Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pulang ke Pelukan, Damai dalam Penyatuan
Mobil hitam besar itu melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, meninggalkan kediaman keluarga Lavian yang kini terasa sunyi dan mencekam. Di dalam mobil, keheningan terasa menyelimuti, namun keheningan yang kali ini terasa aman dan hangat. Grey duduk di kursi penumpang depan, tubuhnya bersandar sepenuhnya ke sisi tubuh Davian yang tegap dan kokoh. Lengan kiri Davian melingkar erat di bahu istrinya, menahan tubuh mungil itu agar tetap menempel padanya, seolah takut jika sedikit saja kendurnya, wanita itu akan hilang atau kembali terluka.
Jari-jari besar Davian sesekali mengusap lengan Grey dengan gerakan lembut dan berulang, seolah sedang menenangkan anak kecil yang ketakutan. Wajah pria itu masih menyimpan sisa-sisa kekejaman dan amarah yang meledak tadi, namun setiap kali dia menatap wajah istrinya yang pucat dan mata yang bengkak karena menangis, ekspresi keras itu seketika meleleh menjadi kelembutan yang tak terhingga.
Dia sengaja belum memberikan hukuman apa pun pada ayah dan ibu tiri Grey. Bukan karena memaafkan, atau karena lupa. Justru sebaliknya. Davian ingin mereka hidup dalam ketakutan yang menyiksa, hidup dalam penantian momen kematian atau kehancuran mereka. Dia ingin mereka merasakan setiap detik rasa cemas, rasa bersalah, dan rasa takut menunggu pembalasan yang pasti akan datang. Bagi Davian, kematian yang cepat terlalu murah bagi mereka yang telah menyakiti hati wanitanya sedalam itu. Dia ingin mereka merasakan rasa sakit yang perlahan, yang menyiksa batin, sampai mereka sadar betapa besar dosa yang telah mereka perbuat. Tapi untuk saat ini, hal terpenting baginya bukanlah balas dendam… melainkan menyembuhkan luka di hati Grey.
"Sudah, Sayang… semuanya sudah lewat. Kau aman sekarang. Kau bersamaku. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi," bisik Davian pelan, bibirnya menempel di puncak kepala Grey, menghirup aroma rambut istrinya dalam-dalam seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu benar-benar ada di sini, benar-benar aman dalam pelukannya.
Grey memejamkan matanya, menyandarkan wajahnya lebih dalam lagi ke dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur itu—satu-satunya irama yang bisa membuatnya tenang di tengah kekacauan dunia. Air mata yang sempat berhenti tadi kembali menetes perlahan, bukan lagi karena rasa sakit atau ketakutan, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
"Mereka… mereka jahat sekali, Davian… mereka menuduhku hal yang kotor… mereka mau menjualku… mereka tidak menganggapku anak mereka sendiri…" gumam Grey lirih, suaranya masih bergetar, sisa trauma yang baru saja dia alami masih terasa membekas di setiap inci sarafnya. "Ayahku sendiri… dia lebih percaya pada wanita itu daripada percaya padaku… padahal aku darah dagingnya…"
Davian mengeratkan pelukannya, tangannya yang bebas mengangkat dagu Grey perlahan, memaksanya menatap mata hitamnya yang dalam dan tulus. Tidak ada lagi amarah di sana, hanya ada kasih sayang yang begitu besar hingga hampir tumpah ruah.
"Dengar aku baik-baik, Grey," ucap Davian dengan suara rendah namun tegas, penuh penekanan agar setiap kata itu masuk ke dalam hati istrinya dan menghapus semua racun perkataan keluarganya. "Mereka yang salah. Mereka yang buta. Mereka yang tidak tahu apa harta paling berharga yang ada di hadapan mereka. Ayahmu mungkin yang melahirkanmu, tapi dia tidak pantas disebut ayah. Seorang ayah tidak akan pernah menjual anaknya, tidak akan pernah menuduhnya kotor tanpa bukti, dan tidak akan pernah membiarkan orang lain menyakitinya. Mereka bukan keluargamu, Sayang. Keluarga itu bukan soal darah, tapi soal siapa yang rela mati demi melindungimu. Dan itu aku. Hanya aku."
Dia mengecup bibir Grey dengan lembut, ciuman yang penuh janji dan kepastian.
"Mulai hari ini, lupakan mereka. Mereka hanyalah debu, sampah di pinggir jalan yang tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan satu helai rambutmu. Kau punya aku. Kau punya namaku. Kau punya perlindunganku. Dan selama aku bernapas, tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani menatapmu dengan pandangan buruk, apalagi menyakitimu. Kau ratuku, Grey. Dan ratu tidak perlu memikirkan perkataan sampah-sampah rendahan."
