(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 15 - MENARA DESA
...Roda gigi menjerit, kayu berderit... ...
......dan di atas menara desa, kematian jatuh dari langit. ...
...⚙⚙⚙...
Di puncak menara gerbang, ruang terasa semakin sempit, terjepit di antara langit hitam yang pekat dan lautan monster yang seolah tidak memiliki ujung. Angin gunung menderu ganas, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, sementara di bawah sana, gelombang kegelapan terus merayap maju dengan kecepatan yang mengerikan.
Rogan berdiri kokoh, kakinya tertancap kuat di atas balok kayu penyangga yang bergetar hebat akibat beban mekanis di atasnya. Tangan kanannya mencengkeram rangka besi turret yang mulai panas oleh gesekan, sementara tangan kirinya menyentakkan tuas pengunci dengan satu gerakan kasar.
^^^*gambar buatan AI^^^
"Jaga ritme tembak kalian! Jangan panik! Bidik jantungnya dan kirim mereka kembali ke neraka!" bentaknya, suaranya parau membelah hiruk-pikuk logam yang beradu.
Roda gigi berputar liar di dalam mesin, menyemburkan aroma oli panas dan uap tipis dari sela-sela mekanismenya yang bekerja sempurna.
THACK... THACK... THACK...
Dua menara turret menyalak bersamaan, memuntahkan hujan baja yang membelah kegelapan malam. Setiap tarikan tuas menghasilkan dentuman logam yang berat, disusul oleh jeritan melengking monster yang nyawanya terputus di udara.
Di bawah sana, kawanan Nightclaw bergelimpangan satu per satu. Sebuah panah baja menghantam telak pangkal leher seekor monster. Kekuatan hantaman itu begitu besar hingga kepalanya tersentak ke belakang, nyaris terlepas dari sendinya, sebelum jasadnya terguling jatuh seperti boneka yang tali nyawanya telah diputus.
Satu lagi terkena telak di rongga mata. Proyektil itu menembus masuk, menghancurkan jaringan otak, dan menyembul keluar dari bagian belakang tengkorak. Makhluk itu ambruk seketika ke atas tanah yang licin, tewas bahkan sebelum sempat melolong.
"PUTAR KE KIRI! SUDUT JAM SEMBILAN, CEPAT!" komando Rogan meledak lagi.
Penjaga di sampingnya mengerahkan seluruh otot lengannya untuk memutar kemudi turret dengan paksa. Logam berderit keras menahan beban rotasi yang berat, namun akhirnya poros baja itu bergerak dan mengunci target di pojok medan pertempuran.
THACK... THACK... THACK...
Rentetan panah menyapu bersih sisi luar dinding. Tiga Nightclaw yang sedang berlari dalam satu garis lurus terhantam sekaligus. Satu terpental menghantam kawanan di sebelahnya hingga kocar-kacir, sementara dua sisanya jatuh terseret jauh di atas tanah yang sudah becek oleh darah dan lumpur hitam.
Namun, maut datang dari arah yang tak terduga.
"ATAS! AWAS DARI ATAS!"
Suara panik merobek formasi. Di dinding batu yang curam, bayangan-bayangan hitam merayap naik dengan kelincahan yang mustahil bagi makhluk darat. Itulah Nightclaw. Cakar mereka yang melengkung tajam memahat sela-sela batu, menancap kuat hingga serpihan granit berjatuhan ke bawah. Mereka bergerak sunyi, merayap naik layaknya bayangan hidup yang haus akan daging segar.
Satu ekor melesat, mendarat dengan dentuman keras di tepi lantai kayu menara. Seluruh struktur menara bergetar hebat akibat berat tubuh monster itu. Seorang penjaga di tepi balkon bahkan tidak sempat bereaksi.
Cakar hitam menyambar dalam satu ayunan horizontal yang kilat. Darah segar menyembur ke udara, membasahi papan kayu sebelum tubuh penjaga itu terkulai dan jatuh dari ketinggian, menghantam tanah di bawah tanpa suara kedua.
"MUNDUR, ROGAN!"
Rogan berputar secepat kilat. Tanpa ragu sedikit pun, ia menghunus belati pendek yang terselip di pinggangnya. Nightclaw kedua sudah berada di udara, menerjang tepat ke arah wajahnya dengan taring terbuka. Bukannya mundur, Rogan justru menghentakkan kaki maju untuk memperpendek jarak serang.
