NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Pagi menjelang siang itu terasa hangat.

Cahaya matahari masuk melalui jendela besar apartemen Ryuga, memantulkan kilau lembut di lantai marmer yang bersih. Udara di dalam ruangan masih menyisakan aroma bubur ayam yang tadi mereka makan bersama—sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu akrab.

Quinn berdiri di dekat pintu, merapikan jaketnya.

“Ya udah, gue pulang.”

Nada suaranya terdengar santai, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Namun Ryuga, yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, langsung mengernyit.

“Pulang?”

Quinn menoleh.

“Iya. Mau ngapain lagi?”

Ia mengangkat alis.

“Mau nemenin lo tidur lagi?”

Ryuga mendecak pelan.

“Jangan pulang.”

Quinn terdiam sebentar.

“Hah?”

Ryuga melangkah mendekat.

“Temenin gue.”

Quinn menyilangkan tangan.

“Ngapain?”

Ryuga menatapnya sejenak, lalu berkata singkat—

“Jalan-jalan.”

Sepersekian detik—

Mata Quinn langsung berbinar.

“Jalan-jalan?!”

Nada suaranya berubah drastis.

Ryuga hampir tersenyum melihat reaksi itu.

Quinn langsung mendekat.

“Ke mana?!”

Ryuga mengangkat bahu.

“Liat nanti.”

Quinn langsung menunjuk dirinya sendiri dengan penuh semangat.

“Gue ikut!”

Ryuga terkekeh pelan.

“Baru juga nawarin.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di jalan.

Motor sport hitam milik Ryuga melaju membelah jalanan kota.

Angin menerpa wajah, membawa aroma aspal yang hangat dan sedikit debu kota. Lalu lintas tidak terlalu padat, memberi ruang bagi Ryuga untuk melaju dengan kecepatan stabil.

Quinn duduk di belakang.

Awalnya ia hanya berpegangan pada jok.

Namun setiap kali motor sedikit melaju lebih cepat—

“WOI! PELAN DIKIT KENAPA SIH?!”

Quinn langsung refleks memeluk pinggang Ryuga.

Ryuga tersenyum tipis.

“Pegangan yang bener.”

Quinn mendengus.

“Jangan ngebut-ngebut!”

Beberapa detik kemudian—

“Ga, itu liat deh! Kucingnya gemoy banget!”

Ryuga tidak menjawab.

Namun Quinn tetap ngoceh tanpa henti.

“Eh, gue mau es krim.”

“Eh, gue juga mau ke mall.”

“Eh, kita ke pantai aja yuk.”

Ryuga menghela napas pelan.

“Lo nggak capek ngomong?”

Quinn langsung menjawab cepat.

“Nggak.”

Lalu ia menepuk bahu Ryuga pelan.

“Lo capek dengerin gue ya?”

Ryuga terkekeh.

“Dikit.”

Quinn mencubit pinggangnya.

“Nyebelin.”

Namun di balik semua ocehan itu—

Ryuga diam-diam merasa hangat.

Sosok Quinn yang seperti ini…

Bawel.

Ceria.

Sedikit barbar.

Itulah Quinn yang ia kenal sejak dulu.

Dan tanpa ia sadari, perasaan yang sempat kusut dalam dirinya mulai perlahan mereda.

Motor akhirnya keluar dari area kota.

Jalanan mulai sepi.

Pepohonan hijau berjejer di sisi kiri dan kanan, menciptakan suasana yang lebih tenang. Angin terasa lebih sejuk, membawa aroma tanah dan air.

Quinn mulai memperhatikan sekitar.

“Ini… kita ke mana sih?”

Ryuga tidak langsung menjawab.

Beberapa menit kemudian—

Motor itu melambat.

Lalu berhenti di tepi sebuah danau.

Airnya tenang, memantulkan langit biru yang bersih. Di pinggirannya terdapat rerumputan liar yang tumbuh alami, dan beberapa batu besar yang dulu sering mereka duduki.

Tempat itu tidak berubah.

Masih sama seperti bertahun-tahun lalu.

