"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMARAH TAMA
BAB 6
Sesampainya Tama di kantor ternyata dia sudah melihat Selin disana, pantas saja pas di jemput gadis itu tidak ada di Apartemen, Tama mendekat
“kenapa tidak bareng aku?”
Selin mendongakan kepala mendapati Bos besarnya sudah tiba di kantor, namun bukannya menjawab Selin malah menarik Tama memasuki ruangannya.
“Sein?”
“Aku datang lebih awal karena Yoga menghubungi aku, dia menemukan kotak ini di depan kantor.”
Tama mengerutkan dahi, ada yang aneh disini, tapi pria itu masih terlihat tenang.
“Kamu sudah coba cek apa isinya?” Gadis itu dengan ragu menganggukan kepala.
“Apa Isinya Sein?”
“Kamu buka aja Tam..”
Selin menjawab menuh dengan perintah, tapi Tama yang paham seperti apa Selin langsung mengerti dari kode lirikan matanya.
Krek..saat kotak berlapis kayu itu di buka Tama langsung mendelik, cukup terkejut tapi Tama masih terlihat tenang.
“Dani Tam, Dan dia di bunuh setelah mengirim pesan pada Faisal.”
Mendengar itu seketika rahang Tama mengeras, dia tau apa yang sedang terjadi pada salah satu anak buahnya.
“Apa isi pesannya?”
Selin langsung memberikan ponsel milik Faisal, dan satu kalimat yang tertulis disana langsung membuat darah Tama seakan mendidih.
“Satu Sama Bro, dua lagi menyusul ya!”
PRANK.
Seketika Selin langsung menunduk saat melihat ponsel di tangan Tama di lempar dengan sangat keras, bukan hanya rusak ponsel itu bahkan meja tamu di sana ikut retak sangking kuat tenaga Tama.
“urus semuanya Selin, jangan ada yang bergerak sebelum perintah ku..”
“Baik Pak..”
Jika sudah dalam mode serius seperti ini sudah membuat Selin ketar – ketir. Tama memang sangat pemarah, apapun itu, bahkan sesuatu masalah yang kecil saja bisa menjadi besar jika sudah terdengar di telinga Tama.
Merasa panas dan kepala seakan ingin pecah, Tama engan berlama – lama di kantor bahkan pria itu langsung pulang.
“Huft..”
“Mau kemana Pak?” tanya Bayu yang merupakan Sekretaris sekaligus asisten Tama.
“Saya mau pulang..”
“Biar saya antar..”
“Tidak! Biar saya sendiri..”
Tama melangkah pergi tanpa memperdulikan Sekretarisnya, dia ingin sekali berendam air dingin menormalkan suhu panas pada tubuhnya.
Ting ..
Saat pintu kamar terbuka Alisya yang sedang asik mendengarkan musik langsung terkejut, baru satu jam lalu Suaminya pamit berangkat kerja, tapi kenapa sekarang sudah dirumah?
Dan ternyata Tama langsung pulang kerumah, Alisya yang sedang berbaring langsung mendudukan tubuhnya.
“Mas?”
Tanpa bicara Tama langsung menghampiri Istrinya, Gaun tipis yang di kenakan Istrinya sudah membuat jiwa panasnya semakin meronta – ronta.
“Mas kenapa kamu pulang?”
Alisya mendelik saat saat Tama mulai menghampirinya, nyaris seperti singa yang ingin menerkam mangsanya, Namun Alisya hanya bisa terdiam.
“Mas, kamu kenapa?”
Alisya tak bisa menolak apa lagi sampai melarang saat sang Suami mulai melucuti satu persatu pakaiannya, Tama benar – benar diam tanpa bicara.
“Aku ingin kamu sekarang Sayang..” suara yang yang sangat kramat akhirnya terdengar, Alisya mulai menahan nafasnya.
“Iyaa.. tapi kenapa tiba – tiba begini?”
Tama mendudukkan dirinya, wajah tampannya terlihat sangat memerah, dan itu membuat Alisya bingung..
“Kamu ada masalah Mas?”
“Tidak ada sayang, hasratku sedang naik, aku ingin menyentuhmu..”
Alisya memeluk tubuh suaminya, si Cantik itu sangat tau apa yang saat ini Suaminya butuhkan, ketenangan.
Cup.
Dengan kecupan lembut Alisya mulai memberikan sensasi kenyamanan yang tak bisa Tama dapatkan di manapun, Lelaki itu seketika langsung terbuai.
“Pakai ini Mas?”
