NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Mandul!!

Dinikahi Duda Mandul!!

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Hanela cantik

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

" Bu Kirana pulang dulu, ya Bu" pamit Kirana. Dia hanya bekerja sampai jam empat saja karena ada kariawan lain yang masuk di jam dua tadi.

"Ohh sudah mau pulang, ya udah hati-hati ya"

"Pulang duluan ya ki" ucap Kirana pada Kiki yang masuk jam dua itu

"Ohh iya mbak aman, titip salam buat anak mbak"

" Insyaallah nanti aku sampaikan ki"

Setelah pamit Kirana langsung pulang. Banyak orang yang menanyakan kenapa dia tidak menikah lagi padahal dirinya cantik, tapi Kirana hanya bisa membalasnya dengan senyuman

Kirana melangkah pulang dengan langkah letih namun ringan. Setelah seharian berdiri, mengangkat barang, dan melayani pelanggan, tubuhnya memang lelah, tapi hatinya lega karena pekerjaannya selesai untuk hari ini.

Ia baru berjalan sekitar dua ratus meter dari toko ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya pelan.

"Mbak... mbak, bisa bantu saya nggak?"

Kirana berhenti dan menoleh. Seorang laki-laki matang berdiri di dekat motornya yang terparkir di pinggir jalan. Bajunya berkeringat, wajahnya cemas, dan helm masih menempel di kepala seolah ia baru saja berhenti mendadak.

"Ada apa, Mas?" tanya Kirana hati-hati.

Pria itu mengusap tengkuknya canggung. "Maaf ya, Mbak... saya mau minta tolong banget. Saya kehabisan bensin. Sementara saya buru-buru harus jemput inu saya... eh, dompet saya malah ketinggalan di rumah."

Seakan tahu keraguannya, pria itu buru-buru menambahkan, "Kalau Mbak keberatan nggak apa-apa. Tapi saya cuma butuh dua puluh ribu buat beli minyak. Nanti saya balikin, sumpah. Kalau perlu Mbak ikut ke pom, saya nggak kabur."

Kirana terdiam. Ia memegang ujung tasnya, berpikir cepat.

Uang di dompetnya... tinggal lima puluh ribu. Sisa dari gaji harian yang tadi ia ambil. Dan itu pun harus ia atur sampai beberapa hari ke depan, termasuk buat makan anak-anak.

Tapi...

Pria itu terlihat benar-benar panik. Entah kenapa wajahnya mengingatkan Kirana pada masa-masa saat Arya masih hidup ketika keduanya saling membantu orang asing tanpa berpikir panjang.

Ia menarik napas kecil. "Ya sudah, Mas. Ini dua puluh ribu, dipakai dulu."

Pria itu terperangah. "Serius, Mbak? Terima kasih banyak, ya Allah..." Ia menerima uang itu dengan kedua tangan. "Mbak tinggal di mana? Biar nanti saya balikin. Jangan khawatir, saya orangnya amanah."

Kirana menggeleng cepat. "Nggak usah dibalikin, Mas. Anggep aja buat nolong orang yang lagi kesusahan. Saya juga pulang buru-buru."

Pria itu tampak makin kikuk, seperti salah tingkah karena diberi tanpa syarat.

"Kalau gitu... boleh tahu nama Mbak siapa?" tanyanya sopan.

"Kirana," jawabnya singkat.

"Nama saya Yuda, Mbak. Sekali lagi makasih banyak. Semoga rezeki Mbak lancar."

Kirana hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya. Begitu jauh beberapa meter, barulah ia menghembuskan napas panjang yang berat.

Uangnya kini hanya tersisa tiga puluh ribu.

Tadi pagi anak-anak sarapan mie... besok apa ya? pikirnya getir.

Ia bukan menyesal telah menolong, tapi kekhawatiran mulai menghimpit dadanya. Setiap rupiah bagi mereka sangat berarti.

Namun Kirana mengangkat dagu, mencoba menguatkan diri seperti biasa.

Allah nggak pernah tidur. Rezeki nggak akan tertukar.

Ia menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat, lalu melanjutkan perjalanan pulang. Hari masih sore, tetapi langkahnya terasa semakin berat.

Di kejauhan, rumah kontrakan kecilnya mulai terlihat. Dan seperti biasa... dua sosok kecil sudah menunggunya di depan pintu.

"ibuuuu!" seru bocah kecil itu sambil berlari kecil menghampirinya.

Arka menyusul.

Kirana tersenyum. Lelahnya hari itu seperti hilang seketika melihat dua anaknya menunggu dengan antusias.

"Kalian udah nunggu lama?" tanya Kirana sambil berjongkok, mengelus rambut Tiara lalu memandang Arka.

"Enggak kok, Bu," jawab Arka. "Tadi Abang baru pulang jam dua lewat dikit."

Kirana menatapnya pelan. "Jam dua lewat...? Bukannya kamu biasanya pulang setengah dua?"

