Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 -31 ( BAB TERPENDEK )
Bab 22: Surat dari Neraka
Enam bulan ketenangan di Bali terasa seperti mimpi indah yang terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Arini mulai terbiasa bangun tanpa rasa takut, menikmati aroma cengkeh dan laut, sementara Bima membangun bisnis penyewaan kapal pesiar kecil. Namun, kedamaian itu pecah saat sebuah paket tanpa nama tiba di depan pintu rumah mereka.
Di dalamnya hanya ada satu benda: sebuah kelopak bunga lili putih yang sudah kering dan menghitam, serta sebuah rekaman suara di dalam flashdisk.
Saat Arini memutarnya di laptop, suara tawa yang sangat ia kenal—suara yang menghantui setiap mimpi buruknya—bergema di ruangan itu.
"Kau pikir dinding busa bisa menahanku, Arini? Kau pikir pelukan pria lemah itu bisa menghapus tanda yang kutinggalkan di jiwamu? Aku tidak membusuk di sini... aku sedang merajalela. Tunggu aku, Sayang. Aku akan menjemputmu saat kau merasa paling aman."
Wajah Arini pucat pasi. Gelas di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping. Di saat yang sama, berita televisi menyiarkan kabar menggemparkan: Rumah Sakit Jiwa dr. Azra terbakar habis. Tiga pasien dinyatakan hilang, salah satunya adalah Reihan Dirgantara.
Bab 23: Perjamuan di Atas Kapal
Kecemasan kembali menjadi oksigen bagi Arini. Bima memperketat pengamanan, namun Reihan tidak menyerang secara fisik. Ia menyerang secara mental. Setiap hari, Arini menerima foto-foto dirinya yang sedang tidur, sedang mandi, atau sedang makan, yang diambil dari jarak dekat tanpa disadari oleh pengawal mana pun.
Untuk meredakan ketegangan, Bima mengajak Arini berlayar dengan kapal pesiar pribadi mereka ke tengah laut, jauh dari daratan yang ia anggap sudah disusupi orang-orang Reihan.
Malam itu, di bawah taburan bintang, Bima mencoba menghibur Arini. Gairah yang muncul malam itu terasa sangat mendesak, seolah mereka sedang memacu waktu sebelum maut datang. Mereka bercinta di dek kapal yang terbuka, suara ombak beradu dengan desahan napas yang memburu. Bima mencumbu Arini dengan kasar namun penuh proteksi, seolah ingin menanamkan eksistensinya lebih dalam agar Arini tidak berpaling pada bayang-bayang Reihan.
Namun, saat Arini mencapai puncak kenikmatannya dan memeluk punggung Bima, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah titik merah kecil dari laser membidik tepat di dada Bima.
"BIMA, TIARAP!" jerit Arini.
DOR!
Peluru itu menyerempet bahu Bima. Dari kegelapan laut, sebuah speedboat hitam mendekat tanpa lampu. Sosok bertopeng melompat ke atas kapal mereka. Pertarungan berdarah di atas dek kapal yang licin oleh air laut dan keringat pun meledak.
Bab 24: Identitas Sang Pengkhianat
Bima berhasil melumpuhkan penyerang itu, namun saat topengnya dibuka, Arini hampir pingsan. Penyerang itu adalah salah satu pengawal paling terpercaya Bima yang selama ini menjaga rumah mereka di Bali.
"Kenapa?" tanya Bima sambil menekan luka di bahunya.
"Dia... dia menjanjikan lebih dari sekadar uang," bisik si pengawal sebelum menelan pil sianida yang disembunyikan di giginya.
Arini menyadari bahwa Reihan tidak pernah benar-benar masuk penjara sendirian. Ia masuk dengan membawa seluruh jaringan "Deep State" Dirgantara yang masih aktif. Reihan telah mengubah dirinya menjadi semacam kultus di dunia bawah tanah.
Arini menatap laut yang hitam pekat. Ia menyadari bahwa melarikan diri adalah kesalahan. "Bima, kita tidak bisa bersembunyi. Kita harus kembali ke Jakarta. Kita harus menghancurkan fondasi kekuatannya sebelum dia benar-benar bangkit sebagai raja kembali."
