NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Beberapa minggu setelah insiden sabotase lumpur, suasana di hulu sungai berubah total. Garis kuning "Penyegelan Lingkungan" kini melintang di gerbang utama tambang Arga Bara. Namun, bagi Andi, kemenangan hukum hanyalah napas buatan; kehidupan yang sebenarnya ada pada kemandirian masyarakatnya.

Andi berdiri di tengah rimbunnya hutan bakau yang mulai direhabilitasi. Di sampingnya, Rian dan Bayu sedang membimbing belasan pemuda lokal—termasuk Irawan—yang kini mengenakan wearpack abu-abu bertuliskan "Teknisi Cahaya Bahari".

"Ini bukan cuma soal memutar turbin," Andi menjelaskan sambil membuka sebuah maket kayu di atas meja lapangan. "Sungai ini punya ritme. Kalau kalian tidak menjaga hutan di atas sana, sedimentasi akan merusak bantalan mesin kita dalam hitungan bulan. Menjaga listrik berarti menjaga pohon."

Irawan mencatat setiap perkataan Andi di buku catatan usang miliknya. "Pak Andi, kalau nanti Bapak pulang ke Jakarta, siapa yang akan memperbaiki jika ada korsleting besar?"

Andi tersenyum, menepuk bahu pemuda itu. "Itulah alasan kita membangun 'Sekolah Arus Laut' di sini, Irawan. Saya tidak ingin kalian menelepon Jakarta setiap kali lampu berkedip. Saya ingin kalian yang menjadi guru bagi desa-desa di seberang sungai sana."

Sore itu, sebuah helikopter pemerintah mendarat membawa rombongan kementerian. Namun, kali ini Andi tidak memakai jas atau pakaian formal. Ia tetap dengan kaos lapangan yang pudar dan sepatu bot yang penuh sisa lumpur perjuangan malam itu.

Menteri Lingkungan Hidup melangkah turun, menatap takjub pada jajaran lampu jalan desa yang kini menyala terang sepenuhnya dari kekuatan arus sungai, tanpa suara bising genset yang biasanya memekakkan telinga di pedalaman.

"Pak Andi," ujar Sang Menteri sambil menjabat tangan Andi erat. "Laporan dari Ibu Diana dan rekaman video sabotase itu sudah sampai ke Presiden. Beliau ingin model integrasi sosial-teknologi ini diterapkan di seluruh pesisir 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Indonesia."

Andi mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah warga desa yang sedang bergotong-royong membersihkan sisa-sisa jaring penahan lumpur. "Pak Menteri, ini bukan karya saya sendiri. Ini adalah bukti bahwa rakyat tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh diberi akses dan kepercayaan. Jangan jadikan mereka objek proyek, jadikan mereka pemiliknya."

Di sudut dermaga, Andin memperhatikan suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, Sang Cobra telah benar-benar berganti kulit. Ego masa mudanya yang beringas telah melebur menjadi pengabdian yang sunyi namun berdampak luas.

"Satu langkah besar selesai, Andi," bisik Andin yang datang membawakan teh hangat.

"Bukan selesai, Ndin. Baru dimulai," sahut Andi. "Besok kita ke Maluku. Alumni angkatan pertama kita di sana melaporkan ada potensi arus selat yang bisa menghidupkan satu pulau kecil. Nusantara ini luas, dan kita baru saja menyalakan satu lilin di tengah kegelapan."

Andi memandangi aliran sungai yang kini tampak berkilau memantulkan cahaya lampu desa. Sang Cobra telah menemukan muaranya, namun arusnya akan terus mengalir, membawa martabat ke setiap jengkal pesisir yang ia singgahi.

Pesawat perintis yang membawa mereka meninggalkan pedalaman Kalimantan berguncang pelan, membelah awan kumulus yang menggantung di atas hamparan hijau yang tak berujung. Andi menempelkan keningnya ke jendela kabin yang dingin, menatap sungai yang kini mengecil menjadi garis perak di bawah sana.

"Kamu melamunkan apa, Andi?" tanya Andin, menyentuh lengan suaminya yang masih terbalut perban tipis akibat kawat baja malam itu.

