Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah di Luar Batas (2)
Shui Xiao Ran membuka matanya dan terbelalak syok ketika melihat sosok Ling Yun yang tiba-tiba muncul tersebut. ‘Murid sekte luar?! Bagaimana bisa dia—’
Sebelum Shui Xiao Ran sempat menyelesaikan pikirannya, Ling Yun yang berada di udara perlahan menarik tangan kanannya ke belakang, mengepalkan nya dengan santai, lalu melayangkan satu pukulan lurus dengan kencang ke arah dahi keras King Kong Tulang tersebut. Tidak ada teknik yang rumit, tidak ada kilatan cahaya yang megah. Hanya sebuah pukulan fisik murni yang digerakkannya.
Walaupun keduanya mempunyai fluktuasi energi ranah pada tingkat yang sama, namun Ling Yun dengan kekuatan empat elemen nya mampu untuk meningkatkan kekuatan tempurnya. Untuk saat ini jika Ling Yun mengeluarkan seluruh kekuatan yang ia punya, ia mampu bersaing dengan seimbang dengan monster atau binatang iblis ranah Pembentukan Inti Tingkat Menengah.
BUMMMMM!!!
Suara ledakan yang dihasilkan begitu dahsyat hingga menciptakan gelombang kejut yang menyapu bersih seluruh kabut hitam dalam radius satu kilometer. Tengkorak hitam sekeras baja milik King Kong Tulang Raksasa di Tahap setengah Langkah menuju Pembentukan Inti itu, lalu hancur berkeping-keping bagai kaca yang dipukul martil.
Raungan monster itu bahkan belum sempat keluar dari tenggorokannya saat seluruh tubuh tulangnya yang setinggi sepuluh meter runtuh, hancur menjadi serpihan debu dalam satu kali hantaman.
Hening.
Suasana di tanah lapang itu mendadak menjadi sangat sunyi hingga suara jatuhnya jarum pun bisa terdengar. Shui Xiao Ran terpaku di tempatnya, mulutnya sedikit terbuka dengan mata yang membelalak lebar. Otaknya seolah berhenti berfungsi. Seorang dari murid Sekte Luar, baru saja membunuh monster setengah langkah menuju Pembentukan Inti dengan satu pukulan tangan kosong?! Kejutannya begitu besar hingga membuat seluruh pandangan dunianya tentang "bakat jenius" runtuh seketika.
Bagaimana mereka tidak syok, monster yang baru saja dihancurkan itu adalah King Kong Tulang Raksasa yang sebentar lagi mencapai ranah Pembentukan Inti. Bagi Shui Xiao Ran dan rekan-rekannya, makhluk itu adalah mimpi buruk berjalan yang bahkan tidak bisa mereka gores meskipun telah menggabungkan seluruh formasi pedang terbaik sekte dalam. Namun dengan mudahnya itu hancur di hadapan seorang murid terlebih lagi dari murid luar sekte mereka, monster mengerikan itu tak lebih dari sekadar tumpukan tulang rapuh yang hancur dalam sekali ketuk. Kontras kekuatan yang begitu tidak masuk akal ini memukul telak harga diri mereka sebagai murid inti, meninggalkan rasa takjub sekaligus ngeri yang teramat sangat di dalam diri mereka.
Ling Yun mendarat dengan anggun di atas tanah. Tanpa melirik sedikit pun ke arah Shui Xiao Ran atau murid sekte dalam lainnya yang masih syok, dia langsung berjongkok di bekas tempat monster itu berdiri. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan hati-hati, Ling Yun memanen seluruh Tanaman Obat Tulang Hitam kualitas puncak ke dalam kantong penyimpanannya.
Setelah selesai, Ling Yun berdiri, menepuk-nepuk debu di jubahnya, dan berbalik arah untuk pergi, langkah kakinya sempat terhenti.
