Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XIX
Saat Mu Chen hendak menghampiri mereka, tiba-tiba Luna membawa Haoran pergi ke tempat lain untuk berbicara berdua saja. Melihat hal itu, amarah Mu Chen makin memuncak, dan rasa cemburu di hatinya semakin membara.
Sesampainya di tempat yang sepi, Luna langsung bertanya tegas, “Kenapa kau mau menikah denganku? Berikan aku alasan yang jelas.”
Haoran pun menjelaskan dengan tulus, “Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu dulu. Kaulah yang menolongku waktu itu, jika bukan karena kau, mungkin aku sudah mati.”
Luna lalu menimpali dengan nada dingin, “Kau ini cukup tampan, masih banyak wanita lain di luar sana yang akan bersedia menikah denganmu. Jadi dengarkan aku baik-baik: kau dan aku tak memiliki hubungan istimewa apa pun. Buanglah perasaanmu itu jauh-jauh. Ingatlah, aku adalah orang yang dulu menculikmu. Dan soal saat aku kembali menyelamatkanmu waktu itu, semata-mata karena kau terlalu berisik, kau benar-benar membuat kepalaku sakit mendengar suaramu, itu saja. Jadi berhentilah berharap lebih dariku. Seumur hidup ini, aku takkan pernah menerima perasaanmu itu, jadi Ingatlah itu baik-baik.” Luna mengucapkan itu dengan tegas seraya menunjuk tepat ke arah wajah Haoran.
Haoran tampak sedikit sedih mendengar penolakan itu, namun ia kembali bertanya pelan, “Apakah pria tadi… orang yang kau sukai?”
Dengan penuh keyakinan, Luna menjawab singkat, “Iya.”
Jawaban itu seketika membuat hati Haoran terasa sedikit kecewa. Namun, Haoran segera berseru menahan langkah Luna sebelum wanita itu pergi. “Baiklah, aku mengerti. Namun ingatlah.. kalian berdua masih belum menikah. Aku akan tetap berusaha dan memastikan, bahwa suatu hari nanti hanya akulah satu-satunya orang yang akan kau nikahi,” ucapnya dengan tekad bulat, tepat sebelum Luna berbalik dan pergi menjauh meninggalkannya sendirian.
Di kediaman Menteri Pangan
Kehidupan Lili dan Dafi berubah drastis sejak mereka diusir dari sana. Kini, mereka harus berjuang keras menjalani jalan hidup yang jauh lebih sulit dan penuh tantangan. Untuk bisa bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dafi rela bekerja apa saja, setiap hari ia bekerja menjadi kuli panggul di pasar dan gudang barang, pekerjaan yang sangat berat dan menguras tenaga. Meski pundaknya sering terasa nyeri dan tubuhnya lelah, Dafi sama sekali tidak pernah mengeluh atau menyerah. Ia selalu melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, bekerja jujur dan tekun, semata-mata demi memastikan ia dan Lili bisa makan dan hidup layak, meskipun sederhana.
Suatu hari, di tempat ia bekerja, terjadi kendala yang cukup mengganggu jalannya usaha. Akuntan yang biasa mengurus segala pembukuan dan keuangan toko tiba-tiba jatuh sakit dan tidak bisa masuk kerja selama beberapa hari. Bos toko itu tampak sangat bingung dan gelisah, berjalan mondar-mandir di depan meja kerja sambil menggerutu sendiri. Pekerjaan hitung-menghitung dan pencatatan harus tetap berjalan, namun ia sulit mencari orang yang dipercaya dan cukup pandai untuk mengurusnya dalam waktu singkat.
Melihat kebingungan tuannya, Dafi pun memberanikan diri mendekat. “Maaf, Tuan. Apakah Tuan sedang mengalami kesulitan?” tanyanya penasaran.
Bosnya pun menceritakan bahwa akuntannya tidak bisa masuk kerja, sehingga ia bingung mencari pengganti sementara.
Mendengar itu, Dafi segera berkata, “Jika Tuan berkenan, bolehkah saya mencoba membantu mengurus pembukuan dan catatan keuangan itu?”
Bos toko itu menatap Dafi dengan ragu dan sedikit tak percaya. “Kau? Dafi, kan? Kau kan pekerja angkut barang. Apakah kau paham soal angka dan pembukuan? Ini bukan soal mengangkat karung, melainkan urusan hitungan uang dan catatan dagangan. Kalau ada kesalahan sedikit saja, kami yang akan menanggung kerugiannya.”