Arka menunduk sebentar. "Tadi Bu Guru ada pembagian tugas kelompok, jadi agak lama, Bu. Maaf ya..."

Kirana menggeleng lembut. "Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma nanya. Yang penting kamu pulang aman."

Ia berdiri dan membuka pintu rumah yang telah Arka kunci dari dalam. Begitu masuk, Kirana melihat meja kecil di ruang tengah kosong. Tidak ada piring atau gelas tersisa.

"Arka... Tiara... kalian udah makan siang belum?" tanya Kirana hati-hati.

Arka menatap Tiara sekilas sebelum menjawab, "Belum, Bu."

Kirana menatapnya lebih dalam, menyadari Arka berusaha terlihat biasa saja. "Kenapa belum makan? Kan tadi Ibu udah bilang uang jajannya Arka dipakai buat lauk di warung."

Hati Kirana mencelos sejenak-Ia lupa bahwa buku Arka memang tinggal beberapa lembar.

"Terus Tiara kenapa nggak makan?" tanya Kirana lembut.

Tiara yang sedari tadi memeluk kaki ibunya menjawab polos, "Tiara nunggu Ibu... mau makan bareng Ibu..."

Kirana merasa dadanya sesak. Bukan karena marah, tapi karena sedih melihat kedua anaknya menahan lapar untuk alasan sesederhana itu.

Arka buru-buru menambahkan, "Abang nggak apa-apa kok, Bu. Abang nggak lapar banget."

"Tapi perut kamu bunyi dari tadi," celetuk Tiara tanpa rasa bersalah.

Arka langsung menatap adiknya, memerah, sementara Kirana menutup mulut menahan senyum pedih.

"Ya sudah," ucap Kirana pelan. "Ibu masak dulu ya. Hari ini kita makan seadanya dulu. Yang penting perut kalian isi."

Arka mengangguk, sementara Tiara menyenderkan kepala di pinggang ibunya.

Kirana berjalan ke dapur kecil mereka, membuka lemari bahan makanan-yang isinya hanya mie instan tersisa satu bungkus, sedikit beras, dan telur tiga butir.

Ia menatapnya lama.

Tiga perut, satu dapur yang hampir kosong.

Lalu ia menghela napas... dan memilih tetap tersenyum.

Bagaimanapun caranya, malam ini mereka harus makan.

1
Kharisma Afifa
bisa dijadiin crita lanjutan nih kyaknya 😄
Kharisma Afifa
mau nglamar kirana yud 😄
Kharisma Afifa
lho bukanya pke mobil ya, kok meletakan helm🤭
Ranita Rani
oleng kog keterusan,,motor pa mobil thor
Diandra Kim
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ning Suswati
dasar anak2 cinta monyet, mungkin seringnya ketemu dan waktu kecil cuma lilis teman bergaul mereka sebelum punya pa2 sambung
Ning Suswati
alhamdulilah karina sdh sadar, cepat sehat y anak2 menunggu dirumah
Ning Suswati
waauuuuu, puyya suami paket komplit, ada gk y di dunia nyata, kebanyakan suami itu selalu perhatian dan mendahulukan kepada orang lain, kalau dirumah, anak isteri dinomor duakan
Ning Suswati
kok segitu amat sih, gk usah dipedulikan dan dibantu terus, anaknya sdh pada mandiri dan besar, apalagi coba, kok dirongrong oleh kekuarga luar gk penting banget
Ning Suswati
jgn2 liam sama tiara emang jodoh
Ning Suswati
kok ujuk2 sdh nambah terus, seneng banget yudanya bikin anak
Ning Suswati
jgn2 monicanya gk sekolah kedokteran, tapi menjual diri demi memenuhi hidup mewah dg mudah, kalau emang dokter,masa gk mau cari kerja
Ning Suswati
waaaw sesuatu bangeeet, punya paksu
Ning Suswati
seru dan tegang tapi jgn sampe bikin jantungan y thor🤣
Ning Suswati
emang ada keluarga yg sering moroti dan manfaatin, gk di kasih malah dimusuhin🤭
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣 sarah2 gk malu hiduo bergantung pada saudara, punya anak laki memelihara jalang, ya seberapa penghasilan amblas, seng wesok tamatan dokter kerjaanya sok2an gk mau kerja,
Ning Suswati
jgn2si monica nya bukan kuliah kedokteran, tapi dokter2an, masa seorang gk mau cari kerja, dokter kan sangat mudah mencari kerja atau buka praktek, masa punya ilmu gk diaplikasikan, kan biaya kuliahnya sangat2 besar
Ning Suswati
biasanya manusia berwatak gk jelas gitu,hukuman masyarakat yg lebih kejam yg mampu membuatnya malu
Ning Suswati
namanya juga emak2 kampung ada yg julid berlebihan ada yg kepo, iri, gk boleh lihat orang bahagia, mau diladeni, kita yg dibilang stres
Ning Suswati
cerita gimana sih, dulu kan rumahnya ngontrak, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!