Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencuri uang Ratih
"Anne, apa Clara tidak pernah pegang uang?" tanya Rania spontan.
"Hah? Anne menggaruk kepalanya "Apa Nona sudah lupa? Menyebut nama sendiri?"
"Ahh_sorry, maksudnya aku tidak pernah di beri uang oleh wanita tua itu?' ralatnya cepat, Rania masih belum terbiasa untuk jadi Clara, kadangkala ia suka keceplosan menanyakan kehidupan Clara pada Anne.
"Semua uang pemberian kakek Darwin, di kelola oleh nyonya Ratih. Bukankah nona hanya diberi uang jajan sebulan sekali, kadangkala uang itu tidak mencukupi kebutuhan Nona Clara bukan?"
"Aduh kenapa ingatan ku begitu tumpul, sampai tidak ingat semuanya!" keluh Rania sambil pukul kepalanya
"Sudah nona jangan di paksakan, Nona Clara belum pulih benar. Aku yang akan ingatkan nona bila lupa."
Rania mengagguk "Terima kasih Anne."
"Anne, aku tidak punya uang untuk pergi ke salon, di dompet ku tersisa 50 dollar, jadi mana cukup!"
"Kalau begitu pakai uang gajih ku saja."
"Tidak!
Tiba-tiba Rania melebarkan senyumnya "Aku punya ide!
"Ayo ikut aku!"
"Kemana?!.
"Sudah ikut saja!"
Anne mengikuti langkah Rania di belakangnya. Ternyata Rania berjalan ke kamar Ratih. Setelah sampai di depan pintu, Rania menarik handle pintu, tetapi terkunci.
"Sial! Kamar ini terkunci!"
"Apa yang ingin nona lakukan di kamar nyonya?"
"Mengambil perhiasan milik ibuku! bukankah wanita tua itu telah mencurinya?"
Anne seperti ketakutan, ia mencondongkan tubuhnya dan berbisik "Nona hati-hati, di rumah ini banyak cctv tersembunyi."
"Benar kah?! tanya Rania, Namun tidak ada ketakutan sedikit pun di wajahnya.
"Nona, lebih baik kita pergi dari sini, aku takut nona kena hukuman lagi dan aku pasti akan di pecat."
"Kamu tidak usah khawatir, aku bukanlah Clara yang lemah dan penakut seperti dulu."
Anne sempat bingung dengan perubahan drastis anak majikannya. Selama ini yang ia tahu, Clara sangat penakut dan tidak berani melawan meskipun sering di aniaya oleh Ratih, Ronald dan Bianca. Clara terlalu lemah untuk sekedar membalas perlakuan mereka.
"Aku akan mencari sesuatu untuk mendobrak pintu ini!"
"Nona mau kemana?"
"Kamu tunggu saja disini!
Rania pergi ke area gudang dan ia sudah menemukan benda untuk membuka pintu kamar Ratih.
"Nona, untuk apa linggis itu?!" sahut Anne terkejut
"Tentu saja untuk membuka handle pintu ini."
"BRAKK!
Sekuat tenaga linggis di hantamkan ke gagang pintu, tiga kali pukulan handle pintu terbuka. Rania masuk kedalam kamar dan membuka lemari. Ia mencari perhiasan dan barang berharga milik Clara.
"Ada brankas!"
"Sial, ternyata ia menyimpan perhiasan milik ibunya Clara di dalam brankas!"
"Nona, cepat kita keluar sekarang. Aku takut bodyguard tuan Ronald mengetahui perbuatan nona.'" sahut Anne ketakutan
"Anne! Percaya padaku, bila terjadi sesuatu padamu. Aku yang akan melindungi mu!"
Tentu saja Anne tidak percaya begitu saja, jangankan untuk membela dirinya, menjaga diri sendiri saja Clara tidak akan sanggup.
"Aku tidak bisa membuka brankas ini, meskipun harus di bom!" gumam Rania sambil terus berpikir.
"Baiklah, untuk saat ini aku tidak bisa ambil perhiasan milik ibu Clara, tapi suatu hari nanti aku akan sikat semuanya!"
Tiba-tiba mata Rania melihat sebuah laci meja rias, gegas ia membuka laci tersebut dan melihat sebuah kotak berwarna merah. Rania begitu penasaran, ia mengeluarkan kotak tersebut dan membukanya.
"Wow uang!" Rania terkejut melihat tumpukan uang dollar di dalam kotak. "Baguslah, tidak dapat perhiasannya, aku dapatkan uang ini!" hehehe
"Nona, ingin anda apakan uang itu?
"Tentu saja untuk aku belanjakan!"
"Jangan Nona, itu namanya mencuri?"
"Lalu apa bedanya dengan wanita tua itu? Dia telah merampas semua milik Clara!"
"Milik ku! Ralat Rania cepat. "Bukankah kau juga bilang? Wanita tua itu yang sudah kelola uang yang di berikan Kakek? Jadi aku berhak ambil uang ini!"
Anne terdiam, ia tidak berani membantah. Apa yang dikatakan Clara benar, kalau uang-uang itu adalah miliknya. Bukankah selama ini Ratih tidak pernah adil pada anak tirinya.
Rania masukkan semua uang itu kedalam tasnya, lalu kembalikan kotak ketempat semula.
