Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana di dalam rumah tingkat itu terasa begitu tenang, kontras dengan badai yang baru saja menghantam Adnan di pesantren.
Kinan dengan telaten membantu Adnan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk mereka.
Wajah suaminya yang lebam tampak sangat letih, matanya sayu menahan nyeri di sekujur tubuh.
"Istirahatlah, Mas," ucap Kinan lembut, jemarinya mengusap kening Adnan yang terbalut perban kecil.
Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang.
"Mas butuh tidur agar lukanya cepat pulih. Aku akan di sini, menjagamu."
Adnan mengangguk lemah, memberikan senyum tipis yang penuh syukur sebelum akhirnya matanya terpejam, jatuh ke dalam tidur yang lelap akibat kelelahan fisik dan batin yang luar biasa.
Sambil menemani suaminya, Kinan duduk bersila di karpet bulu di samping tempat tidur.
Ia meraih kantong belanjaan tadi pagi, lalu mengambil buku gambar dan pensil warna yang baru ia beli.
Di tengah kesunyian kamar, Kinan mulai menggoreskan pensilnya.
Ternyata, di balik masa lalunya yang kelam, Kinan memiliki bakat terpendam yang luar biasa.
Jemarinya menari lincah di atas kertas putih. Ia menggambar beberapa perhiasan seperti kalung, gelang, dan cincin.
Desainnya elegan, rumit, namun memiliki sentuhan seni yang sangat modern.
Setiap detail permata dan lekukan logam ia warnai dengan gradasi yang sempurna.
Lama ia berkutat dengan imajinasinya, hingga gambaran yang sudah banyak membuat Kinan kelelahan.
Tanpa sadar, kepalanya terkulai di atas meja kecil, dan ia terlelap dalam posisi duduk dengan tangan masih memegang pensil warna.
Detik demi detik berganti, cahaya matahari sore yang berwarna jingga masuk menembus celah gorden.
Adnan membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.
Ia menoleh ke samping dan melihat istrinya yang tertidur di atas buku gambar.
Adnan tersenyum haru melihat wajah damai Kinan.
Ia bangkit pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara, lalu menarik buku gambar itu dari bawah lengan Kinan dengan sangat hati-hati.
Saat ia membalik halaman demi halaman, mata Adnan membelalak tidak percaya.
"Masya Allah, indah sekali gambaran ini," bisik Adnan takjub.
Desain perhiasan di kertas itu tampak seolah hidup.
Adnan yang memiliki koneksi cukup luas di luar dunia pesantren menyadari bahwa ini adalah bakat emas.
Tanpa membangunkan Kinan, Adnan memotret hasil karya istrinya dan menaruhnya di media sosial miliknya dengan takarir sederhana:
"Tangan yang bertaubat, menciptakan keindahan yang tak terduga."
Ia ingin dunia tahu bahwa Kinan-nya bukan sekadar wanita yang pernah tersesat, tapi seorang seniman dengan jiwa yang luar biasa cantik.
Sinar matahari sore yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari wajah Kinan yang tertidur pulas di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Geliat halus dari tubuhnya menandakan kesadarannya mulai kembali.
Kinan terbangun dan malu karena Adnan melihat buku gambarnya.
Ia mengerjapkan mata, menyadari posisi tidurnya yang tidak nyaman.
Hal pertama yang ia lihat adalah Adnan yang duduk bersandar di tempat tidur dengan buku gambar terbuka di tangannya. Wajah Adnan yang masih lebam karena bekas pukulan warga pesantren tampak tersenyum lebar, matanya berbinar menatap lembar demi lembar karya Kinan.
Jantung Kinan berdegup kencang. Rasa malu yang luar biasa menyergapnya.
Ia segera bangkit, mencoba merebut buku gambar itu.
"Mas! Jangan dilihat! Gambaran ku jelek!" seru Kinan panik.
Wajahnya langsung memerah sempurna hingga ke telinga.
Ia mencoba menutupi coretan pensil warnanya dengan kedua tangan.
"Itu cuma iseng, Mas. Benar-benar jelek, memalukan sekali."
Melihat reaksi panik istrinya yang menggemaskan, Adnan tertawa terbahak-bahak sambil menahan rasa sakitnya di sudut bibir yang pecah.
"Hahaha... duh, pelan-pelan tertawanya, perih," ringis Adnan sambil memegangi pipinya yang lebam, namun tawanya tak kunjung berhenti.
Ia menarik tangan Kinan, menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.
"Jelek katamu? Kinan, ini Masya Allah, indah sekali. Kamu punya bakat emas, Sayang. Desain perhiasan ini. Mas belum pernah melihat yang seunik ini."
Kinan menunduk malu, tak percaya dengan pujian suaminya.
"Mas cuma menghiburku saja, kan?"
"Mas serius," ucap Adnan tulus, jari-jarinya mengusap lembut punggung tangan Kinan.
"Dunia harus tahu betapa cantiknya jiwamu lewat karya ini."
Adnan kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. "Dan sepertinya, dunia mulai setuju dengan Mas."
