NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Ponsel di saku rok Keyra bergetar begitu hebat hingga rasanya seperti ada gempa lokal di paha kanannya. Begitu ia dan Raka berpisah di persimpangan koridor utama—Raka menuju ruang server untuk memeriksa ulang log akses, sementara Keyra diperintahkan untuk 'berbaur' agar tidak mencurigakan—ia akhirnya memberanikan diri menarik benda pipih itu keluar.

Layar ponselnya menyala, menampilkan deretan notifikasi yang cukup untuk membuat siapa saja terkena serangan jantung ringan. Dua puluh panggilan tak terjawab. Tiga puluh pesan WhatsApp. Semuanya dari satu nama: Sisi.

"Mampus," desis Keyra. Ia menepuk jidatnya sendiri. Adrenalin akibat konfrontasi dengan Julian tadi membuatnya lupa total pada janji suci persahabatan jam empat sore: *fitting* kostum kelas untuk parade festival.

Keyra melirik jam tangan. Pukul lima lewat lima belas. Ia bukan hanya terlambat; ia sudah masuk kategori 'dinyatakan hilang'.

Tanpa membuang waktu, Keyra berlari menyusuri koridor. Kakinya melangkah cepat menghindari tumpukan kardus dekorasi dan beberapa siswa yang sedang mengecat styrofoam. Suasana sekolah masih ramai, hiruk-pikuk persiapan festival mencapai puncaknya. Suara gergaji kayu, teriakan instruksi dari ketua seksi perlengkapan, dan dentuman *bass* dari *check sound* di lapangan menyatu menjadi kakofoni yang memusingkan.

Keyra menerobos masuk ke ruang kelas XI IPA 2. Napasnya memburu. Di sudut ruangan, dikelilingi tumpukan kain satin dan renda, Sisi sedang duduk dengan tangan bersedekap. Wajahnya menekuk, lebih kusut daripada kain perca di lantai.

"Sisi!" panggil Keyra dengan nada bersalah yang dibuat semanis mungkin.

Sisi tidak menoleh. Ia malah sengaja mengambil gunting dan memotong selembar pita dengan gerakan agresif. *Kres!* Bunyinya terdengar mengerikan di telinga Keyra.

"Si, sumpah, gue minta maaf banget," Keyra mendekat, mengabaikan tatapan beberapa teman sekelas yang kini menonton drama itu bak sinetron sore. "Gue tadi... ketahan. Ada urusan mendadak sama Pak Bon."

Sisi akhirnya mendongak. Matanya menyipit tajam. "Pak Bon? Sejak kapan lo jadi asisten janitor sekolah? Atau 'Pak Bon' itu kode baru buat 'Raka'?"

Keyra tercekat. "Hah? Kok Raka?"

"Jangan pura-pura bego, Key," Sisi berdiri, membanting gunting ke meja. Suaranya meninggi, menembus kebisingan kelas. "Anak mading liat lo berduaan sama Raka di aula. Lilit-lilitan lampu kayak pasangan di film romantis gagal. Sementara gue? Gue nungguin lo di sini kayak orang dongo, nahan malu karena tukang jahitnya nanyain terus mana model utamanya!"

Keyra membasahi bibirnya yang kering. Situasinya pelik. Ia tidak bisa mengatakan, *"Maaf Si, gue sibuk nyelamatin dunia dari manipulasi waktu Julian dan mencegah sekolah ini meledak lusa."* Itu hanya akan membuatnya dikirim ke ruang konseling atau rumah sakit jiwa.

"Itu nggak kayak yang lo pikirin. Gue cuma bantuin dia dekorasi karena... dia janji bantuin gue ngerjain tugas Fisika," Keyra berbohong secepat kilat. Alibi akademis biasanya ampuh.

Namun kali ini, Sisi tidak termakan. Gadis itu melangkah maju, menunjuk dada Keyra dengan telunjuknya. "Lo berubah, Key. Sejak Raka pindah ke sini, atau tepatnya sejak lo mulai sok misterius seminggu terakhir, lo jadi nggak asik. Lo ngilang pas istirahat, lo nggak bales chat, dan sekarang lo nyuekin tanggung jawab kelas demi cowok aneh itu."

"Dia bukan cowok aneh, Si. Dia..."

"Dia apa? Pacar lo?" potong Sisi sengit.

"Bukan!"

