkan untukku. Aku hanya mengambilnya sedikit.”

“Tapi kau menakutiku,” gerutu Xiaolian sambil menatapnya cemas. Sementara sang kakak hanya membalas dengan senyuman tipis namun manis.

Guiren mencoba berdiri, namun kepalanya berputar hebat. Tubuhnya limbung ke samping. Dengan sigap, Xiaolian menyangga bahu kakaknya, menahan beban tubuh Guiren yang lebih besar darinya dengan susah payah.

“Aku di sini, Kak. Sandarkan badanmu,” ucap Xiaolian tegas meski suaranya bergetar. Ia membantu Guiren bersandar pada batang pohon besar, lalu meraih botol air kulit yang tergantung di pinggang Guiren, membukanya, dan membantu kakaknya minum perlahan. “Wajah Kakak pucat sekali. Tolong jangan paksakan dirimu terlalu jauh lagi. Kakak benar-benar membuatku takut.”

Guiren menyesap air itu, membiarkan oksigen hutan yang dingin sedikit mendinginkan otaknya yang mendidih. Ia meraba wadah di dalam dirinya. Kekuatan itu ada di sana, lebih besar, lebih padat. Kini ia memiliki cukup ‘tinta’ untuk melakukan lebih dari sekadar tipuan pelarian. Namun, harga yang ia bayar adalah kejernihan pikirannya. Selama beberapa saat, ia bahkan tidak bisa mengingat warna bunga di desanya.

“Maafkan aku, Lian’er,” gumam Guiren, tangannya yang kaku meraba kepala adiknya, mengusap rambutnya yang kusut sebagai tanda penyesalan yang bisu.

Ia menatap ke arah utara, ke arah Pegunungan Mo-Yun yang kini puncaknya mulai menusuk langit malam di kejauhan.

“Kita harus bergerak,” gumam Guiren lagi. “Sebentar lagi kita akan sampai.”

Ia menyimpan kembali kuasnya. Dan dengan bantuan tarikan tangan Xiaolian yang terus menuntunnya melewati akar-akar pohon yang menonjol, langkah kakinya kembali beradu dengan tanah hutan yang lembap. Meski wadah tintanya kini lebih stabil, pikirannya tetap berada di ambang kegelapan yang berkabut. Ia tahu, di gerbang Sekte Mo-Yun nanti, kelelahan ini bisa menjadi musuh yang sama mematikannya dengan para pemburu Paviliun Yama.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!