Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: KEHIDUPAN YANG TUMBUH DALAM KEGELAPAN
Pagi itu, matahari menyinari dapur dengan cara yang berbeda. Cahayanya lebih tajam, suara lebih keras, aroma kopi lebih menusuk. Segala sesuatu terasa lebih... nyata. Karena ada rahasia yang kini harus dibagi.
Kinan masih asyik dengan serealnya, membuat "istana" dari cornflake di mangkuk. Bima sedang memeriksa tugas sekolahnya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Maya berdiri di depan kompor, tapi tangannya tidak bergerak hanya memegang spatula, menatap telur yang mulai gosong.
"Ma, telurnya," Bima menyadari.
"Oh!" Maya tersentak, cepat membalik telur yang pinggirannya sudah hitam.
Aku menatapnya dari meja makan, mencoba membaca pikirannya. Malam tadi, setelah pengakuannya, kami hanya diam berpelukan. Tidak banyak bicara. Karena apa lagi yang bisa dikatakan? Ada kehidupan baru di dalam rahimnya. Kehidupan yang tidak direncanakan, tapi tidak diinginkan.
"Bima, Kinan," panggilku, memecah kesunyian. "Nanti sepulang sekolah, kita ada rapat keluarga penting. Jadi langsung pulang ya, jangan main dulu."
Bima menatapku dengan curiga. "Masalah apa lagi, Om?"
"Bukan masalah. Tapi... kabar penting."
Kinan berhenti bermain dengan serealnya. "Kabar baik atau kabar buruk?"
Maya dan aku saling memandang. "Keduanya," jawabku akhirnya. "Tergantung dari sisi mana melihatnya."
---
Sepanjang hari di bengkel, pikiranku tidak bisa fokus. Angka-angka di spreadsheet berbaur, faktur tertukar, dan dua kali aku harus meminta maaf pada pelanggan karena kesalahan kecil. Pak Hasan, bosku yang juga sepupu jauh, akhirnya menepuk bahuku.
"Raka, kamu baik-baik saja? Dari tadi seperti orang linglung."
"Maaf, Pak. Ada... urusan keluarga."
"Masalah dengan Maya dan anak-anak?"
Bukan masalah. Tapi bagaimana menjelaskannya? "Perkembangan baru, Pak. Yang butuh penyesuaian."
Dia mengangguk, bijaksana. "Keluarga itu seperti mesin, Nak. Kadang ada part baru yang masuk, dan mesin harus menyesuaikan cara kerjanya. Tapi kalau dirawat baik-baik, mesin itu akan berjalan lebih smooth."
Perumpamaan yang tepat. Tapi part baru ini bayi bukan sekadar komponen tambahan. Dia akan mengubah seluruh struktur mesin. Dinamika keluarga. Pembagian perhatian. Bahkan mungkin... cinta.
Jam tiga sore, aku pulang lebih awal. Maya sudah di rumah, sedang menatap kosong ke dinding ruang tamu.
"Kamu sudah bilang?" tanyaku.
"Belum. Menunggu kamu."
Kinan pulang lebih dulu, diantar tetangga. "Mama, Adek dapat bintang hari ini!" serunya riang, menunjukkan stiker di tangannya.
"Pintar sekali sayang," Maya memeluknya, tapi pelukannya kaku.
Bima pulang setengah jam kemudian. Wajahnya langsung waspada ketika melihat kami duduk bersama di ruang tamu dengan ekspresi serius.
"Jadi... rapat keluarga?" tanyanya, meletakkan tas.
"Iya. Duduklah." Aku menarik napas. "Ada sesuatu yang perlu kami beritahu kalian berdua."
Kinan mendekat, duduk di pangkuanku. Bima duduk di kursi seberang, tegang.
"Mama... Mama sedang mengandung bayi," ucap Maya langsung ke intinya, tanpa pendahuluan.
Diam.
Bima membeku. Kinan mengernyitkan dahi.
"Ade bayi?" tanya Kinan akhirnya. "Di perut Mama?"
