Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Ditengah Abu
Waktu seolah berhenti berputar saat balok kayu yang menyala di tangan Sera terlempar ke udara, meluncur cepat mengarah tepat ke dada Dewa yang sedang memeluk erat tumpukan dokumen berharga itu. Di mata wanita itu, terbayang kemenangan yang mutlak, keyakinan bahwa dalam beberapa detik lagi, semua masalahnya akan habis terbakar menjadi abu bersama pria yang ia cintai secara obsesif dan wanita yang ia benci sepenuh hati.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya jauh di luar dugaan Sera.
Dewa, yang naluri bertahan hidup dan rasa cintanya pada Naura telah mempertajam seluruh indranya, tidak berdiam diri menunggu hantaman itu. Dengan sigap dan kecepatan yang tak terduga mengingat panas dan asap yang mengelilinginya, ia miringkan tubuhnya ke samping. Balok kayu itu meleset sedikit, menghantam lantai tepat di samping kakinya, memercikkan bara api ke segala arah dan menambah kobaran api yang sudah menjadi dinding pemisah antara Dewa dan Naura.
"Kau?!" seru Dewa dengan suara menggelegar yang bercampur amarah membara. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Sera, menembus kabut asap, penuh kekecewaan sekaligus kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Jadi benar... kau yang melakukan semua ini! Kau yang membakar rumahku, kau yang berusaha membunuhku, dan kau yang selama ini memutarbalikkan fakta!"
Sera tersentak mundur selangkah. Topeng keanggunan dan kepedulian yang selama sepuluh tahun ia kenakan itu akhirnya jatuh sepenuhnya. Tidak ada lagi senyum manis, tidak ada lagi nada suara lembut. Yang tersisa hanyalah wajah yang bengkok karena kebencian, mata yang menyala penuh kegilaan, dan tawa dingin yang mengerikan menggema di tengah suara derak api.
"Sudah terlambat kau menyadarinya sekarang, Angkasa!" seru Sera balik, suaranya melengking tinggi, tidak lagi berusaha menyembunyikan sisi aslinya. "Aku melakukan semua ini demi kamu! Demi kita! Selama sepuluh tahun aku ada di sampingmu, membantumu bangkit, menemanimu memupuk dendam, dan memastikan kau membenci keluarga Zafira itu sampai ke tulang sumsum! Aku melakukan itu agar kau hanya melihatku, agar kau hanya membutuhkanku! Lalu apa balas budimu? Kau malah menikahi gadis bodoh itu! Kau malah mulai mencarikan kebenaran yang seharusnya sudah dikubur dalam-dalam!"
Sera menunjuk ke arah Naura yang masih berdiri di dekat jendela, wajahnya penuh kebencian yang meluap-luap.
"Dan dia... wanita tidak tahu diri itu! Dia datang merampas segalanya! Dia membuat kau ragu, dia membuat kau mulai melupakan semua penderitaanmu! Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan memastikan malam ini menjadi akhir dari segalanya. Kau, dia, dan semua kertas sampah yang kau peluk itu... semuanya akan menjadi abu, dan aku akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang kau ingat selamanya!"
Naura yang mendengar semua pengakuan itu dengan jelas, berdiri kaku terpaku. Ia tidak menyangka bahwa kebencian yang ia terima, penderitaan yang ia alami, dan bahaya yang kini mengancam nyawanya, semuanya bermula dari rasa cinta yang salah dan kegilaan wanita di depannya ini. Selama ini ia menyalahkan nasib, menyalahkan ayahnya, menyalahkan dendam Dewa... tapi ternyata, ada tangan jahat yang menggerakkan semua benang ini dari balik layar.
"Kau gila, Sera!" teriak Naura, suaranya bergetar namun tegas. "Kau menghancurkan nyawa orang lain hanya demi keinginanmu sendiri! Kau membiarkan Dewa hidup dalam kebohongan dan rasa sakit bertahun-tahun hanya agar kau terlihat baik di matanya!"
"DIAM KAU!" Sera membentak keras, matanya melotot menatap Naura. "Semua ini gara-gara kau! Jika kau tidak ada di sini, semuanya akan tetap indah seperti dulu! Kau dan ayahmu... sama saja! Selalu menjadi penghalang kebahagiaan orang lain!"
Sera kembali mengangkat sepotong kayu besar yang masih menyala di ujungnya, berniat menerobos masuk melewati celah api yang semakin menyempit, bertekad menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Namun, gerakannya terhenti saat suara gaduh lain terdengar dari arah lorong utama. Suara teriakan orang-orang, suara langkah kaki banyak orang berlari mendekat, dan suara sirine kendaraan yang terdengar makin jelas dari kejauhan.
"Tuan Dewa! Nyonya Naura! Kami datang!" suara Raga terdengar jelas, diikuti suara Bi Inah dan para pelayan lain yang berusaha memadamkan api dengan selimut dan ember air.
Wajah Sera berubah pucat. Bantuan datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Rencananya untuk menghapus jejak dan memastikan tidak ada saksi yang tersisa mulai gagal. Ia menoleh ke arah Dewa yang masih terkurung di sisi dalam, lalu ke arah Naura yang mulai berusaha kembali mendekat meski panas menyengat. Ia tahu, jika ia tertangkap sekarang, segalanya akan berakhir baginya.
