NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: hujan

Hujan di luar jendela kantor belum juga reda, meski jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore lewat sepuluh menit. Langit Jakarta berwarna abu-abu pekat, memantulkan cahaya lampu jalanan yang mulai menyala di aspal basah. Di kubikelnya, Raka merapikan tumpukan kertas laporan yang sudah selesai ia periksa. Biasanya, di jam seperti ini, ia akan mencari-cari alasan untuk tetap duduk di depan layar komputer, menunda kepulangan ke apartemen yang sunyi. Namun, hari ini berbeda. Meja kerjanya sudah bersih. Komputernya sudah mati.

"Mas Raka, jadi ikut, kan?"

Suara Rini memecah keheningan di area divisi mereka yang mulai lengang. Gadis magang itu berdiri di dekat partisi, tas ranselnya sudah tersandang di bahu, wajahnya penuh harap. Di sebelahnya, Bayu sedang memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuknya, menyeringai lebar.

"Jangan alasan sakit perut lagi, Ka. Gue udah reservasi tempat, nih. Kalau batal, gue yang kena semprot Rini," ujar Bayu dengan nada bercanda, meski matanya menatap Raka dengan sorot menantang—tantangan persahabatan.

Raka memandang kedua rekannya itu bergantian. Ada dorongan insting lamanya yang ingin menolak. *Hujan, macet, berisik.* Tiga kata itu sempat melintas di benaknya sebagai alasan untuk kabur. Dulu, mantan kekasihnya tidak suka tempat ramai dan becek. Mereka lebih sering menghabiskan Jumat malam dengan memesan makanan *delivery* dan menonton film di laptop. Tapi Raka segera menepis ingatan itu. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma pengharum ruangan kantor yang berbaur dengan bau lembap dari jaket Bayu.

"Jadi," jawab Raka singkat sambil meraih tas kerjanya. "Tapi gue nggak bisa malam-malam banget."

"Sip! Yang penting hadir," sahut Bayu puas. "Yuk, jalan. Keburu macetnya makin gila."

Mereka bertiga turun menuju parkiran *basement*. Raka duduk di kursi penumpang depan, sementara Rini di belakang. Mobil Bayu beraroma kopi vanilla—pengharum mobil yang baru diganti. Musik dari radio memutarkan lagu-lagu Top 40 yang tidak terlalu Raka kenal, tapi ia tidak keberatan.

Tujuan mereka adalah sebuah kedai sate taichan di kawasan Senayan yang sedang populer di media sosial, pilihan Rini. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam karena kemacetan khas Jumat malam. Di dalam mobil, Rini banyak bercerita tentang drama perkuliahan dan dosen pembimbingnya yang *moody*. Bayu menimpali dengan lelucon-lelucon bapak-bapak yang membuat Rini memutar bola mata tapi tetap tertawa.

Raka lebih banyak diam, mendengarkan. Namun, diamnya kali ini bukan karena ia merasa terasing, melainkan karena ia sedang menikmati peran sebagai pengamat. Ia menyadari bahwa ia mulai nyaman dengan kebisingan kecil ini. Suara tawa Bayu dan celotehan Rini mengisi ruang kosong di kepalanya yang biasanya diisi oleh monolog kenangan masa lalu.

Sesampainya di lokasi, suasana sangat ramai. Asap pembakaran sate mengepul tebal, membawa aroma daging ayam hangus, bawang putih, dan cabai rawit yang menyengat hidung. Suara obrolan ratusan orang berdengung di bawah tenda semi-permanen itu, bersahutan dengan teriakan pelayan yang mencatat pesanan.

"Rame banget," gumam Raka, sedikit meringis saat asap menerpa wajahnya.

"Justru itu seninya, Mas Raka!" seru Rini antusias, memimpin jalan mencari meja kosong.

Mereka mendapatkan meja kayu panjang di sudut yang agak basah karena cipratan hujan, tapi cukup strategis. Bayu memesan tiga porsi sate taichan, sate kulit, dan lontong. Raka memesan es teh manis, minuman paling aman untuk menetralisir pedas.

