“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Putri Wijaya membeku saat layar ponselnya menampilkan judul berita yang berulang-ulang muncul di semua portal daring.
Tangannya gemetar. Napasnya tercekat. Dunia seolah runtuh tepat di bawah kakinya.
“Apa-apaan ini…?” bisiknya lirih, nyaris tak bersuara.
Video itu yang seharusnya terkubur rapat, kini beredar tanpa ampun. Sudut pengambilan yang jelas, wajah yang tak bisa disangkal, dan waktu yang tak bisa dibantah. Semua orang tahu, kini semua orang melihat.
Putri menjerit histeris, melempar ponsel ke dinding hingga pecah berkeping-keping.
“Yura!” teriaknya penuh kebencian.
“Ini pasti ulah dia!”
Amarah Putri memuncak sejak ia tahu kebenaran, bahwa Yura adalah anak kandung keluarga Wijaya. Bahwa gadis yang selama ini ia injak-injak, ia hina, dan ia jadikan pelampiasan, ternyata adalah darah daging keluarga yang ia banggakan.
Dan kini, kehancurannya datang bersamaan.
Di sisi lain kota, Sky berdiri tenang di depan jendela kantornya. Wajahnya datar, namun sorot matanya dingin dan tajam.
“Pastikan semua media menaikkan berita itu,” ucap Sky tanpa ragu.
“Tidak ada yang ditarik. Tidak ada yang ditutup.”
“Pak Sky, keluarga Wijaya meminta berita itu diturunkan,” lapor asistennya dengan hati-hati.
Sky tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tak mengandung kehangatan.
“Sampaikan pada mereka,” katanya pelan namun mematikan, “ini harga dari kejahatan mereka. Dan aku belum selesai.”
Bukan hanya membiarkan berita itu beredar Sky justru menekan media agar terus mengangkatnya. Menggiring opini publik. Membuat Putri kehilangan martabatnya sedikit demi sedikit.
Bukan untuk balas dendam semata, melainkan sebagai peringatan.
Sementara itu, Yura berdiri di ruang kerjanya, menatap layar televisi yang menyiarkan potongan berita yang sama. Wajahnya kosong, tak ada senyum, tak ada kepuasan.
Mario berdiri di sampingnya, ragu untuk berbicara.
“Nona, kamu … baik-baik saja?” tanya Mario pelan.
Yura mengalihkan pandangan. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tetap kokoh.
“Aku tidak senang melihatnya hancur,” ucap Yura lirih.
“Aku hanya … lelah. Selama ini aku yang dipermalukan. Sekarang giliran dia, dan rasanya tetap saja menyakitkan.”
Mario mengangguk paham. Namun, jauh di lubuk hati Yura, ada firasat buruk yang menggerogoti.
Putri tidak akan diam, di sebuah kamar gelap, Putri duduk dengan wajah pucat namun mata penuh kegilaan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum seseorang yang sudah tak peduli pada apa pun.
“Kalau hidupku hancur,” gumamnya pelan, “maka Yura … akan ikut hancur bersamaku.”
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Wijaya, suasana berubah mencekam.
Tuan Wijaya mondar-mandir di ruang kerja dengan wajah tegang, sementara istrinya duduk kaku di sofa, tangannya berulang kali meremas saputangan. Di layar televisi, berita tentang Putri Wijaya terus diputar tanpa ampun. Grafik saham perusahaan Wijaya bahkan mulai menunjukkan garis merah yang perlahan merosot.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Nyonya Wijaya dengan suara gemetar.
“Kalau berita ini terus beredar, reputasi keluarga kita hancur. Perusahaan bisa jatuh.”
Tuan Wijaya menghentikan langkahnya. Tatapannya tajam, penuh tekanan.
“Hans,” katanya tegas, “kamu harus menekan berita ini. Gunakan semua koneksi yang kamu punya. Jangan sampai ini semakin melebar.”
Hans berdiri di hadapan orang tuanya. Wajahnya terlihat letih, tapi pikirannya bekerja cepat.
“Kalau publik tahu lebih jauh,” lanjut Tuan Wijaya, “bukan hanya Putri yang hancur. Saham perusahaan bisa anjlok. Kita sudah di ujung tanduk.”
Nyonya Wijaya menatap Hans dengan mata berkaca-kaca.
“Dan satu hal lagi,” ucapnya lirih namun penuh ketakutan, “jangan sampai Yura ikut terseret. Gadis itu … sudah terlalu banyak menderita.”
Nama Yura membuat Hans terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak.
“Aku akan menyelesaikannya,” ujar Hans akhirnya. “Tapi dengan satu syarat.”
