Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Rumah Tangga Dimulai
Rumah itu terlalu besar untuk Nayara. Dua lantai dengan taman depan yang luas, kolam renang di belakang, garasi yang muat empat mobil. Semua serba putih dan abu-abu, minimalis, dingin. Nayara berdiri di tengah ruang tamu yang luasnya hampir seperti seluruh apartemen kecilnya dulu, menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk.
"Suka?" tanya Gilang sambil melempar kunci mobil ke meja. Suaranya bergema di ruangan besar itu.
Nayara mengangguk pelan. "Bagus. Cuma, ini terlalu besar. Aku takut kesepian."
Gilang memeluk Nayara dari belakang, dagunya bertengger di bahu Nayara. "Nanti kalau sudah ada anak, rumah ini tidak akan sepi lagi." Tangannya merambat ke perut Nayara, mengelusnya pelan. "Mungkin sudah ada, ya? Kan kita sudah berusaha keras."
Wajah Nayara memanas. "Gilang!"
Gilang tertawa, mencium pipi Nayara sekilas. "Aku berangkat dulu, ya. Rapat penting hari ini." Dia melepas pelukannya, meraih tas kerjanya yang tergeletak di sofa.
"Sekarang? Tapi kan kita baru sampai kemarin malam dari Bali?" Nayara menatap Gilang dengan tatapan memohon. "Kita kan belum apa-apa. Belum beres-beres barang, belum..."
"Nanti kamu beres-beres sendiri saja. Aku percaya kamu bisa." Gilang mengecup kening Nayara cepat. "Sampai nanti. Jangan lupa makan siang."
Dan Gilang pergi. Begitu saja. Pintu tertutup, suara mesin mobil menyala, lalu menjauh.
Nayara berdiri sendirian di tengah rumah besar itu. Sepi. Sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetik pelan. Dadanya tiba-tiba sesak. Ini rumahnya sekarang. Rumah yang harusnya jadi sarang cinta mereka. Tapi kenapa rasanya seperti penjara mewah?
Nayara menggelengkan kepala cepat. Jangan mikir yang aneh-aneh. Gilang kerja keras buat keluarga. Buat masa depan mereka. Dia harus mengerti. Harus jadi istri yang pengertian.
Nayara mulai membereskan barang-barang. Baju-baju Gilang digantung rapi di lemari besar yang hampir seukuran kamar tidurnya dulu. Sepatu-sepatu mahal ditata sesuai warna. Buku-buku disusun di rak. Jam menunjukkan pukul dua siang ketika Nayara akhirnya selesai.
Perutnya keroncongan. Belum makan dari pagi. Nayara membuka kulkas. Kosong melompong. Hanya ada sebotol air mineral dan sekotak susu. Tidak ada sayur, tidak ada lauk, tidak ada apa-apa.
Nayara menghela napas panjang. Ya sudah, masak apa adanya saja. Dia keluar, naik ojek online ke pasar terdekat. Beli sayuran, ayam, bumbu-bumbu. Uangnya pakai uang sisa tabungan pribadi. Gilang belum kasih uang belanja soalnya. Mungkin lupa.
Sampai rumah, Nayara langsung masak. Ayam goreng, tumis kangkung, sambal terasi. Masakan sederhana tapi enak. Dia pengen Gilang pulang, makan masakan buatannya, lalu bilang "Enak banget, sayang. Aku beruntung punya istri sepinter kamu."
Jam lima sore. Gilang belum pulang. Nayara duduk di sofa, menatap pintu. Menunggu.
Jam enam. Belum pulang juga. Nayara kirim pesan. "Mas, pulangnya jam berapa? Aku sudah masak nih."
Tidak ada balasan.
Jam tujuh. Masih belum pulang. Nayara telepon. Tidak diangkat.
Jam delapan. Nayara mulai cemas. Jangan-jangan Gilang kenapa-napa? Kecelakaan? Kena rampok? Pikirannya kemana-mana.
Jam sembilan. Ponsel Nayara berdering. Gilang. Akhirnya!
"Halo? Mas, kamu di mana? Aku khawatir!"
"Masih kantor. Rapatnya molor." Suara Gilang terdengar lelah. Di belakangnya ada suara-suara orang lain, berisik.
"Oh, kirain kenapa-kenapa. Pulangnya kapan?"