Kata-kata itu seperti obat penenang yang ampuh. Kata-kata yang tegas, yang meyakinkan, yang membuat Grey merasa bahwa dia bukan lagi gadis kecil yang kesepian dan tidak berharga. Di mata Davian, dia adalah segalanya. Dia adalah permata, dia adalah cahaya, dia adalah dunia.
Perlahan tapi pasti, ketegangan di tubuh Grey mulai hilang. Rasa sakit di hatinya mulai terbalut oleh kehangatan cinta suaminya. Dia mengangguk pelan, tersenyum tipis di sisa tangisnya, lalu kembali bersandar nyaman di dada Davian, membiarkan dirinya terbawa dalam kehangatan itu sampai mobil mereka memasuki gerbang kediaman megah mereka—satu-satunya tempat yang benar-benar bisa disebut rumah.
Malam semakin larut. Di dalam kamar pribadi mereka yang luas dan hangat, suasana kini berubah total dari kekacauan yang tadi. Cahaya lampu yang redup menerangi ruangan, menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding. Davian membawa Grey masuk ke kamar mandi, memandikan istrinya sendiri dengan penuh kelembutan. Dia tidak membiarkan pelayan mendekat; dia ingin melakukan semuanya sendiri. Dia ingin membersihkan setiap jejak rasa takut, setiap jejak air mata, dan setiap jejak kenangan buruk yang mungkin masih menempel di tubuh dan jiwa istrinya.
Dengan jari-jarinya yang besar dan terampil, Davian mengusap tubuh Grey dengan sabun beraroma lembut, gerakannya begitu hati-hati dan penuh kasih sayang, seolah dia sedang menyentuh kaca yang paling rapuh. Dia mencium setiap bagian kulit yang dia sentuh, mencium bahu, punggung, lengan, dan jari-jari Grey, seolah ingin menanamkan rasa aman di setiap sentuhannya.
"Kau indah sekali, Grey… begitu indah hingga rasanya aku ingin mengunci kita berdua di sini selamanya, agar tidak ada mata asing yang berani melihatmu," bisik Davian di telinganya saat dia membilas rambut panjang istrinya, jari-jarinya menyisir helai demi helai dengan lembut. "Jangan pernah berpikir kata-kata buruk mereka itu benar. Di mataku, kau adalah wanita paling murni, paling mulia, dan paling sempurna yang pernah ada. Tidak ada noda sedikit pun padamu. Noda itu ada di hati mereka, bukan padamu."
Grey hanya diam, memejamkan matanya, membiarkan dirinya dirawat dan dimanjakan sepenuhnya. Dia merasa seperti bayi yang kembali digendong, merasa seperti ratu yang dilayani rajanya. Di sini, dia merasa dicintai lebih dari apa pun.
Setelah keduanya bersih dan wangi, Davian menggendong Grey keluar dari kamar mandi, membawanya ke atas kasur empuk mereka yang besar dan nyaman. Dia membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur, lalu dia sendiri berbaring di sampingnya, menindih tubuh istrinya dengan berat tubuhnya yang hangat namun lembut, mengurungnya di antara kedua lengannya yang kokoh dan aman.
Malam itu, bukan gairah liar atau keinginan menguasai yang mendominasi. Davian tahu apa yang dibutuhkan istrinya saat ini bukanlah api yang membakar, melainkan kehangatan yang melelehkan rasa sakit. Dia ingin menyatukan mereka bukan hanya secara raga, tapi juga secara jiwa, untuk meyakinkan Grey bahwa dia dicintai, dia dimiliki, dan dia aman selamanya.
Davian menatap wajah istrinya lekat-lekat di bawah cahaya remang. Dia mengusap pipi halus itu, menghapus sisa jejak air mata yang mungkin masih ada, lalu mencium bibirnya perlahan. Ciuman itu lembut, lambat, dalam, dan penuh rasa syukur. Tidak ada keganasan, tidak ada tuntutan. Hanya rasa ingin memiliki dan rasa ingin melindungi. Bibir mereka bergerak saling menyapa dengan lembut, menikmati rasa satu sama lain, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
"Kau milikku, Grey… selamanya milikku…" gumam Davian berulang kali di sela-sela ciuman, suaranya berat dan penuh emosi. Tangannya mulai bergerak menyusuri lekuk tubuh istrinya, menyusuri pinggang, punggung, dan paha dengan sentuhan yang begitu lembut, penuh penghormatan dan kasih sayang. Setiap sentuhan seolah berbisik: Aku mencintaimu, aku menghargaimu, aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.
