Vian dan Putri terlibat pernikahan kontrak yang konyol. Keduanya saling cuek satu sama lain, bahkan memiliki pujaan hati masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Sifat sombong Vian pun terkikis oleh sikap jutek tapi perhatian dari Putri.
Nah lo, jadi, apakah Putri juga punya perasaan yang sama pada Vian? Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
“Putri kamu ngapain?” kata-kata vian membuat Putri kaget dan menarik tangannya segera. Ia tidak menyangka Vian akan bangun saat ia menyentuhnya.
“Maaf, ta-tadi ada nyamuk.” Putri mencoba untuk beralasan, ia tidak sadar kalau pernyataannya barusan itu cukup konyol. Vian tersenyum lalu duduk.
“Oh, benarkah? Perasaan sudah lama tidak pernah ada nyamuk. Tapi terima kasih, sudah mau menepuk nyamuk di pipiku dengan lembut.” Vian memegang
pipinya yang baru saja di prgang oleh Putri, kelembutan dan kehangatan telapak tangan Putri masih membekas di sana. Sementara, Putri pipinya memerah karena malu.
“Aku mau tidur lagi...” Putri segera berbalik ke ranjangnya. Ia masih merasakan detak jantungnya tidak menentu karena kaget.
“Put...” panggilan Vian membuat Putri menghentikan langkahnya.
“I-iya ada apa?” Putri menjawab tanpa berbalik badan. Pipinya masih memerah, apalagi lampu kamar masih menyala.
“Terima kasih atas selimutnya. Ternyata kamu cukup perhatian juga.” Ledek Vian seraya tertawa kecil, ia sengaja membuat Putri semakin salah tingkah.
“Jangan geer, itu cuma bentuk imbal balik karena aku sudah kamu kasih tumpangan gratis di sini. Sudah, aku mau tidur, selamat malam.” Putri segera melangkah cepat ke ranjangnya dan langsung
menutup dirinya dengan selimut dari kepala sampai kaki. Tingkah konyol Putri membuat Vian tersenyum
kemudian ia melanjutkan tidurnya.
Keesokan harinya...
Saat Vian terbangun, Putri sudah tidak ada di ranjangnya. Tempat tidurnya telah rapi. Vian segera mandi untuk mempersiapkan dirinya berngkat ke
kantor. Seperti biasa, saat ia turun, neneknya sudah menunggu di meja makan. Setiap hari nenek hanya mau memakan bubur buatan Putri. Menurut nenek masakan Putri sangat enak sehingga mampu menggugah selera makannya.
“Pagi, Nek. Pagi, Sayang...” Vian segera duduk di kursi bergabung dengan neneknya. Mendengar sapaan Vian, Putri jadi sedikit gugup.
“Vian, jangan sampai Putri kecapekan. Karena kalau sedang program hamil tidak boleh terlalu lelah. Kalau ada pekerjaan yang terlalu berat, kamu bantu Putri, jangan di biarkan terlalu capek,” nenek
berpesan kepada Vian sambil menikmati secangkir teh buatan Putri.
"Baik, Nek." sahut Vian patuh.
“Ini sayang, tehnya.” Putri menghidangkan secangkir teh ke hadapan Vian. Tangannya sedikit bergetar karena masih salah tingkah terhadap Vian karena kejadian tadi malam.
“Kamu kenapa? Sakit? Kok tangan kamu gemeteran gitu?” Vian mengira Putri sakit karena kurang tidur semalam.
“Nggak apa-apa, aku baik-baik saja.” Putri menjawab cepat dan segera kembali ke dapur tempatnya memasak.
“Vian, sebaiknya hari ini Putri tidak usah berangkat ke kantor dulu. Kamu antar dia ke dokter, siapa tahu dia memang sakit.” Nenek memberikan saran pada Vian untuk membawa Putri ke rumah sakit.
“Baik, Nek. Aku akan membawa Putri ke rumah sakit. Aku juga khawatir kalau sampai dia kenapa-napa, setelah ini aku titip dia ya, nek. Karena aku harus tetap masuk kantor hari ini.” Kali ini Vian benar-benar simpati pada Putri, ia tahu, mungkin karena kejadian semalam Putri jadi tidak bisa tidur sampai sakit.
Vian menghampiri Putri yang masih berusaha mematangkan nasi goreng buatannya. Dia masih ingat pada perjanjian itu, ia tidak boleh menyentuh Putri, tapi di depan nenek harusnya tidak apa-apa, semoga Putri mau mengerti kalau ia terpaksa melakukan ini agar nenek tidak mencurigai mereka.
