Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rantai Tak Kasatmata dan Gaun Merah Darah
Malam itu, hujan kembali mengguyur kota Jakarta dengan lebat, seolah langit sedang menumpahkan seluruh amarahnya. Di dalam ruang kerja penthouse yang kedap suara, suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela raksasa terdengar seperti ritme detak jantung yang berpacu terlalu cepat.
Nadin Kirana berdiri kaku di depan meja gambar arsitektur. Kedua tangannya bertumpu pada tepi meja kayu yang dingin. Gulungan cetak biru proyek Menara Selatan sudah selesai dia revisi sejak satu jam yang lalu, tergulung rapi dan dimasukkan kembali ke dalam tabung hitamnya. Meja itu kini kosong melompong, siap menyambut janji hukuman yang diucapkan Gilang di dalam mobil siang tadi.
Jam dinding antik di sudut ruangan berdenting pelan, menunjukkan pukul delapan tepat. Bersamaan dengan dentingan terakhir itu, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat dari arah lorong.
Nadin menelan ludahnya yang terasa sangat kering. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga dadanya terasa sakit. Dia memejamkan mata sesaat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ketika dia membuka mata, pintu ruang kerja itu terbuka perlahan.
Gilang Mahendra melangkah masuk. Pria itu sudah melepaskan jas dan dasinya entah di mana. Kemeja putih yang dipakainya tidak dikancingkan di bagian kerah, dan lengan kemeja itu digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat kokoh di lengannya. Wajah Gilang terlihat tenang, namun sepasang mata hitamnya memancarkan kilat bahaya yang tidak bisa disembunyikan.
Gilang berbalik sejenak untuk menutup pintu ganda berbahan kayu oak tersebut. Terdengar bunyi klik yang sangat jelas saat Gilang memutar kunci dari dalam. Suara kunci itu terasa seperti vonis mati bagi Nadin. Ruangan ini kini benar-benar terisolasi dari dunia luar.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah lambat namun pasti. Aroma parfum vetiver yang bercampur dengan hawa dingin malam dan wangi khas feromon pria dewasa langsung memenuhi udara di sekitar Nadin. Gilang berhenti tepat di belakang Nadin. Jarak mereka begitu dekat hingga Nadin bisa merasakan hawa panas dari tubuh tegap pria itu menyapu punggungnya.
"Apakah tugasmu sudah selesai, Nadin?" tanya Gilang. Suara baritonnya yang berat dan serak bergetar pelan di dekat telinga Nadin.
"Sudah, Tuan Mahendra. Semuanya sudah saya selesaikan sesuai dengan perhitungan yang paling efisien," jawab Nadin. Suaranya sedikit bergetar, namun dia memaksakan diri untuk terdengar profesional.
Tangan besar Gilang terulur ke depan, melewati pinggang Nadin, dan menyentuh permukaan meja kayu yang kosong. Jari-jari pria itu mengetuk meja beberapa kali dengan tempo lambat.
"Kau sangat efisien dalam bekerja. Aku sangat menyukai itu," bisik Gilang. "Tapi aku ingat sudah memberikan instruksi yang sangat jelas siang tadi. Aku menyuruhmu melayaniku di ruangan ini sebagai hukuman. Lalu kenapa kau masih berdiri mematung dengan pakaian lengkap?"
Nadin mengeraskan rahangnya. Dia mengenakan sebuah kemeja sutra berwarna hitam dan rok pensil selutut yang menempel ketat di tubuhnya.
"Saya bukan pelacur yang akan melucuti pakaian saya sendiri sebelum tuannya memerintah, Gilang," desis Nadin, membiarkan sedikit rasa frustrasinya keluar. "Anda yang memiliki kendali. Anda yang menentukan kapan dan bagaimana saya harus hancur malam ini. Jadi lakukanlah."
Sudut bibir Gilang tertarik membentuk sebuah seringai yang sangat gelap. Pria itu sangat menyukai perlawanan kecil ini. Semakin keras Nadin mencoba mempertahankan harga dirinya, semakin besar pula hasrat Gilang untuk menundukkan wanita itu hingga memohon ampun padanya.
