⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉
💐selamat membaca💐
Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.
"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.
"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.
"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.
Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa ini?
“Ayu, namanya cantik seperti orangnya!” kata nenek itu.
“Saya Herawati, panggil saja Nenek Hera!” lanjut Nenek Hera.
“Terima kasih, Nek!” jawab Ayu malu-malu karena pujian Nenek Hera.
“Kamu asalnya dari mana, Yu?” tanya Nenek Hera.
“Saya asalnya dari Jawa Tengah, Nek! Tepatnya dari kota B,” jawab Ayu dengan senyumnya yang selalu ikut.
“Oh! Nenek juga dari Jawa Tengah, tapi dari kota K. Kita sama ternyata. Sama-sama orang desa! hihihi,” kata Nenek Hera.
“Wah! Iya ya, Nek! Tapi Nenek nggak kelihatan orang desa. Kalau orang Jawa sih ada lah wajah-wajah orang Jawanya,” kata Ayu.
“Ih! Itu kan karena Nenek udah lama tinggal di Jakarta, jadi sifat katrok-nya juga udah hilang dong!” jawab Nenek Hera
“Iya juga sih ... hehehe,” jawab Ayu yang membuat Nenek Hera kembali tertawa.
Tak selang berapa lama, ada dua orang Waitress datang dengan hidangan yang sudah dipesan sebelumnya oleh Nenek Hera.
Yang datang pertama adalah bruschetta, hidangan sejenis roti panggang yang diatasnya diberi topping sayur ataupun daging.
Dalam seporsi bruschetta, biasanya terdiri dari satu potong besar roti atau tiga potong kecil roti.
“L**ah! Kok Cuma roti 3 iris tok? Cuma dikasih tomat sama kucai!” batin Ayu yang melongo melihat hidangan yang datang itu.
Nenek Hera yang melihat kelakuan Ayu hanya bisa cekikikan sendiri.
“Ayo, Yu! Dimakan!” ajak Nenek Hera.
“I ... Iya, Nek!” jawab Ayu masih bingung dengan hidangan di depannya itu.
“Enak, Yu?” tanya Nenek Hera yang dengan sekuat tenaga menahan tawanya
“Ehm ... ,” jawab Ayu dengan senyum masamnya.
Lalu kemudian, kedua Waitress tadi datang lagi membawa hidangan kedua.
“A**pa lagi ini? Mi goreng pake saos sama ayam goreng geprek?” batin Ayu.
“Silahkan” kata Waitress itu.
“Dimakan, Yu!” ajak Nenek hera.
“E**hm ... Mi goreng apaan nih? Kok rasanya aneh!” batin Ayu yang merasa asing dengan makanan yang dimakannya.
“Kenapa, Yu?” tanya Nenek Hera yang lagi-lagi menahan tawa saat melihat ekspresi Ayu.
“Eng ... Nggak papa, Nek!” jawab Ayu dengan senyum masamnya.
Dan hidangan terakhirpun datang.
“Nah! kalo ager sih aku paham rasanya,” batin Ayu yang semringah melihat hidangan penutup itu.
Langsung tanpa ditawari, Ayu menyantap hidangan itu tak bersisa. Tawa Nenek Hera sudah tidak bisa ditahan lagi melihat kelakuan Ayu.
“Hahahahha ... Enak, Yu?” tanya Nenek Hera dengan tawanya.
“Eh ... Iya, Nek! Maaf sampe lupa nungguin Nenek,” jawab Ayu malu.
“Hehehehe ... Nggak papa kok ... Hehehe,” kata Nenek Hera menyeka sudut matanya yang berair akibat menertawakan tingkah Ayu.
Ayu yang tidak paham maksud Nenek Hera tertawa pun hanya tertawa dengan muka yang kebingungan.
“Yu, maaf ya kalau Nenek ajakin kamu makan di sini. Bukan maksud Nenek mau ngerjain kamu dengan makanan aneh-aneh tadi lho. Ini restoran langganan nenek yang jaraknya paling dekat dengan tempat kita tadi, jadi Nenek traktir kamunya disini. Nggak papa kan?” jelas Nenek Hera.
“Iya, Nek! Nggak papa. Itung-itung pengalaman buat saya. Jadi kalau besok-besok ada yang ngajakin ke restoran yang seperti ini lagi, nggak malu-maluin kaya tadi,” jawab Ayu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Emang siapa yang mau ngajakin aku ke sini lagi?” batin Ayu.
“Ya sudah, maaf Yu, Nenek ada urusan lagi, jadi Nenek enggak bisa nganterin kamu pulang. Kamu bisa kan pulang sendiri?” tanya Nenek Hera.
“Iya, Nek! Ayu bisa pulang sendiri kok. Nenek pergi aja dulu nggak papa,” jawab Ayu dengan senyum manisnya.
“Ya sudah! Nenek pergi dulu ya,” kata Nenek Hera.
“Oh iya, Yu! Boleh minta nomor hand phone kamu?” tanya Nenek Hera lagi.
“Iya, Nek, bisa! Dicatat ya nek 0825******09,” kata Ayu.
Tring ... tring ... tring ...
“Itu nomor hand phone saya. Di-save yah!” kata Nenek Hera setelah melakukan panggilan ke nomor Ayu.
“Iya, Nek! Sudah Ayu save,” jawab Ayu.
Mereka berdua pun berpisah di pintu keluar restoran itu.
.
.
.
.
.
.