CLANG...
Ia menangkis cakar itu menggunakan gagang logam turret. Percikan api menyambar terang saat baja beradu dengan kuku monster. Dalam jarak sedekat itu, mata mereka saling bertatapan, mata kuning lapar melawan tatapan dingin manusia. Rogan tidak memberi celah, ia menusukkan belatinya dengan gerakan brutal.
Mata pisau itu merobek jaringan lunak di bawah rahang, menembus lurus ke atas hingga menghujam otak. Monster itu berhenti bergerak seketika. Seluruh tubuhnya kaku membatu sebelum akhirnya ambruk tepat di depan bot baja Rogan dengan suara debuman yang berat.
Napas Rogan memburu, uap putih keluar dari mulutnya di tengah suhu dingin. Namun, matanya tetap tajam dan sedingin es.
"Jangan biarkan mereka menginjak lantai ini! Dorong mereka jatuh atau kalian yang akan mati jadi bangkai di sini!" bentaknya keras.
Di menara sebelah, situasi jauh lebih kacau. Dua Nightclaw berhasil naik ke atas secara bersamaan. Seorang pemuda penjaga berteriak ketakutan namun tetap berdiri di posisinya. Ia mengayunkan tuas besi turret sekuat tenaga ke arah monster terdekat.
Ujung besi itu menghantam telak kepala monster, menghancurkan rahangnya dan membuatnya kehilangan keseimbangan seketika hingga jatuh terguling dari sisi menara. Namun, monster kedua langsung menerjang tanpa ampun. Pemuda itu terdesak mundur selangkah demi selangkah hingga tumitnya menyentuh ujung balkon yang kosong.
Tiba-tiba, tangan kekar seorang penjaga lain menyambar kerah bajunya, menyentakkannya mundur dengan kasar tepat sebelum ia jatuh. Dalam satu gerakan beruntun yang cepat, tombak di tangan sang penyelamat menusuk lurus ke dada Nightclaw yang menyerang.
Kekuatan mekanik tombak itu mendorong tubuh monster keluar dari balkon, membiarkannya jatuh bebas dan menghantam tanah di bawah dengan suara tulang patah yang renyah.
"Fokus, bodoh! Kita belum mati, jadi jangan bertingkah seperti mayat!" teriak penjaga itu sambil mendorong bahu si pemuda agar kembali ke posisi siaga.
Namun, ancaman terbesar belum benar-benar berakhir. Getaran itu merambat dari bawah, menghantam inti menara dengan kekuatan yang sanggup mematahkan nyali.
Benturan itu mengguncang seluruh fondasi kayu. Balok-balok penyusun berderit tajam, mengerang di bawah tekanan yang tidak masuk akal. Debu halus dan serpihan kayu berjatuhan dari sambungan atap, mengaburkan pandangan para penjaga yang nyaris terlempar dari pijakan mereka.
Rogan segera menepi ke tepi balkon, menunduk tajam ke bawah. Di sana, seekor Stonefang Ravager berukuran besar berdiri tegak, otot-otot batunya menegang saat ia mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak.
DUUM...
Makhluk itu kembali menghantamkan seluruh berat tubuhnya ke tiang penyangga utama. Struktur menara berguncang hebat, miring beberapa derajat dari posisi semula. Peti-peti panah cadangan jatuh berserakan, anak panah baja berhamburan di atas lantai kayu yang kini terasa tidak stabil.
"Dia mau merubuhkan menara ini!" teriak salah satu penjaga dengan wajah pucat pasi.
Stonefang itu tidak berhenti. Retakan-retakan di sekujur tubuh batunya mulai menyala merah terang, memancarkan gelombang panas yang menyengat hingga ke atas menara. Ia menarik tubuhnya ke belakang, bersiap untuk hantaman penghancur berikutnya.
DUUUUM...
Tabrakan ketiga terjadi lebih brutal. Balok kayu utama terdengar patah dengan suara retakan yang memuakkan. Pilar penyangga sisi utara kini benar-benar bergeser.
"Kalau dia menghantam sekali lagi, kita semua mati terkubur di sini!"
"JANGAN KASIH DIA KESEMPATAN!" Rogan melirik cepat ke arah bawah. Sudut tembak turret terlalu sempit, mesin itu tidak bisa membidik target yang tepat berada di bawah fondasi. Ia hanya butuh satu detik untuk memutar otak.
