NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Pria misterius

Salwa masih duduk tergolek lemas di bangku halte yang reyot itu. Tubuhnya menggigil hebat, kedinginan karena sisa gerimis yang masih turun halus, bercampur dengan lelah dan rasa sakit yang menyerang setiap inci tulangnya. Pikirannya kacau, matanya nanar menatap jalanan yang gelap dan sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya. Ia merasa seperti sampah yang terbuang, ditinggalkan dunia di tengah malam yang dingin.

Tiba-tiba, suara deru mesin kendaraan terdengar mendekat, memecah kesunyian malam. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan halte itu, lampu utamanya menyilaukan pandangan Salwa yang sudah lemah. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat siapa yang datang, namun hatinya justru berdebar takut. Di jam selarut ini, di tempat yang sepi begini, siapa lagi yang akan lewat? Apakah nasib buruknya belum selesai?

Pintu penumpang depan terbuka perlahan. Seorang pria melangkah turun, tegap dan tinggi besar. Ia mengenakan jas hitam yang rapi, tampak sangat kontras dengan keadaan Salwa yang kotor, basah, dan kusut masai. Pria itu berjalan perlahan mendekati gadis itu, langkahnya tenang namun berwibawa, seolah setiap gerakannya memiliki kekuatan tersendiri.

Salwa menegakkan tubuhnya sekuat tenaga, berusaha mundur sedikit menjauh, namun ia terlalu lelah untuk bergerak jauh. Ia menatap pria itu dengan waspada, napasnya memburu. Saat wajah pria itu mulai terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalan yang remang, Salwa mengerutkan keningnya dalam kebingungan.

Ia tidak mengenali wajah itu sama sekali.

Pria itu tampan, namun ada kilatan dingin dan tajam di balik matanya yang gelap. Wajahnya tegas, terkesan keras dan tertutup, tanpa senyum sedikit pun. Ia berdiri tepat di hadapan Salwa, menatap lurus ke manik mata gadis itu seolah sedang menelusuri sesuatu yang tersembunyi. Tatapan itu membuat Salwa merasa tak nyaman, seolah-olah seluruh isi hatinya sedang dibaca oleh orang asing ini.

"Berdirilah," ucap pria itu. Suaranya berat, rendah, dan terdengar sangat berwibawa bukan perintah yang kasar, tapi kalimat yang seolah tak bisa dibantah.

Salwa tertegun. Ia hanya diam terpaku, menatap balik pria itu dengan pandangan bingung, penuh tanda tanya di benaknya. Kenapa orang asing ini menyuruhnya berdiri? Siapa dia? Apa maunya?

"Apa... maksud anda ?" tanya Salwa pelan, suaranya masih parau dan bergetar. "Saya... saya tidak kenal anda , tuan . Siapa anda sebenarnya? Apa keperluan anda datang ke sini?"

Pria misterius itu hanya diam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman yang sama sekali tidak hangat senyum yang dingin, penuh rahasia, dan entah kenapa membuat dada Salwa semakin sesak. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, malah mengulangi ucapannya dengan nada yang sedikit lebih tegas namun tetap tenang.

"Berdirilah, Salwa. Jangan tinggal di sini sampai pagi."

Mata Salwa membelalak kaget. Ia menyebut namanya? Bagaimana dia tahu namanya? Semakin besar rasa bingung dan curiga yang merayapi hatinya.

"Kok anda tahu nama saya? Siapa anda sebenarnya ? Tolong jawab saya..." desak Salwa lagi, berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya, meski tubuhnya masih gemetar.

Pria itu tidak menjawab pertanyaan itu juga. Ia malah mengulurkan tangan kanannya ke arah Salwa, namun tetap dengan wajah yang datar dan dingin.

"Masuklah ke dalam mobil bersamaku," ajaknya pelan. "Tidak perlu banyak bertanya sekarang. Semua hal yang ingin kau ketahui siapa saya , kenapa saya ada di sini, dan apa tujuan saya akan saya jelaskan semuanya nanti. Kalau kita sudah sampai ke tempat tujuan."

