Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TURNAMEN YANG TERHAPUS
Puncak Awan Putih yang biasanya tenang dan agung, malam ini tampak seperti bara api yang ditiup angin kencang. Suara lonceng sekte yang biasanya berdentang merdu untuk memanggil murid ke arena turnamen, kini berbunyi bertalu-talu dengan nada darurat yang memekakkan telinga.
"Turnamennya... mereka memajukannya malam ini?" Xuelan terengah-engah, menatap ke arah alun-alun utama dari gerbang Paviliun Pengobatan.
Di sana, di bawah sorotan obor yang berderit, ribuan murid berkumpul. Namun mereka tidak membawa papan nama faksi atau seragam upacara. Mereka memegang senjata, dan wajah mereka pucat pasi. Di atas panggung kehormatan yang seharusnya diisi oleh para wasit netral, kini berdiri pria bertopeng perak dari Istana Karma bersama Mu Yun yang terlihat masih lemah namun penuh dendam.
"Ini bukan lagi turnamen penyisihan, Xuelan," Feng menyeka darah dari sudut bibirnya. Tubuhnya masih bergetar hebat setelah konfrontasi di gudang bawah tanah, namun matanya menatap tajam ke arah kerumunan. "Mu Yun dan Istana Karma sedang melakukan Penyaringan Darah."
“Mereka pintar,” Yue Er muncul sebagai bayangan di samping Feng, tangannya yang transparan menyentuh Liontin Giok. “Alih-alih menunggu tiga hari untuk melihat siapa yang berbakat, mereka memaksakan 'Turnamen Kematian' malam ini. Siapa pun yang bertahan hidup dari serangan tentara bayangan mereka, akan diambil sebagai budak kultivasi. Dan siapa yang kalah... jiwanya akan menjadi modal bagi Istana Karma.”
"Feng! Kita harus pergi sekarang!" Guru Lin keluar dari paviliun dengan menggendong tas besar penuh botol ramuan. "Kapal terbang sekte sedang disiapkan di dermaga timur, tapi hanya untuk murid inti klan-klan besar!"
"Kita tidak akan ke dermaga timur, Guru," Feng menggeleng. "Itu jebakan. Mu Yun akan menghancurkan kapal-kapal itu di udara untuk melenyapkan saksi mata korupsinya."
Feng melihat ke arah alun-alun. Namanya, Tian Feng, baru saja dipanggil oleh pengeras suara sihir.
"Peserta nomor urut 999, Pelayan Medis Tian Feng! Segera naik ke arena atau faksi Pengobatan akan dinyatakan sebagai pengkhianat dan dimusnahkan di tempat!" suara itu menggelegar, jelas merupakan provokasi langsung dari Mu Yun.
"Dia memancingku," Feng mendesis. "Dia tahu aku baru saja menguras energiku di gudang. Dia ingin membunuhku di depan semua orang agar otoritas karma yang kupunya terlihat seperti ilmu hitam di mata murid lain."
Xuelan memegang tangan Feng. "Jangan pergi. Kita bisa lari lewat jalur belakang gunung yang aku tahu."
"Jika aku lari, mereka akan membantai seluruh faksi Pengobatan untuk memancingku keluar," Feng menatap Xuelan dengan tatapan yang sangat lembut namun penuh keteguhan. "Di garis waktu sebelumnya, aku memenangkan turnamen ini untuk harga diri. Kali ini... aku akan menghancurkan turnamen ini untuk kebebasan kita."
Feng melangkah menuju alun-alun. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia mulai melakukan teknik Pernapasan Dasar Tao untuk mengumpulkan sisa-sisa energi batu roh yang masih tersangkut di meridiannya.
Begitu Feng menginjakkan kaki di arena batu yang dingin, ribuan pasang mata menatapnya. Ada yang meremehkan, ada yang bingung, dan ada yang menatap dengan haus darah.
Di sisi lawan, berdiri Han Shuo. Pria yang di garis waktu sebelumnya adalah lawan tangguh Feng, kini tampak jauh lebih mengerikan. Matanya hitam pekat, dan urat-urat di lehernya berpendar ungu—tanda bahwa ia telah diberikan "pinjaman energi" terlarang oleh Istana Karma.
"Pelayan sampah," Han Shuo meludah ke tanah. Pedang besarnya mengeluarkan api hitam yang menjilat lantai arena. "Aku tidak tahu sihir apa yang kau gunakan pada Tetua Lu, tapi di sini, di bawah pengawasan Kepala Sekte, kau hanya akan menjadi tumpukan daging."
