Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehebohan Grup WA RT dan Labrakan Mak-Mak
Baru saja Alisha menutup pagar besi rumahnya yang catnya sudah agak mengelupas, suara melengking khas Ibu sudah terdengar dari arah ruang tamu. Langkah kaki Alisha dan Aleta otomatis tertahan di teras. Melalui kaca jendela yang transparan, terlihat Ibu sedang berdiri berkacak pinggang sambil menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut dalam.
Ting! Ting! Ting!
Suara notifikasi bersahutan dari ponsel Ibu, menandakan ada obrolan yang luar biasa intens di aplikasi hijau tersebut.
"Aleta! Alisha! Sini kalian berdua!" panggil Ibu, suaranya naik satu oktav.
Alisha melirik Aleta yang langsung memasang wajah polos tanpa dosa, walau jemari adiknya itu meremas ujung seragam sekolahnya dengan gelisah. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, Bu? Kok kayaknya tegang banget?" tanya Alisha, mencoba mencairkan suasana.
Ibu mengembuskan napas panjang, lalu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah kedua anak gadisnya. "Ini, coba kalian lihat grup WhatsApp PKK RT 04! Ini grup dari tadi isinya foto Aleta lagi berkacak pinggang di lapangan komplek. Siapa yang motoin, Ibu gak tahu. Tapi ini Bu Ratmi, mamanya si Fino anak blok C, lagi ngamuk-ngamuk di grup!"
Alisha membaca deretan teks yang diketik dengan huruf kapital semua oleh Bu Ratmi:
“Duh, mohon perhatiannya ya buat warga RT 04. Itu anak gadisnya Bu Sarah yang bungsu, si Aleta, kok galak banget ya sama anak kecil? Anak saya, Fino, pulang-pulang nangis jerit-jerit katanya dibentak-bentak di jalan sampai dibilang lehernya daki aspal! Tolong ya dididik anaknya, jangan kasar begitu sama anak kecil. Fino sampai trauma gak mau keluar rumah!”
Alisha memijit pelipisnya lagi. Kepalanya yang tadinya sudah agak mendingan, sekarang mendadak pening dua kali lipat. Benar dugaan Alisha, keributan di jalanan komplek tadi pasti bakal berbuntut panjang.
"Ya habisnya si Fino itu duluan yang asbun, Bu!" Aleta langsung membela diri, tidak terima disalahkan. "Dia ngatain Mbak Alisha gosong kayak arang sekam! Masa aku diem aja?!"
Ibu tertegun mendengar penjelasan Aleta. Pandangan Ibu yang tadinya gusar langsung beralih menatap Alisha dengan tatapan melunak dan penuh rasa bersalah. Sebagai seorang ibu, dadanya tentu ikut berdenyut perih mendengar anak sulungnya dihina seperti itu.
Belum sempat Ibu membalas ucapan Aleta, suara ketukan pintu yang dihentak kasar terdengar dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi! Bu Sarah! Keluar dulu Bu!" suara cempreng dan bernada tinggi yang sangat familiar terdengar dari teras. Itu suara Bu Ratmi.
Aleta langsung menyingsingkan lengan seragamnya, siap tempur kembali. "Wah, beneran dateng orangnya. Sini aku hadapin lagi!"
"Aleta, diem di sini. Jangan bikin masalah tambah gede," tahan Alisha dengan suara yang mendadak berubah sangat dingin dan tegas.
Ada sesuatu yang berbeda dari Alisha kali ini. Jika biasanya Alisha memilih untuk menghindar, masuk ke kamar, dan menangis sendirian ketika warna kulitnya dijadikan bahan gunjingan, sore ini tidak. Kehadiran Aleta yang begitu tulus membelanya tadi, serta suntikan rasa percaya diri dari Shaka kemarin, membuat benteng pertahanan Alisha berubah menjadi senjata. Dia tidak akan membiarkan adiknya disalahkan karena telah membelanya.
Alisha melangkah mantap membuka pintu utama, mendahului Ibu dan Aleta.
Di teras rumah, Bu Ratmi sudah berdiri dengan melipat tangan di dada. Di sampingnya, si bocil berkaus merah bernama Fino itu sedang sesenggukan sambil memegang ujung daster ibunya, sengaja memasang muka paling melas sedunia.
"Eh, Alisha. Mana adek kamu si Aleta? Suruh keluar! Saya gak terima ya anak saya dikatain leher daki aspal sampai nangis trauma begini!" semprot Bu Ratmi langsung begitu pintu terbuka.
Ibu melangkah keluar di belakang Alisha, berniat bicara baik-baik. "Jeng Ratmi, tenang dulu. Masalah anak-anak kan bisa dibicarakan..."