Tuan Wijaya dan istrinya menoleh bersamaan.
“Kita tidak bisa terus melindungi Putri,” kata Hans tegas. “Dia sudah kelewat batas. Selama dia masih di sini, Yura tidak akan pernah aman.”
Hans menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang dingin namun rasional.
“Berikan dia sebagian kecil warisan. Cukup untuk hidup nyaman. Setelah itu, kirim dia ke luar negeri, sejauh mungkin. Putuskan hubungan dengannya. Biarkan dia berhenti mengganggu Yura.”
Nyonya Wijaya terkejut. “Memutuskan … hubungan?”
Hans mengangguk. “Itu satu-satunya cara.”
Ruangan itu kembali hening. Tuan Wijaya menunduk, rahangnya mengeras. Dalam benaknya terlintas semua kebusukan yang selama ini dilakukan Putri, intrik, kebohongan, kejahatan yang selalu ia tutupi demi nama keluarga.
“Putri memang sudah terlalu jahat,” gumam Tuan Wijaya akhirnya.
Ia mengangkat kepala, menatap Hans dengan keputusan bulat.
“Ayah setuju,” katanya tegas. “Mulai hari ini, Putri bukan lagi bagian dari keluarga Wijaya.”
Hans mengepalkan tangannya pelan, keputusan itu mungkin menyelamatkan perusahaan. Mungkin juga menyelamatkan Yura.
Basement parkir perusahaan Lartika sore itu lengang. Lampu-lampu putih menggantung di langit-langit beton, memantulkan bayangan mobil yang terparkir rapi. Udara dingin dan sunyi.
Di sudut paling gelap, sebuah mobil hitam menyala dengan mesin yang masih hidup.
Di balik kemudi, Putri menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya merah, napasnya tersengal, pikirannya kacau oleh amarah dan rasa malu yang belum juga reda.
'Ini kesempatan terakhirku,' batinnya.
'Kalau Yura lenyap … semuanya selesai.'
Hari itu Mario masih berada di ruangannya, dan Yura pulang lebih awal. Putri tahu betul jadwal itu. Ia sudah menunggu sejak satu jam lalu, tepat di jalur lift eksekutif.
Pintu lift basement terbuka perlahan.
Yura melangkah keluar dengan tas kerja di bahu. Wajahnya terlihat tenang, sama sekali tak menyadari bahaya yang mengintainya. Pikirannya hanya satu, bertemu ayah tirinya, dan Sky.
Putri menyeringai, kakinya menekan pedal gas. Namun, di detik yang sama, langkah lain mendekat dari arah berlawanan.
“Yura…” Suara itu membuat Yura menoleh.
Wajahnya seketika menegang.
“Ibu?”
Nyonya Larasatri berdiri beberapa langkah dari Yura, seorang diri. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab namun sorotnya lembut.
“Aku hanya ingin bicara sebentar,” ucapnya pelan. “Aku mohon.”
Detik itu juga, mata Larasatri menangkap kilatan lampu mobil yang melaju kencang ke arah mereka.
Matanya membelalak.
“Yura! Minggir!"
Semuanya terjadi terlalu cepat, Larasatri berlari, meraih bahu Yura dan mendorongnya sekuat tenaga ke samping. Tubuh Yura terhuyung dan jatuh ke lantai beton.
Mobil itu menyerempet tubuh Larasatri. Tubuh wanita itu terlempar ke samping, jatuh keras dengan suara benturan yang membuat jantung Yura seakan berhenti.
“Ibu!” pertama kali dia memanggil wanita itu dengan sebutan ibu.
Yura bangkit dengan panik, berlari menghampiri Larasatri yang tergeletak. Darah merembes dari pelipisnya, napasnya berat.
Sementara itu, mobil hitam itu tidak berhenti. Ia justru melaju pergi, meninggalkan suara decit ban yang memekakkan telinga.
Yura menoleh ke arah mobil yang menjauh. Matanya membeku saat melihat plat nomor itu.
Mobil keluarga Wijaya, tubuh Yura gemetar hebat.
“Ini … mobil keluarga kalian…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Larasatri membuka mata perlahan. Dalam pandangannya yang kabur, ia menatap Yura dengan senyum lemah.
“Maafkan … ibu…” ucapnya terbata. “Ibu terlambat … melindungimu … harusnya ibu datang sejak dulu,”
Air mata Yura jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kenapa … kenapa ibu melakukan ini?” suaranya pecah.
"Yura, maafkan ibu." tangannya terjatuh Larasatri tak sadarkan diri.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih