Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha kecil Dika di hari pertama ujian
Suara bel masuk sekolah bergema keras di seluruh penjuru gedung, memecah keramaian obrolan anak-anak yang sebelumnya masih saling bercerita di halaman. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi tenang dan tertib.
Semua murid segera bergegas menuju ruang kelas masing-masing, mengambil tempat duduk sesuai barisan yang sudah ditentukan, dan menyiapkan alat tulis yang dibawa. Tidak ada lagi canda tawa, yang ada hanyalah wajah-wajah yang beragam—ada yang terlihat gugup, ada yang biasa saja, dan ada pula yang memancarkan rasa percaya diri yang tinggi.
Di sudut belakang ruangan, tepat di dekat jendela yang terbuka lebar, duduklah Dika. Anak kelas dua SD itu duduk tegap di bangku kayunya, kedua tangannya diletakkan di atas meja yang sudah bersih dari buku pelajaran. Hanya selembar kertas buram, pensil, dan penghapus yang tersusun rapi di depannya.
Wajah Dika tampak tenang, namun di dalam hatinya ada semangat yang membara. Dia menatap ke depan, ke arah meja guru tempat kertas ujian sedang dibagikan satu per satu. Sebelum kertas itu sampai ke tangannya, Dika memejamkan matanya sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Di dalam keheningan itu, dia berdoa dengan sungguh-sungguh dalam hatinya, memohon kepada Tuhan agar diberikan kemudahan, kelancaran, dan ketenangan hati saat mengerjakan semua soal nanti.
Dia mengingat kembali semua usaha ibunya, Rania, yang bekerja keras setiap hari demi dirinya dan Naya, mengingat semua waktu belajar yang dia luangkan, serta doa-doa baik dari Mba Siti dan semua orang yang menyayanginya. Semua itu menjadi kekuatan yang mendorongnya untuk berbuat yang terbaik hari ini.
Tak lama kemudian, kertas ujian pun sampai di tangannya. Dika membuka lembaran itu perlahan, membaca petunjuk pengerjaan dengan teliti seperti yang selalu diingatkan oleh Pak Sandi. Begitu tanda mulai diberikan oleh guru pengawas, tangan Dika segera bergerak. Pensil di tangannya menari di atas kertas, menjawab soal demi soal dengan penuh konsentrasi. Matanya bergerak lincah dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, mulutnya sesekali bergerak pelan seolah sedang membaca dan menghitung dalam hati.
Sesekali dia berhenti sejenak, mengerutkan keningnya sedikit saat menemukan soal yang membutuhkan pemikiran lebih dalam, namun tak lama kemudian senyum tipis kembali terbit di bibirnya saat jawaban itu berhasil ditemukan. Dia tidak terburu-buru, dia ingat pesan ibunya—kerjakan dengan tenang dan teliti.
Waktu terasa berjalan begitu cepat, seolah berlari kencang meninggalkan mereka. Tanpa terasa, jam demi jam berlalu, dan suara tanda berakhirnya sesi ujian pun akhirnya terdengar bergema kembali.
“Waktu habis, tolong letakkan alat tulis kalian dan kumpulkan kertas ujian ke depan,” ujar guru pengawas dengan suara tegas namun ramah.
Dika meletakkan pensilnya, menghela napas panjang sambil tersenyum lega. Dia merasa puas dengan apa yang telah dia kerjakan tadi. Semua materi yang dipelajarinya rasanya sudah tercurahkan sepenuhnya di atas lembaran kertas itu.
Dia bangkit berdiri, merapikan barang-barangnya, lalu berjalan keluar kelas bersama teman-temannya dengan langkah ringan dan hati yang gembira. Matahari di luar sudah cukup tinggi, menyinari halaman sekolah dengan cahaya cerah, seolah turut merayakan perjuangan mereka hari ini.
Seperti kebiasaannya setiap hari, Dika membawa bekal makanan yang disiapkan oleh ibunya. Dia berjalan menuju sudut halaman yang paling dia sukai, di bawah sebatang pohon besar yang rindang dan teduh. Daun-daunnya yang lebar menciptakan naungan sejuk, dan angin yang berhembus pelan membuat suasana semakin nyaman.
Dika duduk bersila di atas rumput hijau yang pendek, membuka kotak makanannya. Isinya sederhana saja—nasi putih dengan lauk orek tempe dan telur goreng kesukaannya, tapi bagi Dika, itu adalah makanan paling enak di dunia karena dibuat dengan penuh kasih sayang oleh Rania.