Tanpa memberikan peringatan, kedua tangan Gilang langsung mencengkeram pinggang Nadin dan mengangkat tubuh wanita itu. Nadin terkesiap saat Gilang mendudukkannya di atas permukaan meja gambar yang keras. Pria itu melangkah maju, membuka kedua kaki Nadin secara paksa, dan berdiri rapat di antaranya, mengunci Nadin agar tidak memiliki ruang sedikit pun untuk menghindar.
Gilang menatap lurus ke dalam mata Nadin. Tangan kanan pria itu naik, mencengkeram rahang Nadin dengan kuat, memaksa wanita itu untuk membalas tatapannya.
"Kau benar. Aku yang memiliki kendali penuh," ucap Gilang tepat di depan bibir Nadin. "Dan malam ini, kendali itu akan membuatmu lupa bagaimana caranya bernapas."
Gilang menundukkan kepalanya dan langsung meraup bibir Nadin dengan ciuman yang sangat liar. Tidak ada kelembutan sama sekali. Ciuman itu adalah bentuk dominasi absolut yang dirancang untuk menghancurkan kewarasan. Gilang melumat bibir Nadin, memaksa wanita itu membuka mulutnya, dan menginvasi bagian dalam mulut Nadin dengan rakus.
Nadin mengerang tertahan. Tangannya secara refleks mencengkeram bahu Gilang yang sekeras batu. Suhu di dalam ruang kerja itu terasa meningkat drastis. Nadin bisa merasakan dada bidang Gilang menekan kuat dadanya. Napas mereka saling memburu, memperebutkan pasokan oksigen yang seolah tersedot habis oleh kehadiran pria itu.
Tangan kiri Gilang tidak tinggal diam. Pria itu menyusuri punggung Nadin, merasakan lekuk tubuh wanita itu dari balik kemeja sutra tipis yang dipakainya. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan tidak sabar, jari-jari Gilang merobek kancing kemeja hitam Nadin hingga kain itu terbuka lebar, mengekspos kulit dada dan bahu Nadin pada suhu dingin dari mesin pendingin ruangan.
Sensasi dingin dari udara luar dan rasa panas membakar dari sentuhan tangan Gilang menciptakan gelombang kejut di tubuh Nadin. Nadin melengkungkan punggungnya, berusaha mencari oksigen saat bibir Gilang berpindah dari mulutnya turun menuju leher jenjangnya.
"Gilang," desah Nadin tanpa sadar. Dia menjambak rambut belakang Gilang dengan kuat, melampiaskan rasa sakit dan nikmat yang bercampur aduk menjadi satu.
"Panggil namaku lagi, Nadin," geram Gilang di ceruk leher wanita itu. Pria itu memberikan gigitan pelan tepat di atas denyut nadi Nadin, lalu mengisap kulit di sana hingga meninggalkan tanda merah keunguan yang baru. "Tunjukkan padaku bahwa hanya aku yang ada di dalam kepalamu. Bukan pekerjaanmu. Bukan dokter sialan itu."
Hukuman itu dieksekusi tanpa ampun. Di atas meja gambar yang biasanya digunakan untuk menciptakan struktur bangunan kokoh, struktur pertahanan Nadin diruntuhkan hingga rata dengan tanah. Gilang menuntut penyerahan total. Setiap kali Nadin mencoba menahan suaranya, Gilang akan memberikan sentuhan yang lebih menuntut, memaksa Nadin untuk meneriakkan namanya dalam keputusasaan yang memabukkan.
Malam itu, di tengah badai hujan yang memukul jendela kaca, batas antara benci dan gairah menjadi sangat kabur. Nadin membenci pria yang menghancurkan hidupnya ini, namun tubuhnya berkhianat, merespons setiap sentuhan dominan Gilang dengan kehausan yang sama besarnya. Akal sehat Nadin tenggelam ke dasar jurang terdalam, digantikan oleh ritme napas yang memburu dan lautan sensasi fisik yang diciptakan oleh sang predator.
Keesokan paginya, sinar matahari kembali menyengat melalui celah gorden kamar utama.
Nadin terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di seluruh persendiannya. Janji Gilang semalam bukanlah sebuah gertakan kosong. Kakinya terasa gemetar bahkan hanya untuk bergerak di bawah selimut. Punggungnya ngilu akibat berjam-jam berada di atas permukaan kayu meja gambar yang keras.
Nadin menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Dia masih hidup. Dia berhasil melewati satu malam lagi di dalam neraka ini. Namun ada satu pemikiran yang tiba-tiba melintas di kepalanya dan membuat darahnya terasa beku.
