Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22| Ancaman
“Apakah kau yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Ara sambil menatap wajah Jason yang sedang fokus mengemudi.
Ara melihat jelas raut wajah Heori yang begitu marah dan dendam kepadanya, ia juga mulai merasa tidak nyaman. Seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi kepada dirinya.
“Kau tenang saja, Ara. Ini adalah yang terbaik! Sekarang aku sudah menikah dan kau adalah istriku, apakah kau senang jika suamimu ini memiliki seorang kekasih?” tanya Jason dengan suara tenangnya.
“Iya, kau benar. Seharusnya aku merasa senang kau sudah memutuskan kekasihmu itu,” balas Ara sambil menyandarkan punggungnya.
“Kau ingin mampir ke mana sebelum kita pulang?” tanya Jason saat mereka terjebak macet
“Aku pengin makan di restoran jepang,” jawab Ara.
“Oke, kita ke sana sekarang!” kata Jason yang kembali menjalankan mobilnya, di dalam mobil mereka berdua sama-sama terdiam menikmati perjalanan mereka dengan sebuah lagu yang di putar di radio. Lagu yang membuat Ara merasa tenang dan Jason juga menikmati lagu tersebut, terbukti sesekali lelaki itu bersenandung kecil.
“Kau tahu lagu ini?” tanya Ara dan menatap Jason yang sedang menyanyikan bait lagu.
“Tidak terlalu, tapi aku pernah mendengarnya dan tiba-tiba saja aku menyanyikannya,” jawab Jason sambil mengendikkan bahunya.
Ara tersenyum kecil mendengar. Ia juga mulai mengikuti Jason menyanyikan lirik lagu dari penyanyi kesukaannya itu.
Suasana di dalam mobil terasa hidup saat lagu-lagu yang menjadi playlist kesukaan Ara mulai di putar di radio. Ia tidak sendirian, karena Jason juga ikut bernyanyi dan memadu harmoni dengannya, mereka sama-sama tertawa bahagia dan saling memiringkan kepalanya menikmati lagu-lagu itu.
“Suaramu sangat bagus!” puji Ara dengan tatapan kagumnya.
“Kau juga sangat bagus dan suara kita seperti menyatu, sangat indah,” balas Jason yang memang benar adanya.
...***...
“Kau ingin makan apa?” tanya Jason saat mereka memasuki restoran jepang.
“Aku ingin, sup Miso, Takoyaki, Karaage sama Okonomiyaki. Itu saja!” jawab yang kini menggandeng lengan Jason.
“Tumben sekali kau mau makan banyak?” Jason menatapnya dengan mata memicing.
“Entahlah, rasanya makan itu cocok di nikmati selesai hujan seperti ini,” Ara mengendikkan bahu acuh, ia memilih untuk memainkan origami kecil yang terdapat di atas meja.
Jason menatapnya heran, tapi ia tetap memesankan apa yang di sebutkan oleh Ara. Ia juga tiba-tiba ingin memakan semua itu setelah mendengar namanya, sudah lama juga ia tidak makan makanan Jepang.
“Kau juga pesan makanan sepertiku?” tanya Ara saat menatap pelayan meletakkan makanan mereka dan semuanya ada dua di setiap jenis makanan yang ia sebutkan.
“Aku juga ingin memakan semua ini, entahlah tiba-tiba saja ingin merasakannya,” jawab Jason yang mulai melahap makanannya.
Ara juga mulai melahapnya dan sesekali mereka membuka obrolan kecil atau bercanda.
“Kau sudah kenyang?” tanya Jason saat Ara selesai menghabiskan makanan terakhirnya, sedangkan ia menambah satu mangkok ramen setelah menghabiskan semuanya.
“Hah! Iya, aku sudah kenyang dan perutku terasa sangat penuh!” seru Ara menyandarkan punggungnya di kursi, ia memejamkan matanya, karena perutnya yang begitu kekenyangan membuat cukup kesusahan untuk bernafas.
Jason yang melihatnya diam-diam mengambil ponselnya dan memotret Ara tanpa sepengetahuan Ara.
“Ingin mampir ke mana lagi?” tanya Jasob kepada Ara yang masih enggan merubah posisinya, ia mulai mengantuk dan susah untuk berpikir.
Ara mencoba untuk duduk tegap, ia menatap Jason yang mengeluarkan uangnya untuk membayar makanan mereka.
“Tidak ada, aku sudah mulai mengantuk. Aku ingin pulang saja,” jawab Ara yang mulai menguap.
Tangan Jason terulur, mengusap pelan puncak kepala Ara. Kemudian, ia berdiri dan menarik lembut tangan Ara untuk keluar dari restoran.
...***...
Ara baru saja sampai di kantornya dan ia melihat Nara yang menunggunya di depan pintu. Ara mempercepat langkahnya untuk menghampiri Nara, saat ia sampai di hadapan Nara. Nara langsung menarik tangannya dan mereka memasuki kantor.
“Aku ingin bertanya kepadamu!” seru Nara sambil berbisik di telinga Ara, karena sekarang tempat mereka berdiri sedang ramai.
“Tanya saja! Memangnya kau ingin menanyakan hal apa?” tanya balik Ara dengan berbisik juga.
“Gini, apakah benar suamimu sudah berubah?” tanya Nara membuatnya tersenyum kecil.
“Tentu saja, dia juga mengatakan kepadaku kalau dia akan menghapus semua kenangan masa laluku yang terus menghantuiku itu dengan kenangan baru bersamanya,” jelas Ara dengan senyum bahagia di wajah.
Nara juga ikut tersenyum bahagia melihatnya.
“Syukurlah, aku tidak jadi membunuhnya!” balas Nara.
“Kau harus mengurangi ucapanmu yang tidak berarti itu!” kesal Ara yang di balas tawa kecil dari sahabatnya itu.
Mereka mulai kembali berbincang mengenai produk-produk kecantikan yang akan dibeli Nara, tapi tiba-tiba Nara menghentikan ucapannya dan menepuk pelan bahu Ara.
“Kenapa?” bingung Ara yang melihat sahabatnya itu memainkan matanya.
Ara menoleh ke arah yang di tunjukkan Nara dan ia melihat Jason yabg baru memasuki kantor dengan Michael di belakangnya. Tumben sekali ia membawa Michael kantor.
Ara menatap keduanya dan ia tersenyum saat Michael tersenyum, lalu menyapanya lewat tatapan matanya. Jason juga tersenyum kecil dan mengedipkan sebelah matanya kepada Ara, hal itu sukses membuat wanita malu dan pipinya memanas.
“Ada yang lagi malu-malu, nih,” Nara menyenggol bahu Ara dan menggodanya.
“Wajahmu sangat lucu kalau memerah begitu,” bisik Jason saat berjalan di sebelah Ara.
Tidak ada yang mendengarnya, hanya Ara dan Jason yang tentu mengucapkan kalimat itu. Wajah Ara semakin memerah dan ia sangat malu.
“Wah, wajahmu semakin merah saja!” kekeh Nara yang terus menggodanya. Ara langsung masuk ke dalam lift, karena wajahnya sangat memerah, ia takut ada yang melihatnya dan menggodanya seperti yang di lakukan oleh Nara.
“Kau ingin meninggalkanku?” tanya kesal Nara, karena Ara lebih dulu masuk dan meninggalkannya.
“Diamlah, aku kesal denganmu!” kesal Ara yang dibalas tawa kecil dari Nara.
“Ternyata begini ya wajahmu saat sedang jatuh cinta?” tanya Nara dengan suara kecilnya.
“Diamlah!” kesal Ara dan menutupi wajahnya.
Nara tertawa kencang membuatnya di perhatikan oleh orang-orang yang berada di dalam lift.
“Aku duluan Ara!” pekik Nara yang keluar terlebih dahulu dari lift.
Ara hanya menggelengkan kepalanya, kini hanya tersisa dirinya saja. Karena, rata-rata semuanya turun di lantai sepuluh dan dua belas. Ara memainkan jarinya menunggu lift terbuka.
“Akhirnya,” gumam Ara dan melangkah keluar, ia melangkah ke arah meja kerjanya dan sesekali menyapa sesama karyawan yang menyapanya.
“Ara ada paket untukmu, nih!” seniornya memberi sebuah kotak yang berukuran besar kepadanya dan Ara tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.
“Apa ya isinya?” gumam Ara yang mulai membukanya, Ara melebarkan matanya saat melihat isi dari kotak itu. Ia membekap mulutnya dan matanya mulai berkaca-kaca.
Bersambung...