"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian ketua Tim
Deru mesin bus akhirnya mereda saat kendaraan kecil itu berbelok memasuki area pom bensin yang cukup luas. Perjalanan panjang mereka kini sudah berjalan separuh jalan, menyisakan sekitar dua jam lagi sebelum benar-benar tiba di lokasi KKN.
"Teman-teman, kita istirahat di sini dulu tiga puluh menit, ya! Yang mau ke toilet atau cari makan siang silakan turun," seru Wisnu dengan suara lantang, mengomandoi anggota kelompoknya dari bagian depan bus.
Pengumuman dari sang ketua disambut helaan napas lega oleh seluruh isi bus yang sudah mulai merasa pegal. Satu per satu dari dua belas mahasiswa itu mulai turun, termasuk Kanaya. Ia merapikan rambut sebahunya sebentar, lalu melangkah turun untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku dan mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
Wisnu, yang sejak tadi duduk di sebelahnya, dengan sigap menyamai langkah Kanaya begitu mereka menapak di aspal rest area. "Kanaya, mau cari makan siang bareng? Di sebelah sana ada warung makan yang kelihatannya lumayan bersih," tawar Wisnu ramah.
Kanaya sempat terdiam sejenak, namun akhirnya mengangguk tipis. "Boleh, Kak."
Sementara itu, Arman turun paling belakangan dari pintu belakang bus. Matanya langsung menangkap siluet Kanaya yang berjalan beriringan dengan Wisnu menuju area pujasera. Pemandangan itu bagai jarum yang menusuk hatinya perlahan-lahan.
Dua tahun lalu, ialah yang selalu berada di samping Kanaya, memastikan perempuan itu tidak telat makan dan memesankan menu favoritnya. Namun kini, Arman hanya bisa berjalan jauh di belakang mereka, mengekor dalam sunyi di antara ramainya rest area, menelan bulat-bulat rasa cemburu yang sama sekali tidak punya hak untuk ia suarakan.
"Man! Arman! Yuk, bareng ke sana!"
Panggilan dari beberapa anggota laki-laki lain membuyarkan lamunan Arman. Mereka menghampiri Arman dan merangkul bahunya santai, mengajak laki-laki yang sejak tadi paling pendiam itu untuk ikut bergabung mencari makan siang. Kebetulan, mereka berjalan menuju deretan warung makan yang sama dengan tempat yang dituju oleh Wisnu dan Kanaya.
Arman sempat bimbang sejenak. Menolak ajakan ini hanya akan membuatnya terlihat aneh di mata teman-teman barunya, tetapi ikut bersama mereka berarti ia harus duduk dalam satu area yang sama dengan Kanaya.
"Oh, iya. Boleh, yuk," jawab Arman akhirnya dengan senyum yang dipaksakan.
Warung makan yang mereka pilih cukup luas, dengan beberapa meja panjang yang digabung menjadi satu agar bisa memuat seluruh anggota kelompok KKN mereka yang berjumlah genap: enam laki-laki dan enam perempuan. Kebetulan, saat rombongan Arman tiba, Wisnu dan Kanaya sudah duduk lebih dulu di salah satu ujung meja.
"Sini, Man, kosong!" ajak salah satu teman, menunjuk kursi yang berada di sisi seberang meja.
Arman duduk di sana. Posisi itu membuatnya berada dalam jarak pandang yang cukup dekat dengan Kanaya, terpisahkan oleh beberapa anggota lain di antara mereka. Bau aroma soto dan nasi hangat yang mengepul di meja sama sekali tidak membangkitkan selera makan Arman. Fokusnya terbagi penuh.
Dari tempatnya duduk, Arman bisa melihat bagaimana Wisnu memperlakukan Kanaya dengan sangat perhatian—mulai dari mengambilkan sendok yang bersih hingga menanyakan apakah Kanaya menyukai menu yang dipesan. Sementara itu, Kanaya tampak merespons dengan anggukan dan senyum sopan. Selama momen itu berlangsung, tidak sekali pun Kanaya mengarahkan pandangannya pada Arman. Bagi Kanaya, Arman benar-benar seperti tidak kasat mata, membuat tenggorokan Arman terasa semakin tercekat bahkan hanya untuk sekadar menelan segelas air putih.