Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Nuan Shuang
Wang Chan berada di pinggiran kota. Ia hanya berjalan tanpa arah, mengikuti naluri yang sulit dijelaskan, merasa bahwa di tempat itu ia akan menemukan Nuan Shuang.
Pinggiran kota itu sunyi. Tidak ada orang, hanya beberapa bangunan kosong yang tidak ditinggali.
Dinding-dindingnya retak, atap-atapnya berlubang, dan ilalang tumbuh subur di halaman-halaman yang tidak terawat.
Angin pagi berembus pelan, membawa debu dan daun-daun kering yang beterbangan.
Wang Chan berhenti di tengah jalan setapak yang sempit. Ia menatap sekeliling, mencoba merasakan keberadaan wanita itu.
Ada getaran samar di mata kirinya, seperti kompas yang menunjuk ke suatu arah.
"Kau mencariku?"
Suara itu lembut, entah kenapa menenangkan.
Seperti air mengalir di atas bebatuan sungai, seperti angin malam yang membawa wangi bunga.
Wang Chan berbalik.
Nuan Shuang terlihat berdiri di depan sebuah rumah kosong, bersandar pada tiang kayu yang usang.
Rambut putihnya tergerai lembut di bahu, kulitnya yang putih bersinar di bawah sinar matahari pagi, dan di wajahnya terukir senyum manis.
Senyum yang tidak berlebihan, tidak dibuat-buat, hanya senyum kecil yang membuat orang merasa diterima.
Wang Chan mengangguk.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Nuan Shuang sedikit mendekat. Langkahnya pelan, ringan, hampir tidak bersuara.
Wang Chan bisa mencium wangi samar dari tubuhnya, wangi yang tidak bisa ia kenali, seperti bunga yang belum pernah ia jumpai.
"Kita berdua terhubung," ucapnya pelan. "Aku bisa merasakan ketika kau sedang mencariku."
Ia mengulurkan tangan, lalu menangkap pergelangan tangan Wang Chan.
Sentuhannya hangat, lembut, dan entah mengapa Wang Chan tidak merasa terganggu.
"Ikut aku."
Tanpa banyak bertanya, Wang Chan hanya mengikutinya.
Nuan Shuang membawanya masuk ke dalam rumah kosong yang dari luar ia kira tidak berpenghuni.
Ternyata ia salah.
Di dalam, rumah itu cukup bagus dan tertata rapi.
Lantainya dari kayu poles yang mengkilap, dindingnya dihiasi lukisan pemandangan gunung dan sungai, dan di sudut ruangan ada meja kecil dengan satu vas berisi bunga segar.
Cahaya masuk dari jendela-jendela yang bersih, menerangi setiap sudut dengan hangat.
Wang Chan melihat-lihat dengan mata terbelalak. Luar dan dalam sangat berbeda.
Rumah yang dari luar terlihat seperti reruntuhan yang tidak terawat, ternyata di dalamnya begitu indah dan nyaman.
"Ini tempat tinggalku untuk saat ini," ucap Nuan Shuang, seolah ia tahu Wang Chan akan menanyakan itu. "Aku tidak suka menarik perhatian. Jadi lebih baik tempat tinggalku terlihat kosong."
Wang Chan mengangguk. Masuk akal.
Seorang kultivator dari alam atas yang terdampar di alam bawah pasti tidak ingin diketahui keberadaannya oleh sembarang orang.
Keduanya kemudian duduk di kursi panjang. Kursi itu empuk, dilapisi kain sutra biru tua, sangat berbeda dengan kursi bambu sederhana di rumah Liu Chiyang.
Wang Chan duduk agak kaku, tidak terbiasa dengan kenyamanan seperti ini.
Nuan Shuang menatap Wang Chan. Matanya yang hijau zamrud terlihat jernih di bawah cahaya pagi, seperti dua kolam yang dalam dan tenang.
"Aku sudah tahu kenapa kau datang."
Wang Chan sedikit terkejut. Alisnya naik, mulutnya setengah terbuka.
"Setelah meniduri seorang wanita, kau malah melarikan diri ke tempatku."
Nuan Shuang tertawa kecil sambil menepuk kepala Wang Chan dengan lembut.
Tepukan itu tidak terasa merendahkan, lebih seperti godaan seorang kakak pada adiknya yang sedang canggung.
Wang Chan tidak membantah. Ia hanya menunduk, menatap tangannya sendiri yang tergenggam di pangkuan.
"Aku tidak tahu. Kurasa ini akan sulit. Aku tidak mengerti..."
Nuan Shuang memiringkan kepala. Rambut putihnya yang panjang jatuh lembut di bahunya, beberapa helai menyentuh lengan Wang Chan.
Tatapannya tenang, tidak tergesa, tidak menghakimi, seolah ia punya waktu sebanyak yang Wang Chan butuhkan.
"Sulit karena hatimu mulai bergerak," katanya pelan. "Atau sulit karena kau takut mengakuinya?"
