Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Dunia seperti berhenti berputar untuk beberapa saat. Semua yang ada di sekitar seolah lenyap, hanya ada Zara dalam pandangan Naka, demikian pun dengan Zara, tatapannya terkunci pada Naka, sampai akhirnya, ia mengulum senyum, lalu kembali melangkah ke depan.
"Permisi Pak, apa anda mau memesan es teh?" tawar Zara ramah dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya, khas dirinya jika sedang menawarkan dagangan. Ia memiliki booth kontainer jualan es teh di sebelah bengkel, dan kerap datang ke bengkel saat ramai untuk sekedar menawarkan es teh nya. "Ada banyak varian rasa, mulai dari vanila, lemon, blackcurrant, hingga madu," ia terus nyerocos ala sales, menjelaskan keunggulan es tehnya yang dirasa wajib dicoba.
Naka bergeming, sama sekali tak ada yang masuk di otaknya apa yang diucapkan Zara. Ia hanya menatap wanita itu, fokus memperhatikan mata, hidung, pipi, hingga bibirnya, mengingat-ingat seperti apa bentuk bagian wajah Zea yang kerap ia sentuh. Selain suara yang sama, tinggi Zea kurang lebih sama dengan wanita itu, hidung mereka juga sama-sama mancung, tapi itu semua rasanya belum cukup untuk membuktikan jika Zara adalah Zea. Selain itu, Zara bersikap biasa, seperti tak mengenalnya.
Rizal melirik bosnya, merasa ada yang janggal dengan caranya memperhatikan perempuan. Tak pernah selama ini dia melihat Naka menatap perempuan hingga sebegitunya, jujur saja, ia sampai sungkan pada Zara. "Pak, mau pesan yang apa?" menyenggol pelan bahu Naka.
"Hah, apa?" Naka malah gelagapan, ketahuan jika ia sama sekali tak fokus pada sekitar beberapa saat tadi.
"Mau pesan es teh?" tanya Zara.
"I, iya," sahut Naka.
"Mau yang varian apa?"
"Boleh tolong sebutkan lagi macam-macamnya?"
Rizal melirik Naka, lalu beralih pada Zara, ada rasa sungkan atas kelakuan bosnya yang ia nilai cukup merepotkan. Padahal yang ingin dibeli bukan sesuatu yang mahal, hanya es teh cup seharga 4 ribu untuk ukuran standart. Sekali lagi, hanya 4 ribu, yang bahkan untuk bayar parkir di pinggir jalan saja tidak cukup.
Namun ekspresi yang ditujukan Zara justru berbanding terbalik dengan Rizal. Wanita itu tampak tidak keberatan, tersenyum ramah sambil kembali menjelaskan.
Bukan tanpa alasan Naka meminta Zara kembali menjelaskan, ia memejamkan mata, fokus mendengarkan suara Zara. Memposisikan dirinya seperti saat tidak bisa melihat dulu. Tangannya meremat celana bahan yang ia pakai, nafasnya sedikit tidak teratur. Ia seperti sedang mendengar Zea berbicara di hadapannya. Zea, ia yakin sekali wanita di hadapannya itu Zea. Suaranya bukan hanya mirip, tapi sama persis.
"Pak," Rizal kembali menyenggol bahu Naka. Sumpah, ia dibuat bingung dengan kelakuan bosnya, bisa-bisanya setelah tadi menatap tanpa kedip, sekarang malah memejamkan mata, mana lama lagi, sampai penjelasan Zara selesai. Awas saja kalau kali ini masih nyuruh ngulang, fix, dia sungguh tak punya malu kalau melakukan sekali lagi.
"Lemon tea standart dua," ujar Naka, membuka mata, menatap Zara.
"Baiklah, ditunggu sebentar." Zara menunduk sopan, lalu meninggalkan bengkel.
Keluar dari halaman bengkel, Zara bernafas lega, berjalan cepat menuju booth es teh nya. Sesampainya disana, terduduk lemas di sebuah kursi plastik yang ada di dalam. Memegangi dada, dimana jantungnya berdebar sangat kencang. Setelah 8 tahun berlalu, hari ini Tuhan kembali mempertemukan dia dengan Kanaka. Laki-laki yang telah ia tinggalkan 8 tahun lalu tanpa alasan apalagi ucapan perpisahan. Naka sudah bisa melihat sekarang, ia ikut senang. Semoga saja laki-laki itu tidak mengenalinya. Ya, semoga begitu. Kisahnya dengan Naka sudah ia anggap tamat sejak 8 tahun yang lalu, meski hingga saat ini, ia belum bisa sepenuhnya melupakannya.
Zara mengambil segelas air putih dari dalam galon, meneguknya cepat hingga hampir tersedak. Ia masih harus bertemu Naka lagi setelah ini untuk mengantarkan teh, ia harus tenang, harus bersikap sebiasa mungkin agar Naka tidak mengenalinya.
Di bengkel, Naka terus menatap halaman, tak sabar menunggu kedatangan Zara mengantarkan es teh pesanannya. Sebenarnya, dia Zea atau bukan? Pertanyaan itu terus mengusik fikirannya, hingga akhirnya, ia melihat Zara kembali datang. Ia berdiri begitu Zara mendekat.
