Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Matahari Los Angeles mulai condong ke barat, menciptakan semburat warna jingga yang dramatis di langit. Di bawah pohon mapel yang rindang, Paroline sedang duduk di bangku taman sambil menyuapi Andreas potongan buah, sementara Fharell dengan antusias mengarahkan lensa ponselnya, mencoba menangkap setiap tawa kecil dari bibir Sunny.
"Tahan di sana! Senyumnya, Sunny!" seru Fharell. Ia bergerak ke sana kemari, berjongkok lalu berdiri, benar-benar seperti fotografer pribadi yang berdedikasi.
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang sedang mengawasi cucunya bermain di dekat mereka menghampiri dengan senyum ramah. "Kalian adalah keluarga yang sangat serasi," ujar wanita itu dalam bahasa Inggris yang kental dengan aksen lokal. "Mau saya ambilkan foto kalian bertiga? Sayang sekali jika ayah tampan seperti ini tidak ada di dalam bingkai."
Paroline sempat terpaku. Kata Ayah itu kembali menyentuh sisi sensitif di hatinya. Namun, belum sempat ia menolak karena rasa canggung, Fharell sudah lebih dulu menyerahkan ponselnya dengan binar mata yang sangat bersemangat.
"Oh, tentu! Itu ide yang sangat luar biasa, Nyonya. Terima kasih banyak!" jawab Fharell dengan sopan.
Mereka bertiga kemudian berdiri di depan air mancur kecil. Paroline berdiri sedikit kaku, namun Fharell, dengan keberanian khasnya langsung mengambil alih situasi. Dengan tubuh tegapnya yang setinggi 188 cm, ia tampak mendominasi namun melindungi.
Tangan kirinya menggendong Andreas Sunny dengan kokoh, sementara tangan kanannya tanpa ragu merangkul pinggang Paroline, menariknya sedikit lebih dekat ke dalam dekapan hangatnya. Andreas, yang merasa nyaman, menyandarkan kepalanya di bahu Fharell sambil memegang kerah jaketnya.
Klik! Klik! Klik!
Wanita itu mengambil hampir sepuluh jepretan dari berbagai sudut. Di dalam bingkai itu, mereka tidak tampak seperti senior dan junior kampus. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang mapan dan bahagia. Fharell terlihat seperti bapak-bapak muda yang sangat membanggakan istri dan anaknya.
"Terima kasih banyak, Anda sangat baik," ujar Paroline tulus saat wanita itu mengembalikan ponsel Fharell.
Setelah wanita itu pergi, mereka kembali duduk. Fharell langsung membuka galeri fotonya, wajahnya tampak sangat puas. "Lihat ini, Paro. Kita terlihat... benar-benar pas."
Paroline mengintip ke layar ponsel itu. Di sana, ia melihat dirinya sendiri, seorang wanita yang biasanya terlihat lelah karena beban rahasia, kini tampak bersinar di samping pria yang merangkulnya dengan begitu protektif. Namun, melihat foto itu justru memicu sesuatu di dalam diri Paroline. Ia adalah gadis yang tumbuh di jalanan yang keras, ia bukan gadis pendiam yang mudah terbuai oleh romansa manis sesaat. Ia adalah Paroline yang dulu liar, yang tahu pahitnya dikhianati oleh janji pria.
Paroline menarik napas panjang, lalu mematikan layar ponsel Fharell dengan jarinya. Suasana yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi serius.
"Fharell," suara Paroline merendah, terdengar dewasa dan penuh ketegasan. "Aku punya anak berusia dua tahun. Tanggung jawabku bukan lagi soal memilih baju untuk pergi ke pesta atau memikirkan nilai ujian."
Ia menatap mata Fharell dalam-dalam, mencari kejujuran di sana. "Usiaku bukan lagi untuk bermain-main, Fharell. Aku sudah melewati masa itu. Hidupku sudah cukup rumit dengan rumor dan tanggung jawab membesarkan Sunny sendirian."
Paroline menjeda sejenak, wajahnya yang cantik kini tampak dingin seperti es. "Jika kau singgah hanya karena rasa penasaran, atau karena ingin mengujiku karena kau tahu aku punya masa lalu yang menarik di klub malam... aku minta kau mundur sekarang juga. Jangan beri harapan pada anakku jika kau hanya ingin menjadikanku sebagai piala petualangan mudamu."
Hening menyelimuti mereka selama beberapa detik. Hanya suara tawa anak-anak di kejauhan yang terdengar. Fharell tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau tersinggung. Sebaliknya, ia justru tersenyum, sebuah senyum yang tidak lagi penuh canda, melainkan senyum yang menunjukkan kematangan seorang pria yang tahu apa yang ia inginkan.
Fharell meletakkan ponselnya di bangku taman, lalu ia berbalik sepenuhnya menghadap Paroline. Ia meraih tangan Paroline, menggenggamnya dengan lembut namun tegas.
"Kau pikir aku menghabiskan waktuku di perpustakaan, menggendong bayi di depan teman-temanku, dan klaim menjadi seorang ayah hanya untuk sebuah ujian?" Fharell terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat tulus.
"Paro, aku sudah tertarik padamu sejak pertama kali aku melihatmu berjalan di lobi kampus dengan stroller itu. Bukan karena kau cantik, meskipun kau memang sangat cantik, tapi karena kekuatan yang kau punya."
Fharell memajukan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Paroline yang mulai goyah.
"Aku serius mengejarmu, Paro. Aku tahu aku baru 19 tahun, aku tahu keluargaku punya ekspektasi besar padaku. Tapi aku bukan pengecut yang lari setelah melihat kenyataan. Aku sudah melihat sisi liarmu, aku sudah melihat sisi ibumu, dan aku menyukai keduanya."
Deg.
Jantung Paroline berdegup kencang. Ia mencoba mencari celah kebohongan di wajah Fharell, tapi yang ia temukan hanyalah tekad yang bulat.
"Jangan anggap aku sebagai mahasiswa yang sedang bermain-main," lanjut Fharell, suaranya kini kembali lembut namun penuh tekanan. "Anggap aku sebagai pria yang sedang memperjuangkan masa depannya. Dan masa depanku... aku ingin ada kau dan Andreas di dalamnya."
Paroline terpaku. Keberanian Fharell meruntuhkan semua tembok pertahanan yang ia bangun selama dua tahun terakhir. Di depannya, pria muda yang ia anggap hanya sebagai gangguan humoris itu baru saja menyatakan perang terhadap keraguan hatinya.
"Kau gila, Fharell Desmon," bisik Paroline, suaranya bergetar.
"Aku memang gila," sahut Fharell sambil menarik tangan Paroline dan mengecup punggung tangannya dengan hormat. "Gila karena jatuh cinta pada seniorku yang luar biasa ini."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