Grey membalas setiap sentuhan dan ciuman itu dengan kelembutan yang sama. Dia melingkarkan lengannya di leher suaminya, menariknya semakin dekat, merasakan kehangatan kulit mereka yang bersentuhan sempurna. Rasa sakit di hatinya perlahan hilang, digantikan oleh rasa bahagia yang meluap-luap, rasa damai yang mendalam, dan rasa cinta yang begitu besar hingga hampir menyakitkan.
Saat penyatuan itu terjadi, saat tubuh mereka menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, gerakan Davian begitu lambat, begitu hati-hati, dan begitu dalam. Dia bergerak dengan irama yang lembut, memastikan bahwa setiap detiknya terasa nikmat, terasa aman, dan terasa penuh cinta. Dia menatap mata istrinya terus-menerus, tidak pernah melepaskan pandangannya, ingin melihat setiap perubahan ekspresi di wajah Grey, ingin memastikan bahwa wanita itu hanya merasakan kebahagiaan dan kepemilikan yang indah.
"Lihat aku, Sayang… lihat aku saja… hanya aku…" bisik Davian, matanya menatap tajam namun penuh kelembutan ke dalam mata abu-abu istrinya. "Lupakan semuanya. Lupakan dunia luar. Lupakan rasa sakit. Di sini, hanya ada kita. Hanya ada cinta kita. Aku ada di sini, Grey. Aku tidak akan pernah pergi. Aku adalah rumahmu, tempatmu pulang, tempatmu bersandar selamanya."
Grey mengangguk, air mata bahagia kembali menetes membasahi pelipisnya, namun kali ini air mata itu jatuh karena rasa syukur yang luar biasa. Dia merasakan cinta suaminya membanjiri seluruh jiwanya, merasakan perlindungan yang tak tertandingi, merasakan bahwa dia adalah wanita paling beruntung di dunia karena telah dimiliki oleh pria sebesar, sekuat, dan selembut Davian Argantha.
Gerakan itu berlanjut dalam kehangatan yang mendalam, dalam kelembutan yang tak terhingga, membawa mereka berdua naik ke puncak kenikmatan yang tenang namun membahana. Di saat-saat terakhir yang penuh puncak itu, saat tubuh mereka bergetar bersamaan dan napas mereka menyatu, Davian mencium bibir Grey dalam-dalam, menanamkan janji abadi itu jauh ke dalam jiwa istrinya.
Malam itu berakhir dengan keheningan yang damai, diiringi oleh napas panjang dan teratur dari keduanya. Davian berbaring miring di samping Grey, satu lengannya menjadi bantal empuk bagi istrinya, sementara lengan lainnya melingkar erat di pinggang mungil itu, menarik tubuh Grey agar melekat sepenuhnya pada dadanya. Dia mencium puncak kepala istrinya sesekali, matanya terbuka menatap kegelapan kamar, pikirannya kini beralih kembali pada masalah yang belum selesai.
Dia belum menghukum mereka. Dia sengaja menahannya. Dia ingin Grey tenang dulu, dia ingin hati istrinya sembuh dulu dengan cinta dan kasih sayang. Tapi di dalam benak Davian, rencana pembalasan itu sudah tersusun rapi, dingin, dan mengerikan.
Mereka yang berani menyakiti Grey, mereka yang berani menuduhnya kotor, mereka yang berani berniat menjualnya… mereka tidak akan selamat. Davian tidak akan menyentuh sehelai rambut mereka malam ini, tapi besok, lusa, atau kapan pun dia memutuskan waktunya tiba… dia akan menghancurkan segalanya yang mereka miliki. Kekayaan, jabatan, nama baik, dan rasa damai mereka akan dia hancurkan sampai ke akar-akarnya. Mereka akan belajar bahwa menyakiti bidadari milik Davian Argantha adalah dosa terbesar yang tidak akan pernah dimaafkan, dan hukumannya adalah kehancuran abadi.
Namun malam ini, semuanya itu dikesampingkan. Malam ini hanya untuk cinta, hanya untuk penyatuan, hanya untuk menenangkan hati wanita yang menjadi seluruh hidupnya. Davian memeluk istrinya semakin erat, memejamkan matanya dengan hati yang tenang. Selama Grey ada di pelukannya, dia adalah penguasa mutlak segalanya. Dan tidak ada apa pun di dunia ini yang berani merusak kebahagiaan mereka lagi.
(Lanjut ke Bab 11)