Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala
Suara benturan itu membuat burung-burung bangau di sekitar paviliun beterbangan ketakutan.
"Saudari Junior Su! Apakah kau ada di dalam? Kakak Senior ini datang untuk menyambutmu secara pribadi!"
Sebuah suara pria yang keras, arogan, dan diwarnai dengan nada melecehkan terdengar menggema dari balik gerbang. Suaranya diperkuat dengan Qi, memastikan seluruh pelayan di Puncak Teratai Salju mendengarnya.
Wajah Su Yue seketika menggelap. Ia bisa merasakan riak Qi dari luar gerbang.
"Melapor pada Senior," Su Yue berbisik cepat kepada Lin Ye, ekspresinya berubah dingin. "Itu adalah Bai Yunfei, Murid Inti Peringkat Ketujuh. Dia adalah cucu dari Tetua Puncak Naga Api. Bai Yunfei sudah lama mengincar puncak tempatku ini, karena Puncak Teratai Salju sangat cocok untuk menanam herbal Yin. Tampaknya dia tidak senang sekte memberikannya kepadaku, seorang murid baru."
"Kultivasinya?" tanya Lin Ye tanpa mengalihkan pandangannya dari daun yang sedang ia sapu.
"Pembentukan Fondasi Tahap Awal. Dia membawa dua pengikut yang berada di Puncak Tingkat Kesembilan Pengumpulan Qi," lapor Su Yue.
Lin Ye kembali menyapu dengan gerakan lambat dan santai. Ia tahu betul aturan tak tertulis di sekte manapun: ketika seorang jenius baru muncul tanpa latar belakang keluarga yang kuat, serigala-serigala lama akan langsung menguji taring mereka. Bai Yunfei datang bukan untuk menyambut, melainkan untuk menegaskan kekuasaan mutlak, memungut upeti perlindungan, dan mematahkan mental Su Yue.
"Apa yang harus Junior lakukan, Senior?" tanya Su Yue. Menghadapi kultivator Pembentukan Fondasi, Su Yue yang masih di Tingkat Keenam jelas kalah telak.
Lin Ye menancapkan ujung gagang sapunya ke lantai batu. Krak. Batu pualam keras di bawah sapu itu retak halus membentuk jaring laba-laba.
"Kau adalah perisai sekaligus pedang yang kugunakan untuk berjalan di bawah sinar matahari," ucap Lin Ye dengan nada yang teramat sangat tenang, namun memancarkan kebrutalan seorang tiran yang mutlak. "Jika perisaiku menunjukkan kelemahan di hari pertamanya, bagaimana aku bisa menikmati ketenanganku di masa depan?"
Lin Ye perlahan mengangkat wajahnya. Mata hitam pekatnya menatap lurus ke dalam jiwa Su Yue.
"Buka gerbangnya. Tantang dia. Gunakan niat membunuh mutlak. Jangan tunjukkan belas kasihan, dan jangan mundur satu inci pun."
"T-tapi Senior... dia berada di Pembentukan Fondasi..." Su Yue menggigit bibirnya, ragu.
"Jika dia berani menggunakan Qi Pembentukan Fondasinya untuk menyentuh sehelai saja rambutmu," Lin Ye menyeringai tipis, memperlihatkan deretan giginya yang rapi namun terasa bagai taring pemangsa bagi Su Yue, "aku akan memastikan Puncak Teratai Salju ini menjadi kuburan tak bernamanya hari ini. Pergi."
Mendengar janji perlindungan dari eksistensi yang ia anggap sebagai dewa itu, rasa takut di hati Su Yue langsung lenyap tanpa sisa. Digantikan oleh rasa percaya diri yang melambung menembus langit. Jika Senior Tertinggi berada di belakangnya, jangankan murid inti peringkat ketujuh, bahkan jika Tetua Puncak turun tangan, Su Yue tidak akan gentar!
"Baik, Senior!"
Su Yue berbalik. Ia menarik napas panjang. Aura dingin Yin murni meledak dari tubuhnya, membekukan uap air di udara sekitarnya. Wajahnya kembali menjadi dewi es tanpa emosi yang arogan.