"Sejam lagi, kayaknya. Kamu tidur duluan saja kalau ngantuk."
"Tidak apa-apa, aku tunggu. Sudah makan belum?"
"Sudah. Pesan makanan tadi." Terus ada suara cewek di belakang, ketawa-ketawa. "Yaudah ya, Nayara. Aku tutup dulu. Bye."
Telepon terputus.
Nayara menatap ponselnya. Suara cewek tadi siapa? Rekan kerja kali, ya? Masa rapat ada ceweknya juga? Bukannya Gilang bilang rapatnya sama klien dari luar negeri?
Nayara menggeleng lagi. Sudahlah. Jangan su'udzon. Itu dosa.
Jam sepuluh. Nayara masih duduk di sofa, mata mulai berat. Ayam goreng yang tadi hangat sekarang sudah dingin. Nayara panaskan lagi pakai microwave. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Jam sebelas lewat sepuluh menit, pintu akhirnya terbuka. Gilang masuk dengan wajah lelah, dasi sudah kendor, kancing jas terbuka.
Nayara langsung berdiri, menyambut Gilang dengan senyuman. "Mas, akhirnya pulang juga! Pasti capek banget ya?"
Gilang hanya mengangguk, melempar tasnya ke sofa. "Capek banget. Rapatnya berat."
"Aku sudah masakin ayam goreng kesukaan Mas. Ayo makan dulu, baru tidur." Nayara menarik tangan Gilang ke meja makan.
Tapi begitu Gilang lewat, Nayara mencium sesuatu. Wangi. Wangi parfum. Tapi bukan parfum Gilang yang biasa dia pakai, yang wangi kayu cendana itu. Ini wangi bunga. Manis. Lembut. Wangi parfum cewek.
Jantung Nayara berdegup kencang. Tangannya berkeringat dingin. Kenapa Gilang wangi parfum cewek?
"Mas," panggil Nayara pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Hmmm?" Gilang duduk di kursi makan, menatap makanan di depannya dengan tatapan malas.
"Kenapa, kenapa Mas wangi parfum cewek?"
Gilang mengangkat kepala, menatap Nayara dengan alis terangkat. "Parfum cewek? Apa?"
"Iya, tadi aku cium. Wangi bunga gitu."
Gilang terdiam sebentar. Lalu tertawa. Tertawa keras sampai matanya berkaca-kaca. "Astaga, Nayara. Kamu ini sensitif banget ya hidungmu?" Dia berdiri, meraih tangan Nayara, menariknya duduk di pangkuannya. "Tadi kan ada rekan kerja cewe yang salaman. Mungkin parfumnya nempel. Udah gitu aja."
"Oh." Nayara merasa bodoh. Kenapa dia langsung su'udzon sih? "Maafin aku, Mas. Aku cuma, aku cuma..."
"Cemburu?" Gilang mencubit hidung Nayara gemas. "Lucu banget sih kamu. Cemburu sama rekan kerja."
"Bukan cemburu. Aku cuma, ya, takut aja..."
"Takut apa?" Gilang menatap mata Nayara dalam-dalam. "Takut aku selingkuh? Nayara, kamu ini. Aku baru nikah sama kamu. Baru seminggu lebih. Masa iya aku langsung selingkuh? Aku tidak segila itu."
Nayara menunduk, pipinya memanas. Dia memang bodoh. Terlalu lebay. "Iya deh, maaf."
Gilang mengecup bibir Nayara singkat. "Sudah, jangan mikirin yang aneh-aneh. Aku capek, pengen makan, terus tidur. Besok pagi harus berangkat pagi lagi."
"Besok? Besok kan Minggu, Mas."
"Tetap harus masuk. Ada proyek besar yang mau jalan. Aku harus supervisi langsung."
Nayara ingin protes. Ingin bilang, "Tapi kan kita baru nikah, Mas. Masa iya libur juga harus kerja?" Tapi kata-kata itu застряли di tenggorokan. Dia telan lagi. Gilang pasti lelah. Jangan dibuat makin berat pikirannya.
Gilang makan dengan lahap. Nayara duduk di sebelahnya, menatap Gilang makan dengan perasaan bahagia bercampur was-was. Gilang bilang enak, bilang terima kasih, bilang Nayara pandai masak. Semua kata-kata yang Nayara ingin dengar.