“Saya mengerti kekhawatiran Tuan,” jawab Dafi dengan sopan namun penuh keyakinan. “Dulu saya sering diajari dan dilatih oleh ayah saya yang sangat mahir dalam perhitungan dan pencatatan. Saya cukup paham cara menyusun catatan, menjumlahkan hasil jual beli, hingga mengatur pemasukan dan pengeluaran. Izinkan saya mencoba, Tuan. Jika hasilnya kurang memuaskan, Tuan boleh mengembalikan saya ke pekerjaan semula kapan saja.”
Karena memang tak ada pilihan lain dan pekerjaan tidak bisa ditunda lebih lama, bos itu pun akhirnya mengangguk pasrah. “Baiklah, kalau kau begitu yakin, kerjakanlah dulu untuk sementara. Tapi ingat, lakukan dengan teliti dan hati-hati.”
Sejak hari itu, Dafi dipindahkan sementara dari pekerjaan fisik ke ruang pencatatan. Ternyata, kemampuannya benar-benar luar biasa. Berkat bekal ilmu yang dulu pernah diajarkan Xiao Yu kepadanya, Dafi mengerjakan setiap tugas dengan sangat rapi, teliti, dan cepat. Semua catatan tersusun rapi, hitungan tidak ada yang keliru, dan setiap laporan selesai tepat waktu. Bosnya sangat puas melihat hasil kerja Dafi yang jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan, bahkan ia sering memuji ketelitian dan kejujuran pemuda itu.
Setiap harinya, Dafi berangkat bekerja dengan semangat baru. Sementara itu, di rumah kecil sederhana yang mereka tempati, Lili juga tidak tinggal diam. Ia melakukan segala pekerjaan rumah tangga sendiri, seperti menyapu dan mengepel lantai, mencuci pakaian, hingga memasak makanan untuk mereka berdua. Ia melakukannya dengan senang hati, menganggap itu cara ia membantu meringankan beban kakaknya, Dafi.
Sore itu, Dafi pulang ke rumah dengan langkah ringan. Begitu membuka pintu, ia mencium aroma masakan yang lezat. Lili baru saja selesai memasak dan sedang mengelap keringat di keningnya, wajahnya tampak sedikit lelah namun tersenyum begitu melihat kakaknya itu datang. Ia segera menyambut Dafi dengan hangat.
“Kau sudah pulang, Kak. Wah, sepertinya hari ini lelah sekali ya? Ayo, segera cuci tangan dan kita makan bersama, masakannya sudah siap,” ucap Lili ramah.
Namun Dafi diam sejenak menatap wajah Lili yang sedikit pucat dan matanya yang terlihat lelah. Ia melihat tangan wanita itu yang kini mulai terasa kasar akibat sering melakukan pekerjaan rumah. Dafi segera memegang kedua tangan itu, menggenggamnya lembut, lalu menarik tubuh Lili ke dalam pelukannya yang hangat dan erat.
“Lili… maafkan aku ya,” bisik Dafi pelan dengan nada bersalah. “Lihat dirimu, wajahmu begitu lelah sekali. Seharusnya kau tidak perlu bekerja sekeras ini.”
Lili tersenyum lembut di dada Dafi, lalu mengusap punggung pemuda itu. “Kak, jangan bicara begitu. Aku sama sekali tidak merasa keberatan. Justru aku sangat menyukai pekerjaan-pekerjaan ini, aku senang bisa membantu mu. Di sini aku merasa berguna, dan yang paling penting, aku bisa bersama kakak setiap hari. Jadi Kakak tidak perlu khawatir.”
Dafi mengangguk perlahan, lalu melepaskan pelukan itu dan menatap mata Lili dengan tekad yang kuat.
“Terima kasih ya… Aku berjanji padamu, akan bekerja lebih giat lagi dan akan berusaha sekuat tenaga agar kehidupan kita ke depannya jauh lebih baik. Aku ingin suatu saat nanti, kau tak perlu lagi bersusah payah begini,” ucapnya tulus.
Akhirnya mereka pun duduk makan bersama. Di tengah jamuan sederhana itu, Dafi bercerita dengan gembira.
“Lili, ada kabar baik. Mulai sekarang aku dipindahkan sementara ke bagian pembukuan dan akuntansi. Jadi pekerjaannya lebih ringan, kau tak perlu lagi khawatir melihatku pulang dalam keadaan lelah berat seperti biasanya.”