Saat makanan datang, Raka menatap piring di hadapannya. Potongan daging ayam putih pucat dengan sambal oranye menyala di sampingnya. Ia teringat mantannya yang selalu cerewet soal makanan yang dibakar. *“Itu karsinogen, Raka. Jangan makan yang gosong-gosong,”* suara itu bergaung samar di telinganya.

Raka mengambil satu tusuk sate, sengaja memilih yang ada bagian sedikit gosongnya, mencocolnya ke dalam sambal pedas, dan memakannya.

Pedas. Asin. Gurih.

Sensasi rasa itu meledak di mulutnya, seketika membuyarkan suara masa lalu di kepalanya. Keringat mulai muncul di pelipisnya. Ia meraih gelas es tehnya dan meminumnya rakus.

"Gila, pedes banget, ya?" tanya Bayu sambil mengelap keringat di dahi dengan tisu. Wajahnya memerah.

"Lumayan," jawab Raka, kali ini dengan senyum tipis yang tulus. "Tapi enak."

"Nah, gitu dong! Makan itu harus dinikmati, jangan dipikirin kalorinya mulu kayak orang diet," celetuk Rini sambil sibuk memotret makanannya untuk *Instagram Story*.

Di tengah makan malam itu, pembicaraan mengalir ke topik pekerjaan, lalu bergeser ke hal-hal yang lebih personal. Rini, dengan kepolosan anak magang yang belum terlalu memahami batasan privasi yang kaku, tiba-tiba bertanya.

"Mas Raka, kalau *weekend* gini biasanya ngapain? Maksudku, selain tidur atau kerja lembur."

Bayu sempat melirik Raka dengan tatapan waspada, seolah siap mengalihkan pembicaraan jika Raka terlihat tidak nyaman.

Raka meletakkan tusuk sate yang sudah kosong ke piring. Ia menyeka mulutnya dengan tisu. Pertanyaan itu sederhana, tapi setahun yang lalu, pertanyaan itu bisa membuatnya terdiam seribu bahasa atau berbohong.

"Biasanya cuma beres-beres apartemen," jawab Raka jujur. "Nyuci baju, belanja bulanan. Kadang baca buku."

"Wah, *husband material* banget," canda Rini. "Tapi nggak jalan sama pacar, Mas? Atau... lagi kosong?"

Hening sejenak di meja itu. Hanya suara hujan yang menderu di atap tenda. Bayu berdeham, hendak memotong, "Rin, lo kepo banget deh—"

"Nggak apa-apa, Bay," potong Raka pelan. Ia menatap Rini, lalu beralih menatap gelas es tehnya yang berembun. "Lagi kosong. Udah lumayan lama."

Raka terkejut dengan suaranya sendiri. Tenang. Datar. Tidak ada getaran emosi yang berlebihan. Mengakui kesendiriannya di hadapan orang lain ternyata tidak semenyakitkan yang ia bayangkan. Dulu, mengakui ia sendirian terasa seperti mengakui kegagalan mempertahankan hubungan. Sekarang, itu terdengar seperti sebuah fakta biasa. Seperti mengatakan hari ini hujan.

"Oh, maaf ya Mas Raka kalau pertanyaannya lancang," ujar Rini, sedikit merasa bersalah melihat reaksi Bayu yang tegang.

"Santai aja," kata Raka. Ia kemudian menatap Bayu. "Gue lagi belajar menikmati waktu sendiri aja sekarang. Biar nggak... bergantung sama orang lain."

Bayu tersenyum lebar, menepuk bahu Raka keras-keras. "Mantap! Itu baru temen gue. Lagian, jomblo itu bebas, Ka. Duit utuh, hati tenang."

"Lo ngomong gitu padahal tiap malam minggu ngenes main *Mobile Legends* sendirian," sindir Rini.