Bab 25: Kembali ke Singgasana Berdarah
Jakarta menyambut mereka dengan hujan asam dan polusi yang menyesakkan. Arini kembali ke gedung A.A. Holdings, namun kali ini ia mengenakan pakaian yang lebih gelap. Ia mengaktifkan kembali semua koneksi ayahnya—orang-orang licik yang dulu ia benci, namun sekarang ia butuhkan untuk melawan iblis yang lebih besar.
Ia menemukan bahwa selama ia pergi, Reihan telah menggunakan kaki tangannya untuk membeli kembali sebagian besar saham perusahaan melalui perusahaan-perusahaan cangkang di luar negeri. Reihan sedang membangun "Kerajaan Bayangan".
Malam itu, Arini kembali ke griya tawang lamanya—tempat yang penuh kenangan darah. Ia ingin memancing Reihan keluar. Ia mandi di bak mandi besar, membiarkan pintu terbuka, sengaja memamerkan kerentanannya. Bima berjaga di ruang sebelah dengan senjata lengkap.
Tiba-tiba, aroma parfum lili putih memenuhi ruangan. Arini merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Tangan dingin meraba bahunya yang basah.
"Kau merindukan sentuhanku, Arini? Itulah sebabnya kau kembali ke sini," bisik suara itu.
Bukan Reihan. Itu adalah seorang wanita. Bianca Dirgantara.
Bab 26: Aliansi Iblis Wanita
Bianca berdiri di sana dengan wajah yang penuh luka parut, sisa-sisa dari kerusuhan penjara wanita tempat ia dulu mendekam. Ia berhasil bebas bersyarat dan kini menjadi tangan kanan Reihan yang paling setia sekaligus paling cemburu.
"Dia terobsesi padamu, Arini. Bahkan setelah kau menghancurkannya," desis Bianca, sebuah pisau bedah berkilau di tangannya. "Reihan ingin aku membawamu padanya hidup-hidup, tapi kurasa sepotong telingamu tidak akan membuatnya marah."
Arini melakukan perlawanan sengit. Keduanya bergulat di atas lantai kamar mandi yang basah dan licin. Arini menggunakan botol parfum berat untuk menghantam wajah Bianca, sementara Bianca menyayat lengan Arini.
Bima mendobrak masuk, namun Bianca sudah melompat keluar dari balkon, menggunakan tali rappel yang sudah disiapkan. Di bawah, sebuah mobil hitam menunggu. Di dalam mobil itu, Arini melihat sekilas sosok pria yang duduk di kursi belakang. Pria itu menoleh dan tersenyum—senyum psikopat yang tidak akan pernah ia lupakan.
Reihan. Dia tidak lagi bersembunyi.
Bab 27: Permainan di Labirin Bawah Tanah
Reihan mengirimkan undangan formal ke alamat Arini. Sebuah lokasi di bawah tanah kota Jakarta, sebuah bunker peninggalan era perang yang diubah menjadi kelab eksklusif bagi para kriminal kelas atas.
"Jika kau ingin Bima tetap hidup, datanglah sendiri," tulis pesan itu. Ternyata, Bima telah menghilang saat sedang berpatroli di sekitar gedung sore itu.
Arini masuk ke dalam labirin bawah tanah itu. Suasana di sana sangat panas, penuh dengan asap cerutu dan aroma alkohol mahal. Di tengah ruangan, di atas sebuah kursi singgasana kulit, Reihan duduk dengan megahnya. Di sampingnya, Bima dirantai di dinding, tampak babak belur.
"Selamat datang di kerajaanku yang sebenarnya, Arini," ucap Reihan.
Reihan berdiri, mendekati Arini. Ia menarik Arini ke tengah ruangan, di depan kerumunan pengikutnya. "Semua orang di sini memuja kekuatan. Dan malam ini, aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana cara menjinakkan seorang ratu."
Reihan memaksa Arini berdansa dengannya di bawah lampu sorot yang remang. Gairah yang ia tunjukkan sangat kasar dan memalukan di depan umum. Ia menciumi Arini di depan pengikutnya, sengaja mempermalukan Bima yang hanya bisa melihat dengan amarah yang meledak.
Bab 28: Malam Pengorbanan
Reihan membawa Arini ke sebuah kamar pribadi di dalam bunker tersebut. Ia ingin mengklaim kembali apa yang ia anggap miliknya di tempat yang paling hina.
"Kau akan mengandung anakku lagi malam ini, Arini. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya," bisik Reihan.