Lili tersenyum lega dan senang sekali. “Benarkah? Syukurlah kalau begitu, Kak. Aku jadi senang mendengarnya. Berarti Kakak tidak perlu lagi angkat barang-barang berat itu ya?”
“Iya, kau benar. Jadi mulai sekarang, kau tak perlu lagi mengkhawatirkanku,” jawab Dafi sambil tersenyum.
Setelah selesai makan malam, Dafi mengajak Lili keluar menghirup udara segar.
“Lili, maukah kau berjalan sebentar bersamaku? Mari kita nikmati udara malam yang sejuk ini,” ajaknya lembut.
“Tentu saja aku mau, Kak. Ayo kita pergi,” jawab Lili dengan gembira.
Saat mereka sedang berjalan beriringan, tiba-tiba muncul sekelompok perampok yang menghadang di depan jalan. Wajah-wajah mereka tampak garang, berniat jahat.
“Hei, berhenti di situ! Cepat serahkan semua barang berharga yang kalian punya kalau tidak ingin celaka!” bentak pemimpin perampok itu dengan suara keras.
Tanpa ragu sedikit pun, Dafi segera melangkah maju dan menarik tubuh Lili ke belakangnya. "Mundurlah, Lili! Jangan harap kalian akan mendapatkan apa pun dari kami," jawab Dafi dengan tegas.
Dengan sigap, Dafi langsung menyerang balik meski hanya bermodalkan tangan kosong. Ia bertarung dengan lincah dan berani. Melihat itu, Lili pun tidak diam saja, ia ikut membantu Dafi melawan dengan sekuat tenaganya. Namun jumlah penjahat itu terlalu banyak, perlahan posisi mereka mulai terdesak.
Saat sedang sibuk melawan dua orang di depannya, salah satu penjahat lainnya diam-diam mengeluarkan belati tajam dan berniat menyerang Lili dari belakang. Melihat bahaya itu, Dafi dengan cepat berbalik dan melompat melindungi tubuh Lili. Belati itu menusuk tepat di punggung Dafi.
“Arghh…” erang Dafi tertahan, namun ia sama sekali tidak mundur. Ia tetap berusaha bertahan dan melawan para penjahat itu meski darah mulai membasahi punggung dan bajunya.
“Kalian tidak akan bisa menyakiti dia! Pergi dari sini!” bentak Dafi dengan sisa tenaga yang ada.
Melihat Dafi yang tetap marah dan berani meski sudah terluka parah, para penjahat itu pun mulai ketakutan dan akhirnya memilih kabur menjauh.
Begitu suasana menjadi sepi, tenaga Dafi seketika hilang. Tubuhnya yang tadi masih tegak berdiri perlahan terkulai lemas dan jatuh ke dalam pelukan Lili, sementara darah terus mengalir dari luka di punggungnya.
“Kak Dafi! Kak Dafi!” teriak Lili histeris sambil menangis. Ia memegang punggung Dafi yang basah kuyup oleh darah. “Kenapa kau melakukan ini… Kak, bangunlah! Tolong jawab aku!”
Lili berusaha mengguncang tubuh Dafi, namun pemuda itu sudah pingsan dan tak sadarkan diri. Dengan susah payah, Lili berteriak, “Tolong! Tolong kami! Ada yang terluka! Tolong…”
Namun tak ada satu orang pun disana. Lili mulai putus asa, air matanya mengalir semakin deras, ia merasa dunia seakan runtuh saat itu juga.
Tiba-tiba, seorang pemuda berjalan mendekat. Ia adalah seorang tabib muda yang kebetulan sedang lewat di jalan itu.
“Nona! Apa yang terjadi di sini?” tanya pemuda itu segera berlari menghampiri.
Lili menatapnya dengan mata yang sudah bengkak karena menangis. “Tuan… tolong kakak saya! Dia ditikam penjahat, dia kehilangan banyak darah… tolong selamatkan dia, saya mohon!” pintanya penuh harap.
Pemuda itu segera memeriksa kondisi Dafi, lalu berkata dengan tenang, “Tenanglah, lukanya cukup dalam tapi masih bisa ditolong. Rumahku tidak jauh dari sini, bantu aku mengangkatnya ke sana, kita harus segera mengobatinya.”
Mereka pun bergerak bersama membawa tubuh Dafi ke rumahnya. Di sana, tabib muda itu segera membersihkan luka dan menghentikan pendarahan di punggung Dafi dengan telaten, sementara Lili menunggu di sampingnya dengan hati yang masih berdebar cemas.