Andi tersenyum tipis, tidak mengalihkan pandangannya. "Aku hanya teringat sepuluh tahun lalu, Ndin. Saat aku memegang bom molotov di dermaga Jakarta, merasa dunia hanya bisa diubah dengan ledakan. Ternyata, dunia lebih suka diubah dengan cahaya yang muncul perlahan."

"Dan sekarang kita menuju Maluku," sahut Andin sambil membuka peta digital di pangkuannya. "Selat di antara Pulau Seram dan pulau-pulau kecil di sekitarnya punya kecepatan arus yang konstan. Tapi tantangannya berbeda. Di sana bukan lumpur tambang, tapi karang tajam dan kedalaman laut yang ekstrem."

Dua hari kemudian, aroma cengkih dan pala menyambut mereka saat mendarat di Ambon. Rian dan Bayu sudah menunggu di dermaga feri, wajah mereka terbakar matahari namun penuh semangat. Di samping mereka berdiri seorang pemuda lokal bertubuh tegap, alumni angkatan pertama Politeknik yang dikirim Andi setahun lalu.

"Bang Andi! Selamat datang di tanah raja-raja," sapa pemuda itu, namanya Samuel. Ia memeluk Andi dengan rasa hormat yang mendalam. "Lampu di desa saya sudah menyala enam bulan tanpa henti, Bang. Tapi sekarang ada masalah baru. Warga pulau sebelah melihat lampu kami, dan mereka mulai menagih janji yang sama."

Andi tertawa kecil. "Itulah masalah yang menyenangkan, Sam. Keinginan untuk maju itu menular."

Mereka menaiki perahu cepat menuju sebuah selat sempit yang arusnya terlihat bergolak, menciptakan pusaran-pusaran air yang kuat. Samuel menunjuk ke arah tebing karang yang menjulang. "Di bawah sana, Bang. Arusnya bisa memutar turbin tiga kali lebih cepat dari di Kalimantan. Tapi memasang fondasinya di atas karang hidup tanpa merusaknya... itu yang membuat kami pusing."

Andi berjongkok di haluan perahu, mencelupkan tangannya ke air laut yang biru pekat. Ia merasakan kekuatan alam yang luar biasa menabrak telapak tangannya.

"Kita tidak akan mengebor karang itu, Sam," ujar Andi tiba-tiba. "Kita akan gunakan sistem pemberat gravitasi berbasis bio-struktur. Kita biarkan terumbu karang tumbuh menyelimuti kaki turbin kita hingga mesin itu menjadi bagian dari ekosistem mereka. Kita membangun terumbu buatan yang menghasilkan listrik."

Bayu dan Rian saling pandang, lalu tersenyum lebar. Ide gila Andi selalu terdengar mustahil di awal, namun selalu logis secara ekologis.

Malam itu, di sebuah penginapan kecil di tepi pantai, Andi duduk di depan laptopnya. Ia tidak sedang menyusun laporan kementerian, melainkan melanjutkan bab terakhir dari web novelnya yang sedang populer. Ia menulis tentang seorang pejuang yang akhirnya meletakkan pedangnya untuk memegang lampu petromaks.

Andin masuk ke kamar, melihat suaminya yang sedang asyik mengetik. "Masih sempat menulis di tengah misi sebesar ini?"

"Ini caraku tetap waras, Ndin," jawab Andi tanpa menoleh. "Di dunia nyata, aku bertarung dengan birokrat dan arus laut. Di sini, aku bisa menceritakan pada dunia bahwa pahlawan sejati bukan mereka yang menang perang, tapi mereka yang mampu memberikan masa depan bagi orang lain."

Andi menutup laptopnya, lalu berjalan menuju balkon. Di kejauhan, ia melihat titik-titik lampu kecil di pulau seberang—lampu-lampu yang dipasang oleh anak didiknya. Cahaya itu berkedip ramah, seolah menyapa Sang Cobra yang kini telah menemukan kedamaiannya.

Perjalanan "Cahaya Bahari" masih panjang. Dari Jakarta ke Kalimantan, lalu ke Maluku, dan mungkin ke seluruh pelosok Nusantara. Namun bagi Andi, setiap lampu yang menyala adalah satu kemenangan kecil atas kegelapan masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!