Beberapa menit kemudian, ponsel Adnan tak henti-hentinya bergetar. Notifikasi Instagram meledak.
Unggahan foto desain perhiasan Kinan yang diberi takarir
"Tangan yang bertaubat, menciptakan keindahan yang tak terduga" telah dibagikan ribuan kali. Reaksi netizen sangat luar biasa.
@ Masya Allah, indah sekali desainnya! Sangat elegan dan bermakna."
@ Siapa yang menggambar ini? Aku ingin sekali punya kalung seperti ini!"
@ Kombinasi warnanya berani tapi sangat pas. Seni yang sesungguhnya."
Di antara ratusan komentar pujian, ada satu notifikasi yang membuat mata Adnan membelalak.
Sebuah pesan masuk dari akun terverifikasi. Seorang pengusaha perhiasan terkenal yang tertarik dengan desain Kinan, Bapak Aris Suherman, pemilik jaringan butik perhiasan mewah "Suherman Jewelery".
"Assalamu’alaikum, Ustadz Adnan. Saya Aris Suherman. Saya sangat terkesan dengan desain perhiasan yang Anda unggah. Desain ini memiliki nyawa dan karakter yang sangat kuat. Apakah saya bisa bertemu dengan senimannya? Saya ingin membeli hak desain ini untuk koleksi terbaru Suherman Jewelery, atau bahkan bekerja sama secara eksklusif."
Adnan menatap Kinan dengan senyum kemenangan yang tak tertahankan.
"Kinan, lihat ini. Allah tidak pernah menutup satu pintu tanpa membuka pintu yang lain. Pintu pesantren mungkin tertutup untuk kita, tapi pintu kesuksesan yang jujur sedang terbuka lebar untukmu."
Kinan menatap layar ponsel Adnan dengan tatapan tak percaya. Air mata haru mengalir di pipinya.
"Bapak Aris Suherman? Mas, ini mimpi, kan?"
Suasana di kamar lantai dua itu perlahan berubah menjadi penuh harapan.
Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat hantaman batu di pesantren, merasa seolah mendapatkan kekuatan baru saat melihat pesan dari pengusaha perhiasan ternama itu.
Adnan mengambil ponselnya dan membalas pesan Tuan Aris.
Jemarinya dengan mantap mengetikkan balasan, menyatakan kesediaannya untuk bertemu dan mendiskusikan desain-desain indah milik istrinya.
Namun, Kinan yang melihat suaminya begitu bersemangat justru merasa menciut.
Ia menatap buku gambarnya, lalu menatap tangannya yang gemetar.
Rasa tidak percaya diri akibat masa lalunya kembali menyerang.
"Mas, aku malu. Aku belum siap. Mas saja yang datang sendiri menemui Tuan Aris," bisik Kinan sambil menunduk dalam.
"Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan orang hebat seperti dia. Aku takut nanti aku justru mempermalukan Mas."
Adnan meletakkan ponselnya, lalu menatap Kinan dengan tatapan jenaka yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana.
"Kinan, kalau aku yang datang sendiri, terus Pak Aris memintaku untuk menggambar langsung di depannya sebagai bukti, aku mau gambar apa? Kucing sedang duduk?" ucap Adnan sambil memeragakan gerakan tangan menggambar yang kaku.
Mendengar bayangan suaminya yang seorang Ustadz harus menggambar kucing duduk di depan pengusaha perhiasan mewah, pertahanan Kinan runtuh.
Kinan tertawa terbahak-bahak, tawa yang begitu lepas hingga air mata muncul di sudut matanya.
Beban di pundaknya seolah terangkat seketika oleh humor suaminya.
"Tuh kan, ketawa," Adnan tersenyum lembut, tangannya meraih jemari Kinan dan menggenggamnya erat.
"Sayang, jangan kamu pendam bakat kamu. Allah memberikanmu kemampuan ini bukan untuk disembunyikan, tapi untuk menunjukkan bahwa setiap hamba-Nya punya sisi indah, bagaimanapun masa lalunya."
Adnan mencium punggung tangan Kinan dengan penuh hormat.
"Mas akan selalu ada di sampingmu. Kamu tidak perlu bicara banyak jika belum sanggup, biar Mas yang mendampingi bicaranya. Tapi karyamu, biarlah itu yang bicara sendiri."
Kinan terdiam, meresapi setiap kata dukungan dari suaminya.
Ia melihat bekas luka di pelipis Adnan—luka yang didapat karena membelanya.
Ia sadar, ia tidak boleh mengecewakan pengorbanan lelaki ini.
"Baiklah, Mas. Aku akan ikut," ucap Kinan akhirnya dengan nada mantap.
"Pintar," puji Adnan sambil melirik jam.
"Nanti kita makan malam dengan Tuan Aris. Dia mengundang kita ke sebuah restoran yang tenang. Sekarang, kamu pilih baju terbaikmu. Mas ingin dunia melihat bahwa seniman hebat ini adalah istriku."
Kinan mengangguk, hatinya bergetar antara gugup dan bahagia.
Inilah langkah pertamanya keluar dari bayang-bayang kegelapan, didampingi oleh cahaya hidupnya, Adnan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