Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Tipis
Langkah kaki Asher yang berat akhirnya berhenti tepat di ujung meja makan mahoni. Kursi kebesaran berbahan beludru hitam itu bergeser pelan saat Asher menariknya, menciptakan cicitan halus yang terdengar nyaring di dalam ruangan yang mendadak senyap. Pria itu mendudukkan tubuh masifnya dengan keanggunan yang dingin, melipat kedua tangannya di atas meja sembari mengunci pandangan matanya langsung pada sosok Chloe.
Suasana mencekam yang ditinggalkan oleh kepergian Kenzo yang terburu-buru masih terasa mengambang di udara. Chloe menundukkan kepalanya sedikit, meremas jemarinya di atas pangkuan untuk menyembunyikan getaran gugup yang kembali mendera sistem sarafnya.
"Tumben sekali kau turun ke ruang makan, Chloe," suara bariton Asher mengalun rendah, memecah keheningan pagi. Nada suaranya datar, namun ada intonasi tajam yang seolah sedang menginterogasi motif di balik keberadaan istrinya di luar kamar utama sepagi ini.
Chloe mengatur napasnya sejenak, mencoba menjaga agar suaranya tetap terdengar tenang dan tidak bergetar. Dia mendongak, membalas tatapan kelabu suaminya seadanya. "Aku... aku hanya ingin suasana baru, Asher. Bosan rasanya jika terus-menerus mengurung diri dan sarapan di dalam kamar."
Asher tidak membalas jawaban tersebut. Dia hanya menaikkan satu alis tebalnya sedikit, mengekspresikan skeptisisme yang mendalam sebelum akhirnya mengalihkan pandangan saat Bi Mirna dan seorang pelayan dapur melangkah masuk membawa baki-baki perak berukuran besar.
Aroma gurih yang menggugah selera dari nasi goreng seafood yang masih ngebul, roti panggang mentega yang kuning keemasan, serta kepulan asap dari sup ayam jahe seketika memenuhi rongga dada. Bi Mirna menata piring-piring porselen berisi hidangan tersebut di bagian tengah meja dengan sangat cekatan, lalu melirik cemas ke arah atmosfer kaku di antara tuan dan nyonya mudanya sebelum akhirnya pamit undur diri kembali ke area belakang.
Melihat tumpukan makanan yang sudah tersaji, insting Chloe untuk mengalihkan perhatian Asher dari kecurigaannya tentang Kenzo langsung bangkit. Dia tahu, bertindak patuh adalah satu-satunya perisai terbaiknya saat ini setelah insiden hukuman liar semalam.
Dengan gerakan yang cepat dan sedikit tergesa-gesa, Chloe bangkit dari kursinya. Dia meraih piring porselen kosong milik Asher yang berada di ujung meja, lalu mulai mengambil sendok besar. Tanpa memikirkan apa saja isi dari hidangan tersebut, Chloe dengan cekatan melayani Asher, memasukkan hampir semua jenis masakan yang ada di hadapannya ke atas piring pria itu.
Satu sendok besar nasi goreng seafood penuh dengan potongan cumi dan udang, dua potong roti panggang mentega, semangkuk kecil sup ayam jahe, hingga hiasan daun peterseli dan potongan paprika mentah yang menjadi garnis di pinggiran piring, semuanya ia jejalkan hingga piring putih itu tampak penuh sesak oleh gunungan makanan.
"Ini... sarapanmu," ucap Chloe sedikit terengah, meletakkan kembali piring yang sudah penuh itu di hadapan Asher dengan kedua tangan yang bergetar samar.
Sepanjang proses itu berlangsung, Asher sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya satu inci pun. Pria itu hanya diam, bersandar pada kursi beludrunya dengan satu tangan menopang dagu kaku miliknya. Sepasang mata kelabunya bergerak lambat, memperhatikan setiap gerak-gerik tangan mungil Chloe yang bergerak panik di atas meja dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa geli yang samar atas kecerobohan istrinya dan penilaian dingin terhadap kepatuhan instan yang sedang ditunjukkan gadis itu.
Setelah Chloe kembali duduk di kursinya, Asher menurunkan tangannya dari dagu. Dia menatap gunungan makanan di hadapannya selama beberapa detik tanpa ekspresi. Alih-alih langsung mengambil garpu dan memakannya, Asher justru meraih sebuah piring porselen kosong lain yang berada di sisi kirinya.
Dengan gerakan yang sangat metodis, tenang, dan perlahan, Asher mulai menggunakan pisau dan garpunya untuk memisahkan makanan-makanan yang tidak dia sukai dari piring utama.