“Duduklah dulu, biar aku yang menyelesaikan acara masak-memasak ini.” Vian memegang bahu Putri dengan sedikit ragu-ragu, takut reaksi dari wanita itu di luar perkiraannya. Beruntung, Putri mau menurut dan mengikuti intruksi dari Vian.
“Maaf...” bisik Vian, Putri mengangguk samar tanda memaklumi apa yang Vian lakukan sekarang.
“Nanti kemejamu kotor Vian, kamu sudah rapi...” kata Putri pelan, tanpa sadar Putri mengkhawatirkan Vian yang telah siap dengan pakaiannya yang rapi.
“Kotor tinggal ganti, Sayang. Sudah, kamu duduk di sini, temani nenek minum teh.” Vian membimbing Putri duduk di kursi. Nenek tersenyum melihat adegan semi romantis di hadapannya. Ia dapat membaca apa yang di lakukan oleh Vian bukanlah sebuah permainan peran. Ia melihat ketulusan Vian di sana.
Permainan peran Vian kali ini cukup sempurna, ia seperti natural perduli padaku. Sebenarnya aku tidak sakit apapun, hanya saja, aku jadi salah tingkah saat bertemu Vian hanya karena masalah semalam. Aku kesal mengapa aku harus lancang memegang pipi Vian, kalau begini, aku akan terus salah tingkah
saat berada di dekatnya. Gerutu Putri dalam hati.
Menu sarapan telah siap, tidak ada kekakuan yang Putri lihat, sepertinya Vian memang sudah sering melakukan ini. Sekali lagi, ini adalah sisi lain dari Vian yang ia baru ketahui. Setelah selesai sarapan, Vian membawa Putri ke kamar untuk bersiap ke dokter.
“Jangan salah paham, aku melakukan ini karena ada nenek, dan satu lagi, aku tidak mau kamu sakit,
rasanya akan sepi kalau tidak ada teman berdebat. Setelah dari dokter, kamu aku antar pulang, baik-baik di rumah dengan nenek,” kalimat yag di ucapkan Vian menyangkal semua perbuatan tulusnya, tetapi Putri tahu itu hanya alasannya karena gengsi untuk mengakuinya di depan Putri.
“Tenang saja, aku tidak akan salah paham. Aku tahu diri siapa diriku ini, Vian. Terima kasih untuk semua perhatian yang kamu berikan. Mmm... masalah semalam aku minta maaf, ya.” Putri tidak ingin di hantui perasaan yang tidak karuan saat berdekatan dengan Vian, bagaimanapun, hal ini harus di bicarakan.
“Masalah semalam? Kamu pasti jadi susah tidur karena itu, kan? Sampai sakit begini. Tenang, aku tidak akan menganggap itu sebagai pelanggaran. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu tiba-tiba memegang pipiku? Coba kamu bilang, aku akan dengan senang hati membiarkanmu melakukannya.” Ledek Vian sambil tertawa-tawa kecil.
“Vian!” Putri memukul Vian berulang kali dengan
bantal, ia merasa semakin malu karena ledekan Vian, sementara Vian hanya tertawa-tawa menghadapi perlakuan Putri.
Keduanya sepertinya lupa, bagaimana mereka berdua saat awal-awal bertemu. Seperti kucing dan tikus. Tetapi sekarang seakan jarak itu terkikis seiring waktu. Perlahan kekakuan di antara mereka berkurang.
Vian menangkap tangan Putri, hingga keduanya terdiam dan saling tatap. Detak jantung keduanya tidak menentu. Untuk sebentar saja, Vian lupa bahwa ia memiliki Vanessa, pesona Putri membuat ia terpana.
“Vian, kita tidak bisa seperti ini, maaf.” Putri menyadarkan Vian.
“Maaf, Put... aku tidak bermaksud untuk..”
“Tidak apa, aku tahu. Semoga, setelah kontrak kita selesai, kamu bisa bersatu dengan Vanessa. Aku tahu, kamu sangat mencintainya. Omong-omong, aku hari ini masuk ke kantor saja, aku tidak ingin hanya diam di rumah. Aku baik-baik saja, “ Putri segera menyiapkan seragam kerjanya. Ia merasa sudah cukup baik karena sebenarnya ia tidak sakit apapun.
“Terima kasih,semoga saja. Aku tunggu di luar,
bersiaplah. “ Vian berjalan ke luar kamar dan membiarkan Putri bersiap.
mulai suka dan coment.
lanjut....