Dia mulai terbiasa.
Tubuhnya mulai terbiasa dengan sentuhan Gilang. Pikirannya mulai bisa mengantisipasi kapan pria itu akan marah dan kapan pria itu akan memberikan kepuasan. Menyadari hal itu, Nadin merasa sangat ketakutan. Jika dia terus beradaptasi dengan kehidupan di dalam sangkar ini, lama-lama dia tidak akan bisa hidup di luar sana lagi. Gilang sedang menjinakkannya secara perlahan.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan kelam Nadin.
"Masuk," ucap Nadin dengan suara serak.
Dimas melangkah masuk seperti biasa, membawa troli sarapan. Namun kali ini, pria asisten itu juga membawa sebuah kotak karton besar berwarna hitam legam yang dihiasi pita merah tua yang mewah. Dimas meletakkan kotak itu di atas sofa panjang di sudut kamar.
"Selamat pagi, Nona Kirana," sapa Dimas dengan nada datar. "Tuan Mahendra berpesan agar Anda segera membersihkan diri setelah sarapan. Beliau telah mengatur agar tim penata rias profesional datang ke penthouse ini pada pukul tiga sore nanti."
Nadin memaksa dirinya untuk duduk, menahan rasa sakit di punggungnya. Dia menatap Dimas dengan kening berkerut. "Penata rias? Untuk apa?"
"Malam ini akan diadakan acara lelang amal tahunan yang diselenggarakan oleh para petinggi perusahaan properti se-Asia Tenggara di Hotel Ritz," jelas Dimas sambil menyusun piring sarapan di meja kecil. "Tuan Mahendra memerintahkan Anda untuk menemaninya menghadiri acara tersebut sebagai pasangannya. Kotak itu berisi gaun dan sepatu yang harus Anda pakai malam ini."
Jantung Nadin seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Menemani ke acara publik?" ulang Nadin tidak percaya. Kepanikannya mulai memuncak. "Dimas, ini pasti sebuah kesalahan. Tuan Mahendra bilang saya hanya perlu berada di penthouse ini. Saya adalah rahasianya. Jika saya muncul di acara publik bersamanya, semua orang akan tahu. Media akan meliputnya. Saya tidak bisa."
Dimas berdiri tegak dan menatap Nadin dengan ekspresi yang sangat tenang namun tegas. "Tuan Mahendra tidak pernah melakukan kesalahan, Nona. Ini adalah perintah mutlak. Beliau ingin Anda mendampinginya malam ini, dan tugas Anda hanyalah mematuhi perintah tersebut tanpa pertanyaan. Saya permisi."
Dimas berjalan keluar dan menutup pintu, meninggalkan Nadin yang gemetar ketakutan di atas ranjang.
Berhadapan dengan Gilang di dalam ruangan tertutup saja sudah menguras seluruh sisa kewarasannya. Kini pria itu berniat memamerkannya ke dunia luar. Membawanya ke acara yang dipenuhi oleh konglomerat, pejabat, dan orang-orang yang sangat berpengaruh. Nadin akan menjadi pusat perhatian. Statusnya sebagai wanita simpanan yang dibeli untuk melunasi utang akan menjadi rahasia umum di kalangan atas. Gilang benar-benar berniat merampas habis harga dirinya dan memamerkan kemenangannya kepada seluruh dunia.
Dengan langkah gontai dan kaki yang terasa sangat lemas, Nadin beranjak dari ranjang. Dia berjalan menuju kotak hitam besar di atas sofa dan membuka penutupnya.
Di dalam kotak itu, terlipat rapi sebuah gaun malam berbahan sutra tebal berwarna merah darah. Warnanya sangat mencolok, berani, dan menantang. Gaun itu memiliki belahan kaki yang sangat tinggi dan bagian punggung yang terbuka sepenuhnya. Di bawah gaun itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi hitam dari merek desainer ternama yang harganya pasti setara dengan harga sebuah mobil mewah.
Nadin menyentuh kain sutra merah itu. Warnanya terlihat seperti warna darah yang mengalir dari luka yang tidak pernah mengering. Ini bukan sekadar gaun. Ini adalah bendera takluk yang harus dia kenakan di depan publik.