"Ayok, kita pergi sekarang!" tukas Rania sambil menarik tangan Anne.
Siang itu mereka sudah berada di sebuah Mall. Rania mengajak Anne untuk masuk kedalam salon. Setelah itu mereka berdua menikmati makan siang di sebuah restoran mahal. Tidak lupa Rania belanjakan sebagian uang Ratih untuk membeli pakaian, tas dan sepatu model terbaru.
Rania benar-benar menikmati hari itu, hal yang belum pernah ia rasakan sebelum pindah ke tubuh Clara. "Ternyata, memiliki uang banyak sangat menyenangkan. Aku bisa membeli apapun yang aku mau, meskipun uang ini hasil curian. Tapi ini juga uang Clara, aku berhak menikmatinya."
"Nona, pakaian ini sudah sangat banyak di beli. Apa masih kurang?" tanya Anne, ia sudah lelah berjalan kelilingi mall, belanja semua kebutuhan Rania.
"Aku ingin pindahkan pakaian lama ku, modelnya sudah kuno. Sangat berbeda dengan pakaian Bianca yang setiap hari gonta-ganti terus."
"Tapi, Nona tidak pernah membeli celana jeans, kemeja dan jaket kulit. Bukankah penampilan nona sangat feminim, kenapa cepat sekali berubah?"
"Anne, orang bisa saja berubah, dan tidak selamanya kita mau di bodohi! Balas Rania, sambil memilih kaos didalam rak
"Anne, sudah berapa lama aku tidak shopping?"
"Kalau tidak salah, tiga tahun yang lalu. Setelah Tuan David meninggal, non Clara tidak pernah shopping lagi."
"Pantas saja, semua pakaian ku tidak ada yang menarik, sangat ketinggalan jaman. Ternyata dua wanita licik itu yang sudah mengambil hak ku!"
"Anne, kamu boleh ambil pakaian, tas dan sepatu yang kamu inginkan."
"Tapi nona, aku takut kalau nyonya Ratih tahu dan menghukum ku."
"Aku yang akan bertanggungjawab, ayo belanja lah sesuka hatimu."
Anne mengagguk dan mulai memilih pakaian, tas dan sepatu terbaru.
Sementara di kediaman Ratih.
Wanita paruh baya itu baru saja sampai di kediamannya, ia memarkirkan mobilnya di carport. Bianca dan Ratih turun dari mobil dan masuk kedalam ruangan. Ia memanggil Anne berkali-kali, Namun wanita itu tidak juga muncul.
"Anne! Buatkan aku minum!" seru Ratih.
"Anne!"
"Maaf nyonya, Anne tidak ada di rumah." sahut asisten rumah tangga yang baru muncul
"Tidak ada di rumah? terus dimana Anne!" seru Ratih yang terlihat kesal
"Anne pergi bersama nona Clara, Nyah."
"Pergi bersama Clara? Kemana mereka pergi? kenapa Anne tidak mengabari ku kalau mau pergi."
"Saya tidak tahu Nyah, Anne dan Nona Clara tidak memberitahu mau pergi kemana." ucap sang asisten dengan wajah tertunduk.
"Brengsek! awas saja kalau pulang, akan aku habisi mereka berdua!" ancam Ratih sambil melangkah menuju kamarnya.
"Aaaaaaaaaa...!"
Terdengar suara teriakan histeris. Bianca yang baru terduduk di sofa langsung berlari menghampiri sang mama di dalam kamar.
"Mama ada apa?! kenapa teriak-teriak?"
"Lihat! handle pintu kamar mama rusak, pasti sudah ada yang berani masuk kedalam kamar mama!" tukas Ratih sambil mendorong pintu kamar dan berjalan masuk.
Ratih membuka lemari pakaian dan periksa brankas yang masih terlihat aman. Ia sedikit lega, namun masih ada yang mengganjal di hatinya. Ia buru-buru membuka laci meja rias dan melihat kotak merah masih tersimpan rapih.
"Bagaimana mah, apa ada yang hilang?!" tanya Bianca penasaran.
"Sepertinya tidak ada, brankas mama aman, tapi mama belum lihat kotak uang."
"Coba mama periksa dulu." sahut Bianca.
Ratih mengeluarkan kotak dari dalam laci, lalu membukanya. Seketika Ratih menjerit histeris.
"Uang ku hilang! uang ku ada yang mencuri!" teriak Ratih kalang kabut.
"Mama serius?
"Buat apa mama bohong, mama selalu menyimpan uang pemberian kakek tua itu di dalam kotak ini!"
"Berapa uang yang mama simpan di kotak itu?"
"500 juta!"
"What?! Pekik Bianca, sambil melebarkan bola matanya
"Sialan! siapa yang sudah berani mencuri uang ku? Pasti akan aku habisi!!!" teriak Ratih sambil terus merutuki.
*Sayang...jangan lupa, terus ikuti kelanjutannya. Akan update setiap hari. Beri LIKE setelah membaca, berikan VOTE/ GIFT seikhlasnya😁 Bantu komentar kalian di RATE BINTANG 🌟 DAN SERTAKAN KOMENTAR KALIAN sebagai penyemangat bunda 🥰
Love you more 💜💜💜
Terima kasih
lg seru soalnya 🤣🤣😍