"Gak bisa Jeng Sarah! Anak saya ini masih kecil, mentalnya bisa rusak kalau dibentak-bentak sama anak SMA!" potong Bu Ratmi egois.
Alisha maju satu langkah, berdiri tegap tepat di depan Bu Ratmi. Postur tubuh Alisha yang tinggi semampai membuat Bu Ratmi harus sedikit mendongak. Alisha tidak memasang wajah marah, melainkan senyuman tipis yang teramat tenang—tipe senyuman savage yang biasa ia gunakan untuk membungkam Ivanka di sekolah.
"Bu Ratmi, sore," sapa Alisha, suaranya terdengar sangat santun namun penuh penekanan. "Sebelum Ibu menuntut Aleta untuk minta maaf, apa Ibu sudah tanya ke Fino, kenapa Aleta sampai bisa marah begitu di jalan?"
Bu Ratmi mengernyitkan dahi, wajahnya agak sewot. "Ya namanya anak kecil, Alisha! Paling cuma bercanda atau salah ngomong dikit. Namanya juga bocah, belum ngerti apa-apa! Gak usah lebay sampai dibentak dong!"
Alisha terkekeh pendek, sebuah kekehan yang membuat Bu Ratmi mendadak salah tingkah.
"Oh, jadi karena statusnya 'anak kecil', Fino bebas menghina warna kulit orang lain secara verbal di tempat umum, begitu Bu?" tanya Alisha dengan nada retoris yang telak. "Fino tadi nunjuk saya di depan teman-temannya, meneriaki saya 'item' dan 'gosong kayak arang sekam'. Apa menurut Ibu itu didikan yang baik untuk anak usia Fino?"
Bu Ratmi langsung bungkam seketika. Matanya melirik ke arah anaknya yang mendadak menyembunyikan wajahnya di balik daster karena ketakutan rahasianya terbongkar.
"Aleta marah bukan karena dia kasar, Bu. Aleta marah karena dia punya sopan santun untuk membela kakaknya yang dihina tanpa alasan," lanjut Alisha, argumennya meluncur dengan sangat taktis dan tenang, persis seperti cara kerja otak fisikanya. "Kalau Ibu bilang mental Fino bisa rusak karena dibentak, apa Ibu pernah mikir gimana mental orang lain yang dikatain secara body shaming oleh anak Ibu di pinggir jalan?"
"Tapi... tapi kan tetep aja gak boleh ngatain daki tebel begitu!" balas Bu Ratmi, mencoba mencari celah pembelaan walau suaranya sudah mulai mengecil karena malu.
Alisha tersenyum manis, sangat manis hingga terasa menyindir. "Soal daki tebel, itu kan cuma fakta lapangan yang dilihat Aleta, Bu. Sama seperti Fino yang mengutarakan fakta kalau kulit saya sawo matang. Bedanya, Aleta bicara karena dipancing duluan. Jadi, kalau Ibu mau masalah ini selesai, gimana kalau kita impas saja? Fino belajar cara menghargai fisik orang lain, dan Aleta belajar untuk tidak terlalu vokal di jalanan. Adil, kan?"
Beberapa ibu-ibu tetangga sebelah rumah yang sejak tadi pura-pura menyiram tanaman sambil menguping, tampak mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Alisha. Argumen Alisha terlalu bersih, logis, dan tidak bisa didebat.
Bu Ratmi berdeham salah tingkah, wajahnya memerah padam bukan karena marah, melainkan karena malu luar biasa hatinya diskakmat oleh anak SMA. "Ya... ya sudah! Lain kali bilangin adeknya jangan hobi teriak-teriak! Ayo Fino, pulang!"
Bu Ratmi langsung menarik tangan anaknya dengan terburu-buru, melangkah cepat meninggalkan pekarangan rumah Alisha tanpa menoleh lagi. Isu di grup WA RT dipastikan akan langsung padam setelah ini.
Setelah pagar kembali tertutup, Aleta langsung bersorak heboh di teras. "Wihhh! kak Alisha keren banget! Gila, mak-mak nyinyir langsung kicep gak pakai urat! Berguru di mana Mbak cara ngomong begitu?!"
Ibu juga tersenyum bangga, merangkul pundak Alisha dengan erat. " Alisha hebat. Ibu bangga kamu bisa seberani itu sekarang."
Alisha hanya tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Dia yang sekarang benar-benar bukan lagi Alisha yang lemah. Perang mental dengan Ivanka, wejangan dari Bapak, dan kehadiran Shaka perlahan-lahan telah mengubahnya menjadi singa betina yang sesungguhnya—tegas, anggun, dan tidak terkalahkan.