Gairah di bunker itu terasa sangat kotor dan menyesakkan. Reihan tidak menggunakan kelembutan sedikit pun. Ia memperlakukan Arini seperti budak rampasan perang. Namun, Arini sudah menyiapkan sesuatu. Ia telah menyembunyikan sebuah jarum kecil berisi racun saraf di balik kuku palsunya.
Saat Reihan sedang berada di puncak nafsunya, Arini menusukkan jarum itu ke tengkuk Reihan.
Reihan mengerang, tubuhnya mulai kaku. "Kau... bajingan kecil..."
"Aku bukan lagi istrimu, Reihan. Aku adalah kematianmu," bisik Arini.
Namun, dosis racun itu ternyata tidak cukup untuk membunuh pria sekuat Reihan. Reihan justru semakin murka. Ia mencekik Arini dengan satu tangan sementara tangannya yang lain mencoba meraih pistol di atas meja.
Bab 29: Kehancuran Sang Singgasana
Pintu kamar itu diledakkan dari luar. Bima berhasil melepaskan rantainya dengan bantuan seorang "pemain dalam" yang ternyata adalah agen intelijen yang menyamar.
Pertempuran besar pecah di dalam kelab bawah tanah itu. Pasukan khusus menyerbu masuk. Bima langsung menerjang Reihan yang masih dalam pengaruh racun saraf. Keduanya bergulat di tengah api yang mulai menjalar karena ledakan pipa gas.
"Arini, lari!" teriak Bima.
Namun Arini tidak lari. Ia mengambil pistol yang terjatuh dan menembak kaki Reihan agar pria itu tidak bisa melarikan diri lagi.
Bunker itu mulai runtuh. Plafon beton berjatuhan. Bima menarik Arini keluar, sementara Reihan terjepit di bawah reruntuhan pilar besar.
"ARINI! KAU TIDAK AKAN PERNAH BEBAS DARI AKU!" teriak Reihan saat api mulai melahap tubuhnya. "AKU ADALAH KAU! KAU ADALAH AKU!"
Bab 30: Abu dan Kehampaan
Bunker itu meledak hebat, menciptakan kawah besar di tengah kawasan industri tua. Reihan, Bianca, dan seluruh kerajaan bayangan mereka terkubur di bawah ribuan ton beton dan api.
Arini berdiri di kejauhan, menatap kobaran api itu dengan wajah yang jelaga. Bima memeluknya dari belakang, tubuh mereka berdua penuh luka dan darah.
"Apakah ini benar-benar berakhir?" tanya Arini dengan suara kosong.
"Dia sudah mati, Arini. Aku melihat pilar itu menghancurkan dadanya," jawab Bima.
Namun, saat mereka berjalan menjauh, Arini melihat sesuatu di tanah. Sebuah koin emas dengan logo Dirgantara. Ia memungutnya dan melihat ada goresan baru di atasnya: sebuah huruf "A".
Ia menyadari bahwa Reihan mungkin sudah mati, namun ideologi dan dendam yang ia tanamkan telah menyebar ke mana-mana. Arini tidak akan pernah bisa benar-benar menjadi wanita biasa lagi. Ia telah menjadi bagian dari permainan ini selamanya.
Bab 31: Sang Ratu Hitam
Satu bulan setelah ledakan, Arini duduk di kantor barunya. Ia tidak lagi mengejar kedamaian di Bali. Ia telah memutuskan untuk mengambil alih seluruh jaringan bawah tanah yang ditinggalkan Reihan sebelum orang lain mengambilnya.
Bima berdiri di sampingnya sebagai tangan kanan yang paling setia, namun hubungan mereka tidak lagi sama. Gairah mereka kini dicampur dengan kegelapan dan rahasia yang tak terucapkan. Mereka bercinta di atas meja kerja yang dingin, sebuah tindakan yang lebih berupa pernyataan kekuasaan daripada kasih sayang.
Arini menatap cermin. Ia melihat pantulan dirinya, dan untuk sesaat, ia melihat mata Reihan menatap balik dari dalam matanya sendiri.
"Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Sayang," bisik Arini pada dirinya sendiri.
Ia telah menghancurkan sang tiran, hanya untuk menyadari bahwa ia telah menjadi tiran itu sendiri. Dan di luar sana, di tengah kegelapan Jakarta, ribuan "Reihan" baru sedang menunggu giliran untuk mencoba merebut takhtanya.