Salwa menatap tangan itu, lalu kembali menatap wajah pria itu. Di satu sisi, rasa takut dan curiga melingkupi hatinya. Bagaimana mungkin ia mau pergi dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal? Tapi di sisi lain, ia sadar betul: ia tidak punya tempat lain. Ia tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya siapa-siapa. Tinggal di sini, ia hanya akan mati kedinginan atau menjadi sasaran kejamnya dunia. Sedikit pun tidak ada harapan baginya jika tetap tinggal di bangku reyot ini.

Dan ada sesuatu dalam tatapan pria itu—meski dingin dan misterius yang membuat Salwa merasa entah bagaimana caranya, pria ini adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa baginya saat ini. Entah itu jebakan atau pertolongan, Salwa sudah tidak punya pilihan lagi.

Dengan napas panjang yang berat, Salwa mengangguk pelan. Ia menerima uluran tangan itu. Tangan pria itu besar, hangat, dan menggenggam jari-jarinya yang dingin dan beku dengan kuat namun tidak kasar. Pria itu menariknya berdiri hingga tubuh kecil Salwa tegak sepenuhnya, meski masih terhuyung sedikit karena lemas.

"Baiklah..." gumam Salwa lirih, menelan ludah dengan susah payah. "Saya ikut anda . Tapi ingat... anda harus menjelaskan semuanya nanti."

Pria itu hanya mengangguk singkat, senyum dingin itu masih terselip di bibirnya. Ia menuntun Salwa masuk ke dalam mobil mewah itu, menutupkan pintu dengan lembut, lalu berputar kembali ke sisi pengemudi.

Saat mobil itu mulai melaju meninggalkan halte tua itu, menjauh dari jalanan yang menjadi saksi kehancurannya malam itu, Salwa melirik ke samping ke arah pria misterius yang sedang menyetir dengan tenang. Di dalam hatinya, rasa penasaran bercampur rasa takut dan harapan yang samar.

Ke mana dia akan membawaku? Siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan hidupku yang hancur ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu bergema terus di kepalanya, namun Salwa berjanji pada dirinya sendiri: apa pun yang terjadi di depan nanti, apa pun penjelasan pria ini, ia sudah bukan lagi Salwa yang lemah dan polos. Ia adalah wanita yang penuh luka dan dendam, yang bertekad bangkit. Dan jika pria ini berniat jahat, Salwa berjanji dalam hati ia akan melawannya sekuat tenaga, sama seperti ia berjanji akan membalas Yogie dan keluarganya kelak.

Mobil itu terus melaju membelah kegelapan malam, membawa Salwa pergi menuju takdir baru yang entah akan membawa bahagia atau petaka.

Sekitar tiga puluh menit berlalu sejak mobil itu melaju meninggalkan halte tua. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kabin mobil mewah itu. Salwa hanya diam menatap pemandangan jalanan yang berganti, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, sementara pria misterius di sampingnya menyetir dengan tenang, wajahnya tetap datar dan tak terbaca.

Hingga akhirnya, mobil itu berbelok melewati gerbang besi tinggi yang terbuka otomatis, lalu masuk ke kawasan perumahan elit yang sangat sepi dan asri. Di ujung jalan setapak yang dipenuhi pepohonan rindang, tampaklah sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di bawah cahaya lampu taman yang indah.

Mobil berhenti tepat di halaman depan. Salwa tertegun, matanya terbelalak lebar menatap bangunan di hadapannya. Napasnya tertahan. Ia mengira rumah keluarga ayah tirinya sudah cukup bagus dan nyaman, bahkan sering dibanggakan oleh ibu dan saudara tirinya sebagai rumah yang mewah. Tapi melihat bangunan di depannya ini, rasanya rumah itu tak ada artinya sama sekali.

Rumah ini... sepuluh kali lipat lebih besar, sepuluh kali lipat lebih indah, dan sepuluh kali lipat lebih mewah dari apa pun yang pernah dilihat Salwa seumur hidupnya. Arsitekturnya tampak megah namun elegan, dikelilingi taman luas yang tertata rapi dengan kolam kecil dan air mancur yang masih memancarkan air. Cahaya lampu yang hangat memancar dari balik jendela-jendela besar, memberikan kesan kemewahan yang mendalam namun tetap berkelas.

Bersambung ,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!