Saat dia sedang asyik mengunyah dan menikmati suasana tenang itu, ada langkah kaki yang mendekat. Saat dia mendongak, ternyata Pak Sandi, guru di sekolah yang sangat dia kagumi, sedang berdiri di sana sambil tersenyum ramah. Pak Sandi pun ikut duduk di samping Dika di atas rumput itu.
“Wah, kebetulan sekali ya, Dika. Kamu selalu memilih tempat teduh ini ya untuk istirahat,” sapa Pak Sandi sambil melihat sekeliling. “Bagaimana tadi? Rasanya bisa tidak mengerjakan soal-soalnya? Ada yang susah tidak?” tanyanya lembut, ingin memastikan keadaan muridnya itu.
Dika menghentikan makannya sebentar, lalu mengangguk dengan semangat. “Bisa, Pak! Kebanyakan soalnya saya sudah pelajari kok. Ada satu dua yang agak bikin mikir lama sedikit, tapi akhirnya ketemu jawabannya juga. Alhamdulillah lancar,” jawabnya dengan wajah berbinar penuh kelegaan.
Pak Sandi tertawa kecil mendengar jawaban itu, merasa bangga melihat sikap siswanya yang selalu positif dan bersemangat. “Baguslah kalau begitu. Bapak senang sekali mendengarnya. Itu tandanya kamu belajar dengan sungguh-sungguh di rumah ya. Ingat ya, Nak, ujian ini bukan cuma soal nilai, tapi juga cara kita mengukur seberapa jauh kemampuan dan usaha kita. Dan Bapak lihat, usaha kamu besar sekali lho.”
Percakapan pun mengalir begitu akrab di antara mereka berdua di bawah pohon itu. Sambil melanjutkan makannya, Dika bercerita banyak hal kepada Pak Sandi. Dia bercerita tentang ibunya yang selalu bekerja keras menjual gorengan, tentang Naya yang lucu tapi sering merepotkan, hingga bagaimana suasana belajarnya di rumah.
Pak Sandi pun tak henti memberikan kata-kata penyemangat dan nasihat berharga. Dia terus memotivasi Dika agar tidak pernah lelah belajar, agar terus menjaga semangat itu tetap menyala, dan meyakinkan bahwa dengan ketekunan seperti ini, naik kelas bukanlah hal yang sulit untuk diraih.
“Dika itu anak yang pintar dan rajin. Bapak yakin, kalau semangat ini terus dijaga, nanti pasti bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan orang tua. Teruskan ya, jangan pernah menyerah meski kadang merasa sulit,” ucap Pak Sandi tulus.
Dika mendengarkan dengan saksama, setiap kata dari gurunya itu dia simpan baik-baik di dalam hati sebagai penyemangat tambahan. Obrolan mereka begitu seru dan menyenangkan, sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa waktu istirahat sudah hampir habis. Tiba-tiba suara bel berbunyi kembali, memanggil semua murid untuk masuk ke kelas masing-masing.
“Waduh, sudah bunyi bel rupanya. Cepat sekali ya waktunya berlalu,” kata Pak Sandi sambil berdiri dan membersihkan debu di celananya.
Dika pun segera menutup kotak makannya, berdiri tegap, lalu menatap wajah Pak Sandi dengan pandangan hormat. “Terima kasih banyak ya, Pak, sudah menemani dan menyemangati saya. Saya masuk kelas dulu ya, Pak.”
“Iya, Nak. Sama-sama. Semangat terus ya untuk sisa ujian besok. Bapak yakin kamu bisa,” jawab Pak Sandi sambil menepuk bahu Dika dengan lembut dan tersenyum melepas kepergian siswanya itu.
Dika berlari kecil menuju ruang kelas, hatinya penuh dengan sukacita dan rasa syukur. Hari pertama ujian ini dia lalui dengan sangat indah. Meski dia masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, semangat juangnya untuk bisa naik kelas dan membahagiakan ibunya sungguh luar biasa besar.
Sikapnya yang rajin, rendah hati, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik, benar-benar patut diacungi jempol. Di dalam kelas, saat dia kembali duduk di bangkunya, dia berjanji dalam hati, besok dan hari-hari berikutnya pun dia akan tetap seperti ini—penuh semangat, penuh doa, dan penuh harapan untuk masa depan yang lebih baik.