Wang Chan terdiam cukup lama. Udara di ruangan itu terasa hangat, nyaman, membuatnya ingin berlama-lama. Tapi pikirannya justru semakin kacau.
"Aku tidak pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya."
"Perasaan?"
Wang Chan mengangguk pelan.
"Selama aku hidup, aku tidak pernah mempedulikan itu. Semua orang datang dan pergi."
Ia berhenti sejenak. Matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Aku sendiri jarang memikirkan orang lain, hanya perduli pada diri sendiri."
Nuan Shuang tersenyum tipis. Senyum yang tidak menghakimi, hanya menerima.
"Tapi kali ini berbeda?"
Wang Chan menoleh, menatap Nuan Shuang. Matanya gelap, serius, seperti mencari sesuatu yang selama ini hilang.
"Aku tidak tahu kenapa aku mencarimu lebih dulu."
Itu jujur. Ia langsung mencari Nuan Shuang. Tanpa pikir panjang. Tanpa alasan yang jelas.
"Itu bukan hal buruk."
Nuan Shuang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir di depan mereka.
Airnya jernih, mengalir dari teko tanah liat kecil dengan gerakan yang anggun. Aroma samar memenuhi ruangan sunyi itu, wangi bunga krisan campur madu.
Wang Chan mencium aromanya. Menenangkan. Hangat.
"Kau terlalu terbiasa menghadapi segalanya sendirian," lanjut Nuan Shuang. Tangannya masih memegang teko, menuangkan teh untuk dirinya sendiri. "Saat muncul seseorang yang membuatmu merasa tenang, kau jadi bingung."
Wang Chan menerima cangkir yang disodorkan Nuan Shuang. Ia memegangnya tanpa minum, merasakan hangatnya di telapak tangan.
"Dan wanita itu?" tanya Nuan Shuang lembut. "Apa kau menyukainya?"
Wang Chan mengerutkan kening, benar-benar memikirkannya.
Bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tapi karena ia ingin memastikan bahwa jawaban itu jujur.
"Aku peduli padanya."
"Namun?"
Wang Chan menghela napas.
"Namun saat semuanya selesai... yang terpikir olehku justru dirimu."
Ruangan mendadak sunyi.
Wang Chan tidak membuang muka. Ia menatap Nuan Shuang lurus-lurus, tidak ada rasa malu, tidak ada keraguan.
Hanya kejujuran polos yang keluar begitu saja.
Nuan Shuang menatapnya cukup lama. Matanya yang hijau itu berkedip beberapa kali, seperti sedang memproses kata-kata yang baru saja ia dengar.
Kemudian ia tertawa kecil. Kali ini jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Kalau begitu masalahnya bukan karena kau tidak mengerti perasaanmu," ucapnya.
Ia mendekat sedikit, cukup untuk membuat Wang Chan bisa merasakan hangat tubuhnya.
"Kau hanya takut jawaban itu akan mengubah segalanya."
Wang Chan menatap mata wanita itu tanpa berkedip. Matanya hijau, dalam, seperti lautan yang menyimpan banyak rahasia.
Wang Chan ingin tahu rahasia itu. Atau mungkin ia hanya ingin tenggelam di dalamnya.
"Dan kalau memang berubah?" tanyanya.
Nuan Shuang mengangkat tangan.
Ujung jarinya yang lentik dan dingin menyentuh pelan dada Wang Chan, tepat di atas jantungnya.
Wang Chan bisa merasakan detak jantungnya sendiri di bawah sentuhan itu. Cepat. Tidak karuan.
"Bukankah hidup memang terus berubah?" bisiknya. Suaranya pelan, seperti bisikan yang hanya boleh didengar oleh Wang Chan. "Bahkan hati seorang immortal pun tidak akan tetap sama selamanya."
Wang Chan menundukkan kepalanya. Dadanya terasa hangat, bukan karena energi spiritual, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Terima kasih. Rasanya jauh lebih menenangkan."
Nuan Shuang tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang membuat wajahnya yang cantik itu terlihat seperti matahari pagi.
Ia berdiri. Jubah putihnya yang tipis berkibar pelan karena gerakannya.
"Baiklah. Aku sudah tahu semuanya. Wanita itu tidak bisa mengajarimu teknik, kan?" Nuan Shuang menghela napas kecil. "Teknik Teratai Biru memang hanya untuk wanita. Sayang sekali, karena kau sebenarnya punya potensi besar."
Wang Chan mengangguk. Liu Chiyang sudah menjelaskan itu sebelumnya.
Nuan Shuang mengulurkan tangannya pada Wang Chan, telapak tangan terbuka, seperti hendak menariknya berdiri.
"Kemarilah. Aku akan mengajarimu cara seorang immortal bertarung."
Wang Chan menatap tangan itu. Jari-jarinya ramping, kulitnya putih bersih, dan di pergelangan tangannya ada gelang sederhana dari batu hitam.
Ia meraih tangan itu.
Hangat.
Lembut.
Seperti memegang sesuatu yang selama ini ia cari tanpa tahu apa namanya.
...---...
...[ Ilustrasi: Nuan Shuang ]...