"Iya, Sayang."
"Bayi laki-laki atau perempuan?"
"Kita belum tahu, Nak. Masih sangat kecil."
Kinan melompat turun, mendekati perut Maya. "Bisa Adek denger detak jantungnya?"
"Belum bisa, Sayang. Masih terlalu kecil."
"Ooh." Kinan terdengar kecewa, tapi kemudian tersenyum. "Adek mau adik perempuan! Biar ada temen main boneka!"
Bima masih diam. Wajahnya pucat.
"Bima?" panggil Maya lembut.
"Jadi..." suaranya serak. "Om Raka yang jadi ayahnya?"
Aku mengangguk. "Iya."
"Dan Om akan... akan menikah dengan Mama?"
"Lambat laun. Tapi ya, itu rencana kami."
Bima berdiri, berjalan ke jendela. Punggungnya pada kami. "Dan adik ini... akan hidup bersama kita? Di rumah ini?"
"Ya, Bima. Dia bagian dari keluarga kita."
"Tapi rumah kita kecil. Hanya tiga kamar."
"Kita akan atur ulang. Mungkin Kamar Kinan dan bayi jadi satu. Atau kita cari rumah yang lebih besar."
Bima berbalik, matanya berkaca-kaca. "Semuanya akan berubah."
"Tidak selalu buruk, Sayang," kata Maya.
"TAPI AKU TIDAK MAU BERUBAH!" teriaknya tiba-tiba, membuat Kinan terkejut. "Aku sudah capek dengan perubahan! Papa pergi, itu perubahan! Om Raka datang, itu perubahan! Sekarang ada bayi lagi? KAPAN BERHENTINYA?!"
Dia berlari ke kamarnya, membanting pintu.
Kinan menangis, ketakutan. Maya menarik Kinan ke pelukannya, sementara aku menatap pintu kamar Bima yang tertutup.
Ini... lebih buruk dari yang kami kira.
---
Malam itu, Bima tidak keluar untuk makan malam. Maya meninggalkan piring di depan pintunya, tapi tidak disentuh.
"Apakah kita salah?" bisik Maya di tempat tidur. Aku sudah pindah ke kamarnya sejak hamilnya diketahui tidak untuk berhubungan, tapi untuk merawatnya. Tapi kami masih tidur terpisah, menghormati perjanjian dengan Bima.
"Salah karena apa? Karena mencintai? Karena membuat bayi?"
"Karena terlalu egois. Tidak memikirkan dampaknya pada anak-anak."
"Kita tidak bisa mengendalikan segalanya, Maya. Kadang hidup memberikan kejutan."
"Kejutan yang menghancurkan Bima."
Aku mendesah, menatap langit-langit. "Dia butuh waktu. Sama seperti kita butuh waktu delapan tahun untuk akhirnya bersama."
"Delapan tahun yang menyakitkan banyak orang."
"Dan kita tidak mau mengulanginya." Aku menoleh padanya. "Kita akan melalui ini bersama. Dengan komunikasi. Dengan kesabaran."
Tapi kesabaran diuji esok harinya.
Bima tidak mau bicara pada kami. Sarapan diambil sendiri, lalu berangkat sekolah tanpa pamit. Kinan, yang merasa ketegangan, menjadi rewel dan menangis karena hal-hal kecil.
"Raka, aku tidak kuat," Maya menangis di dapur ketika anak-anak sudah pergi. "Aku merasa seperti ibu yang buruk. Seperti egois."
"Ayo kita bicara dengan Bima setelah sekolah. Berdua."
---
Kami menjemput Bima bersama-sama. Dia terkejut melihat kami di gerbang sekolah.
"Kita perlu bicara, Bima," kata Maya. "Bukan di rumah. Di suatu tempat yang netral."
Kami membawanya ke kafe kecil dekat pantai. Pesan tiga jus, lalu duduk di teras yang menghadap laut.
"Bima," mulai Maya, "Mama minta maaf. Karena tidak mempersiapkan kamu lebih baik. Karena... karena terburu-buru."