Namun, sifat jahat dan dendamnya tidak membiarkannya pergi begitu saja tanpa meninggalkan luka yang dalam. Sera menatap tajam ke arah Dewa, lalu ke arah Naura, dengan senyum miring yang penuh ancaman.
"Kau pikir ini sudah selesai, Angkasa? Kau pikir kebenaran itu akan membuatmu bahagia?" ucap Sera dengan nada rendah dan dingin, seolah sedang mengutuk mereka berdua. "Kau baru mengetahui sebagian kecil saja. Masih banyak rahasia yang jauh lebih gelap, jauh lebih menyakitkan, yang akan menghancurkanmu saat kau menemukannya. Dan ingatlah ini selama aku masih bernapas, aku tidak akan pernah berhenti membuat hidupmu dan wanita itu menjadi neraka!"
Dengan cepat, Sera berbalik dan berlari menjauh, menghilang di balik asap tebal di ujung lorong lain, melarikan diri sebelum ada yang sempat mencegatnya.
Kepergian Sera membuat suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara derak api yang masih berkobar. Dewa tidak membuang waktu. Ancaman Sera dan bahaya api yang semakin membesar tidak bisa ia abaikan lebih lama lagi. Ia menatap Naura di seberang dinding api itu, matanya memancarkan tekad baja.
"Naura! Dengarkan aku!" teriak Dewa sekuat tenaga agar terdengar di tengah suara gemuruh itu. "Lompatlah keluar lewat jendela itu! Raga dan yang lain sudah ada di bawah, mereka akan menangkapmu! Aku akan menyusul lewat sisi lain! Pergi sekarang, sebelum atap ini runtuh!"
Naura menggeleng kuat, air matanya kembali menetes bercampur keringat. "Tidak! Aku tidak mau pergi sebelum kau selamat! Dinding api ini terlalu tebal, kau tidak bisa lewat!"
"Kau harus percaya padaku!" jawab Dewa, suaranya melembut namun tetap tegas. "Ini perintahku sebagai suamimu, dan permintaanku sebagai pria yang tidak ingin kehilanganmu. Pergilah! Demi kebenaran yang kita cari, demi masa depan yang mungkin bisa kita miliki... kau harus selamat, Naura!"
Kata-kata itu sebagai pria yang tidak ingin kehilanganmu menusuk jantung Naura sekaligus memberinya kekuatan yang luar biasa. Ia menatap Dewa lekat-lekat, mencoba mengingat setiap garis wajah pria itu di bawah cahaya merah api, lalu perlahan mengangguk. Ia tahu, jika ia tetap di sini, ia hanya akan menjadi beban. Ia harus selamat, agar mereka bisa bertemu lagi, agar mereka bisa mengungkap semua kejahatan Sera bersama-sama.
Dengan berat hati, Naura memanjat ke ambang jendela yang tinggi itu. Angin malam yang dingin langsung menerpa tubuhnya, kontras dengan panas yang ia rasakan sepanjang malam ini. Di bawah sana, Raga dan beberapa pelayan sudah berkumpul dengan menggelar kasur tebal dan selimut bertumpuk sebagai alas.
"Lompat saja, Nyonya! Kami sudah siap!" teriak Raga mengangkat wajah ke atas.
Naura menoleh sekali lagi ke belakang, ke arah Dewa yang masih berdiri di tengah kobaran api, memeluk dokumen itu seolah itu adalah nyawanya sendiri. Dewa mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia segera turun. Dengan napas panjang, Naura melompat ke bawah, membiarkan gravitasi membawanya jatuh ke dalam pelukan keamanan yang disiapkan orang-orang setia itu.
Hantaman ke tanah terasa sedikit menyakitkan, namun rasa lega yang luar biasa langsung menyelimuti dirinya saat ia menyadari ia sudah berada di luar, di udara terbuka, aman dari jilatan api. Namun, rasa lega itu segera berubah menjadi kecemasan yang berkali-kali lipat lebih besar saat ia menyadari Dewa belum keluar.
"Dewa... Dewa masih di dalam!" teriak Naura histeris, berusaha bangkit dan berlari kembali ke arah pintu masuk yang sudah nyaris tertutup api, namun ditahan kuat oleh Bi Inah dan pelayan lain.
"Tahan dia! Jangan biarkan dia masuk lagi!" perintah Bi Inah sambil menangis, memeluk tubuh muda itu agar tidak memberontak. "Tuan Dewa pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri, Nyonya! Tuan Dewa orang yang kuat!"
Di dalam ruangan yang kini suhunya sudah tak terbayangkan panasnya, Dewa berdiri sendirian. Atap di atas kepalanya mulai berderak keras, tanda akan segera runtuh. Debu dan potongan kayu kecil mulai berjatuhan. Ia menatap tumpukan dokumen di pelukannya bukti yang bisa membalikkan nasib mereka, bukti yang membuktikan bahwa ayah Naura mungkin tidak bersalah, bukti bahwa Sera telah memanipulasi segalanya. Ia tidak boleh membiarkan ini habis terbakar.
