COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Daniel POV
“Apa kau sedang mempermainkanku? Lepaskan!” Ohhh inikah sisi lain dari anak James? Cukup menyeramkan, tapi juga menggemaskan.
Aku tertawa pelan dan mengacak rambutnya perlahan. “Maafkan aku Nona Cooper,” ungkapku dan kembali memakan sarapanku.
Kulihat Dinda tak beranjak Dia malah memperhatikanku dan begitu seperti sedang meneliti sesuatu. “Apa kau tidak pernah sarapan pagi?” tanyanya tiba-tiba.
“Ya seperti itu lah. Jadwalku kemarin kan tidak beraturan karena aku sering pulang malam. Jadi, aku akan keluar siang hari untuk mencari makanan cepat saji.”
“Itu tidak baik untukmu,”
“Ya..., aku tahu, tapi setidaknya perutku tidak kosong dan aku kehabisan tenaga untuk menjalankan misiku.”
“Lalu kau mau kemana dengan pakaian itu?”
“Aku harus bekerja Dinda," kataku seraya mengacak kembali rambutnya. Dia terlihat tak suka dengan gerakanku karena kakinya menggertak.
“Baiklah hati-hati di jalan,” ungkap Dinda ingin meninggalkan ruang makan, tapi kembali kutarik tangannya.
Kuhapus jarak di antara kami ber dua pagi ini dan bibirku menyentuh bibirnya, lembut. “I will try to love you. Just wait for me, okey” ungkapku padanya dan dia nampak sedang kebingungan.
Aku mengerlingkan sebelah mataku ke arahnya dan pergi meninggalkan Dinda yang masih terlihat seperti tak akan menyangka aku akan mengatakan itu. Bahkan saat aku keluar dari rumah. Aku baru bisa mendengar Dinda teriak kegirangan. Apa dia sungguh jatuh cinta padaku? Atau wanita muda zaman sekarang lebih suka dengan pria yang jauh lebih tua sepertiku?. Ya..., mungkin saja begitu, contohnya saja Dinda .
.......................................
Aku melihat ke seluruh ruangan yang penuh berkas di meja. Seorang sekretaris berparas cantik itu terus saja menjelaskan apapun yang harus aku kerjakan. Dengan pandangan yang berfokus pada dirinya, aku pun mengangguk pelan mengerti.
Ternyata ada sangat banyak hal yang au tinggalkan dan Clara sudah menjelaskan semuanya. Clara---ya wanita ini sepertinya punya spesialis lain selain menjadi sekretaris di kantor ini. Maksudku sejak awal aku datang, entah kenapa dia seperti tengah mengodaku. Bahkan sekarang dia memperhatikanku dan dengan gaya kecentilannya dia mengitari kursiku.
"Bagaimana Mr. Rafadinata? Apa ada yang perlu kita ubah di pertemuan minggu depan?" tanyanya dan aku berusaha menegakkan letak dudukku. Membuyarkan pikiran-pikiranku.
"Ohh itu, menurutmu bagaimana? Aku sih tidak keberatan dengan usulan mereka. Bukankah aku hanya mengarahi kalian dan kalianlah yang justru harus berkoar dengan inspirasi kalian. Yang penting jaminan pemasarannya menyanggupi semua pengeluaran kita," kataku akhirnya dan dia mengangguk pelan seraya menggigit bawah bibirnya, dasar wanita ini memang tak tahu diri. Dia sungguhan menggodaku. Dia kira aku akan tergoda, hah?
"Mmmmm baiklah," ungkapnya lalu menumpuk berkas yang tadi dia bawa.
"Oh ya, ngomong-ngomog. Kau akan makan siang dengan siapa sekarang," aku terperangah mendengarnya.. Bagaimana bisa semua wanita itu menggoda pria tua sepertiku. Baiklah, aku harus sadar kalau aku ini memang tampan. Umurku bisa membohongi siapa pun karena pada realitanya aku masih seperti pria yang berumur 30 tahun.
"Mmmm bagaimana kalau kita ke restoran jepang saja. Di perempatan sana ada restoran jepang yang enak sekali masakannya," katanya dan aku berdeham pelan seraya meregangkan dasi yang aku pakai.
"Bagaimana ya?" kataku pura-pura menyibukkan diriku kemudian mengangkat kakiku ke atas pangkuan.
"Memangnya makanan itu sehat?" Dia mengangguk pelan seperti meyakinkanku.
"Bagaimana?” Dia mendekat ke arahku sedikit merundukkan wajahnya ke arahku dan kini aku bisa lihat kalau dia benar-benar sedang menggodaku. Dipikir-pikir kenapa juga aku harus makan dengannya. Bahkan jika aku mau, aku bisa memesan untuk diriku sendiri, makan sepuasnya di kantor sendirian jauh lebih baik.
“Maaf tidak bisa, aku sudah punya jadwal makan dengan orang lain,” alasanku kemudian menandatangani berkas yang tadi dia mintai untuk segera aku tanda tangan.
Wanita itu pun menghela nafas beratnya. Dia nampak kesal, tapi juga tersenyum seraya merapikan pakaiannya. “Oh mungkin lain kali, kau tidak menolakku,” ungkapnya lalu tanpa kata-kata lainnya dia membawa berkas yang barusan aku tanda tangani keluar.
....................................
JANGAN LUPA SEPERTI BIASA ^^ LIKE DAN KOMENNYA^^
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