"Terus kenapa lo bela dia terus? Kenapa lo lebih mentingin urusan dia daripada sahabat lo sendiri?" Mata Sisi mulai berkaca-kaca, campuran antara amarah dan rasa sakit karena diabaikan. "Gue kangen Keyra yang dulu. Yang excited bahas drakor, bukan yang sibuk jadi agen rahasia nggak jelas."

Kalimat itu menohok ulu hati Keyra. Ia ingin sekali memeluk Sisi dan menceritakan semuanya. Betapa beratnya beban pengetahuan tentang masa depan yang hancur. Betapa takutnya ia setiap kali melihat Julian tersenyum.

*Bzzzt. Bzzzt.*

Ponsel di saku Keyra bergetar lagi. Pola getarannya berbeda. Dua pendek, satu panjang. Kode dari Raka. Itu artinya: *Bahaya. Segera merapat.*

Keyra membeku. Waktunya sangat buruk. Jika ia pergi sekarang, persahabatannya dengan Sisi mungkin akan retak permanen. Tapi jika ia tidak pergi, dan Raka benar-benar menemukan ancaman fatal, mungkin tidak akan ada lagi masa depan untuk diperbaiki.

Keyra melirik layar ponselnya sekilas. Pesan singkat muncul di notifikasi: *"Gudang Kimia. Julian bawa koper hitam. Gue butuh mata kedua. NOW."*

Keyra menatap Sisi. Wajah sahabatnya itu masih menunggu penjelasan, menunggu Keyra memilihnya.

"Si..." Keyra memulainya dengan suara parau. "Gue sayang banget sama lo. Lo sahabat terbaik gue. Tapi... ada sesuatu yang bener-bener *urgent* yang harus gue selesein sekarang. Gue janji, abis festival, gue bakal jelasin semuanya. Gue traktir lo sebulan penuh. Tapi tolong, kasih gue waktu sejam aja."

Ekspresi Sisi berubah dari marah menjadi dingin. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak fisik yang terasa seperti jurang pemisah.

"Oke," kata Sisi datar. Terlalu datar.

"Oke?" Keyra berharap.

"Pergi aja. Urus urusan 'urgent' lo," Sisi berbalik badan, kembali memungut gunting dan kain. "Tapi jangan salahin gue kalau pas lo balik, gue udah cari sahabat baru yang bisa ngehargain waktu gue."

"Sisi, jangan gitu dong..."

*Bzzzt!* Getaran ponsel itu semakin menuntut.

Keyra mengepalkan tangan. Ia tidak punya pilihan. Dengan hati yang terasa berat seolah diganduli besi, Keyra berbalik dan berlari keluar kelas. Ia tidak berani menoleh ke belakang, takut melihat punggung Sisi yang gemetar menahan tangis.

Keyra memacu langkahnya menuju sayap kanan sekolah, tempat laboratorium dan gudang kimia berada. Lorong di bagian ini lebih sepi dan remang-remang karena lampu koridornya belum dinyalakan sepenuhnya. Napasnya memburu, bukan hanya karena lari, tapi karena rasa bersalah yang mencekik.

*"Fokus, Keyra. Fokus,"* rutuknya dalam hati. *"Nanti lo bisa minta maaf sama Sisi. Sekarang, lo harus pastiin Julian nggak ngerakit bom waktu atau apalah itu."*

Di ujung lorong, dekat pintu gudang kimia yang tertutup setengah, Raka sudah menunggu. Cowok itu bersembunyi di balik lemari piala tua yang berdebu. Ia memberi isyarat tangan agar Keyra mendekat tanpa suara.

Keyra mengendap-endap, membuang napas kasar saat akhirnya berjongkok di samping Raka.

"Lama banget. Lo mampir beli seblak dulu?" bisik Raka sarkas tanpa menoleh, matanya terpaku ke celah pintu gudang.

"Diem lo. Gue baru aja ngorbanin kehidupan sosial gue demi ini," balas Keyra ketus. "Ada apa?"

"Liat ke dalem," Raka menggeser tubuhnya sedikit.

Keyra mengintip. Di dalam gudang yang berbau bahan kimia menyengat itu, Julian sedang berlutut di lantai. Di hadapannya, sebuah koper hitam terbuka. Bukan berisi bom seperti di film-film aksi klise, melainkan sebuah perangkat elektronik rumit dengan banyak kabel yang terhubung ke... tabung pemadam api?

"Dia mau ngebakar sekolah?" bisik Keyra horor.