Tapi parfum cewek tadi masih tercium samar. Nayara mencoba tidak peduli, tapi hidungnya terus menangkap aroma itu. Manis. Menggoda. Menempel di baju Gilang, di leher Gilang, bahkan di rambut Gilang.
Selesai makan, Gilang langsung naik ke kamar. Nayara membereskan piring-piring kotor, mencuci dengan tangan meski ada mesin pencuci piring canggih di dapur. Tangannya butuh kesibukan. Otaknya butuh dikosongkan.
Ketika Nayara naik ke kamar, Gilang sudah mandi. Rambutnya basah, tubuhnya hanya dililitkan handuk. Dia duduk di tepi ranjang, sibuk dengan ponselnya lagi.
"Mas, mau aku pijat? Pasti pundaknya pegal kan?" tawar Nayara, berusaha jadi istri yang perhatian.
"Tidak usah. Aku mau tidur." Gilang meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu berbaring. "Kamu mandi sana. Terus tidur. Aku sudah ngantuk."
Nayara mengangguk patuh. Dia mandi cepat, pakai baju tidur yang Gilang belikan di Bali, baju tidur sutra tipis berwarna pink muda. Semoga Gilang suka.
Tapi ketika Nayara keluar dari kamar mandi, Gilang sudah tidur. Mendengkur pelan, tubuhnya membelakangi sisi tempat tidur Nayara.
Nayara berbaring pelan, berusaha tidak membangunkan Gilang. Matanya menatap punggung lebar Gilang. Dia ingin memeluk Gilang, ingin merasakan kehangatan tubuh suaminya. Tapi Gilang sepertinya benar-benar lelah. Kasihan kalau dibangunkan.
Nayara menutup mata, mencoba tidur. Tapi pikirannya kacau. Parfum cewek tadi, suara cewek di telepon, Gilang yang pulang makin malam, Gilang yang makin sibuk dengan ponselnya. Semua itu berputar-putar di kepala Nayara.
Jangan pikirin. Jangan pikirin. Jangan pikirin.
Nayara mengulang kata itu seperti mantra. Gilang suaminya. Gilang cinta sama dia. Gilang bilang dia takdir terbaik. Gilang bilang dia bidadari dari surga. Gilang tidak mungkin khianati dia secepat ini.
Tidak mungkin.
Tapi kenapa dadanya sesak begini? Kenapa air mata menggenang di pelupuk matanya? Kenapa tangannya gemetar?
Nayara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isak tangis yang hampir keluar. Jangan nangis. Nangis itu dosa. Istri yang baik tidak boleh su'udzon sama suami.
Nayara meraih tangan Gilang pelan, menggenggamnya erat. Gilang tidak bereaksi, masih tidur nyenyak. Tapi Nayara tetap menggenggam. Butuh pegangan. Butuh jangkar supaya tidak tenggelam dalam pikiran-pikiran buruk.
"Ya Allah," bisik Nayara pelan, suaranya bergetar. "Lindungi rumah tangga kami. Jauhkan kami dari fitnah. Jangan biarkan ada yang merusak pernikahan kami. Aku mohon."
Nayara tertidur sambil berdoa. Air mata membasahi bantal, tapi dia tidak sadar. Tangannya tetap menggenggam tangan Gilang erat, seolah takut kalau dilepas, Gilang akan menghilang.
Dan di tengah tidurnya yang gelisah itu, Nayara bermimpi. Mimpi buruk. Mimpi tentang Gilang yang pergi bersama cewek lain, meninggalkan Nayara sendirian di rumah besar yang dingin dan kosong.
Nayara terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi tubuhnya. Matanya langsung mencari Gilang. Syukurlah, Gilang masih di sana, masih tidur di sampingnya.
Cuma mimpi. Cuma mimpi buruk.
Nayara menghela napas lega. Tapi kenapa dadanya masih sesak? Kenapa perasaan tidak enak itu tidak hilang-hilang?
Nayara menatap wajah Gilang yang tertidur. Damai. Tampan. Sempurna.
Tapi apa benar Gilang masih cinta sama dia? Apa benar Gilang masih setia?
Nayara tidak tahu.
Dan ketidaktahuan itu yang paling menyakitkan.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