"Ini pesanannya," Zara mengangsurkan dua cup es teh di dalam keresek pada Naka. "Totalnya 8 ribu."
"Kok murah banget sih?" Rizal yang menerima angsuran teh tersebut, karena seperti tadi, Naka hanya bengong. "Apa gak rugi?"
"InsyaAllah enggak," Zara tersenyum. "Disini emang segitu harganya."
"Oh... " Rizal merogoh saku celana, mengambil dompet lalu memberikan uang 10 ribu pada Zara. "Ambil aja kembaliannya."
"Makasih," ujar Zara sambil tersenyum, nerima uang dari Rizal.
"Ra, es teh ku mana?" teriak Andi. "Haus nih!" Pemuda belepotan oli yang duduk di lantai bengkel tersebut mengusap leher.
Zara menepuk jidat, bisa-bisanya ia melupakan pesanan Andi. Akibat terlalu syok bertemu Naka, otaknya jadi tak bisa fokus.
Andi bangkit dari lantai, berjalan menghampiri Zara. "Jangan bilang belum kamu buatin!" tebaknya sambil melotot. "Heisss, keterlaluan!"
"Sorry," Zara menahan tawa. "Iya, bakalan aku buatin sekarang." Ia kembali menatap Naka dan Rizal, " Terimakasih buat pesanannya. Permisi," menunduk sopan, lalu balik badan.
"Tunggu!" panggil Naka, sebelum Zara sempat melangkah.
Zara memejamkan mata, membuang nafas berat. Sepertinya Naka memang mengenalinya meski belum yakin 100 persen. Tak mau Naka curiga, ia buru-buru balik badan sambil tersenyum. "Ia, ada apa lagi?"
"Saya mau pesan 100 cup es teh."
Mata Rizal langsung membulat sempurna. 100 cup, buat apa?
"Boleh. Untuk kapan?" Zara memasang ekspresi bahagia, meski aslinya tidak seperti itu. Sejujurnya, ia tak mau lagi punya urusan dengan Naka. Tapi demi menjaga identitasnya agar tidak ketahuan, ia harus berpura-pura menyambut bahagia pesanan dalam jumlah besar tersebut.
"Wah, orderan gede nih," Andi ikut bahagia. "Karena dapat proyekan di tempat aku, jadi ada pajaknya. Hari ini aku dapat es gratis ya," menaik turunkan alis, menatap Zara.
"Gampang," Zara terus saja memasang ekspresi bahagia.
"100 eh teh jumbo vanila," ujar Naka. "Saya ambil besok jam 11 siang."
"Tapi be_" ucapan Rizal terhenti saat Naka mengangkat tangan, mengisyaratkan untuk diam.
Naka mengambil dompet, mengeluarkan semua uang pecahan 100 ribu rupiah, mengulurkan pada Zara.
Zara menerimanya, lalu menghitung jumlahnya. "Maaf, ini kebanyakan. Totalnya hanya 600 ratus ribu saja," mengembalikan 3 lembar sisanya.
"Ambil saja buat kamu."
"Tapi... "
"Rezeki Ra, ambil aja," ujar Andi. "Lumayankan, buat jajan Arka."
"Terimakasih," Zara menunduk sopan. "Besok silakan ambil langsung di booth saya, letaknya tepat di sebelah bengkel ini," menunjuk lokasi booth nya.
Naka hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Tunggu!"
Zara menoleh ke arah lain, mendesis pelan karena Naka tak kunjung melepaskan dia pergi. Ia takut jika lama-lama berinteraksi dengan Naka, pria itu akan mengenalinya. "Ada apa lagi?" kembali memasang senyum, menatap Naka.
"Boleh saya minta nomor telepon kamu. Takutnya besok saya datang telat atau malah maju waktunya."
"Baiklah," dengan berat hati, Zara mengeluarkan ponsel di saku celananya.
Sebagai aspri, buru-buru Rizal mengeluarkan ponsel untuk menyimpan nomor Zara.
"Biar aku saja."
Rizal bengong saat ponselnya di sedikit di dorong Naka untuk kembali disimpan. Fix, bosnya aneh kali ini. Bukan hanya karena nomor ponsel, tapi juga karena 100 cup es teh untuk besok siang, padahal besok pagi mereka sudah harus terbang ke Jakarta.
Zara menelan ludah susah payah, sepertinya memang fix, Naka mencurigainya sebagai Zea. Namun tak ada alasan untuk menolak memberi nomor ponsel, apalagi alasan pekerjaan seperti ini. Ia menyebutkan satu persatu nomor ponselnya.
Sebelum menyimpan, Naka mencoba menghubungi Zara, takut salah ketik angka. Setelah melihat ponsel di tangan Zara berdering, ia mematikan panggilan. "Simpan nomor saya, Kanaka."
Zara mengangguk, "Saya Zara."
Naka menunjukkan layar ponselnya pada Zara, "Sudah saya save nomor kamu."
Sekali lagi, Zara hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Dan dengan terpaksa, menyimpan nomor Naka.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