Satu per satu, potongan paprika mentah, hiasan daun peterseli, hingga beberapa potongan udang kecil di dalam nasi goreng dipisahkan oleh Asher dan dipindahkan ke piring kosong di sebelahnya. Pria itu tampak sangat pemilih dan tidak menyukai elemen-elemen tertentu di dalam makanannya, sebuah sisi domestik yang sangat kontras dengan reputasinya yang kejam sebagai algojo dunia bawah tanah.
Chloe memperhatikan setiap detail pergerakan tangan Asher dari seberang meja sembari menyendok nasi gorengnya sendiri ke dalam mulut dengan pelan. Rasa canggung kembali merayap di dadanya saat menyadari bahwa dia sama sekali tidak tahu apa saja preferensi atau hal-hal yang disukai dan dibenci oleh suaminya sendiri. Mereka terikat dalam sebuah pernikahan, namun jarak di antara mereka terasa sejauh ribuan mil laut.
Asher menikmati sarapannya dengan ritme yang teratur dan teramat cepat, seolah waktu adalah komoditas paling berharga yang tidak boleh terbuang untuk sekadar menikmati rasa makanan. Dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, piringnya sudah bersih dari makanan yang ia pilih, menyisakan piring kedua yang berisi tumpukan sayuran dan seafood yang ia tolak.
Tuk.
Asher meletakkan garpu dan pisaunya secara bersamaan di atas piring, menciptakan bunyi dentingan perak yang solid. Pria itu menyeka bibir tipisnya menggunakan sapu tangan kain putih dengan gerakan elegan, lalu bangkit berdiri dari kursinya. Tubuh masifnya yang tinggi tegap seketika menjulang, menciptakan bayangan besar yang mengurung tubuh mungil Chloe dari atas.
Bukannya langsung melangkah pergi menuju pintu keluar, Asher justru memutari meja makan panjang itu dengan langkah kaki yang nyaris tanpa suara. Dia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di belakang kursi tempat Chloe duduk.
Chloe seketika menghentikan kunyahannya, tubuhnya menegang kaku bagai batu saat merasakan hawa dingin dan aroma maskulin familiar milik Asher kembali mendekat secara intim.
Asher mencondongkan tubuhnya ke bawah, menempatkan wajah tampannya tepat di samping daun telinga Chloe yang bersih. Embusan napas hangatnya yang beraroma mint terasa menyapu kulit leher Chloe, mengirimkan gelombang getaran ngeri sekaligus sensasi aneh yang membuat bulu kuduk gadis itu meremajakan diri.
"Jangan pernah coba-coba membuat api dengan Kenzo, Chloe," bisik Asher dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan sarat akan ancaman kepemilikan yang mutlak. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu dingin, menembus langsung ke pusat kesadaran Chloe.
Asher menjeda kalimatnya selama satu detik, membiarkan keheningan malam semalam dan kilasan ciuman liar mereka kembali terbayang di benak Chloe sebagai penekanan nyata atas kekuasaannya. "Dan ingat baik-baik di mana posisimu di dalam mansion ini. Kau adalah istriku—barang tebusan yang hak kepemilikannya berada sepenuhnya di tanganku. Siapa pun yang berada di bawah komandoku, termasuk Kenzo, tidak akan pernah bisa melindungimu jika kau berani melangkah melewati batas aturan yang kubuat."
Kalimat peringatan yang menusuk itu diakhiri dengan sebuah tekanan halus dari jemari kokoh Asher yang sempat menyentuh sekilas pundak kaku Chloe, seolah sedang menancapkan stempel kepemilikan yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh siapa pun.
Begitu kata terakhirnya tersampaikan, Asher langsung menegakkan kembali tubuh tegapnya. Tanpa menunggu respons, tanpa memberikan kesempatan bagi Chloe untuk sekadar menoleh atau membela diri, pria berhati batu itu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi keluar dari ruang makan dengan langkah-langkah besar yang penuh wibawa. Langkah kakinya yang tegas lambat laun menghilang di ujung koridor, pergi menuju mobilnya untuk kembali mengurus bisnis gelap Sterling tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Chloe perlahan meletakkan sendoknya di atas piring dengan tangan yang bergetar hebat. Napasnya yang sempat tertahan di tenggorokan kini terembus keluar dalam sebuah helaan yang panjang dan sarat akan rasa sesak. Suasana ruang makan kembali sunyi, menyisakan dirinya sendirian di hadapan dua piring sarapan milik Asher yang tersisa—sebuah representasi nyata dari hubungan mereka yang penuh dengan penolakan, batasan, dan rantai kekuasaan yang mengikatnya tanpa ampun di dalam istana mewah yang berdarah ini.