Quinn perlahan turun dari motor.

Matanya membesar saat melihat pemandangan di depannya.

“Danau ini…”

Suaranya melemah.

Ryuga berdiri di sampingnya.

“Tempat kita dulu.”

Quinn menoleh cepat.

Tatapan mereka bertemu.

Sejenak, waktu terasa berhenti.

Kenangan lama perlahan muncul.

Tawa kecil.

Kejar-kejaran.

Obrolan polos tentang masa depan.

Quinn melangkah pelan mendekati tepi danau.

“Gila…”

Ia tersenyum kecil.

“Masih sama.”

Ryuga ikut mendekat.

“Hm.”

Quinn menoleh.

“Lo sengaja bawa gue ke sini?”

Ryuga memasukkan tangan ke saku jaketnya.

“Kenapa? Nggak boleh?”

Quinn menggeleng cepat.

“Boleh banget.”

Ia tersenyum.

“Tapi gue kaget aja.”

Ia menatap danau itu lagi.

“Udah lama banget soalnya…”

Ryuga menatap Quinn.

Dan tanpa ia sadari—

Tatapannya melembut.

“Lo masih inget?”

Quinn mendengus kecil.

“Ya jelas inget lah.”

Ia menoleh dengan senyum jahil.

“Dulu lo pernah jatuh ke danau gara-gara kejar gue.”

Ryuga mengangkat alis.

“Lo yang dorong.”

Quinn langsung membela diri.

“Refleks!”

Ryuga mendekat sedikit.

“Refleks apaan dorong orang ke air?”

Quinn terkekeh.

“Abis lo ngeselin.”

Ryuga tiba-tiba berdiri lebih dekat.

Terlalu dekat.

Quinn sedikit terdiam.

Ryuga menatapnya dalam.

“Sekarang juga gue masih ngeselin?”

Nada suaranya rendah.

Quinn berusaha tetap santai, lalu mengangguk.

“Iya.”

Namun suaranya sedikit melemah.

Ryuga tersenyum tipis.

“Terus?”

Quinn menyilangkan tangan, berusaha menutupi rasa gugupnya.

“Terus… ya gue tahan.”

Ryuga sedikit memiringkan kepala.

“Tahan?”

Quinn mengangguk.

“Iya.”

Ia menatap Ryuga balik.

“Karena… ya…”

Ia berhenti sejenak.

Lalu berkata dengan nada setengah bercanda—

“…nggak semua orang bisa gue tahan.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Namun maknanya tidak sederhana.

Ryuga menatapnya beberapa detik lebih lama.

Angin sore berhembus pelan, membuat rambut Quinn sedikit berantakan.

Tanpa sadar, Ryuga mengangkat tangan—

Lalu merapikan helai rambut yang menutupi wajah Quinn.

Quinn langsung membeku.

“Ryuga…”

Ryuga tidak menjawab.

Tatapannya dalam.

Penuh sesuatu yang sulit diungkapkan.

Posesif.

Melindungi.

Dan… cinta yang selama ini ia simpan.

“Jangan pergi lagi.”

Suaranya pelan.

Namun tegas.

Quinn terdiam.

Dadanya terasa berdebar lebih cepat.

Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata.

Ryuga menatapnya lurus.

“Sekali lagi lo hilang…”

Ia berhenti sejenak.

“…gue nggak tahu gue bakal gimana.”

Quinn menggigit bibirnya pelan.

Hatinya menghangat.

Namun juga terasa berat.

Karena ia tahu—

Perasaan itu…

Masih sama.

Belum berubah.

Dan mungkin…

Tidak akan pernah benar-benar hilang.

...----------------...

Hari itu terasa berjalan lebih cepat dari yang seharusnya.

Danau yang tenang menjadi saksi tawa yang kembali hidup—tawa yang pernah hilang, kini perlahan kembali menemukan tempatnya.

Di bawah langit biru yang perlahan berubah hangat, Quinn dan Ryuga menghabiskan waktu bersama seperti masa lalu yang terulang.

Quinn berlari kecil di pinggir danau, menendang kerikil-kerikil kecil ke arah air.