Mereka bertiga tertawa. Tawa Raka mungkin tidak sekeras Bayu atau selepas Rini, tapi itu tawa yang nyata. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Raka merasa hadir sepenuhnya di momen itu. Ia tidak membandingkan rasa sate ini dengan masakan mantannya. Ia tidak membandingkan tawa Rini dengan tawa mantannya. Ia ada di sini, di Senayan, di tengah asap sate dan hujan, bersama dua orang yang peduli padanya.

Tiba-tiba, seorang pengamen jalanan mendekat ke area tenda. Seorang bapak tua dengan biola yang agak sumbang. Ia memainkan lagu lawas, *Cantik* dari Kahitna.

Lagu itu.

Raka ingat lagu itu. Itu lagu yang sering diputar di radio mobil mantannya saat mereka terjebak macet. Ada sedikit rasa nyeri yang menusuk di dada Raka, refleks otomatis dari memori yang terikat pada melodi. Tangannya di bawah meja mengepal sedikit.

Bayu melirik Raka, menyadari perubahan bahasa tubuh temannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu, dan memberikannya pada pengamen itu. "Makasih, Pak. Suaranya bagus."

Pengamen itu mengangguk dan berlalu ke meja sebelah. Musik meredup, tertelan riuh rendah percakapan pengunjung lain.

"Lagu jadul," komentar Bayu ringan, berusaha menetralkan suasana.

Raka menghela napas, lalu melepaskan kepalan tangannya. Ia melihat Bayu yang berusaha melindunginya, dan Rini yang tidak sadar apa-apa sedang asyik mengunyah lontong.

"Iya, lagu jadul," sahut Raka. "Tapi aransemen biolanya lumayan."

Ia tidak hancur. Ia tidak ingin pulang mendadak. Ia hanya merasa sedikit melankolis, tapi perasaan itu terkendali. Ia menyadari bahwa kenangan itu seperti asap sate di sekitarnya; ada, nyata, dan kadang membuat mata perih, tapi ia bisa mengibaskannya dan tetap melanjutkan makan.

Malam semakin larut. Setelah menghabiskan dua porsi sate tambahan, mereka memutuskan untuk pulang. Hujan sudah berubah menjadi gerimis halus. Saat berjalan kembali ke mobil, Raka merasakan udara dingin menyentuh kulitnya, kontras dengan perutnya yang hangat dan kenyang.

"Makasih ya, udah ngajak," ucap Raka saat mobil berhenti di lobi apartemennya.

"Yoi, Ka. Minggu depan ganti lo yang traktir ya," canda Bayu.

"Siap," jawab Raka. Dan ia bersungguh-sungguh.

Raka turun dari mobil, melambaikan tangan saat kendaraan Bayu menjauh menembus gerimis. Ia masuk ke lobi, naik lift menuju lantai unitnya.

Sesampainya di dalam apartemen, keheningan menyambutnya. Namun, kali ini keheningan itu tidak terasa mencekik. Ruangan itu berbau pewangi ruangan lavender yang ia pilih sendiri minggu lalu. Raka melepas kemejanya yang berbau asap sate dan meletakkannya di keranjang cucian.

Ia mandi dengan air hangat, membilas sisa-sisa keringat dan asap kota. Saat berdiri di bawah pancuran air, Raka menyadari satu hal: hari ini, ia membuat kenangan baru. Ingatan tentang Jumat malam tidak lagi didominasi oleh memori menonton film bersama mantan kekasihnya, tapi kini tertimpa oleh rasa sate taichan yang pedas, tawa renyah Rini, dan tepukan bahu Bayu.

Garis waktu terus berjalan, dan untuk pertama kalinya, Raka merasa ia ikut berjalan bersamanya, bukan tertinggal di belakang. Ia mengeringkan rambut dengan handuk, menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya lebih hidup.

Raka mengambil ponselnya, membuka grup *chat* kantor yang berisi dia, Bayu, dan Rini.

*Raka: Hati-hati di jalan. Thanks for tonight.*

Ia menekan kirim, lalu mematikan lampu kamar, siap menyambut tidur tanpa rasa takut akan mimpi masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!