Bima memandangi jusnya, tidak menjawab.
"Om juga minta maaf," tambahku. "Karena kami tidak memberi kamu waktu untuk menyesuaikan."
"Bayi itu... kapan datang?" tanya Bima tiba-tiba.
"Lima bulan lagi."
"Dan setelah bayi lahir... kalian akan menikah?"
"Kami berencana begitu. Tapi itu tergantung pada kamu dan Kinan."
Bima memandangku. "Apa maksudnya?"
"Kami tidak akan menikah jika kalian tidak merasa nyaman. Karena pernikahan ini bukan hanya tentang kami. Tentang kita semua."
Itu pengakuan besar. Tapi itu benar. Menikah tanpa restu anak-anak akan menjadi awal yang buruk.
"Jadi kalau aku bilang tidak, kalian tidak akan menikah?"
Maya dan aku saling memandang. "Kami... akan menunda sampai kamu siap," jawabku jujur. "Tapi kami berharap suatu hari nanti kamu akan mengerti dan memberikan restumu."
Bima diam lama. Di kejauhan, ombak menyapu pantai dengan ritme yang menenangkan.
"Papa dulu," ucapnya pelan, "tidak pernah minta pendapatku tentang apa pun. Bahkan ketika dia pergi."
"Kami berbeda, Bima. Kami ingin kamu terlibat."
"Kenapa?"
"Karena kamu bagian penting dari keluarga ini. Dan keputusan keluarga seharusnya dibuat bersama."
Dia meneguk jusnya, berpikir. "Kalau... kalau bayi itu lahir. Dan kalian menikah. Aku harus panggil Om apa? Bapak? Ayah?"
"Kamu bisa panggil Om Raka. Atau Bapak Raka. Terserah kamu, Bima. Yang penting nyaman."
"Dan Kinan?"
"Dia mungkin akan panggil Bapak. Tapi itu pilihannya juga."
Bima mengangguk. "Aku... aku takut dilupakan. Kalau ada bayi baru, perhatian akan terbagi. Aku dan Kinan... akan seperti tidak penting lagi."
Maya memegang tangannya. "Tidak pernah, Sayang. Cinta Mama tidak terbagi, tapi berkembang. Seperti... seperti lilin yang bisa menyalakan lilin lain tanpa redup."
"Om juga?" tanya Bima padaku.
"Aku mungkin bukan ayah kandungmu, Bima. Tapi cintaku padamu tidak kurang dari cinta pada bayi nanti. Kamu adalah anak pertama bagiku. Dan itu tidak akan pernah berubah."
Air mata mulai mengalir di pipi Bima. "Aku... aku cuma takut kehilangan lagi."
"Kami mengerti," kataku. "Dan kami berjanji akan lebih berhati-hati dengan perasaanmu."
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Tentu."
"Boleh aku... ikut periksa ke dokter bersama Mama? Lihat USG bayi? Jadi... jadi aku merasa terlibat dari awal."
Maya tersenyum melalui air mata. "Tentu saja, Sayang. Besok kita periksa bersama."
"Dan satu lagi... boleh aku pilih nama untuk bayi? Kalau perempuan?"
Kami tertawa kecil. "Boleh. Kita pilih bersama-sama."
---
Kunjungan ke dokter kandungan adalah pengalaman yang mengharukan. Kinan ikut, matanya berbinar-binar melihat monitor USG.
"Itu adik kita?" tanyanya takjub saat gambar hitam-putih muncul.
"Iya, Sayang," jawab dokter. "Lihat, itu jantungnya berdetak."
Bima, duduk di samping Maya, memandang layar dengan serius. "Dia kecil sekali."
"Masih 10 minggu," jelas dokter. "Tapi sehat. Detak jantung kuat."
Maya memegang tanganku erat. Di layar, ada kehidupan yang kami buat bersama. Kecil, rapuh, tapi kuat.
"Boleh tahu jenis kelaminnya?" tanyaku.