“WOI... LIAT NIH!”

Cipratan air menyebar.

Ryuga yang berdiri beberapa meter di belakangnya hanya menggeleng pelan.

“Jangan terlalu dekat.”

Nada suaranya tetap datar, namun penuh peringatan.

Quinn menoleh, menjulurkan lidah.

“Ih, cerewet.”

Lalu tanpa aba-aba—

Ia mengambil segenggam air dan melemparkannya ke arah Ryuga.

“RASAIN!”

Air itu mengenai jaket Ryuga.

Ryuga terdiam.

Quinn langsung membeku.

Beberapa detik hening—

Lalu Ryuga berjalan mendekat dengan langkah tenang.

Terlalu tenang.

Quinn mundur satu langkah.

“Eh… santai ya…”

Ryuga terus mendekat.

“Lo nyiram gue?”

Quinn tertawa gugup.

“Refleks…”

Ryuga berhenti tepat di depannya.

Menatapnya dalam.

“Refleks apaan?”

Quinn mundur lagi.

“Insting bertahan hidup…”

Ryuga mengangkat alis.

“Gue ancaman?”

Quinn tersenyum lebar.

“Iya.”

Ryuga menghela napas.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Tiba-tiba—

Ia menarik pergelangan tangan Quinn.

“EH—RYUGA!”

Tanpa banyak bicara, Ryuga menyeret Quinn lebih dekat ke air.

Quinn langsung panik.

“WOI... JANGAN!”

Ia berusaha melepaskan diri.

“RYUGA SUMPAH—”

Namun Ryuga hanya berhenti tepat di tepi danau.

Lalu menatapnya.

“Takut?”

Quinn mendengus.

“Siapa juga yang takut!”

Ryuga mendekat sedikit.

Quinn langsung refleks memeluk lengannya.

“Eh… tapi jangan beneran ya…”

Ryuga tertawa pelan.

Jarang.

Namun hangat.

Ia tidak benar-benar mendorong Quinn.

Sebaliknya—

Ia justru menarik Quinn menjauh dari tepi.

“Bilang aja takut.”

Quinn mencubit lengannya.

“Apaan sih!”

Mereka duduk di atas batu besar yang menghadap langsung ke danau.

Angin sore berhembus pelan, membawa aroma air yang segar.

Quinn bersandar santai, sementara Ryuga duduk di sampingnya, sedikit lebih tegak, matanya sesekali mengawasi sekitar—kebiasaannya yang selalu protektif tidak pernah hilang.

Quinn kembali berbicara.

“Eh, inget nggak dulu lo janji mau ngajak gue ke sini tiap minggu?”

Ryuga menjawab singkat.

“Inget.”

Quinn mendengus.

“Tapi lo ngilang.”

Kalimat itu terdengar ringan, namun menyimpan sesuatu yang lebih dalam.

Ryuga terdiam sejenak.

“Ada alasan.”

Quinn menoleh.

Namun sebelum ia sempat bertanya—

Ryuga lebih dulu berbicara.

“Dan sekarang gue di sini lagi.”

Ia menatap Quinn.

“Bareng lo.”

Quinn terdiam.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Sore mulai berubah menjadi senja.

Langit perlahan berubah warna—jingga, keemasan, dan sedikit ungu bercampur menjadi satu.

Cahaya matahari yang hampir tenggelam memantul di permukaan danau, menciptakan pemandangan yang begitu tenang… namun juga penuh perasaan.

Quinn menatap langit.

“Cantik banget…”

Ryuga tidak melihat langit.

Ia melihat Quinn.

Dan dalam momen itu—

Ia tahu.

Ia tidak ingin menunda lagi.

“Ra.”

Quinn menoleh.

“Hm?”

Ryuga menarik napas pelan.

Tatapannya serius.

Tidak seperti biasanya.

“Ada yang mau gue bilang.”

Quinn mengernyit.

“Apa?”

Ryuga menatapnya lurus.

Tanpa ragu.

“Gue suka sama lo.”

Hening.

Angin berhenti terasa.