Di kediaman Nenek Hera,
“Nek, kemana aja seharian? Kata dokter Fahri, Nenek telat dateng check up!” tanya Clara.
“Oh! Tadi itu Nenek ketemu temen,” jawab Nenek Hera.
Dan ketika Nenek mengingat wajah Ayu, spontan Nenek Hera tertawa lepas dan membuat Clara kebingungan.
“Kenapa, Nek? Kok kayanya seneng banget?” tanya Clara penasaran.
“Nggak papa, Cuma inget aja tadi, temen Nenek itu lucu banget!” kata Nenek Hera yang masih cekikikan.
“Emang siapa, Nek, temen Nenek itu?” tanya Clara lagi.
“Namanya Ayu. Dia kayanya seumuran Caca,” jawab Nenek Hera.
“Hah! Temen Nenek anak kecil?” tanya Clara yang tambah bingung.
“Gimana ceritanya?” lanjutnya.
“Jadi gini, Nenek nggak sengaja ketemu dia. Waktu itu pas Adek kamu, si Elang, baru sebulan pindah ke apartemen,” tutur Nenek Hera.
Dia menjelaskan awal mula pertemuannya dengan Ayu, sampai kejadian tadi siang.
Clara, yang mendengarkan cerita itu, ikut tertawa dibuatnya. Dan mulai membayangkan, seperti apa sosok Ayu itu.
“Hahahaha ... Gadis yang unik ya, Nek” kata Clara.
“Iya! Kayanya, kalau sama Adek kamu yang kaku itu seru juga!” kata Nenek Hera.
“Tapi, Nek! Kata Nenek dia itu asisten rumah tangga 'kan?” tanya Clara memastikan.
“Iya! Memang kenapa?” tanya Nenek Hera.
“Elang sekarang pemimpin perusahaan lho, Nek. masa Nenek mau Elang sama gadis itu?” tanya Clara.
“Terus, sapa tau Adek udah punya pilihan sendiri, Nek.” lanjutnya.
Perkataan Clara itu, seketika membuat tawa Nenek Hera menghilang.
Dia sadar bahwa perkataan cucuk sulungnya seratus persen kenyataan, dan bukan angan-angan seperti yang dikatakannya tadi. Jarak yang jauh antara Ayu dan Elang.
“Tapi kalau memang jodoh, kenapa nggak, Nek?! 'Kan kata Nenek, dia gadis yang baik,” kata Clara tersenyum.
Dia tahu neneknya nggak mungkin salah pilih, apa lagi untuk cucuk kesayangannya itu.
“Iya, kamu bener. Ya udah, udah malem. Yuk tidur” ajak Nenek Hera
Wanita tua itu pun kembali ke ruangan pribadinya. Namun dia jadi memikirkan kembali perkataannya dan perkataan Clara tadi.
“Dia gadis baik. Kalau saja Elang mengenalkan wanita yang lebih baik dari dia,” batin Nenek Hera.
.
.
.
.
.
.
.
Tok....tok....tok....
“*A*ssalamualaikum....!” sapa Yudi.
Tok...tok....tok....
“Assalamualaikum....!” sapanya lagi.
“Waalaikumsalam...sebentar!” jawab Ayu dari dalam kontrakannya.
Tak berselang lama, Ayu keluar dengan handuk yang masih melilit di kepalanya. Dengan hanya memakai kaus oblong putih over size dan kolor selutut, Ayu menemui sahabatnya, Yudi.
Yudi yang seorang laki-laki dewasa, melihat penampakan Ayu yang seperti itu pun membuat dirinya gelisah.
“Duduk dulu, Yud! Di teras aja nggak papa 'kan?” kata Ayu.
Ayu duduk, diikuti Yudi yang masih melihat gugup kearah Ayu. Namun Ayu tidak menyadari kegugupan sahabatnya itu.
“Kamu nggak lembur, Yud?” tanya Ayu seraya melepas lilitan handuk di kepalanya.
Perlahan, Ayu mulai mengeringkan rambutnya yang basah.
Dia mengumpulkan rambutnya di sebelah bahunya, yang membuat leher jenjang dan tulang selangkanya terlihat jelas, menonjolkan ke seksian.
Di tambah, seutas tali menyembul dari balik kaos nya.
Melihat pemandangan yang membuat imannya naik turun, ada perasaan yang bergejolak pada diri Yudi.
Secara tak sadar, ada yang mengeras di bawah sana.
Ayu yang sadar jika pertanyaannya tadi tidak direspon, akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Yudi.
“Heh, Yud!” kata Ayu, yang membuyarkan pikiran liar Yudi.
“e ... eh! Apa?” tanya Yudi gugup.
“Dih! Kye bocah! (Dih! Ini anak!). Kowe ora lembur? (kamu nggak lembir?)” tanya Ayu lagi.
“Ora (nggak)!” jawab Yudi cepat. “Aku mau ke warung dulu, Yu!” kata Yudi dan cepat-cepat pergi dari sana.
Ayu yang tidak tahu maksud Yudi, hanya mengangkat bahunya saja.
“Haduh ... Bisa jantungan aku kalau nggak buru-buru pergi,” gumam Yudi sambil mengelus dadanya.
Setengah jam kemudian, Yudi kembali lagi ke kontrakan Ayu dan mendapati Ayu sudah selesai menyisir rambutnya.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
**hai readers...maaf lama nggak up, ada kesibukan di real life ku🙏
terus duking karya ku ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya readers
trimakasih🙏**
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
lanjy Thor..💪😍