"T-Tunggu... Senior!" panggil Shui Xiao Ran dengan suara bergetar, refleks mengubah sebutannya karena rasa hormat dan takut yang teramat sangat pada kekuatan absolut pemuda di hadapannya. "Siapa... siapa namamu?"
Ling Yun yang menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kebelakang ia pun berkata. "Kau tidak perlu tahu. Urus saja rekan-rekanmu." Ia sempat melirik sekilas kebelakang dan matanya juga sempat bertatapan dengan Shui Xiao Ran, walaupun begitu ia tetap pergi Tanpa menunggu jawaban.
Tubuh Ling Yun berkedip dan menghilang dari pandangan, menyusul Lu Han yang sudah menunggu di jalur keluar. Shui Xiao Ran hanya bisa berdiri terpaku menatap tempat kosong itu, jantungnya berdetak kencang dengan bayangan punggung Ling Yun yang tertanam dalam di dalam benaknya.
...----------------...
Sementara itu, di waktu yang sama, jauh di dalam kompleks Sekte Luar Langit Abadi.
Di dalam ruangan Aula Pengawas yang megah dan tertutup, atmosfer terasa sangat mencekam. Tetua Mo sedang berdiri di depan sebuah meja kayu cendana, namun seluruh tubuhnya kini dibasahi oleh keringat dingin yang mengucur deras hingga membasahi jubah megahnya. Wajah tuanya pucat pasi, dan kedua tangannya bergetar hebat.
Di atas meja di hadapannya, berserakan belasan pecahan batu giok yang hancur berantakan. Itu adalah jimat giok kehidupan milik pasukan pembunuh elite yang ia sewa secara rahasia, termasuk tiga giok utama milik para master bertopeng Tahap Akhir Pendirian Fondasi.
KRETEK... PYAR!
Satu jimat giok terakhir yang tersisa mendadak retak dan hancur menjadi serbuk di depan matanya.
"M-Musnah... Semuanya musnah total?!" suara Tetua Mo melengking parau penuh kepanikan. "Bagaimana mungkin?! Lima belas kultivator elite, tiga di antaranya selangkah lagi menuju tahap puncak Pendirian Fondasi! Bagaimana bisa mereka semua mati dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa sempat mengirimkan satu pun sinyal darurat?!"
Ketakutan yang teramat sangat mulai merayap di dada Tetua Mo. Dia menyadari ada sesuatu yang salah, sesuatu yang teramat mengerikan di balik sosok murid baru bernama Ling Yun itu. Namun, sebelum dia bisa menyusun rencana pelarian atau menyembunyikan jejaknya...
Keesokan paginya, di gerbang utama Sekte Luar Langit Abadi.
Matahari baru saja terbit, memancarkan cahaya hangat yang mengusir sisa kabut malam. Dua sosok pemuda berjalan dengan langkah santai melewati jembatan batu gerbang sekte. Pakaian mereka bersih, rambut mereka rapi, dan wajah mereka tampak segar seolah-olah mereka baru saja kembali dari jalan-jalan santai di kota bawah gunung, bukan dari wilayah kematian ekstrem.
Kedatangan Ling Yun dan Lu Han yang dalam kondisi utuh tanpa luka sedikit pun seketika memicu kegemparan luar biasa di antara para murid penjaga gerbang dan murid sekte luar yang sedang melintas. Berita bahwa dua murid baru yang dikirim ke Misi Wajib mematikan telah kembali hidup-hidup langsung menyebar bagai api yang tertiup angin topan, menuju langsung ke arah Aula Pengawas.
Ling Yun berjalan dengan tangan terlipat di balik punggungnya. Di dalam saku jubahnya, jemarinya menyentuh permukaan dingin Kristal Perekam Suara Jiwa yang ia bawa.
Mendongak menatap menara Aula Pengawas yang menjulang di kejauhan, seulas senyuman dingin yang sarat akan niat membunuh melintas di wajah tampan Ling Yun. Permainan catur serangan balik secara legal kini telah siap untuk dimulai, dan hari ini, kepala Tetua Mo adalah taruhannya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.