Waktu seolah ikut diam.

Quinn menatapnya tidak percaya.

Beberapa detik berlalu—

Lalu ia tertawa kecil.

“Apaan sih…”

Ia mendorong bahu Ryuga pelan.

“Lo nembak gue?”

Ryuga tidak tersenyum.

Ia hanya mengangguk.

“Iya.”

Quinn langsung terdiam.

Senyumnya perlahan memudar.

Digantikan oleh ekspresi yang sulit dijelaskan.

Kaget.

Bingung.

Bahagia.

Takut.

Semua bercampur menjadi satu.

Dadanya terasa penuh.

Seolah perasaan yang selama ini ia pendam tiba-tiba meledak dalam satu waktu.

“Lo… serius?”

Ryuga mengangguk lagi.

“Serius.”

Quinn menunduk.

Tangannya saling menggenggam.

Pikirannya kacau.

Namun di tengah kekacauan itu—

Ia teringat dengan ucapan ibunya beberapa hari yang lalu.

“Kalau Ryuga sampai nunggu kamu selama ini… jangan buat dia nunggu terlalu lama lagi.”

Quinn menelan ludah.

Ia melirik ke kiri dan kanan.

Danau itu sepi.

Hanya mereka berdua.

Lalu dengan nada setengah bercanda, ia berkata—

“Kira-kira kalau gue nolak…”

Ia menatap Ryuga.

“…lo nggak ada niatan ceburin gue ke danau kan?”

Ryuga langsung mengernyit.

“Lo nolak gue?”

Quinn langsung panik.

“Issshhh… ya nggak gitu!”

Ia memukul lengan Ryuga.

“Kan gue bilang KALAU!”

Ryuga mendekat sedikit.

“Jadi... Lo terima?”

Quinn menggigit bibirnya.

Wajahnya mulai memerah.

Perlahan—

Ia mengangguk.

Kecil.

Namun jelas.

“Iya…”

Detik itu—

Senyum Ryuga muncul.

Lebar.

Tulus.

Tanpa ditahan.

Tanpa ragu—

Ia langsung menarik Quinn ke dalam pelukannya.

“Terima kasih.”

Lalu tiba-tiba ia mengangkat dan memutar tubuh Quinn dengan gemas.

Quinn langsung terkejut.

“EH! RYUGA!”

Ia tertawa panik.

“TURUNIN!”

Namun tawanya tidak bisa disembunyikan.

Bahagia.

Murni.

Ryuga akhirnya berhenti, namun tidak langsung melepaskannya.

Ia menatap Quinn.

Dekat.

Sangat dekat.

Keduanya terdiam.

Namun senyum masih tersisa di bibir mereka.

Dan tanpa banyak kata—

Ryuga perlahan mendekat.

Quinn sempat terkejut.

“Ryuga…”

Namun kali ini—

Ia tidak menghindar.

CUP.

Bibir mereka bertemu.

Lembut.

Namun dalam.

Ciuman itu tidak terburu-buru.

Seolah keduanya ingin memastikan bahwa ini nyata.

Quinn sempat membeku.

Namun perlahan—

Ia membalas.

Membuat Ryuga semakin dalam merasakan kebahagiaan yang selama ini ia tunggu.

Saat mereka berpisah—

Napas keduanya sedikit terengah.

Namun senyum tidak hilang.

Ryuga berbisik pelan.

“Jadi…”

Ia menatap Quinn dengan mata yang masih penuh perasaan.

“…sekarang kita pacaran?”

Quinn tersipu.

Wajahnya memerah.

Namun ia mengangguk.

“Iya…”

Ia tersenyum kecil.

“Kita pacaran.”

Ryuga kembali memeluknya.

Kali ini lebih tenang.

Lebih dalam.

Lalu ia mengecup kening Quinn dengan lembut.

Seolah menegaskan satu hal—

Bahwa kali ini, ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi lagi.

Dan di bawah langit senja yang perlahan berubah gelap—

Dua hati yang sempat terpisah itu akhirnya kembali menemukan jalannya.

Bersama.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!