Feng tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya yang kurus. Liontin Giok di dadanya mulai berdenyut sinkron dengan detak jantungnya.
"Han Shuo," suara Feng tenang, namun merambat ke seluruh penjuru alun-alun. "Kau berhutang nyawa padaku di garis waktu yang tidak kau ingat. Malam ini... aku tidak akan menagihnya. Aku akan menghapusnya bersama dengan sekte yang membusuk ini."
"MATI KAU!" Han Shuo melesat maju. Tanah di bawah kakinya hancur. Pedangnya menebas secara vertikal, membawa beban ribuan ton energi korosif.
Feng tidak menghindar.
Ia mengangkat satu jarinya—Jari Penagih Takdir.
TING!
Ujung pedang raksasa Han Shuo berhenti tepat di depan jari Feng. Gelombang kejutnya menerbangkan debu di radius sepuluh meter, namun Feng tidak bergeser satu inci pun.
Mu Yun yang menonton dari panggung kehormatan berdiri dengan kaget. "Bagaimana mungkin?! Tubuhnya belum mencapai tahap pembangunan pondasi!"
“Gunakan 'Bunga Pinjaman' itu, Feng!” teriak Yue Er.
Feng menyentuh bilah pedang Han Shuo. "Kekuatan yang kau pakai ini bukan milikmu, Han Shuo. Istana Karma meminjamkannya padamu dengan jaminan jiwamu. Sekarang... aku akan melakukan penagihan awal."
Seketika, api hitam di pedang Han Shuo berbalik arah. Api itu merambat ke lengan Han Shuo, membakar energi korosif di dalamnya dan menyedotnya masuk ke dalam tubuh Feng.
Han Shuo berteriak kesakitan saat tubuhnya mulai menyusut, sementara tubuh Feng yang tadinya kurus dan lemah mulai memadat, otot-ototnya terbentuk kembali dengan cepat, dan cahayanya kembali memancar.
"Apa yang kau lakukan?!" raung pria bertopeng perak dari Istana Karma, ia berdiri dan melepaskan tekanan jiwanya ke arah arena.
Feng mendongak, menatap pria bertopeng itu dengan senyum miring. "Aku sedang melakukan likuidasi aset. Dan kau... kau adalah daftar hutang berikutnya."
Tiba-tiba, langit di atas alun-alun terbelah. Bukan karena jam pasir, tapi karena aura Feng yang menembus awan. Kitab Hukum Karma muncul kembali, kali ini dengan sampul yang membara.
"Turnamen ini selesai!" Feng menghantamkan tinjunya ke lantai arena.
DUMMM!
Seluruh alun-alun berguncang. Formasi pelindung sekte yang selama ini melindungi tempat itu justru meledak ke dalam, menghancurkan panggung kehormatan dan membuat para tetua klan berlarian panik. Di tengah kekacauan itu, Feng melesat ke arah Xuelan dan Guru Lin yang berada di pinggir kerumunan.
"Lari ke jalur belakang sekarang!" teriak Feng. "Aku akan meruntuhkan gerbang utama untuk menahan mereka!"
Namun, saat mereka baru saja mencapai gerbang belakang, langkah mereka terhenti oleh kehadiran seseorang.
Seorang wanita dengan pakaian serba putih, wajahnya tertutup cadar tipis, berdiri menanti mereka. Di tangannya, ia memegang sebuah instrumen musik petik (Guqin) yang memancarkan aura suci namun menyedihkan.
"Tian Feng," ucap wanita itu. Suaranya membuat Yue Er yang ada di dalam liontin mendesis ketakutan. "Kau telah mengacaukan neraka, dan sekarang kau mencoba melarikan diri dari surga?"
Feng mengerutkan kening. "Siapa kau?"
"Aku adalah orang yang menanggung hutang yang kau tinggalkan sepuluh ribu tahun lalu," wanita itu memetik satu senar musiknya.
BOOM!
Seluruh realitas di sekitar mereka mendadak membeku. Guru Lin dan Xuelan terdiam seperti patung. Hanya Feng yang masih bisa bergerak.
Wanita itu perlahan membuka cadarnya, memperlihatkan wajah yang... identik dengan Lin Xuelan, namun dengan mata emas yang memancarkan kesedihan abadi.
"Selamat datang di babak kedua yang sebenarnya, Bendahara Kecil."
Turnamen resmi berubah menjadi medan pembantaian, namun kemunculan wanita misterius yang mirip dengan Xuelan menghentikan pelarian Feng. Siapakah wanita ini? Dan apa hubungannya dengan masa lalu Feng yang bahkan belum ia ingat sepenuhnya?