"MINYAK! Ambil minyaknya, cepat!" bentak Rogan dengan suara parau.
Seorang penjaga tersentak, lalu segera menyambar tong kayu kecil berisi minyak pelumas mesin yang tersimpan di pojok menara.
"LEMPAR KE BAWAH! SEKARANG JUGA!"
Tong itu didorong sekuat tenaga melewati tepi pembatas, jatuh bebas membelah udara. Tong itu hancur berantakan tepat di atas punggung Stonefang yang sedang memanas. Cairan hitam kental dan lengket segera menyebar, meresap ke dalam celah-celah retakan batu yang sedang membara.
Monster itu meraung, merasakan cairan asing menyumbat pori-pori batunya, namun ia tetap bersiap melakukan tabrakan terakhir yang mematikan.
"OBOR! CABUT OBORNYA!" teriak Rogan lagi.
Seorang penjaga mencabut obor besar dari dinding. Apinya bergoyang liar, mencabik kegelapan malam. Tanpa ragu, obor itu dilemparkan ke arah genangan minyak di bawah sana.
WHOOOSH...
Api seketika menyambar. Dalam sekejap mata, seluruh tubuh Stonefang itu terbungkus kobaran api merah yang menjilat-jilat ganas. Panas yang ekstrem itu merambat masuk ke garis-garis retakan, membakar sistem energi di dalam tubuhnya secara paksa.
Monster itu melolong mengerikan, suara yang jauh lebih memekakkan telinga daripada sebelumnya. Langkahnya menjadi kacau, ia terhuyung-huyung saat api mulai merusak organ dalamnya. Ia mencoba menerjang sekali lagi, namun justru tersandung oleh berat tubuhnya sendiri yang mulai melemah.
"SEKARANG! BATU! LEMPAR SEMUANYA!"
Para penjaga di atas menara mengangkat bongkahan batu besar yang sebelumnya disiapkan untuk barikade. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka menghujankan batu-batu itu ke kepala monster tersebut.
Satu batu menghantam telak di pelipis monster. Batu-batu berikutnya menghantam bahu dan lehernya bertubi-tubi. Retakan di kulit batunya semakin melebar, cahaya merah di dalamnya berdenyut tidak stabil, redup dan terang seiring dengan hilangnya kesadaran makhluk itu.
Rogan menyambar sebuah tombak pendek dari rak senjata. Ia menimbang bobotnya sejenak, menarik napas dalam untuk mengunci target.
"Mampus kau, sialan..." gumamnya dingin.
Tombak itu dilepaskan dengan seluruh tenaga. Senjata itu meluncur lurus layaknya kilat petir, menancap tepat di celah retakan terbesar pada leher monster itu.
CRACK...
Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam tubuh Stonefang. Cahaya merah yang tadinya menyala seketika padam. Tubuh itu membeku selama beberapa detik, sebelum akhirnya ambruk ke samping dengan suara gemuruh yang menggetarkan lembah.
Tanah di sekitar menara bergetar hebat saat jasad raksasa itu menghantam bumi. Api masih menyala liar di atas bangkai yang sudah tidak bernyawa itu, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding menara.
Guncangan pada menara berhenti total. Hening menyelimuti mereka selama sepersekian detik sebelum sorakan tertahan pecah di antara napas-napas berat. Rogan perlahan mengangkat kepalanya menatap langit hitam. Wajahnya legam penuh keringat, namun tatapan matanya tetap setajam elang, penuh dengan niat tempur yang belum padam.
"Isi ulang senjata kalian..." bisik Rogan pada anak buahnya, sebelum suaranya meninggi kembali. "ISI ULANG SEGERA! SIAPKAN MINYAK LAGI! BAKAR HIDUP-HIDUP SIAPA PUN YANG BERANI MENDEKAT!"
Di sekelilingnya, para penjaga kembali bergerak sigap meski tangan mereka gemetar karena kelelahan hebat. Namun, di bawah sana, di balik pendar api yang masih menyala, bayangan-bayangan hitam yang baru mulai muncul dari balik kegelapan hutan.
Jumlah mereka lebih banyak. Barisannya lebih rapat. Dan atmosfer yang mereka bawa terasa jauh lebih gelap dan menakutkan. Gelombang berikutnya telah benar-benar tiba untuk menelan Brakenford.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)