"Bukan," Raka menggeleng, keningnya berkerut dalam. Ia mengeluarkan perangkat kecil seukuran korek api dari sakunya—pemindai gelombang elektromagnetik rakitan sendiri. Jarum di alat itu bergerak liar ke zona merah. "Itu bukan pemicu api. Itu *Signal Amplifier* yang dimodifikasi. Dia masang itu di tabung pemadam karena tabung itu tersebar di seluruh sekolah. Logam tebal tabung itu jadi konduktor sempurna buat nyebarin gelombang frekuensi rendah."

"Dan gelombang itu buat apa? Hipnotis massal?"

Raka menoleh ke Keyra, tatapannya serius. "Lebih parah. Gelombang itu bisa ngacauin persepsi waktu di otak manusia. Kalau alat itu aktif pas festival, pas semua orang lagi euforia... satu sekolah bisa terjebak dalam *loop* halusinasi. Mereka bakal ngerasa festival itu nggak pernah berakhir, atau lebih buruk, mereka bakal ngulang momen terburuk mereka berulang-ulang."

Keyra merinding. Ia membayangkan Sisi, yang sedang marah dan sedih, terjebak dalam momen pertengkaran mereka selamanya.

"Kita harus ambil alatnya," kata Keyra impulsif, hendak berdiri.

Raka menahan bahunya kuat-kuat. "Jangan bego. Julian bukan amatir. Liat di pojok kanan atas."

Keyra menyipitkan mata. Di atas rak bahan kimia, ada sebuah lampu merah kecil berkedip. Sensor gerak.

"Kalau kita masuk sekarang, alarm bunyi, Julian tau kita di sini, dan *game over*," jelas Raka. "Kita butuh pengalihan. Sesuatu yang bikin Julian keluar dari gudang tanpa bawa koper itu."

"Pengalihan apa? Kita cuma berdua, Raka. Gue nggak bisa panggil Sisi buat bikin keributan, kita lagi musuhan gara-gara lo!"

Raka terdiam sejenak, menatap Keyra yang napasnya masih naik turun karena emosi. Perlahan, sudut bibir Raka terangkat sedikit. Bukan senyum mengejek, tapi senyum taktis.

"Kita nggak butuh Sisi. Kita butuh... kecerobohan panitia," ujar Raka. Matanya beralih ke panel listrik di dinding luar gudang, hanya berjarak lima meter dari tempat mereka bersembunyi. "Lo bilang tadi anak-anak lagi *check sound* di lapangan kan?"

"Iya, terus?"

"Kalau tiba-tiba *main breaker* di sayap ini turun, Julian bakal panik karena alatnya butuh daya stabil buat inisialisasi. Dia pasti keluar buat ngecek sekring."

Raka merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah koin lima ratusan. Ia menimang-nimang koin itu. "Keyra, lo punya lari yang kenceng kan?"

"Lumayan. Kenapa?"

"Gue bakal lempar koin ini ke panel itu. Bakal ada percikan api dikit, listrik mati. Pas Julian keluar dan nengok ke panel, lo lari masuk, ambil kopernya, terus kabur lewat jendela belakang. Gue bakal jadi umpan buat nahan Julian di lorong."

"Itu gila. Kalau lo ketangkep?"

"Gue bisa ngeles. Gue ketua seksi keamanan bayangan, inget?" Raka menatap Keyra lekat. "Siap?"

Keyra menarik napas panjang. Bayangan wajah kecewa Sisi melintas lagi, tapi kemudian tertutup oleh bayangan mengerikan teman-temannya yang terjebak dalam *loop* waktu. Ia mengangguk mantap.

"Lakuin."

Raka melempar koin itu dengan presisi seorang *pitcher* bisbol. Koin melayang, menghantam celah panel listrik yang terbuka sedikit. *ZZZT!* Percikan bunga api biru meletup, diikuti suara *klek* yang keras. Lampu di lorong itu mati total, menyisakan kegelapan pekat.

"Sekarang!" bisik Raka.

Pintu gudang terbuka kasar. Siluet Julian muncul dengan senter di tangan, mengumpat pelan. Saat Julian melangkah ke arah panel listrik, Keyra melesat dalam kegelapan, menyelinap masuk ke dalam gudang di belakang punggung Julian seperti hantu. Jantungnya berpacu lebih cepat dari detik jam, mempertaruhkan segalanya di garis waktu yang semakin tipis.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!