Dengan satu ayunan lengan bajunya, gerbang perunggu besar Puncak Teratai Salju terbuka lebar.
Di luar gerbang, berdiri Bai Yunfei. Ia adalah pemuda berwajah tampan namun memiliki sepasang mata yang memancarkan keserakahan dan kelicikan. Ia mengenakan jubah sutra merah menyala, memegang sebuah kipas giok. Di belakangnya, dua pengikut berbadan kekar tersenyum merendahkan.
"Oh! Saudari Junior Su akhirnya keluar," Bai Yunfei tertawa pelan, matanya menyapu lekuk tubuh Su Yue dari atas ke bawah dengan tatapan tidak senonoh. "Kudengar sekte memberimu Puncak Teratai Salju karena kepahlawananmu di Makam Pedang. Tapi kau tahu, tempat ini terlalu besar untuk diurus oleh anak kecil sepertimu. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Serahkan kendali ladang herbal puncak ini padaku, dan sebagai gantinya, aku akan 'melindungimu' di Sekte Dalam."
"Melindungiku?" Su Yue membalas dengan nada yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah. "Apakah seekor anjing jalanan kini merasa dirinya cukup pantas untuk melindungi seekor naga?"
Senyum Bai Yunfei langsung membeku di wajahnya. Wajahnya seketika berubah merah padam menahan amarah. Di Sekte Dalam, belum pernah ada murid baru yang berani menghinanya secara terang-terangan di depan gerbangnya sendiri!
"Beraninya kau, Jalang Kecil!" bentak salah satu pengikut Bai Yunfei, seorang pria kekar di Puncak Tingkat Kesembilan. Ia melesat maju, menghunuskan pedang besarnya berniat memberi Su Yue tamparan pelajaran. "Biar kuajarkan kau sopan santun kepada Kakak Senior Bai!"
Di dalam pelataran, Lin Ye yang sedang menyapu daun, bahkan tidak mengangkat kepalanya. Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya berdenyut sekali.
Dari balik tembok paviliun, sehelai daun emas yang sedang jatuh dari Pohon Musim Gugur tiba-tiba melayang menyamping, menentang arah angin. Daun tipis yang rapuh itu melesat meluncur melewati bahu Su Yue menuju luar gerbang.
Hanya Lin Ye yang menggerakkan daun itu menggunakan sedikit dorongan tenaga fisik yang memecah udara.
Syuuuut!
Kecepatan daun emas itu melebihi kecepatan anak panah yang ditembakkan dari busur dewa.
Saat pengikut kekar itu mengayunkan pedangnya ke arah Su Yue, daun emas itu melintas tepat di depan lehernya, setipis kertas, selembut bulu.
Crass!
Pria kekar itu berhenti mendadak di tengah udara. Matanya melotot. Pedang besarnya terlepas dari genggamannya dan jatuh bergemerincing ke tanah. Perlahan, sebuah garis merah muncul melingkari lehernya, dan detik berikutnya, darah segar menyemprot keluar seperti air mancur.
Daun emas itu telah memotong pita suaranya dan setengah dari urat lehernya dengan sempurna.
Pria itu jatuh ke tanah, menekan lehernya sendiri yang menyemburkan darah, menggelepar-gelepar tanpa bisa mengeluarkan suara.
Bai Yunfei dan pengikut satunya lagi mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi dipenuhi kengerian yang tak bisa dijelaskan. Mereka tidak melihat apa yang menyerang pengikut itu. Mereka hanya melihat Su Yue berdiri diam, dan pengikut mereka tiba-tiba memuntahkan darah dengan leher terpotong!
Su Yue sendiri sedikit terkejut, namun ia segera ingat siapa yang sedang memegang sapu di belakang paviliun. Kepercayaan dirinya meledak hingga ke titik arogansi mutlak.
Ia mencabut pedang esnya perlahan, ujung pedangnya memantulkan cahaya matahari yang dingin.
"Aku sudah bilang untuk tidak mundur satu inci pun," ucap Su Yue, mengulangi titah sang Senior, sambil menatap Bai Yunfei layaknya menatap orang mati. "Sekarang, berlututlah, atau kau akan menyusul anjingmu itu ke neraka."