"Masih terlalu awal. Sekitar 20 minggu baru bisa terlihat."
Ketika kami keluar dari ruangan, Bima berkata: "Kalau perempuan, nama Aisyah. Kalau laki-laki... terserah Om dan Mama."
Maya memeluknya. "Aisyah cantik. Tapi kita pikirkan bersama ya."
---
Malam itu, di rumah, suasana sudah lebih ringan. Bima bahkan membantu menyiapkan makan malam, sementara Kinan menggambar "keluarga baru" dengan lima orang.
Tapi telepon dari ayahku merusak kedamaian itu.
"Raka, kamu tahu apa yang kamu lakukan?" suaranya marah.
"Ayah sudah dengar?"
"Seluruh keluarga sudah tahu! Dari mana lagi? Dari mulut ke mulut! Kamu membuat Maya hamil sebelum menikah? APA YANG KAU PIKIRKAN?!"
"Ayah"
"JANGAN 'AYAH' AKU! KAU PERNAH PAHAM TIDAK BETAPA MEMALUKAN INI? SEPUPU, HAMIL DI LUAR NIKAH, DENGAN STATUS MAYA MASIH JANDA?!"
"Rangga sudah setuju cerai, Ayah. Prosesnya sedang berjalan."
"TIDAK PENTING! YANG PENTING PENAMPILAN! KELUARGA KITA DIPERMALUKAN!"
Aku menutup mata. "Ayah, ini bukan tentang penampilan. Ini tentang kami. Tentang keluarga kami."
"KELUARGA YANG SALAH! KAU TIDAK BOLEH MENIKAHI SEPUPUMU SENDIRI! APALAGI DENGAN KONDISI SEPERTI INI!"
"Kenapa tidak? Hukum memperbolehkan. Agama memperbolehkan."
"TAPI ADAT TIDAK! DAN KELUARGA BESAR TIDAK!"
Maya, yang mendengarkan, mengambil telepon dari tanganku. "Paman, ini Maya."
Diam di seberang. Lalu: "Maya, sayang... kau paham kan betapa rumitnya ini?"
"Yang saya pahami, Paman, adalah bahwa saya mencintai Raka. Dan kami akan punya bayi. Dan kami akan membangun keluarga. Dengan atau tanpa restu keluarga besar."
"Tapi reputasimu"
"Sudah hancur sejak Rangga pergi, Paman. Jadi tidak ada lagi yang perlu saya jaga." Suaranya tegas. "Yang saya jaga sekarang adalah kebahagiaan anak-anak saya. Dan bayi ini. Dan Raka."
"Kau keras kepala seperti ibumu."
"Dan Raka keras kepala seperti ayahnya. Mungkin itu sebabnya kami cocok."
Dia mendesah. "Aku tidak bisa memberi restu. Tidak sekarang."
"Kami tidak minta restu, Paman. Kami hanya minta dihormati."
Telepon ditutup. Maya menyerahkan ponsel padaku, tangannya gemetar.
"Kita sendirian," bisiknya.
"Tidak." Aku memegang tangannya, lalu memandang Bima dan Kinan yang mendengarkan dari dapur. "Kita berempat. Dan akan jadi berlima. Itu sudah cukup keluarga besar untukku."
Bima mendekat, memegang tangan Maya yang satunya. "Kami di sini, Ma. Selalu."
Kinan ikut memeluk kaki kami. "Adek juga!"
Dan di tengah segala penolakan dari luar, di dalam rumah kecil ini, kami menemukan kekuatan yang tidak kami tahu kami miliki: kekuatan untuk memilih cinta di atas segalanya. Kekuatan untuk menjadi keluarga, meski dunia berkata sebaliknya.
Malam itu, sebelum tidur, Bima memberikanku gambar. Gambar keluarga dengan lima orang. Di bawahnya tertulis: Keluarga Kita. Lengkap.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilan Maya, aku merasa... semuanya akan baik-baik saja. Karena kami bersama. Karena kami memilih untuk tetap bersama.
Meski harus melawan seluruh dunia.