Dengan sisa tenaga yang ada, Dewa melilitkan jaket jas tebalnya ke sekeliling berkas-berkas itu, melindunginya sebaik mungkin. Ia melihat ke arah jendela tempat Naura melompat tadi, lalu ke arah sisa dinding yang mulai runtuh di sisi lain. Ia harus mengambil risiko.
"Kau belum menang, Sera..." gumam Dewa di antara napas beratnya. "Kebenaran tidak akan pernah mati, meski kau mencoba membakarnya berkali-kali."
Dewa menarik napas dalam-dalam, menahan rasa panas yang menyengat paru-parunya, lalu berlari sekuat tenaga menerobos sisa-sisa api yang menghalangi jalan menuju celah dinding yang sudah mulai bolong karena panas. Ia merasakan kulitnya terbakar, napasnya terasa menyakitkan, tapi ia tidak berhenti. Di luar sana, ada Naura yang menunggunya. Di luar sana, ada kebenaran yang harus ia ungkapkan.
Di halaman depan, para pemadam kebakaran akhirnya tiba, menyemprotkan air deras ke seluruh bagian bangunan yang terbakar. Asap putih bercampur dengan asap hitam, menciptakan kabut tebal yang menyelimuti seluruh halaman. Di tengah kabut dan percikan air itu, sosok berjalan terhuyung-huyung keluar dari sisa pintu samping yang sudah hampir rata dengan tanah. Sosok itu berjalan tertatih, pakaiannya hangus di beberapa bagian, wajahnya penuh jelaga, namun tangannya tetap memeluk sesuatu di dadanya seolah itu harta paling berharga.
"Dewa!" jerit Naura, melepaskan diri dari pegangan Bi Inah dan berlari secepat mungkin menuju sosok itu.
Dewa hampir ambruk ke tanah, namun ia menahan dirinya saat tubuh kecil itu menabrak dadanya, memeluknya erat-erat seolah takut ia akan hilang lagi. Naura menangis tersedu-sedu, membenamkan wajahnya di dada pria itu, merasakan detak jantung yang masih berdenyut hidup, merasakan kehangatan tubuh itu meski penuh luka dan debu.
"Aku pikir... aku pikir kau tidak akan keluar lagi," isak Naura, tangannya gemetar merangkul pinggang Dewa. "Maafkan aku... maafkan aku karena membuatmu terjebak dalam semua ini."
Dewa mengangkat tangannya yang lelah dan melepuh, mengusap rambut wanita itu dengan lembut, lalu menempelkan pipinya di atas kepala Naura. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seketika hilang tergantikan oleh rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di tengah puing-puing rumahnya yang hangus, di tengah malam yang penuh teror dan kebencian ini, ia menemukan satu hal yang jauh lebih berharga daripada segala harta atau kekuasaan: kehadiran wanita ini.
"Jangan minta maaf," bisik Dewa parau, matanya terpejam menikmati momen itu. "Justru aku yang harus berterima kasih padamu. Kau yang membuatku sadar. Kau yang membuatku berani menghadapi kebenaran, meski pahit. Kau yang membuatku ingin tetap hidup, Naura."
Dewa perlahan melepaskan pelukan itu, lalu menatap wajah wanita di depannya wajah yang penuh air mata dan debu namun tetap begitu indah dan berani. Ia mengangkat tumpukan dokumen yang kini sedikit lembap namun utuh terselubung di dalam jasnya.
"Kita selamatkan semuanya," ucap Dewa pelan namun penuh kemenangan. "Bukti ini... kebenaran ini... dan kita berdua. Kita selamat."
Namun, di balik rasa lega itu, tatapan Dewa kembali menajam. Ia teringat ancaman terakhir Sera. Masih banyak rahasia yang jauh lebih gelap.
Dewa tahu, kepergian Sera bukan berarti akhir dari segalanya. Wanita itu tahu banyak hal, wanita itu terlibat sangat dalam, dan wanita itu bersumpah akan menghancurkan mereka. Dan yang lebih mengganggu pikiran Dewa sekarang adalah apa lagi yang disembunyikan? Apakah manipulasi Sera hanya sebatas memutarbalikkan bukti? Atau ada dosa-dosa lain, mungkin bahkan kematian ayahnya dulu, yang ternyata bukan kecelakaan biasa?
Matahari mulai mengintip samar di ufuk timur, menyaksikan kediaman megah keluarga Buwana yang kini tinggal puing-puing berasap. Di tengah reruntuhan itu, dua orang yang dulu saling membenci kini berdiri berdampingan, terikat oleh kebenaran yang baru saja mereka perjuangkan dengan nyawa.
Namun, di kejauhan, di balik bayang-bayang pepohonan yang gelap, sepasang mata masih menatap tajam ke arah mereka. Sera belum pergi jauh. Ia melihat semuanya. Ia melihat mereka selamat. Ia melihat bukti itu terselamatkan. Dan di benaknya yang gila, rencana baru yang jauh lebih kejam mulai disusun.