Pukul tiga sore, seperti yang dikatakan Dimas, sebuah tim yang terdiri dari tiga penata rias profesional tiba di penthouse. Mereka tidak banyak bicara, hanya bekerja dengan sangat cepat dan efisien. Nadin dimandikan, kulitnya dilulur dengan wangi mawar yang menyengat, rambut panjangnya ditata menjadi sanggul elegan yang menyisakan beberapa helai jatuh di lehernya. Wajahnya dirias dengan sangat sempurna, menutupi wajah pucatnya dan membuat matanya terlihat lebih tajam serta bibirnya terlihat penuh dengan polesan lipstik merah gelap.
Ketika Nadin akhirnya memakai gaun merah darah itu dan berdiri di depan cermin besar, dia sama sekali tidak mengenali wanita yang menatapnya dari dalam kaca.
Wanita di cermin itu terlihat sangat memukau, elegan, mahal, namun memiliki tatapan mata yang sangat dingin dan kosong. Dia tidak lagi terlihat seperti Nadin Kirana sang mahasiswa arsitektur yang penuh ambisi. Dia terlihat seperti sebuah boneka porselen mahal yang diciptakan khusus untuk memuaskan ego seorang pria berkuasa.
Tepat pukul enam sore, suara langkah kaki Gilang terdengar memasuki kamar utama.
Nadin menoleh perlahan. Gilang sudah berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan tuksedo hitam pekat yang dijahit khusus, dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu yang sangat rapi. Pria itu terlihat luar biasa tampan, memancarkan pesona gelap yang bisa membuat wanita mana pun bertekuk lutut.
Mata hitam Gilang langsung terkunci pada sosok Nadin yang berbalut gaun merah darah. Langkah pria itu terhenti. Pandangannya menyapu tubuh Nadin dari ujung kaki yang ditopang sepatu hak tinggi, menyusuri belahan gaun yang menampilkan paha putih Nadin, lalu naik ke arah lekuk pinggang dan punggungnya yang terbuka. Tatapan Gilang sangat intens, seolah pria itu ingin menelanjangi Nadin saat itu juga.
Gilang melangkah mendekat perlahan. Di tangannya, pria itu membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.
"Kau terlihat sangat sempurna," puji Gilang dengan suara bariton yang lebih rendah dari biasanya. Pria itu berdiri di belakang Nadin, menatap pantulan mereka berdua di dalam cermin raksasa.
Gilang membuka kotak beludru di tangannya. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung berlian murni dengan potongan permata raksasa di bagian tengahnya. Kilauan berlian itu sangat menyilaukan, bukti kekayaan yang tidak terbatas.
Tanpa meminta izin, Gilang mengambil kalung itu dan melingkarkannya di leher jenjang Nadin. Sensasi dingin dari logam mahal dan berlian itu menyentuh kulit Nadin, membuatnya sedikit tersentak. Bunyi klik dari pengait kalung yang ditutup oleh jari-jari Gilang terdengar sangat jelas.
Bagi wanita lain, kalung berlian itu adalah hadiah yang sangat diimpikan. Namun bagi Nadin, kalung yang terasa sangat berat di lehernya itu tidak ubahnya seperti sebuah rantai besi. Sebuah tanda kepemilikan yang mengikatnya.
Gilang menundukkan kepalanya, mengecup bahu Nadin yang terbuka dengan sangat lembut, sangat kontras dengan perlakuan brutalnya semalam.
"Malam ini, aku akan membawamu ke duniaku yang sesungguhnya, Nadin," bisik Gilang di dekat telinga wanita itu, menatap lurus ke arah mata Nadin melalui pantulan cermin. "Malam ini, seluruh orang penting di negara ini akan melihatmu. Mereka akan menatapmu, mereka akan menginginkanmu. Dan saat mereka melihat berlian di lehermu ini, mereka akan tahu bahwa kau adalah hak milik mutlak Gilang Mahendra. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu selain aku."
Nadin membalas tatapan gelap pria itu di cermin. Rahangnya mengeras. Dia menyadari bahwa keluar dari sangkar ini bukanlah sebuah kebebasan. Ini hanyalah permulaan dari permainan kekuasaan Gilang yang jauh lebih besar dan mematikan. Dan Nadin tidak punya pilihan lain selain ikut bermain, atau hancur menjadi debu di bawah telapak sepatu pria itu.