Saat Alisya menawarkan pengaman Tama langsung menggeleng, dia tak mau ada yang mengganggu hasratnya pagi ini.
“Pilnya masih ada Sayang?”Alisya mengangguk pelan.
Kenapa harus Pil yang Suaminya tanyakan? Apa Alisya harus meminumnya lagi? Sampai kapan? Kenapa Pil itu membuat semangat Alisya perlahan – lahan luntur? Apa memang dia tidak di kasih kesempatan untuk memiliki anak?
Tapi mau bagaimana lagi? Alisya hanya bisa menurut.
Dengan penuh kelembutan Tama mulai menjelajah setiap lekuk kan tubuh sang Istri, penuh dengan rasa cinta, Tama menggeleng penuh dengan nafsu.
“Arrghh,, kenapa ini sangat nikmat sayang?”
“Mas..” Alisya hanya bisa mendesah seraya menciumi Suaminya, jika sudah ON begini Alisya hanya perlu mengimbangi sang pujangga.
Walaupun hati kecewa tapi Alisya tetap melayani sang Suami sebaik mungkin, biarlah kekecewaan itu hanya Alisya rasakan sendiri.
Cup..
Terlena dan terbuai dua puluh menit sangat cukup untuk Tama menuntaskan hasrat gilanya pagi ini. Alisya mendongakan kepala saat Tama menindih tubuhnya, sesuatu yang hasrat sudah meledak di bawah sana dan itu membuat Alisya merasa lega.
“Kamu mengeluarkannya di dalam?”
“Iya sayang.. di mana Pilnya?”
Alisya menunjuk laci di sampingnya dan Tama langsung mengambilnya.
“Di minum sayang..” Ucap Tama dengan lembut, gelas yang ada di tangan Alisya pun bergetar.
Gleg.
“Kenapa gemetar begitu Sayang?”
“Tidak apa – apa Mas..” Alisya hanya menjawab dengan senyum, karena menurutnya bicara pun rasanya percuma.
Lagi dan lagi Alisya harus menenggak obat yang sangat dia benci, entahlah sampai kapan, tapi usai bercinta hati Wanita itu semakin tidak karuan.
“Maafkan aku sudah mengejutkanmu pagi ini sayang..”
“Sebenarnya kamu kenapa Mas? Kenapa kamu terlihat sangat marah?”
Tama menggeleng seraya memeluk tubuh Istrinya yang masih polos
“Tidak sayang, aku hanya pusing karena pekerjaanku yang sangat banyak..”
Masa iya? Tentu saja Alisya tidak percaya dengan ucapan Suaminya itu.
Ting!
Saat layar ponselnya menyala Alisya langsung menoleh, nama Selin terpampang di sana.
“Selin Mas..”
“Angkat saja Sayang..”
Setelah mendapatkan perintah Alisya langsung mengangkat sambungan teleponnya, Suara Cemas Selin terdengar.
“Tam, kamu dimana?”
“Sel?”
“Alisya?”
Saat mendengar suara yang sangat dia kenal, Selin langsung menghembuskan nafasnya kecemasannya seketika meredup.
“Ada masalah Sel? Kenapa kamu panik begitu?” Alisya yang bingung langsung bertanya, tak biasanya Selin secemas ini, Karena Gadis itu selalu terlihat santai.
“Tidak ada Ra, tolong temani saja Suamimu itu, jangan izinkan dia pergi kemanapun..”
Alisya langsung menoleh dan menatap Tama penuh dengan selidik, pasti ada sesuatu yang tidak Alisya tau, sampai membuat Selin sepanik ini.
“Iya Sel, Mas Tama sama aku kok..”
“Baiklah Al, jaga suamimu.. aku matikan teleponnya..” tanpa menjawab Sambungan terputus dan saat menoleh Tama sudah tertidur di pelukan Istrinya.
“Mas?”
Mengusap lembut pipi Tama lelaki itu tak terganggu sama sekali. Sebegitu melelahkan sampai membuat Tama mudah sekali terpejam.
“Lima tahun aku menikah denganmu tapi entah mengapa aku seakan tidak mengenal mu Mas, sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dariku? Dan kenapa kamu masih saja melarangku mengandung? Apa salahku padamu?”
Dengan linangan air mata Alisya memeluk Suaminya, semenyebalkan apapun Tama tapi wanita ini masih saja sangat menyayanginya. Karena menurutnya di dunia ini Alisya hanya memiliki Tama, entahlah bagaimana Hidupnya tanpa Tama.
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya